[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 13 – Syarah Ushuluts Tsalasah 13

Landasan 1. Jenis-jenis ibadah: ‘Tawakal’

Dalil tawakkal (berserah diri) firman Allah ta’ala:
“Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-banar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23).
Dan juga firman-Nya:
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Q S. Ath-Thalaq: 3)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

 [Tawakal]

Bertawakal artinya menggantungkan diri kepada sesuatu. Bertawakal kepada Alloh artinya menggantungkan diri kepada Alloh sebagai pemberi kecukupan dalam mendatangkan manfaat dan mencegah madharat.

Tawakal kepada Alloh merupakan kesempurnaan dan tanda iman, karena Allah Ta’ala berfirman [artinya]:
“… dan hanya kepada Alloh hendaklah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (Al-Maidah: 23)
Jika seorang hamba benar-benar bertawakal kepada Alloh, maka Alloh Ta’ala akan mencukupi keperluannya, karena Alloh Ta’ala berfirman:
“…dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya …”(Ath-Tholaq: 3)
Jadi, tidak ada sesuatu yang dikehendaki-Nya, yang tidak terlaksana. Ketahuilah bahwa tawakal itu ada beberapa macam :
[1]        Tawakal kepada Alloh Ta’ala. Ini merupakan kesempurnaan iman dan salah satu ciri benarnya iman pada orang tersebut. Hukumnya wajib, dan iman tidak
sempurna kecuali dengannya. Dalilnya telah dikemukakan.
[2]                Tawakal terselubung, yaitu seseorang menggantungkan diri kepada mayit dalam mendatangkan manfaat dan menangkal madharat. Ini merupakan syirik akbar; karena ia tidak mungkin terjadi kecuali pada orang yang berkeyakinan bahwa mayit tersebut mempunyai kekuasaan tersembunyi untuk mengatur alam.
Tidak ada bedanya, apakah mayit tersebut seorang nabi, wali, atau thaghut musuh Allah Ta’ala.
[3]   Tawakal dalam artian menggantungkan kepada orang lain dalam hal yang bisa dilakukan oleh orang itu, diiringi dengan perasaan akan tingginya kedudukan orang itu dan rendahnya kedudukan orang yang bertawakal.
Misalnya, seseorang bergantung kepada orang lain dalam memperoleh penghidupan, dan sebagainya. Ini merupakan jenis syirik ashghar, karena kuatnya ketergantungan hati kepadanya.
Adapun jika seseorang bergantung kepadanya, dengan anggapan bahwa ia merupakan sebuah sebab, sedangkan Alloh Ta’ala adalah satu-satu-Nya yang berkuasa untuk mewuiudkanrrya, maka ia tidak berdosa jika memang yang ditawakali benar-benar berpengaruh dalam mewujudkannya.
[4]   Menggantungkan diri kepada orang lain dalam urusan yang sebetulnya menjadi wewenang orang yang bertawakal. Dengan kata lain, ia mewakilkan kepada orang lain, perkara yang memang boleh diwakilkan. Tindakan ini tidak berdosa, berdasarkan dalil dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijmak. Ya’qub pernah mengatakan kepada anak-anaknya:
“Wahai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah ber ita tentang Yusuf dan saudaranya” (Yusuf: 87)

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah mewakilkan urusan pengambilan sedekah kepada para amil. dan pegawai, memberi kuasa kepada orang lain untuk membuktikan dan melaksanakan hukuman had, menyerahi Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu pengelolaan binatang-binatang kurbannya dalam Haji Wada’, agar Ali menyedekahkan kulit dan pelana binatang-binatang itu dan menyembelih sisa dari seratus binatang, di mana enam puluh tiga diantaranya telah disembelih oleh beliau shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri. Adapun ijmak mengenai dibolehkannya hal itu merupakan hal yang sudah dimaklumi.



والله أعلمُ بالـصـواب

Source ( Syarah Ushuuts Tsalatsah.pdf )

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *