[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 14 – Syarah Ushuluts Tsalasah 14

Landasan 1. Jenis-jenis ibadah: ‘Roghbah’, Rohbah’, ‘Khusyuk’

Dalil raghbah (penuh minat), rahbah (cemas) dan khusyu’ (tunduk) firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90).

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Definisi Roghbah]
Roghbah adalah keinginan memperoleh sesuatu yang disukai.
[Definisi Rohbah]
Rohbah adalah katakutan yang membuahkan tindakan menghindar dari yang ditakuti. Jadi, rohbah adalah rasa takut yang diiringi dengan tindakan.
[Definisi Khusyuk]
Khusyuk adalah rasa tunduk dan rendah diri di hadapan keagungan Alloh, sehingga dengannya seseorang pasrah kepada ketetapan- Nya yang bersifat kauni (yaitu takdir-Nya) maupun syar’i (yaitu syariat-Nya).
[Penjelasan dalil Roghbah, Rohbah, Khusyuk, surat Al-Anbiya: 90]
Dalam ayat ini, Alloh Ta’ala, menjelaskan sifat hamba-hamba pilihan-Nya, di mana mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan diliputi perasaan ingin, takut, serta khusyuk. Doa di sini meliputi doa ibadah dan doa mas’alah. Mereka berdoa kepada Alloh dengan perasaan ingin memperoleh pahala di sisi-Nya serta takut kepada hukuman-Nya dan akibat-akibat dosa mereka.

Semua orang yang beriman seyogyanya berjalan menuju Alloh dengan disertai perasaan antara harapan dan kekhawatiran. Aspek harapan sebaiknya ditonjolkan ketika melaksanakan ketaatan agar lebih giat dan diharapkan diterima. Adapun aspek kekhawiran sebaiknya ditonjolkan ketika seseorang hendak melakukan maksiat, agar ia menghindar darinya dan selamat dari hukumannya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa aspek harapan hendaklah ditonjolkan saat seseorang dalam kondisi sakit, sedangkan aspek kekhawatiran hendaklah ditonjolkan saat ia dalam keadaan sehat. Sebab jiwa orang yang sakit itu lemah. Bisa jadi ajalnya telah dekat, sehingga diharapkan ia meninggal dunia dalam keadaan berprasangka baik kepada Alloh ‘azza wa jalla.

 Adapun ketika dalam keadanan sehat, seseorang seringkali sangat aktif dan berharap hidup lama, yang kadang-kadang mengakibatkan ia sombong dan angkuh, karena itu aspek kekhawatiran hendaklah ditonjolkan pada dirinya sehingga ia selamat dari hal itu.

Dikatakan pula bahwa hendaklah harapan seseorang itu senantiasa berpadu dengan kekhawatirannya. Yang demikian itu agar harapannya tidak mengakibatkan ia merasa aman dari makar Alloh dan kekhawatirannya tidak mengakibatkannya berputus asa dari rahmat Alloh, kedua hal tersebut sama-sama jelek dan mengakibatkan kebinasaan.





والله أعلمُ بالـصـواب
Source ( Syarah Ushuuts Tsalatsah.pdf )


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *