[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 10 – Syarah Ushuluts Tsalasah 10

Landasan 1: Jenis-jenis ibadah: ‘Doa’

Dalam sebuah hadits,
“Do’a itu adalah inti sari ibadah“.
Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
“Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu”. Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”(QS. Ghafir: 60).

 Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Doa termasuk Ibadah]
Ini awal dari dalil-dalil yang disebutkan oleh penulis rahimahullah yang telah diisyaratannya dalam perkataannya, “Macam- macam ibadah yang diperintahkan oleh Alloh contohnya Islam, iman, dan ihsan.
Contoh lain adalah doa dan seterusnya. Beliau rahimahullah mengawali dengan menyebutkan dalil-dalil tentang doa. Insya Alloh, nanti juga dikemukakan dalil-dalil mengenai Islam, iman, dan ihsan secara terperinci’.
Penulis rahimahullah berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau bersabda, “Doa adalah intisari ibadah.” (HR. Tirmidzi, Ia berkata “Hadits Gharib dari sisi ini)
Juga firman Alloh Ta’ala [artinya]:
“Dan Robbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (Al-Mu’min: 60).
Ayat ini menunjukkan bahwa doa merupakan ibadah. Jika tidak, tentu tidak benar untuk dikatakan,
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”.
Maka barangsiapa memohon kepada selain Allah sesuatu yang hanya mampu diberikan oleh Alloh, berarti orang tersebur musyrik dan kafir, baik yang dimohonnya itu masih hidup atau mati.
Namun barangsiapa meminta kepada orang yang masih hidup, sesuatu yang bisa diberikannya, misalnya mengatakan “Wahai Fulan, berilah aku makan; wahai Fulan, berilah aku minum”Maka ia tidak berdosa.
Jika ia memohon kepada orang yang telah mati atau orang yang berada di kejauhan, dengan permohonan seperti ini, maka ia musyrik, karena mayit atau orang yang berada di kejauhan tidak mungkin memberikan hal semacam itu.
Permohonannya itu menunjukkan bahwa ia memiliki keyakinan bahwa yang dimohonnya memiliki kekuatan untuk mengelola alam semesta sekehendaknya, karena itu ia musyrik.

Ketahuilah bahwa doa itu ada dua macam, yaitu doa mas’alah dan doa ibadah.

·         Doa  mas’alah:
Doa mas’alah adalah: doa untuk meminta kebutuhan. Ia termasuk ibadah, bila dilakukan oleh seorang hamba kepada Robb-nya, karena ia mengandung makna butuh dan bersandarnya seorang hamba kepada Alloh ta’ala serta keyakinan bahwa Dia menyandang sifat Maha Kuasa, pemurah, serta memiliki karunia dan kasih sayang yang luas.
Jika permintaan itu dilakukan kepada sesama makhluk, maka diperbolehkan dengan syarat yang dituju adalah orang yang mampu memahami dan memenuhi permintaan tersebut, sebagaimana telah disinggung di muka mengenai ucapan seseorang, “Wahai Fulan, beril ah aku makan!”
·         Doa ibadah:
Adapun doa ibadah adalah: seseorang menggunakan doa tersebut untuk beribadah kepada yang dimohonnya dalam rangka memohon pahalanya dan karena takut terhadap hukumannya. Doa ibadah ini tidak boleh diarahkan kepada selain Allah. Mengarahkannya kepada selain Allah merupakan syirik akbar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari millah Islam. Orang yang melakukannya terkena ancaman Alloh Ta’ala dalam firman-Nya [artinya]:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Al-Mu’min: 60).





والله أعلمُ بالـصـواب
Source ( Syarah Ushuuts Tsalatsah.pdf )



Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *