Arsip Bulanan: Desember 2017

Kiat-Kiat Menuju Keluarga Sakinah

Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberi nafkah) dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci, detail dan gamblang.

Selanjutnya untuk memahami konsep pernikahan dalam Islam, maka rujukan yang paling benar dan sah adalah Al Qur’an dan As Sunnah Ash Shahihah yang sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih. Berdasar rujukan ini, kita akan memperoleh kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan, maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi di dalam masyarakat kita.

Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan untuk menikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman:

﴿ فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ﴾ [الروم : 30]

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui“. [Ar Ruum : 30].

Islam Menganjurkan Nikah

Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, Allah menyebutkan sebagai ikatan yang kuat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

﴿ وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقًا غَلِيظًا﴾ [النساء : 21]

“… Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat“. [An Nisaa: 21].

Sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

((إِذَا تَزَوَّجَ اْلعَبْد فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَا بَقِي)) [ متفق عليه ]

“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. [1] 

Islam Tidak Menyukai Membujang

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik rahimahullah berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ )) [ متفق عليه ]

Nikahilah wanita yang subur dan penyayang. Karena aku akan berbanggga dengan banyaknya umatku di hadapan umat-umat“.[2]

Pernah suatu ketika, tiga orang sahabat datang bertanya kepada isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadahan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus”. Sahabat yang lain berkata: “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan nikah selamanya ….”. Ketika hal itu didengar oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau keluar seraya bersabda :

((أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا  أَمَا وَاللهِ إنِّي َلأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ وَلَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.”)) [ متفق عليه ]

Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa kepada Allah diantara kalian, akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. [3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menikah. Dan seandainya mereka fakir, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantu dengan memberikan rezeki kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang menikah, dalam firmanNya:

﴿ وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُوْنُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمْ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.”﴾ [البينة : 5]
Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (bernikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan wanita. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui“. [An Nuur:32].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala itu dengan sabdanya :

((ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيْدُ الاَدَاءَ وَ النَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ)) [ متفق عليه ]

Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah. Yaitu, mujahid fi sabilillah, budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya“. [4]

TUJUAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM

  1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi
    Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan aqad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara yang kotor dan menjijikan, seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.

    2. Untuk Membentengi Akhlaq Yang Mulia

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ أَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِا لصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ )) [ متفق عليه]

Wahai, para pemuda! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya“.[5]

  1. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami
    Dalam Al Qur’an disebutkan, bahwa Islam membenarkan adanya thalaq (perceraian), jika suami isteri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat berikut : “Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim“. [Al Baqarah:229].

    Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami isteri melaksanakan syari’at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari’at Islam adalah wajib. Oleh karena itu, setiap muslim dan muslimah harus berusaha membina rumah tangga yang Islami. Ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, agar terbentuk rumah tangga yang Islami. Di antara kriteria itu ialah harus kafa’ah dan shalihah.

Kafa’ah Menurut Konsep Islam

Kafa’ah (setaraf, sederajat) menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlaq seseorang, bukan diukur dengan status sosial, keturunan dan lain-lainnya.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Al Hujurat:13].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لاِ َرْبَعٍِ : لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَ لِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ )) [ متفق عليه ]

Seorang wanita dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang taat agamanya (ke-Islamannya), niscaya kamu akan beruntung“.[6]

Memilih Yang Shalihah

Orang yang hendak menikah, harus memilih wanita yang shalihah, demikian pula wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Allah berfirman :

﴿ الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُوْلاَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقُُ كَرِيمُُ ﴾ [النور : 26]

“…Dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula…” [An Nuur:26].

Menurut Al Qur’an, wanita yang shalihah adalah :

﴿ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ﴾ [النساء : 34]

Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)”. [An Nisaa:34].

Menurut Al Qur’an dan Al Hadits yang shahih, diantara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah :

  1. a. Ta’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ta’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    b. Ta’at kepada suami dan menjaga kehormatannya di saat suami ada atau tidak ada, serta menjaga harta suaminya.
    c. Menjaga shalat yang lima waktu tepat pada waktunya.
  2. Melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan.
    e. Banyak shadaqah dengan seizin suaminya.
    f. Memakai jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al Ahzab:33).
    g. Tidak berbincang-bincang dan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, karena yang ketiganya adalah syetan.
    h. Tidak menerima tamu yang tidak disukai oleh suaminya.
    i. Ta’at kepada kedua orang tua dalam kebaikan.
    j. Berbuat baik kepada tetangganya sesuai dengan syari’at.
    k. Mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islami.

    Bila kriteria ini dipenuhi, insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud.

  3. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ  قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الْحَرَامِ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ  فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا)) [ متفق عليه ]

“…Dan di hubungan suami-isteri salah seorang diantara kalian adalah sedekah! Mendengar sabda Rasulullah, para sahabat keheranan dan bertanya: “Wahai, Rasulullah. Apakah salah seorang dari kita memuaskan syahwatnya (kebutuhan biologisnya) terhadap isterinya akan mendapat pahala?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian, jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain isterinya, bukankah mereka berdosa?” Jawab para sahabat: “Ya, benar”. Beliau bersabda lagi: “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan isterinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!”[7]

  1. Untuk Memperoleh Keturunan Yang Shalih
    Tujuan pernikahan diantaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan Bani Adam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

﴿ وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ﴾ [النحل : 72]

Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ? ” [An Nahl:72].

Yang terpenting lagi dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

﴿ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ  ﴾ [البقرة : 187]

“… dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian (yaitu anak)”. [Al Baqarah:187].

Yang dimaksud dengan ayat ini, “Hendaklah kalian mencampuri isteri kalian dan berusaha untuk memperoleh anak”.[8]

TATA CARA PERNIKAHAN DALAM ISLAM

1.Khitbah (Peminangan)

Seorang muslim yang akan menikahi seorang muslimah, hendaknya ia meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh orang lain. Dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang dipinang oleh orang lain.

  1. Aqad Nikah

Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi :

-. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
-. Adanya ijab qabul.

-. Adanya mahar

-. Adanya wali.

-. Adanya saksi-saksi.

  1. Walimah

Walimatul ‘urusy (pesta pernikahan) hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan dalam walimah hendaknya diundang pula orang-orang miskin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((…أَوْلِمْ وَلَوْبِشَاةٍ.. )) [ متفق عليه ]

Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing“.[9]

SEBAGIAN PELANGGARAN YANG TERJADI DALAM PERNIKAHAN YANG WAJIB DIHINDARKAN (DIHILANGKAN)

  1. Pacaran.
  2. Tukar cincin.
  3. Menuntut mahar yang tinggi.
  4. Mengikuti upacara adat.
  5. Mencukur jenggot bagi laki-laki dan mencukur alis mata bagi wanita.
    6. Kepercayaan terhadap hari baik dan sial dalam menentukan waktu pernikahan.
  6. Mengucapkan ucapan selamat ala kaum jahiliyah.
  7. Adanya ikhtilath (bercampurnya, berbaurnya antara laki-laki dan wanita).
  8. Musik, nyanyi dan pelanggaran-pelanggaran lainnya.

    Marilah kita berupaya untuk melaksanakan pernikahan secara Islami dan membina rumah tangga yang Islami, serta kita berusaha meninggalkan aturan, tata-cara, upacara dan adat-istiadat yang bertentangan dengan Islam. Jangan meniru cara-cara orang-orang kafir dan orang-orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat.

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI-ISTERI

Anjuran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah mengandung berbagai manfaat, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, diantaranya :

  1. Dapat menundukkan pandangan,
    2. Akan terjaga kehormatan.
  2. Terpelihara kemaluan dari beragam maksiat.
  3. Akan ditolong dan dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    5. Dapat menjaga syahwat, yang merupakan salah satu sebab dijaminnya ia untuk masuk ke dalam surga.
  4. Mendatangkan ketenangan dalam hidup.
  5. Akan terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

﴿ وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴾ [البينة : 5]

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikanNya diantara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir“. [Ar Ruum:21].

  1. Akan mendapatkan keturunan yang shalih.
    8. Menikah dapat menjadi sebab semakin banyaknya jumlah ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Ada sebagian kaum muslimin yang telah menikah dan dikaruniai oleh Allah seorang anak atau dua orang anak, kemudian mereka membatasi kelahiran, tidak mau mempunyai anak lagi dengan berbagai alasan yang tidak syar’i. Perbuatan mereka telah melanggar syari’at Islam. Fatwa-fatwa ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah menjelaskan dengan tegas, bahwa membatasi kelahiran atau dengan istilah lainnya “keluarga berencana”, hukumnya adalah haram.

Sesungguhnya banyak anak itu banyak manfaatnya. Diantara manfaat dengan banyaknya anak dan keturunan, adalah :
1. Di dunia mereka akan saling menolong dalam kebajikan.
2. Mereka akan membantu meringankan beban orang tuanya.
3. Do’a mereka akan menjadi amal yang bermanfaat ketika orang tuanya sudah tidak bisa lagi beramal (telah meninggal dunia).
4. Jika ditaqdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala anaknya meninggal ketika masih kecil, insya Allah, ia akan menjadi syafa’at (penolong) bagi orang tuanya nanti di akhirat.

  1. Anak akan menjadi hijab (pembatas) dirinya dengan api neraka, manakala orang tuanya mampu menjadikan anak-anaknya sebagai anak yang shalih dan shalihah.
  2. Dengan banyaknya anak, akan menjadikan salah satu sebab bagi kemenangan kaum muslimin ketika dikumandangkan jihad fi sabilillah, karena jumlahnya yang sangat banyak.
    7. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangga dengan jumlah umatnya yang banyak. Apabila seorang muslim cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hendaklah ia mengikuti keinginan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbanyak anak, karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangga dengan banyaknya ummatnya pada hari kiamat.

    Bila Belum Dikaruniai Anak

Apabila ditaqdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sepasang suami-isteri sudah menikah sekian lama, namun belum juga dikaruniai anak, maka janganlah ia berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hendaknya ia terus berdo’a sebagaimana Nabi Ibrahim Alaihissallam dan Zakaria Alaihissallam telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan do’a mereka. Dan hendaknya bersabar dan ridha dengan qadha’ dan qadar yang Allah tentukan, serta meyakini bahwa semua itu ada hikmahnya.

Do’a mohon dikaruniai keturunan yang baik dan shalih terdapat dalam Al Qur’an, yaitu :

﴿ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾ [الصافات : 100]

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih“. [Ash Shaafat : 100]

﴿ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴾ [الفرقان : 74]

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa“. [Al Furqaan : 74].

﴿ رَبِّ لاَ تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ﴾ [البينة : 5]

Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah warits yang paling baik“. [Al Anbiyaa : 89].

Mudah-mudahan Allah  memberikan keturunan yang shalih kepada pasangan suami-isteri yang belum dikaruniai anak. 

HAK ISTERI YANG HARUS DIPENUHI SUAMI

Diantara kewajiban-kewajiban dan hak-hak tersebut adalah seperti yang terdapat di dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Muawiyah bin Haidah bin Mu’awiyah bin Ka’ab Al Qusyairy Radhiyallahu ‘anhu [10], ia berkata: Saya telah bertanya,”Ya Rasulullah, apa hak seorang isteri yang harus dipenuhi oleh suaminya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

((أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ)) [ متفق عليه ]

  1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan, 
  2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian, 
  3. Janganlah engkau memukul wajahnya, dan 
  4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan 
  5. Janganlah engkau tinggalkan dia melainkan di dalam rumah (jangan berpisah tempat tidur melainkan di dalam rumah). [11]

    Mengajarkan Ilmu Agama

Di samping hak di atas harus dipenuhi oleh seorang suami, seorang suami juga wajib mengajarkan ajaran Islam kepada isterinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾ [التحريم : 6]

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya (terbuat dari) manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“. [At Tahrim : 6].

Untuk itulah, kewajiban sang suami untuk membekali dirinya dengan menuntut ilmu syar’i (thalabul ‘ilmi) dengan menghadiri majelis-majelis ilmu yang mengajarkan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih –generasi yang terbaik, yang mendapat jaminan dari Allah– sehingga dengan bekal tersebut, serang suami mampu mengajarkannya kepada isteri, anak dan keluarganya. Jika ia tidak sanggup mengajarkan mereka, seorang suami harus mengajak isterinya menuntut ilmu syar’i dan menghadiri majelis-majelis taklim yang mengajarkan tentang aqidah, tauhid mengikhlaskan agama kepada Allah, dan mengajarkan tentang bersuci, berwudhu’, shalat, adab dan lainnya.

HAK SUAMI YANG HARUS DIPENUHI ISTERI

Ketaatan Istri Kepada Suaminya.

Setelah wali (orang tua) sang isteri menyerahkan kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada sang suami menjadi hak yang tertinggi yang harus dipenuhi, setelah kewajiban taatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

((لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَِ حَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا))

[ متفق عليه ]

Kalau seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya“.[12]

Sang isteri harus taat kepada suaminya, dalam hal-hal yang ma’ruf (mengandung kebaikan dalam hal agama), misalnya ketika diperintahkan untuk shalat, berpuasa, mengenakan busana muslimah, menghadiri majelis ilmu, dan bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at. Hal inilah yang justru akan mendatangkan surga bagi dirinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

((إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَةِ شَاءَتْ)) [ متفق عليه ]

Apabila seorang wanita mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, menjaga kehormatannya dan dia taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki“. [13]

Istri Harus Banyak Bersyukur Dan Tidak Banyak Menuntut.
Perintah ini sangat ditekankan dalam Islam, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihatnya pada hari kiamat, manakala sang isteri banyak menuntut kepada suaminya dan tidak bersyukur kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((أُرِيْتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ. يَكْفُرْنَ. قِيْلَ : أَيَكْفُرْنَ بِاللهِ  يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئاً قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطٌّ)) [ متفق عليه ]

Sesungguhnya aku diperlihatkan neraka dan melihat kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.” Sahabat bertanya: “Sebab apa yang menjadikan mereka paling banyak menghuni neraka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dengan sebab kufur”. Sahabat bertanya: “Apakah dengan sebab mereka kufur kepada Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu”. [14]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((لاَيَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَتَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ )) [ متفق عليه ]

Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya, dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup)”.[15]

Isteri Wajib Berbuat Baik Kepada Suaminya

Perbuatan ihsan (baik) seorang suami harus dibalas pula dengan perbuatan yang serupa atau yang lebih baik. Isteri harus berkhidmat kepada suaminya dan menunaikan amanah mengurus anak-anaknya menurut syari’at Islam yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada dirinya untuk mengurus suaminya, mengurus rumah tangganya, mengurus anak-anaknya.

Nasihat Untuk Suami-Isteri

  1. Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan bersama maupun sendiri, di rumahnya maupun di luar rumah.
    2. Wajib menegakkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjaga batas-batas Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam keluarga.
    3. Melaksanakan kewajiban terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan minta tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Laki-laki wajib mengerjakan shalat lima waktu di masjid secara berjama’ah. Dan perintahkan anak-anak untuk shalat pada waktunya.
    4. Menegakan shalat-shalat sunnah, terutama shalat malam.
    5. Perbanyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bacalah Al Qur’an setiap hari, terutama surat Al Baqarah. Bacalah pula do’a dan dzikir yang telah diajarkan oleh Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ingatlah, bahwa syetan tidak senang kepada keutuhan rumah tangga dan syetan selalu berusaha mencerai-beraikan suamiisteri. Dan ajarkan anak-anak untuk membaca Al Qur’an dan dzikir.
  2. Bersabar atas musibah yang menimpa dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmatNya.
  3. Terus-menerus berintropeksi antara suami-isteri. Saling menasihati, tolong menolong dan mema’afkan serta mendo’akan. Jangan egois dan gengsi.
  4. Berbakti kepada kedua orang tua.
  5. Mendidik anak-anak agar menjadi anak-anak yang shalih, ajarkan tentang aqidah, ibadah dan akhlak yang benar dan mulia.
    10. Jagalah anak-anak dari media yang merusak aqidah dan akhlak.

NASIHAT KHUSUS UNTUK SUAMI

 Wahai para Suami!!

  1. Apa yang memberatkanmu –wahai hamba Allah– untuk tersenyum di hadapan isterimu ketika engkau masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ?!!
  2. Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah ketika engkau melihat isteri dan anak-anakmu?!! Engkau akan dapat pahala?!!
    3. Apa sulitnya apabila engkau masuk ke rumah sambil mengucapkan salam secara sempurna: “Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh” agar engkau memperoleh tiga puluh kebaikan?!!
  3. Apa yang kira-kira akan menimpamu jika engkau berkata kepada isterimu dengan perkataan yang baik, sehingga dia meridhaimu, sekalipun dalam perkataanmu tersebut agak sedikit dipaksakan?!!
    5. Apakah menyusahkanmu -wahai hamba Allah- jika engkau berdo’a: ”Ya Allah!! Perbaikilah isteriku, dan curahkan keberkahan padanya.”
    6. Tahukah engkau bahwa ucapan yang lembut merupakan shadaqah?!!

    NASIHAT UNTUK ISTERI 

Wahai para isteri !!

  1. Apakah menyulitkanmu, jika engkau menemui suamimu ketika dia masuk ke rumahmu dengan wajah yang cerah sambil tersenyum manis?!!
  2. Berhiaslah untuk suamimu dan raihlah pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, gunakanlah wangi-wangian! Bercelaklah! Berpakaianlah dengan busana terindah yang kau miliki untuk menyambut kedatangan suamimu. Ingat, janganlah sekali-kali engkau bermuka muram dan cemberut di hadapannya.
    3. Jadilah engkau seorang isteri yang memiliki sifat lapang dada, tenang dan selalu ingat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala keadaan.
  3. Didiklah anak-anakmu dengan baik, penuhilah rumahmu dengan tasbih, takbir, tahmid dan tahlil serta perbanyaklah membaca Al Qur’an, khususnya surat Al Baqarah, karena surat tersebut dapat mengusir syetan
  4. Bangunkanlah suamimu untuk mengerjakan shalat malam, anjurkanlah dia untuk berpuasa sunnah dan ingatkanlah dia kembali tentang keutamaan berinfak, serta janganlah melarangnya untuk bersilaturahim.
  5. Perbanyaklah istighfar untuk dirimu, suamimu, orang tuamu, dan semua kaum muslimin, dan berdo’alah selalu agar diberikan keturunan yang shalih dan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, dan ketahuilah bahwasannya Rabb-mu Maha Mendengar do’a. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 

﴿ وَقَالَ رَبُّكُمْ ادعُوْنِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾ [المؤمين : 60]

Dan Rabb kalian berfirman: ”Berdo’alah kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian”. [Al Mu’min:60].

Kepemimpinan Laki-laki Atas Wanita

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

﴿ الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا  ﴾ [النساء : 34]

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar“. [An Nisaa:34].

KEWAJIBAN MENDIDIK ANAK

Sang suami sebagai kepala rumah tangga haruslah memberikan teladan yang baik dalam mengemban tanggung-jawabnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mempertanyakannya di hari kelak Akhir.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالأَمِيْرُ رَاعٍ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ )) [ متفق عليه ]

Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung-jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (Raja) adalah pemimpin, laki-laki pun pemimpin atas keluarganya, dan perempuan juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya, ingatlah bahwa kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggung-jawabannya atas kepemimpinannya“.[17]

Seorang suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi suami yang shalih, dengan mengkaji ilmu-ilmu agama, memahaminya serta melaksanakan dan mengamalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menjauhkan diri dari setiap yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia mengajak dan membimbing sang isteri untuk berbuat demikian juga, sehingga anak-anaknya akan meneladani kedua orang tuanya, karena tabiat anak memang cenderung untuk meniru apa-apa yang ada di sekitarnya.

  1. Mendidik anak dengan cara-cara yang baik dan sabar, agar mereka mengenal dan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang menciptakannya dan seluruh alam semesta, mengenal dan mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang pada diri Beliau terdapat suri tauladan yang mulia, serta agar mereka mengenal dan memahami Islam untuk diamalkan.

    2. Pada usia dini (sekitar 2-3 tahun), kita ajarkan kepada mereka kalimat-kalimat yang baik serta bacaan Al Qur’an, sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat dan generasi tabi’in dan tabi’ut tabi’in, sehingga banyak dari mereka yang sudah hafal Al Qur’an pada usia sangat belia.

  2. Perhatian terhadap shalat juga harus menjadi prioritas utama bagi orang tua kepada anaknya.
  3. Perhatian orang tua kepada anaknya juga dalam hal akhlaqnya, dan yang harus menjadi penekanan utama adalah akhlaq (berbakti) kepada orang tua.
  4. Juga perlu diperhatikan teman pergaulan anaknya, karena sangat bisa jadi pengaruh jelek temannya akan berimbas pada perilaku dan akhlaq anaknya.
  5. Disamping ikhtiar yang dilakukan untuk menjadikan isterinya menjadi isteri yang shalihah, hendaknya sang suami juga memanjatkan do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada waktu-waktu yang mustajab (waktu terkabulkannya do’a), seperti sepertiga malam yang terakhir, agar keluarganya dijadikan keluarga yang shalih, dan rumah tangganya diberikan sakinah, mawaddah wa rahmah, seperti do’a yang tercantum di dalam Al Qur’an :

﴿ وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴾ [الفرقان : 74]

Paling tidak, seorang suami hendaknya bisa menjadi teladan dalam keluarganya, dihormati oleh sang isteri dan anak-anaknya, kemudian mereka menjadi hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih dan shalihah, bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah kiat-kiat yang hendaknya seorang muslim dan muslimah lakukan untuk mewujudkan keluarga sakinah. Wallaahu a’lam bish shawab.

MARAJI’
1. ‘Isyratun Nisaa’, Imam Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali An Nasa-i, tahqiq dan ta’liq ‘Amir ‘Ali ‘Umar, Cet. Maktabah As Sunnah, Kairo, Th. 1408 H.

  1. Adabuz Zifaf Fis Sunnah Al Muthahharah, ta’lif (karya) Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cet. Daarus Salam, Th. 1423 H.
    3. Irwaa-ul Ghaliil Fii Takhriji Ahaadits Manaaris Sabil, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Cet. Al Maktab Al Islami.
    4. Al Insyirah Fii Adaabin Nikah, ta’lif Abu Ishaq Al Huwaini Al Atsari, Cet. II, Darul Kitab Al ‘Arabi, Th. 1408 H.
  2. Fiqhut Ta’aamul Baina Az Zaujaini Wa Qabasat Min Baitin Nubuwwah, ta’lif Syaikh Abu Abdillah Mushthafa bin Al ‘Adawi, Cet. I, Darul Qasim, 1417 H.
  3. Tuhfatul ‘Arus, Syaikh Mahmud Mahdi Al Istanbuli.
    7. Adaabul Khitbah Wa Zifaaf Fis Sunnah Al Muthahharah, ta’lif ‘Amr ‘Abdul Mun’im Salim, Cet. I, Daarudh Dhiyaa’, Th. 1421 H.

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun VIII/1425H/2004M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]
    _______

 

 


Footnote
[1]. HR Ath-Thabrani di kitab Mu’jamul Ausath dan Syaikh Al Albani rahimahullah menghasankannya. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 625.

[2]. HR Abu Dawud, no. 2.050, An Nasa-i (VI/65-66), Al Hakim (II/162), Al Baihaqi (VII/81) dari Ma’qil bin Yasar dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah di dalam Irwaa-ul Ghaliil, no. 1.784.
[3]. HR Bukhari no. 5.063, Muslim no. 1.401, Ahmad (III/241, 259, 285), An Nasa-i (IV/60) dan Al Baihaqi (VII/77) dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.

[4]. HR Ahmad (II/251 dan 437), An Nasa-i (VI/61), At Tirmidzi no. 1.655, Ibnu Majah no. 2.518 dan Al Hakim (II/160-161) dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Lafazh ini milik At Tirmidzi, ia berkata: “Hadits ini hasan”.

[5]. HR Ahmad (I/424, 425, 432), Bukhari no. 1905, 5065, 5066, Muslim (IV/128), At Tirmidzi no. 1.081, An Nasa-i (VI/56-58), Ad Darimi (II/132) dan Al Baihaqi (VII/77) dari sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu.

[5]. HR Bukhari no. 5.090, Muslim no. 1.466, Abu Dawud no. 2.047, Nasa’i (6/68), Ibnu Majah 1.858, Ahmad (2/428) dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.
[6]. HR Bukhari no. 5.090, Muslim no. 1.466, Abu Dawud no. 2.047, Nasa’i (6/68), Ibnu Majah 1.858, Ahmad (2/428) dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

[7]. HR Muslim no. 1.006, dan Ahmad (5/167-168), Ibnu Hibban no. 1.298 (Mawarid) dari sahabat Abu Dzar z . Lafazh ini milik Muslim.
[8]. Tafsir Ibnu Katsir (I/236), Cet. Daarus Salam.
[9]. HR Bukhari no. 5.155, Muslim no. 1.427, Abu Dawud no. 2.109, At Tirmidzi no. 1.094, An Nasa-i (VI/119-120), Ad Darimi (II/143), Ahmad (III/190, 271) dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.

[10]. Taqribut Tahdzib (II/195 no. 6.779).

[11]. HR Abu Dawud no. 2.142, Ibnu Majah no. 1.850 dan Ahmad (IV/447, V/3,5), Ibnu Hibban (no. 1.286-Mawarid), Al Baihaqi (VII/295, 305, 466, 467), Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (IX/159-160) no. 2.330, An Nasa-i dalam Isyratun Nisaa’ no. 289 dengan sanad yang shahih, Irwaa-ul Ghalil no. 2.033. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim, Adz Dzahabi dan Ibnu Hibban.
[12]. HR Tirmidzi 1.159, Ibnu Hibban 1.291-Al Mawarid dan Al Baihaqi (7/291) dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Ini adalah lafazh milik At Tirmidzi, ia berkata,”Hadits ini hasan shahih.” Hadits ini diriwayatkan dari beberapa sahabat. Lihat Irwaul Ghalil no. 1.998.

[13]. HR Ibnu Hibban no. 1.296-Mawarid, Shahih Mawaridu Zham’an, no. 1.081 dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini hasan shahih. Lihat Adabuz Zifaf, hlm. 286.
[14]. HR Bukhari no. 29, 1.052, 5.197 dan Muslim no. 907(17), Abu ‘Awanah (II/379-380), Malik (I/166-167) no. 2, An Nasa-i (III/146, 147, 148) serta Al Baihaqi (VII/294), dari sahabat Ibnu ‘Abbas dan diriwayatkan pula dari beberapa sahabat Radhiyallahu ‘anhum.
[15]. HR An Nasa-i dalam kitab Isyratin Nisaa’ no. 249 , Al Hakim (II/190) dan Al Baihaqi (VII/294) dari sahabat Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhu. Al Hakim berkata,”Hadits ini sanadnya shahih,” dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi.
[16]. Diringkas dari Fiqhut Ta’aamul Baina Az Zaujaini Wa Qabasat Min Baitin Nubuwwah (hlm. 107-112) ta’lif Abu Abdillah Mushthafa bin Al ‘Adawi, Cet. I, Darul Qasim.
[17]. HR Bukhari no. 893, 5.188, Muslim no. 1829, Ahmad (II/5, 54, 111) dari sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma.
[18]. Untuk mengetahui lebih jelas tentang Kiat-Kiat Menuju Keluarga Sakinah, silahkan baca buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, oleh Penulis.

 

 

Sumber : https://islamhouse. com/id/articles/806116/

 

Fatwa 06 – Bacaan Al-Ikhlas 1000 Kali Untuk Orang Sakit

Keluarga ingin melakukan khataman (mereka berkumpul dan mengulang-ulang bacaan surat Al-Ikhlas dengan lambat agar dapat membaca 10.000 kali, dengan niat agar orang yang sakit itu sembuh) apakah hal ini dibolehkan. Atau mereka harus berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala saja dan meminta pertolongan dari-Nya secara pribadi?

Alhamdulillah

Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an ada obat untuk manusia. Telah ada pada sebagian ayat  dan surat secara khusus di dalamnya ada obat, menjaga manusia, dan menolak kejelekan dengan izin Allah Ta’ala. Seperti Al-Fatihah, surat Al-Mu’awwidzat (Al-Falaq dan An-Nass), ayat kursi dan surat Al-ikhlas. Barangsiapa yang membaca sedikit dari ayat atau surat dan diulang-ulang tiga atau tuuh kali atau sesuai dengan keperluan tanpa terikat dengan bilangan tertentu yang tidak ada petunjuk agama, maka hal itu tidak mengapa. Dengan keyakinan bahwa kesembuhan itu ada di tangan Allah dimana Allah menjadikan Al-Qur’an itu sebagai obat untuk manusia.

Kalau ruqyah itu ditambah dengan doa yang ada dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam meruqyah. Seperti sabda beliau sallallahu’alaiahi wa sallam:

اذهب الباس رب الناس اشف وأنت الشافي لا شفاء إلا شفاءك شفاء لا يغادر سقماً  (أخرجه البخاري ( 5243 ) ومسلم ( 4061 )

“Hilangkanlan penyakit wahai Tuhan seluruh manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah yang Maha menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan dari penyembuhan-Mu. Kesembuhan tanpa meninggalkan kepayahan.” )HR. Bukhari, 5243 dan Muslim, 4061)

Seperti wasiat beliau hal itu kepada shahabat mulia ketika mengadu kepada beliau atas sakit yang dideritanya, beliau mengatakan kepadanya:

” ضع يدك على الذي تألم من جسدك وقل باسم الله ثلاثاً وقل سبع مرات أعوذ بالله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر ”

“Letakkan tangan anda di tempat yang sakit di tubuh anda dan bacalah ‘Bismillah’ tiga kali. Dan katakan tujuh kali ‘أعوذ بالله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر ‘ Saya berlindung dengan (nama) Allah dan kekuasaan-Nya dari kejelekan yang saya dapatkan dan saya berhati-hati (darinya).”

Dan selain dari itu yang shahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam termasuk suatu yang baik sekali.

Kalau terkumpul antara tawakal kepada Allah disertai dengan menghadirkan makna ayat dan doa yang dibacanya, serta adanya kebaikan masing-masing dari orang yang meruqyah dan yang diruqyah, maka hal itu dengan izin Allah sangat bermanfaat sekali.

Dari penjelasan tadi, maka berkumpul dengan cara yang disebutkan dalam pertanyaan dan bacaan surat ‘Qul huwallahu Ahad’ dengan bilangan tertentu (10.000 kali) termasuk amalan yang tidak dianjurkan. Maka hendaknya anda mencukupkan diri dengan apa yang ada ketetapan dari sunnah.

Kami memohon kepada Allah agar mendapatkan kesembuhan orang yang sakit diantara anda dan diberikan kesehatan. Amin.

 

https://islamhouse. com/id/fatwa/419439/

 

Aliran Sufi Diingkari Oleh Imam Syâfi’i Rahimahullah

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Nama besar Imam Syâf’i rahimahullah sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Ketokohan beliau sudah tidak diperselisihkan umat Islam. Hanya saja, umat sepertinya lebih mengenal beliau sebagai pakar hukum Islam dan peletak dasar Ilmu Ushul Fiqih, sementara aspek kehidupannya yang lain, – bahkan yang lebih penting – belum banyak terekspos di tengah khalayak.

Sisi aqidah Imam Syâfi’i rahimahullah– yang berpijak pada aqidah Salafus Shaleh, aqidah para Sahabat Radhiyallahu anhum yang belajar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung – belum banyak diulas, termasuk juga dalam hal ini, pemaparan celaan dan bantahan beliau rahimahullah terhadap beberapa aliran –menyimpang- yang menunjukkan jauhnya aliran tersebut dari jalan yang lurus. Sebenarnya komentar miring beliau rahimahullah terhadap pemikiran dan golongan itu jelas akan mengguratkan makna yang lebih mendalam dan membekaskan pelajaran penting bagi para pengikut madzhab. Dengan demikian, umat akan menjauhi aliran-aliran yang telah diingkari imam mereka. Dikhawatirkan, jangan-jangan ada sebagian orang yang mengikuti madzhab salah satu dari mereka justru berideologi atau membela pemikiran aliran-aliran yang diingkari dan dibantah Imam Syâfi’i rahimahullah. Dan kenyataannya, ada ungkapan berbunyi, “Aku bermadzhab Syâfi’ i dalam fiqih, asy’ari dalam aqidah, sufi dalam akhlak”. (?!).

Berikut ini beberapa bantahan, komentar miring dan bantahan Imam Syâfi’i t terhadap beberapa aliran yang ada di masa itu.

IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLAH MENCELA SUFI

Aliran Sufi, penyebarannya begitu meluas di banyak negeri Muslim. Tidak diketahui secara pasti siapa yang mulai menggagasnya pertama kali. Yang jelas, dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : ““Nama Sufi belum ada pada tiga kurun pertama (umat Islam). Istilah itu baru muncul setelah itu”. (Majmû Fatâwâ 11/5).

Awalnya, penampilan zuhud dominan pada para pengikut Sufi. Pembersihan jiwa dan hati serta menjauhkan diri dari dunia menjadi tujuan mereka. Namun dalam perjalanannya, muncul penyelewengan dan penyimpangan dalam aqidah dan aspek lainnya, seperti diyakininya aqidah wihdatul wujûd, bermunculannya tarekat-tarekat Sufi dengan ragam wirid dan tata cara ibadahnya melekat pada aliran Sufi. Aliran ini mulai menunjukkan hakekatnya pada abad ketiga hijriyah. Dan yang ‘menarik’, tokoh-tokoh pembesar Sufi pada abad ketiga dan keempat semuanya berasal dari Persia, tidak ada satu pun yang berasal dari suku Arab.

Sikap umat Islam terhadap Sufi dan ajarannya terbagi menjadi dua pihak, mendukung Tasawuf dan mengamalkan ajarannya. Yang kedua, menolak ajaran tersebut dan menjauhinya serta memperingatkan umat darinya. Bagaimana sikap seorang Muslim terhadap ajaran Tasawuf ini?.

Timbangan seorang Muslim untuk menganalisa dan menilai sesuatu adalam Kitâbullâh dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila dicermati, fenomena yang telah disebut di muka, keyakinan aqidah wihdatul wujud yang diyakini pembesar Sufi seperti Ibnu Arabi, banyaknya tarekat yang masing-masing ternyata memiliki ajaran-ajaran khusus yang berbeda dari tarekat lainnya sesuai dengan apa yang diajarkan Syaikh tarekat, sudah cukup menjadi bukti bahwa golongan ini tidak berada di atas jalan yang lurus. Apalagi bila ditambah dengan kebiasaan bertawasul kepada orang mati, dan mengadakan acara dan ibadah yang sama sekali tidak pernah diperintahkan oleh Nabi umat Islam, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Maka tak mengherankan bila seorang Imam Syâfi’i rahimahullah mencela dan membantah aliran ini. Pandangan Imam Syâfi’i rahimahullah dan celaan beliau terhadap aliran ini dan para pengikutnya telah tercatat rapi dalam kitab-kitab yang menulis biografi beliau.

Yang menarik, Imam Syâfi’i rahimahullah pernah melontarkan pernyataan ketika beliau memasuki negeri Mesir yang berbunyi :
]  خَلَفْتُ بِالْعِرَاقِ شَيْئًا أَحْدَثَهُ الزَّناَدِقَةُ يُسَمُّوْنَـهُ التَّـغْبِيْرَ يُشْغِلُوْنَ بِهِ النَّاسَ عَنِ الْقُرْآنِ    [

“Aku tinggalkan di (negeri) Irak sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq yang mereka sebut dengan taghbiir. Dengan itu, mereka melalaikan orang-orang dari al-Qur`ân” [Manâqibu asy-Syâfi’i , karya al-Baihaqi 1/173].

Atau dalam riwayat lain, beliau mengatakan:

] تَرَكْتُ بَغْدَادَ وَقَدْ أَحْدَثَ الزَّناَدِقَةُ فِيْهَا شَيْئًا يُسَمُّوْنَـهُ السَّمَاعَ [

“Aku tinggalkan (kota) Baghdad, sedang orang-orang zindiq (waktu itu) telah mengadakan sesuatu yang baru (dalam agama) yang mereka sebut dengan istilah samâ’ ”

Makna zindiq adalah orang yang sudah rusak agamanya. Dan orang-orang zindiq yang beliau maksud adalah kalangan mutashawwifah (para penganut Tasawuf). Sementara yang beliau maksud dengan taghbîr atau samâ` ialah nyanyian dan senandung yang mereka dendangkan.

Beliau memasuki Mesir pada tahun 199H. Pernyataan beliau itu menunjukkan bahwa samaa’ merupakan perkara baru dalam Islam yang tidak dikenal sebelumnya oleh umat Islam.

Imam Syâfi’i rahimahullah mengingkari mereka dengan menyatakan:

أَسَاسُ التَّصَوَّفِ الْكَسَلُ
“Asas tasawuf adalah kemalasan” [al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahâni 9/136-137].

Beliau juga mencela mereka dengan berkata:

[ لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيُّ صُوْفِياًّ حَـتَّى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُولٌ أَكُوْلٌ شَؤُوْمٌ كثَيْرُ الْفُضُولِ   ]

Seseorang tidak akan menjadi Sufi (tulen) kecuali setelah empat perkara ada padanya: sangat malas, banyak makan, sangat pesimis, dan banyak melakukan hal yang tidak perlu”. (Manâqibu asy-Syâfi’i karya al-Baihaqi 2/207). 

Imam al-Baihaqi rahimahullah dengan sanadnya meriwayatkan dari Yûnus bin ‘Abdil A’lâ rahimahullah , ia berkata, “Aku mendengar (Imam) Syâfi’i rahimahullah menyatakan:

[لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَـصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتَـهُ أَحْمَقَ]
“Kalau ada orang menjadi Sufi di pagi hari, maka tidaklah datang waktu Zhuhur kecuali orang tersebut akan engkau jumpai menjadi manusia yang dungu”. [Manâqib Syâfi’i karya Imam al-Baihaqi 2/207]

Ini mengisyaratkan kepada hasil cuci otak ala Sufi. Seorang penganut Sufi (seorang murid) wajib mengagungkan Syaikhnya (dan orang-orang yang dianggap sudah mencapai derajat ‘wali’) secara berlebihan. Ajaran dan doktrin apapun harus diterima oleh murid dengan secara penuh, meski bertentangan dengan akal sehat dan ajaran syariat. Ketaatan seorang ‘murid’ kepada gurunya adalah bak jenazah yang sedang dimandikan oleh orang.

Simaklah cerita yang yang cukup pantas disebut dungu orang yang mempercayainya. Disebutkan dalam Karâmâtul Auliyâ (2/367), seorang ‘wali’ mampu mengkhatamkan al-Qur`an 360 ribu kali dalam sehari semalam (24 jam)!?. Jika akal masih sehat belum teracuni oleh pengagungan yang melampaui batas terhadap orang yang disebut ‘wali’ pastilah akan menolak fakta ini tertulis dalam kitab karomah para wali. Jika sehari semalam adalah 24 jam yang berarti 1440 detik. Maka ‘wali’ yang bersangkutan mampu mengkhatamkan 250 kali dalam semenit. !? Ini mustahil.

Beberapa pernyataan Imam Syâfi’i ini sudah cukup memadai untuk menggambarkan dan memberikan penilaian terhadap aliran Sufi dan ajaran tasawuf. Ia bukanlah ajaran yang baik bagi umat Islam. Apalagi muncul dari seorang peletak dari Ilmu Ushul Fiqih yang mengetahui syariat Islam secara mendalam.

Semoga Allâh Azza wa Jalla mengembalikan umat Islam kepada pengagungan terhadap petunjuk Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallâhu a’lam.

 


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433H/2012. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

 

Sumber :  https://islamhouse. com/id/articles/806122/

Teori Jahmiyah Tentang Ketuhanan

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang -Dia sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba’du:

 

Penjelasan Mengenai Bentuk-bentuk Kesyirikan dalam Rububiyah Dengan Mengingkari (Ta’thil) Sang Pencipta dari Kesempurnaan       -Nya yang Suci dan Tetap bagi -Nya.

Pengantar: Penjelasan mengenai pengingkaran terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla dari nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan -Nya dan termasuk dalam kesyirikan.

Sebagaimana telah kita jelaskan secara umum mengenai penolakan terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla yang merupakan bagian dari kesyirikan. Dengan menyebutkan nukilan dari para pakar dalam masalah ini[1]. Dengan demikian, maka bisa kita simpulkan secara ringkas  apa yang telah disebutkan pada pembahasan yang telah lalu, sebagai berikut:

Pertama: Tidak ada perselisihan pendapat di kalangan para muhaqiq (pengamat), bahwa syirik adalah lawan dari pada tauhid. Apabila kita katakan, “Sesungguhnya tauhid memiliki tiga macam yaitu Rububiyah, Asma’ was Shifat, dan Uluhiyah. Dengan demikian, maka kita juga bisa menentukan apa yang menjadi lawannya yaitu kesyirikan. Dan lawannya ini bisa terbagi menjadi dua macam :

  1. Dengan cara tha’til (menolaknya).
  2. Dengan menetapkan ketiga macam tauhid tersebut kepada selain Allah ta’ala.

Adapun tha’til, maka ini dilatar belakangi kejadiannya dengan cara mengingkari rububiyah Allah Shubhanahu wa ta’alla secara mutlak. Atau dengan cara mengingkari kesempurnaan -Nya yang maha suci yang telah melekat pada -Nya atau bisa juga dengan cara mengingkari keduanya secara bersamaan. Adapun yang pertama, yaitu kesyirikan dalam rububiyah, maka caranya dengan menolak Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagai pencipta yang telah menciptakan makhluk -Nya. Dan ini, telah berlalu pembahasaannya pada pembahasan pertama.

Sedangkan yang kedua, maka hal itu merupakan kesyirikan dalam rububiyah dan asma’ was shifat, serta perbuatan-perbuatan     -Nya, yaitu dengan cara menolak kesempurnaan yang ada pada Allah azza wa jalla. Inilah yang akan menjadi inti pokok pembahasan pada pembahasan kita kali ini, sesuai dengan kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla. Adapun yang ketiga, maka perinciannya akan kita angkat pada pembahasan ketiga, insya Allah.

Sedangkan penetapannya kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla maka terjadi dari segi dzat, sifat, dan perbuatan -Nya. Dan sisi ini akan menjadi pembahasan pada sub pasal kedua dengan kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla. Dengan itu kita ketahui bahwa penolakan (tha’til) bisa menjadi sebuah kesyirikan dalam rububiyah, asma was shifat dan perbuatan Allah Shubhanahu wa ta’alla, yaitu dillihat dari sisi keterangan bahwa rububiyah, asma’ was shifat, dan perbuatan Allah Shubhanahu wa ta’alla merupakan bagian dari tauhid.

Pertama: Sesungguhnya seorang hamba tidak pernah bisa terlepas dari yang namanya ritual peribadahan secara mutlak. Karena memang dirinya membutuhkan peribadatan tersebut, dimana ia sangat berkeinginan dan berambisi sekali untuk bisa ibadah.

Dan tatkala disadari bahwa kefakiran memerlukan kepada sesuatu yang dapat mencukupinya dari kefakiran yang lagi dideritanya. Maka apabila ada makhluk yang mengingkari adanya pencipta, dalam hal ini adalah Allah Shubhanahu wa ta’alla, atau menolak nama dan sifat-sifat -Nya, perbuatan-perbuatan -Nya, atau menolak keduanya. Maka, secara tidak langsung akan mendorong dirinya harus menemukan dzat lain sebagai sarana yang dianggap dapat memenuhi kebutuhannya, dan ini adalah suatu kelaziman, mau atau tidak mau. Oleh karena itu, barangsiapa yang menjadikan dzat selain Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagai tempat pelampiasan untuk diminta memenuhi kebutuhannya, maka secara langsung dirinya telah menjadikannya sebagai tuhan selain Allah azza wa jalla.

Contoh konkretnya adalah, bahwa orang yang mengingkari adanya Rabb atau pencipta, sesungguhnya ia sedang hidup di alam semesta ini. Dan yang namanya kehidupan ini, tidak mungkin bisa terlepas dari yang namanya kelelahan dan berbagai macam permasalahan. Sehingga orang yang mengingkari rububiyah dalam menghadapi kelelahan dan berbagai macam persoalan hidup yang ada, maka tidak terlepas dari dua kondisi, mungkin dia akan mengatakan, “Aku adalah penguasa bagi diriku sendiri, yang mampu untuk menyelesaikan berbagai problematika ini sendirian, tanpa ada campur tangan dari pihak orang lain”. Tatkala itu, maka dirinya sedang menjadi seorang pendusta, tidak perlu disangsikan lagi.

Atau dirinya akan mengatakan, “Sesungguhnya si fulan, atau peraturan tertentu akan mengatasi segala problem yang sedang saya hadapi”. Maka Ketika itu, dia telah menjadikan seorang makhluk atau peraturan tertentu dalam kedudukan setara dengan rububiyah, walaupun ia tidak visualisasikan secara jelas, atau tidak mengakui hal tersebut.

Demikianlah, keadaan orang yang mengingkari nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla, sifat-sifat -Nya dan perbuatan-perbuatan -Nya, yang mana ciptaan Allah Shubhanahu wa ta’alla termasuk bagian dari kandungan keadilan dan hikmah -Nya. Maka orang yang berkeyakinan semacam tadi secara tidak langsung telah menetapkan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan ini kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, walaupun ia sendiri barangkali mengingkarinya dan mengakui yang lain.

Hal itu, dikarenakan nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla, sifat-sifat -Nya dan perbuatan-perbuatan -Nya secara keseluruhan adalah kelaziman yang ada pada dzat -Nya, dan kelaziman yang harus ada dari para hamba -Nya. Sehingga menjadi jelas bahwa nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan -Nya merupakan ketetapan yang mutlak bagi     -Nya, yang konsekuensinya para hamba sangat membutuhkan sekali untuk berdoa dengan menggunakan nama-nama -Nya. Dan tertuntut bagi dirinya untuk mengetahui sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla dan perbuatan-perbuatan -Nya.

Dan keberadaan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah Shubhanahu wa ta’alla memiliki konsekuensi bagi setiap hamba kesadaran didalam kebutuhannya terhadap peribadahan yang harus diberikan kepada -Nya. Oleh karena itu Imam Ibnul Qayim menerangkan, “Nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang indah, dan sifat-sifat -Nya yang Maha tinggi menuntut seorang hamba adanya pengaruh dalam penghambaan dan memenuhi perintah -Nya, yang merupakan dorongan dari pengaruh nama dan sifat -Nya, dari penciptaan dan pengadaan makhluk.

Maka setiap sifat terkandung penghambaan yang khusus, dan itu termasuk sebuah pendorong dan kelaziman yang akan mendorong bagi seorang hamba untuk mengetahui nama dan sifat-sifat -Nya secara benar dan lurus pemahamannya. Dan ini berlaku pada setiap jenis peribadahan yang berkaitan dengan hati dan anggota badan.

Pengetahuan seorang hamba tentang keesaan Allah ta’ala dalam memberikan manfaat dan mudharat, memberi dan menahannya, menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, akan membuahkan baginya ibadah tawakal secara batin, dan konsekuensi yang berkaitan dengan tawakal dan buahnya secara nyata.

Pengetahuannya tentang pendengaran Allah Shubhanahu wa ta’alla dan penglihatan -Nya, ilmu -Nya, bahwasanya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi  bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla di langit maupun di bumi, walaupun sebesar biji sawi. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui apa yang tersembunyi dan mengetahui mata yang berkhianat, dan apa yang disembunyikan dalam hati. Maka hal itu, akan membuahkan pada dirinya untuk senantiasa menjaga lisan, anggota badan, dan apa yang direncanakan oleh hatinya dari segala sesuatu yang tidak diridhai oleh -Nya. Serta menjadikan keterkaitan seluruh anggota badannya dengan apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah.

Sehingga hal itu, akan membuahkan rasa malu secara batin dan rasa malu yang mengantarkan untuk menjauhi hal-hal yang buruk dan haram. Pengetahuan mengenai kekayaan Allah Shubhanahu wa ta’alla, kedermawanan -Nya, kemulian -Nya, kebaikan -Nya, perbuatan baik -Nya, rahmat -Nya, mengharuskan untuk meluaskan pengharapannya kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sehingga efeknya akan membuahkan jenis-jenis penghambaan secara batin dan dhohir sesuai dengan kadar pengetahuan dan ilmunya.

Begitu juga pengetahuannya tentang kemuliaan, keagungan, dan kebesaran Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka akan membuahkan ketundukan, ketenangan dan rasa cinta. Keadaan batin tersebut akan menghasilkan peribadahan secara dhohir yang termasuk faktor kewajiban yang melekat padanya. Pengetahuan mengenai kesempurnaan -Nya, keindahan -Nya, dan sifat-sifat -Nya yang maha tinggi mengharuskan baginya memiliki kecintaan yang khusus sehingga berbuah pada berbagai bentuk peribadahan.

Maka peribadahan, seluruhnya kembali kepada konsekuensi yang terkandung dari nama-nama dan sifat-sifatNya. Yang sangat erat kaitannya dengan penciptaan. Maka penciptaanNya dan perintahNya merupakan keharusan bagi nama-nama dan sifat-sifat -Nya di alam semesta. Serta pengaruh-pengaruhnya dan bagian dari konsekuensinya”.[2]

Dalam kesempatan lain beliau juga menyampaikan, “Nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang baik mengharuskan seorang hamba untuk memutus hubungan dengan dosa. Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha pengampun, Maha penerima taubat, Maha pemaaf, dan Maha lembut. Nama-nama ini mengharuskan adanya pengaruh dan kelazimannya”. [3] Beliau juga mengatakan, “Bahwa Allah ta’ala memiliki nama-nama yang baik, dan setiap nama memiliki  pengaruh dalam penciptaan dan urusan -Nya, yang mengharuskan adanya keterkaitan dengan hal tersebut. Sebagaimana keterkaitan antara orang yang diberi rizki, dengan rizki itu sendiri, terhadap orang yang memberinya rizki.

Dan keterkaitan antara orang yang diberi kasih sayang, sebab untuk mendapat kasih sayang, dan Yang Maha Penyayang”. [4] Serta keterkaitan antara yang dipandang dan didengar oleh Yang Maha mendengar dan Maha melihat. Maka hal tersebut bisa diumpamakan terhadap seluruh nama-nama Allah azza wa jalla. Bila diperhatikan maka perkara-perkara ini saling berkaitan erat satu sama lainnya. Kandungan makna-maknanya mengharuskan adanya keterkaitan yang berhubungan dengan nama-nama Allah ta’ala. Dan bab ini, pembahasannya sangat luas sekali.  Tentunya, bagi orang yang cerdas cukup dengan isyarat yang sedikit ini. Ibarat kita dan mereka sedang berada dilembah, kita ada di sebuah lembah dan orang yang tertutup hijab tebal dalam pembahasan ini berada di lembah yang lain.[5]

Maksud dibawakannya perkataan Ibnul Qayim adalah sebagai penjelas mengenai Allah Shubhanahu wa ta’alla, bahwa tidaklah dinamakan dengan nama-nama, tidak disifati dengan sifat-sifat, dan tidak dilakukan perbuatan -Nya kecuali karena hamba membutuhkan kepada nama-nama dan sifat-sifat itu tanpa terkecuali. Yang mana para hamba sangat membutuhkannya sebagai sarana peribadahan kepada -Nya. Karena itu, sebagai seorang hamba harus meyakini bahwa dzat yang sedang disembah harus memiliki nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan ini. Apabila tidak, maka tidak ada manfaat keberadaannya pada Dzat yang disembah.

Nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla, sifat-sifat -Nya, dan perbuatan-perbuatan -Nya, melazimkan keberadaannya sangat penting bagi para hamba. Apabila tidak, maka tidak mungkin seorang hamba bisa hidup secara mutlak. Apabila ia mengingkari hal ini bagi Rabb yang Maha benar, maka ia pastinya membutuhkan hal ini dan memberikannya kepada selain Allah Shubhanahu wa ta’alla. Dengan hal itu maka ia terjatuh dalam kesyirikan kepada -Nya. Walaupun ia mengingkari hal itu dengan penuh pembangkangan dan kesombongan.

Apabila keadaan orang yang mengingkari nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan -Nya adalah seperti ini, maka dapat diqiyaskan padanya keadaan orang yang mentha’thil (menolak) hakikat dzat dan wujud -Nya. Dan mengingkari seluruh nama-nama dan sifat-sifat -Nya. Kita mengetahui dengan penjelasan ini bagaimana seorang yang menolak/mengingkari terjatuh dalam kesyirikan kepada -Nya.  Sama saja apakah ia mengingkari makhluk dari sang pencipta, atau mengingkari kesempurnaan -Nya atau kedua-duanya.

Jika kita sudah mengetahui ini, maka kita mulai dengan maksud yang kita kehendaki. Yaitu penjelasan syirik tha’thil (menolak, pent) dengan menolak kesempurnaan sang Pengcipta yang Maha suci. Maka kita katakan :

Bahwa mereka terbagi menjadi dua kelompok :

Kelompok pertama: Orang musyrik  kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam rububiyah dengan menolak nama-nama dan sifat-sifat    -Nya. Saya telah menemukan beberapa kelompok dalam umat ini, yang berbuat syirik kepada -Nya dengan menolak nama-nama dan sifat-sifat -Nya. Penjelasan mengenai kelompok ini, pendapat-pendapatnya, serta syubhat-syubhatnya, beserta bantahan kepada mereka dalam poin di bawah ini:

 

Pertama: Jahmiyah.

Madzhab mereka dalam tauhid adalah mengingkari seluruh nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah ta’ala. Menjadikan nama-nama –Nya termasuk dalam bab majas. Al-Asy’ariy mengatakan, “Ia (Jahm) mengatakan, “Aku tidak berkata bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah sesuatu, karena hal itu menyerupakan -Nya dengan sesuatu”.[6] Asy-Syihristani berucap, “Jahmiyah, yaitu para pengikut Jahm, bersesuaian dengan Mu’tazilah dalam menafikan sifat azali dan menambah beberapa perkara.

Di antaranya perkataan, “Tidak diperbolehkan pensifatan terhadap al-Bari (Allah, pent) dengan sifat yang sama dengan makhluknya. Karena hal itu mengharuskan adanya penyerupaan. Mereka menafikan sifat hidup dan mengetahui, dan menetapkan sifat mampu (Qadir), melakukan perbuatan (Fa’il), dan menciptakan (Khalik). Karena tidak ada makhluk yang bisa  disifati dengan mampu (Qudrah), melakukan perbuatan, dan menciptakan”.[7]

Di antaranya adalah menetapkan bagi -Nya ilmu mengenai kejadian-kejadian yang baru, bukan dalam tempat. Mereka mengatakan, “Tidak boleh sesuatu diketahui sebelum diciptakan. Karena apabila diketahui baru kemudian menciptakan apakah akan tetap ilmunya seperti seharusnya, atau tidak tetap? Apabila tetap ada maka itu adalah kebodohan, karena ilmu tentang apa yang akan terjadi bukanlah ilmu tentang apa yang sudah ada. Apabila tidak tetap berarti telah berubah. Sesuatu yang telah berubah adalah makhluk, bukan sesuatu yang ada sejak dahulu apabila telah tetap adanya ilmu, maka akan terdapat kemungkinan akan terjadi sesuatu yang baru pada dzat -Nya ta’ala.

Hal tersebut mengakibatkan perubahan dzat -Nya dan menjadi tempat terjadinya sesuatu yang baru. Atau terjadi di tempat, maka tempat itu akan disifati dengan -Nya, bukan Allah ta’ala. Maka menjadi jelas bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak ada tempat untuk -Nya. Mereka Jahmiyah hanya menetapkan ilmu tentang sesuatu yang baru dengan jumlah yang ada diketahui”.[8] Jahmiyah mengingkari nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla dan sifat-sifat   -Nya dengan bersandar dalam pengingkaranya kepada sesuatu yang disangkanya sebagai dalil akli. Hal itu adalah:

  1. Menetapkan sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla melazimkan penyerupaannya dengan makhluk.
  2. Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat -Nya mewajibkan bentuk jism (tubuh) bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla.
  3. Menetapkannya akan mengharuskan bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tempat bagi kejadian yang baru.

Ini adalah keumuman syubhat-syubhat mereka dalam terjatuhnya ke dalam syirik ta’thil (peniadaan). Terpengaruh dengan mereka orang-orang Mu’tazilah. Hal itu karena mereka adalah Jahmiyah dalam bab sifat. Karena semua yang mengingkari sifat-sifat atau sebagiannya maka mereka adalah Jahmiy (pengikut Jahmiyah). Semua itu tergantung kadar kesesuaiannya dengan Jahm pada madzhabnya. Oleh karenanya kita melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membagi Jahmiyah menjadi tiga tingkatan:

Tingkatan pertama: Mereka adalah Jahmiyah yang paling melampaui batas, yang menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla. Apabila mereka menamakan Allah dengan salah satu nama -Nya, mereka mengatakan itu majas.

Tingkatan kedua: Dari Jahmiyah adalah Mu’tazilah dan yang serupa. Yang menetapkan nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam jumlah tertentu, akan tetapi meniadakan sifat-sifat -Nya.

Tingkatan ketiga: Adalah ash-Shufatiah yang menetapkan, dimana mereka menyelisihi Jahmiyah. Akan tetapi dalam diri mereka ada sedikit pengaruh jahmiyah. Mereka adalah orang-orang yang menetapkan nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam jumlah tertentu. Akan tetapi mereka membantah sebagian besar sifat-sifat khobariyah dan selain khobariyah, dan mentakwilnya.

Di antara mereka ada yang menetapkan sifat-sifat Allah Shubhanahu wa ta’alla khobariyah yang berasal dari al-Qur’an saja tanpa hadits. Sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan ahli kalam (filsafat, pent), ahli fikih, dan sekelompok ahli hadits. Di antara mereka ada juga yang menetapkan sifat-sifat yang ada dalam berita (khabar) secara garis besar. Akan tetapi bersamaan dengan penafian dan peniadaan sebagian yang telah tetap dengan nash-nash dan akal. Contohnya adalah Muhammad bin Kilab dan orang yang mengikutinya. Dalam bagian ini masuk Abul Hasan al-Asy’ariy dan keompok dari ahli fikih, filsafat, hadits dan tasawuf.

Mereka kepada sunah lebih dekat dibandingkan kedekatannya dengan Jahmiyah, Rafidhah, Khawarij, dan Qodariyah. Akan tetapi ada juga kelompok yang menyadarkan kepada mereka (Abul Hasan, pent), pada hakikatnya mereka lebih condong kepada Jahmiyah dibandingkan kedekatannya dengan Ahlu sunnah”.[9] Maksudnya adalah penjelasan bahwa Jahmiyah termasuk orang-orang musyrik kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan meniadakan nama-nama dan sifat-sifat -Nya. Mereka walaupun keberadaannya tidak diketahui dengan nama ini pada zaman modern ini, akan tetapi ada kelompok-kelompok yang mengambil pendapat-pendapat dan syubhat-syubhat mereka. Seperti neo mu’tazilah, yaitu mereka para pemuja akal dan selain mereka.

 

Pengaruh-pengaruh yang terjadi akibat pendapat-pendapat Jahmiyah.

Sesungguhnya orang yang mendalami perkataan-perkataan Jahmiyah akan mengetahui bahwasanya pendapat mereka mengarahkan kepada pengingkaran sang Pencipta. Oleh karenanya para ulama ahlussunnah berpendapat, bahwa orang yang berbuat bid’ah dengan mengeluarkan pendapat ini termasuk orang-orang zindiq yang mengingkari sang Pencipta dan mendustakan -Nya. Akan tetapi mereka bersembunyi di balik filsafat dan teori-teori menyimpang yang mengantarkan kepada tujuan. Menyembunyikan maksud hatinya dalam perlawanannya.

Orang-orang yang mendustakan sifat-sifat sang Pencipta, pendapat mereka sama seperti Fir’aun dan Namrud. Dimana mereka mendustakan sang Pencipta. Karena orang yang tidak memiliki sifat maka tidak ada wujudnya, dan tidak dimungkinkan mengetahuinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, “Para pembesar Rafidhah dan Jahmiyah adalah orang-orang zindiq. Dan orang yang pertama kali berbuat bid’ah dengan cara menolak (ta’thil) adalah munafik. Begitu juga mengikuti Jahmiyah asalnya adalah kezindiqan dan kemunafikan. Oleh karena itu orang-orang zindiq, munafik dari kalangan Qoromithoh pengagung kebatinan dan filsafat, dan orang-orang semisal mereka condong kepada Rafidhah dan Jahmiyah karena kedekatannya dengan mereka”. [10]

Beliau juga mengatakan, “Riwayat dari kalangan salaf dan para Imamnya menyatakan untuk mengkafirkan Jahmiyah murni, yang mana mereka meningkari sifat-sifat Allah”.[11] Beliau menyatakan, “Hakikat pernyataan Jahmiyah (yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah) adalah perkataan Fir’aun. Itu adalah pengingkaran terhadap sang Pencipta. Dan mengingkari perkataan -Nya dan agama -Nya. Sebagaimana dilakukan oleh Fir’aun. Ia dahulu mengingkari Allah Jalla Jalaluhu, seraya berkata;

 

﴿ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي ٣٨ ﴾ [القصص : 38]

Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS al-Qashash: 38).

 

Fir’aun juga mengingkari bahwa Allah Shubhanahuwa ta’alla berbicara kepada Musa, dan Musa memiliki sesembahan di atas langit. Ia ingin menghentikan peribadahan dan ketaatan kepada -Nya, dan ia menjadi sesembahan yang ditaati. Pada saat perkataan Jahmiyah ditakwilkan kepada perkataan Fir’aun, maka hasil akhir dari perkataan Jahmiyah adalah pengingkaran terhadap Rabbul ‘Alamin dan mengingkari peribadahan kepada -Nya, dan mengingkari kalam   -Nya. Sampai tampak pada mereka pengakuan tentang pemurnian, tauhid, dan pengetahuan. Maka pada akhirnya mereka mengatakan, “Alam ini adalah Allah Shubhanahuwa ta’alla, wujudnya satu. Wujud yang ada dahulu dan azali adalah wujud yang baru diciptakan. Rabb adalah hamba. Tidak ada perbedaan antara Rabb dan hamba, dan khalik adalah makhluk oleh karena itu mereka memberikan aib kepada para nabi dan menguranginya, dan mereka memberikan aib kepada Nuh, Ibrahim dan lainnya. Mereka memuji Fir’aun dan membolehkan peribadahan kepada seluruh makhluk”.[12]

 

Pengaruh Jahmiyah Pada Masa Setelahnya.

Sebagian ulama menyangka bahwa pemikiran dan pendapat-pendapat Jahmiyah dalam menafikan sifat –dalam tingkat pertama- telah hilang ditelan bumi dengan hilangnya para penyerunya. Akan tetapi ulama yang mendalami sekte-sekte dan pemikiran mereka mengetahui bahwa kebanyakan pokok keyakinan yang dibentuk oleh Jahmiyah, dan takwil-takwil yang digagasnya masih tumbuh subur bersama jalannya sejarah Islam. Sungguh pemikiran-pemikiran tersebut telah diadopsi dan ditempuh oleh orang-orang yang mengaku bahwa dirinya adalah ahlul haq. Cukuplah kita mengetahui bahwa Mu’tazilah adalah perpanjangan dari Jahmiyah serta cabang dari cabang-cabang yang ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penakwilan yang ada pada hari ini, seperti takwil yang disebutkan oleh Abu Bakr bin Furuk[13] dalam kitab At-Ta’wilaat, dan disebutkan juga oleh Abu Abdullah Muhammad bin Umar ar-Raziy dalam kitabnya yang berjudul “Ta’sisut Taqdis”. Terdapat juga penakwilan itu dalam pendapat selain mereka seperti : Abu Ali al-Juba’iy[14], Abdul Jabbar bin Ahmad al-Hamdaniy[15], Abul Husain al-Bashriy[16], Abul Wafa bin Uqail, Abu Hamid al-Ghazaliy dan lain-lain. Penakwilan tersebut sejatinya adalah takwil yang dilakukan oleh Bisyr al-Mirisiy[17], yang disebutkan dalam kitab miliknya. Walaupun terdapat pada pendapat sebagian mereka, bantahan terhadap takwil dan pengingkarannya. Mereka memiliki perkataan yang bagus dalam berbagai hal. Hanya saja dijelaskan bahwa penakwilan mereka adalah penakwilan Bisyr al-Mirisi.

Ada kitab bantahan yang menunjukkan hal tersebut, ditulis oleh Utsman bin Sa’id ad-Darimiy, salah seorang Imam yang tersohor pada zaman al-Bukhariy. Menyebutkan dalam kitabnya takwil-takwil yang sejatinya berasal dari Bisyr al-Mirisiy. Dengan perkataan yang menunjukkan bahwa al-Mirisi yang mencetuskannya, dan diketahui secara periwayatan ataupun akal dari ulama kontemporer yang bersambung dengan mereka dari sisinya atau sisi selainnya”. [18] Beliau mengatakan di tempat lain, “Mereka mengambil madzhab ini dari al-Jad’ bin Dirham, Jahm bin Shafwan, dan kemudian menyebarkannya, dan mendebatnya. Kemudian berpindah kepada Mu’tazilah pengikut Amr bin Ubaid[19], dan tampak perkataan mereka pada zaman Khalifah Ma’mun[20]”. [21]

Beliau menyatakan pada tempat lain, “Sesungguhnya Mu’tazilah yang mengikuti Amr bin Ubaid atas perkataanya dalam takdir dan ancaman, masuk dalam madzhab Jahm. Mereka menetapkan nama-nama Allah ta’ala, dan tidak menetapkan sifat-sifat -Nya”.[22] Syaikhul Islam menyatakan, “Jahm berbuat ghuluw dalam penafian (nama dan sifat, pent), dan selaras dengannya adalah aliran kebatinan, filsafat dan yang semisal mereka. Begitu juga Mu’tazilah dalam hal sifat tanpa nama, Kilabiyah dan orang-orang yang bersesuaian dengan mereka, dalam menafikan sifat-sifat ikhtiariyah, masuk juga Karamiyah dan sejenis dengan mereka dalam pokok keyakinan mereka. Yaitu terhalang  kegiatan yang terus menerus selama tidak saling melarang, dan sulit bagi sesuatu yang terus-menerus untuk berbicara jika ingin, dan melakukan sesuatu jika berkehendak, karena terhalangnya kejadian baru pada awal mulanya… [23].

Jamaludin al-Qosimi mengatakan, “Terkadang disangka bahwa Jahmiyah meninggalkan pengaruh setelah beberapa waktu, bersamaan dengan itu bahwa Mu’tazilah merupakan cabang darinya. Dan ia dalam jumlah banyak terhitung hingga jutaan. Bahwa orang-orang ahli kalam yang menasabkan diri kepadah al-Asy’ari, kebanyakan permasalahan mereka kembali kepada madzhab Jahmiyah sebagaimana diketahui oleh orang yang mendalami cabang ilmu kalam. (filsafat, pent)”.[24]


[1] Lihat pembahasan yang telah lalu pada hal : 129-130, 141-143, 285-290

[2] . Ibnul Qayyim : Miftah Daris Sa’adah : 2/510-511.

[3] . Idem : 2/255.

[4] . Ini tidak masuk dalam nama Allah, yang diinginkan adalah pengabaran.

[5] . Idem : 2/261.

[6] . Al-Asy’ariy : maqolaatul Islamiyin : 238.

[7]. Hal itu dikarenakan ia mengatakan adanya paksaan dalam perbuatan manusia.

[8]. Asy-Syihristani : al-Milal wan Nihal : 1/73. Lihat juga yang dinukilkan oleh al-Baghdadi dalam al-Farqu bainal Firoq : 211, 212, dan at-Tabshir : 64.

[9]. Cermati perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam at-Tis’iniyah, masuk dalam al-Fatawa al-Kubro 5/48-51, atau masuk dalam al-Fatawa al-Kubro al-Mishriyah yang ditahqiq oleh Muhammad Abdul Qodir ‘Atha 6/270-272.

[10]. Ibnu Taimiyah : Majmu’a Fatawa 3/353.

[11] . Idem 3/352.

[12]. Ibnu Taimiyah : Majmu’ Fatawa 13/175.

[13]. Ia adalah Muhammad bin Hasan bin Furuk al-Anshariy. Asy-Syafi’I. Seorang ahli kalam, ahli fikih, pakar bidang ushul, penafsir, penyair, ahli nahwu. Tulisan karyanya banyak, di antaranya : Musykilul Atsar –yang menyimpangkan nash sifat-sifat dari makna yang sesuai-. Meninggal tahun 406 H. Lihat biografinya dalam Mu’jamul Muallifin 9/108.

[14]. Beliau adalah Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab bin Salam bin Kholid bin Hamzah bin Aban seorang Mu’tazilah. Ia adalah ahli kalam, ahli tafsir, pentolan Mu’tazilah dalam ushul. Lahir tahun 235 H, dan wafat tahun 303H. lihat biografinya dalam Mu’jamul Muallifin 10/269 .

[15]. Beliau adalah Abdul Jabbar bin Ahmad bin Abdul Jabbar bin Ahmad al-Hamdaniy, Abul Hasan. Seorang pakar ushul fikih, ahli kalam, ahli tafsir, pentolan Mu’tazilah dalam bidang ushul. Lahir tahun 359 H, wafat tahun 415 H. Lihat biografinya dalam Mu’jamul Muallifin 5/78.

[16]. Beliau adalah Abdurrahim bin Muhammad bin Utsman al-Hinath, salah seorang ahli kalam dari Mu’tazilah. Biografinya disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan 4/8-9.

[17]. Beliau adalah Bisyr bing Ghayats bin Abu Karimah, Abu Abdurrahman al-Adawiy al-Marisiy. Pembesar Mu’tazilah. Ia memiliki bigorafi dalam kitab Siyar milik adz-Dzahabiy : 10/199, nomer : 45 .

[18] .Ibnu Taimiyah : Majmu’ Fatawa 5/23.

[19] .Namanya Amr bin ubaid, Abu Utsman al-Bashriy, al-Mu’tazili. Ada biografinya dalam Siyar : 6/104, nomer : 28.

[20]. Beliau adalah seorang Khalifah al-‘Abbasi, Abdullah bin Harun bin Rosyid bin Muhammad, Abul ‘Abbas. Ia memiliki biografi dalam kitab Siyar milik adz-Dzahabi 10/272, nomor : 72.

[21]. Ibnu Taimiyah : Majmu’ Fatawa : 10/67.

[22] . Idem : 12/312.

[23]. Idem, 8/227. Lihat juga 14/248.

[24] . Beliau adalah Jamaludin bin Muhammad bin Qasim al-Qasimiy, al-Hilaq. Seorang ulama dalam berbagai bidang ilmu. Lahir di Dimasyq tahun 1283 H dan wafat tahun 1336. Lihat biografinya dalam Mu’jamul Muallifin : 3/157-158.

 

Wallahu’alam bishawab

Sumber : https://islamhouse. com/id/articles/816734/

Fatwa 05 – TERKENA FITNAH MELALUI CHANEL DAN WEBSITE PORNO

Saya seorang pemuda yang terkena fitnah melalui parabola dan wesite (porno) sampai pada taraf saya sangat lemah sekali dalam masalah agama, saya mohon kepada anda bantuan dan doa agar mendapatkan hidayah.


Alhamdulillah

Kami memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepada anda. Dan memalingkan anda dari kejelekan serta kemunkaran. Menjadikan anda termasuk golongan hamba yang ikhlas.

Sebaik-baik wasiat untuk anda adalah bertakwa kepada Allah Ta’ala. Hati-hati dari kemurkaan dan kemarahan-Nya, sangat pedih siksa-Nya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala (masih) memberi kesempatan dan tidak akan melalaikannya. Siapa dapat menjamin, ketika Allah melihat anda dalam kondisi melakukan kemaksiatan, lalu Dia mengatakan, “Demi kemuliaan dan ketinggian-Ku, Aku tidak akan mengampuni enkau.”

Lihatlah anggota tubuh ini yang melakukan kemaksiatan, tidakkan anda paham bahwa Allah mampu untuk mengambil nikmat ini, lalu anda merasakan kepedihan atas kehilangannya.

Kemudian lihatlah bahwa Allah telah menutupi aib anda dan menyayangi  anda. Sementara anda mengetahui cemburunya kepada hamba-Nya. Apakah anda menjamin bahwa Dia tidak akan murka kepada anda lalu menyingkap segala rahasia anda sehingga orang-orang  mengetahuinya dan  menyebabkan cela di dunia sebelum di akhirat.

Bukankah akibat dari pandangan yang diharamkan hanya mendatangkan kerugian, kegelisahan dan kegelapan hati?

Katakanlah anda dapat menikmati kelezatan sehari, dua hari atau sebulan atau setahun. Kemudian setelah itu apa?

Meninggal dunia, kuburan, hisab, siksaan, telah hilang kesenangan tinggal kerugian. Kalau sekiranya anda malu dilihat oleh saudara melakukan kemaksiatan ini, bagaimana anda menjadikan lebih ringan pandangan Allah kepada anda? Apakah anda tidak mengetahui bahwa Allah melihat anda, para malaikat mencatat anda, dan anggota tubuh anda nanti akan berbicara dengan apa adanya?

Ambillah pelajaran dari kondisi anda setelah melakukan kemaksiatan, sedih hati, dada sempit dan ketakutan antara anda dan Allah. Hilang kekhusyu’an, tidak dapat qiyamul lail, dan tidak dapat menunaikan puasa. Katakan kepadaku demi Tuhanmu, apa nilai hidup ini?

Setiap kali satu pandangan yang anda lihat dari jendela setan ini, maka akan menempel satu titik hitam di hati anda. Sehingga terkumpul hitam di atas hitam, kemudian menjadi penutup yang dapat menutupi hati, sehingga tidak dapat merasakan nikmatnya ketaatan dan hilang manisnya iman.

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersbda:

إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإذا هو نزع واستغفر وتاب صقل قلبه ، وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه، وهو الران الذي ذكر الله ( كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون ) ” رواه الترمذي، رقم 3257 ، وابن ماجة، رقم 4234 وحسنه الألباني في صحيح ابن ماجه، رقم 3422)

“Sesungguhna seorang hamba ketika melakukan suatu kesalahan, maka dalam hatinya akan tertempel satu titik hitam. Kalau dia mengambilnya, beristigfar dan bertaubat maka hatinya akan kembali (bersih). Kalau dia kembali (melakukan kesalahan) maka akan bertambah sampai hatinya tertutup, yaitu tertutup dari mengingat Allah. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”

(HR. Tirmizi, no. 3257. Ibnu Majah, no. 4234, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam shahih Ibnu Majah, no. 3422)

Maka, jadilah orang yang meninggalkan dosa,  lalu beristigfar dan bertaubat. Perbanyak merendahkan diri di hadapan Allah agar hati anda bersih, jaga kemaluan anda dan jaga diri anda dari godaan setan.

Jauhilah semua sarana yang mengajak anda atau mengingatkan anda pada yang haram, jikalau anda benar-benar jujur ingin bertaubat. Maka bersegeralah keluarkan parabola dari rumah anda. Putuskan hubungan anda dengan website internet yang kotor.

Ketauhilah bahwa sebaik-baik sarana yang dapat membantu anda adalah meninggalkan kebiasaan anda (berbuat) haram adalah hendaknya berhenti ketika ada lamunan, keinginan dan pikiran. Tolak semua angan-angan yang mengajak anda untuk melihat, sebelum menjadi keinginan, kekuatan, tujuan kemudian perbuatan.

Al-Gozali rahimahullah mengatakan, “langkah pertama dalam kebatilan kalau tidak anda tolak, maka akan menimbulkan keinginan. Dan keinginan menimbulkan keinginan kuat. Dan keinginan kuat akan menimbulkan tujuan. Dan tujuan menimbulkan prilaku. Dan prilaku menimbulkan kemurkaan. Maka hendaknya memutus kejelekan dari sumber pertamnya yaitu angan-angan. Karena semua setelah itu akan mengikutinya.”

(Ihya Ulumudin, 6/17)

Hal ini diambila dari firman Allah Ta’ala:

يا أيها الذين آمنوا لا تتبعوا خطوات الشيطان ومن يتبع خطوات الشيطان فإنه يأمر بالفحشاء والمنكر (سورة النور: 21)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang munkar.” (QS. An-Nur: 21)

Jika  anda dapat tinggalkan  internet sama sekali, maka lakukanlah, hingga hati anda merasa konsiten dan keimanan anda kuat. Carilah  teman yang baik yang selalu menunaikan shalat pada waktunya. Perbanyak ibadah-ibadah sunah. Jangan menyendiri dan berfikir sesuatu yang haram sebisa mungkin.

Kesimpulan, bahwa  pengobatannya  adalah dengan membuka  pintu-pintu kebaikan dan menutup semua pintu keburukan.

Kami memohon kepada Allah agar diberi taufik kepada kami dan anda untuk bertaubat nasuha secara ikhlas.

 

Wallahua’lam.

Sumber : https://islamhouse. com/id/fatwa/419441/

 

[ UIC 6.1 ] Pengertian Bid’ah dan Bahayanya 03

Dan di antara yang datang dari generasi setelah sahabat:

                Yang disebutkan oleh Ibnu Wadhdhah rahimahullah, dari Hasan rahimahullah, ia berkata: ‘Pelaku bid’ah tidaklah bertambah kesungguhan, baik puasa maupun shalat- kecuali bertambah jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala.’[1]
                Ibnu Wahb rahimahullah meriwayatkan dari Idris al-Khaulani rahimahullah: ‘Sungguh aku melihat api di masjid yang aku tidak bisa memadamkannya lebih kusukai dari pada melihat bid’ah padanya yang aku tidak bisa merubahnya.’[2]
                Dari Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah: ‘Ikutilah jalan-jalan petunjuk dan tidak membahayakanmu sedikitnya orang-orang yang menjalani (jalan akhirat), dan jauhilah jalan-jalan kesesatan dan janganlah tertipu dengan banyaknya orang-orang yang binasa.’[3]
 
                Dari ‘Amar bin Qais rahimahullah: ‘Janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang menyimpang, maka akan menyimpang hatimu.’[4]
 
                Dari Abu Qilabah rahimahullah: ‘Janganlah kamu duduk bersama pengikut hawa nafsu, janganlah berdebat dengan mereka, sesungguhnya  aku tidak merasa aman bahwa mereka akan menenggelamkan kamu dalam kesesatan mereka dan menyamarkan kepadamu sesuatu yang sudah kamu kenal.’[5]
                Al-Ajury rahimahullah menyebutkan  bahwa Ibnu Sirin rahimahullahberpendapat bahwa manusia yang paling cepat murtad adalah pengikut hawa nafsu (ahlul ahwaa`).[6]
                Dari Ibrahim rahimahullah: ‘Janganlah engkau berbicara dengan mereka, sesungguhnya aku khawatir hati kalian akan murtad.
                Dari Hisyam bin Hassan rahimahullah, ia berkata: ‘Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima puasa, shalat, haji, jihad, umrah, sedakah, memerdekakan budak, dan tidak pula tebusan dari ahli bid’ah.
                Dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, ia menulis di dalam buku-bukunya: ‘Sesungguhnya aku memperingatkan kalian sesuatu yang dicondongi (disukai) oleh hawa nafsu dan kesesatan yang jauh.’
                Di antara ucapannya yang sangat diperhatikan dan diingat oleh para ulama, dan imam Malik rahimahullah sangat mengaguminya adalah ucapannya: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pemimpin sesudahnya[7]telah menjelaskan sunnah, mengambilnya adalah membenarkan Kitabullah, menyempurnakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan kuat terhadap agama Allah subhanahu wa ta’ala

Tidak ada seorang pun yang punya hak merubah dan menggantinya. Siapa yang mengamalkannya ia mendapat petunjuk dan siapa yang membelanya ia akan mendapat pertolongan, dan siapa yang menyalahinya berarti ia mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman dan Allah subhanahu wa ta’ala memalingkannya kepada sesuatu yang dia berpaling, dan memasukkannya ke neraka jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali.’[8][9]
                Akan tetapi atsar-atsar ini, dalam melarang duduk bersama ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu, hanya bagi orang yang dikhawatirkan terpengaruh dengan mereka, atau tujuannya bukan berdakwah kepada mereka, atau bukan mengingkari mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan melarang mereka berbuat mungkar.
                Syaikh Abdurrahman al-Barrak hafizhahullah berkata: ‘Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:
قال الله تعالي: ﴿ وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ ﴾ [ النساء: 140 ]
 
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka., (QS. an-Nisaa`:140).
Dalam ayat ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa orang yang duduk di majelis yang dingkari padanya ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala dan diperolok-olokkan maka sesungguhnya ia seperti orang-orang kafir yang mengolok-olokkan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti ini pula dikatakan dalam duduk bersama-sama ahli bid’ah di saat berbicara tentang bid’ahnya dan ajakannya kepada bid’at tersebut. 

Maka sesungguhnya orang yang duduk bersama, sedangkan ia berbicara dengan yang batil dan menyesatkan manusia berarti ia sama seperti dia. Karena duduknya dia bersamanya –tanpa bertujuan mengingkari- menunjukkan ridhanya terhadapnya dan ridhanya terhadap kebatilan. Maka siapa yang tidak mampu menghalangi kemungkaran maka ia jangan menghadirinya, bahkan ia berdiri dari majelis yang dilakukan maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala padanya.
                Adapun bila orang yang batil tidak sedang berbicara tentang kebatilannya berupa kekufuran atau bid’ah atau maksiat maka duduk bersamanya ketika itu berbeda hukumnya tergantung perbedaan tujuan, sebab dan dampak:
Bisa jadi disyari’atkan, sebagaimana bila ia bertujuan mendekati dan berdakwah tanpa merasa khawatir mendapat bahaya terhadap agamanya.  Bisa jadi dimakruhkan, bisa jadi dibolehkan apabila untuk tujuan yang dibolehkan. Bisa jadi duduk tersebut adalah haram apabila hal itu memberi dampak kerusakan pada agama orang yang ikut duduk atau orang lainnya yang mengikutinya.
Hajr (tidak menyapa) pelaku maksiat dan ahli bid’ah terkadang bertujuan untuk menghindari kejahatan mereka. Terkadang bertujuan untuk mengingkari dan membuat mereka jera agar mau bertaubat. Dan peringatan yang datang dari kalangan salaf agar jangan duduk bersama ahli bid’ah karena dikhawatirkan kejahatan mereka memberi dampak buruk bagi yang duduk bersama mereka. Mayoritas manusia tidak mempunyai dasar ilmu dan iman yang kuat yang bisa menjaga mereka dari kejahatan para tokoh bid’ah dan penyeru kesesatan. Dan seperti yang dikatakan: menjaga lebih baik dari pada mengobati. Wallahu A’lam.[10]
Dan akan datang fasal: fatwa sebagian ulama dalam dakwah kepada orang-orang yang menyimpang, penjelasan masalah ini sangat penting.

Adapun sisi yang lain, yaitu pemikiran dan akal:

Imam asy-Syathibi rahimahullah –ia adalah yang terbaik yang berbicara tentang bid’ah- berkata: ‘Adapun pemikiran, maka dari beberapa sisi:
Salah satunya: Sudah diketahui dengan pengamalan dan keahlian yang berjalan di alam semesta sejak pertama dunia hingga saat ini bahwa akal tidak bisa berdiri sendiri dengan kepentingannya; menarik manfaat untuknya atau menolak merusakan.
Kedua: sesungguhnya syari’at datang secara sempurna, tidak lebih dan tidak kurang, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman padanya:
قال الله تعالي: ﴿ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا ﴾ [ المائدة: 3 ]
 
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. al-Maidah:3)
Jika sudah sempurna seperti itu, maka seolah-olah ahli bid’ah mengatakan dengan lisan perbuatan dan ucapannya: sesungguhnya syari’at belum sempurna dan sesungguhnya masih tersisa beberapa perkara darinya yang harus ditemukan. Karena jika ia meyakini kesempurnaannya dari segala sisi niscaya ia tidak melakukan bid’ah dan tidak melakukan penambahan, dan yang mengatakan ini adalah tersesat dari jalan yang lurus.
Ibnul Majisyun rahimahullah[11]berkata: “Aku mendengar imam Malik rahimahullah berkata: ‘Siapa yang melakukan satu bid’ah di dalam Islam yang ia memandangnya sebagai kebaikan, maka sungguh ia menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah berkhianat terhadap risalah, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
قال الله تعالي: ﴿ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ ﴾ [ المائدة: 3 ]
 
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu (QS. al-Maidah:3)
 
Maka sesuatu yang bukan bagian dari agama pada hari itu maka ia bukan dari agama pada hari ini.
Ketiga, sesungguhnya pelaku bid’ah menentang syari’at, karena syari’ (Allah subhanahu wa ta’ala) telah menentukan beberapa jalan tertentu terhadap beberapa sisi khusus untuk tuntutan-tuntutan hamba, membatasi makhluk atasnya dengan perintah, larangan, janji dan ancaman. Dan mengabarkan bahwa kebaikan ada padanya dan sesungguhnya keburukan dalam melewati batasnya…hingga seterusnya. Karena Allah subhanahu wa ta’alamengetahui dan kita tidak mengetahui, dan sesungguhnya Dia subhanahu wa ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam. 

Maka ahli bid’ah menolak semua ini. Maka sesungguhnya ia menduga bahwa ada jalan-jalan yang lain, bukan yang dibatasi oleh syari’ dengan batasan tertentu, dan bukan yang Dia tentukan dengan yang sesuatu tertentu. Seolah-olah Syari’ mengetahui dan kami juga mengetahui. Bahkan bisa dipahami dari tindakannya menambah-nambah dalam syari’at bahwa ia mengetahui yang tidak diketahui oleh Syari’. Dan ini, jika dimaksudkan oleh pelaku bid’ah maka merupakan kekufuran terhadap syari’at dan Syari’, dan jika tidak dimaksudkan maka ia merupakan kesesatan yang nyata.
Keempat: Sesungguhnya ahli bid’ah telah menempatkan dirinya pada kedudukan menyerupai Syari’, karena Syari’ yang meletakkan dasar-dasar syari’at dan mewajibkan makhluk menelusuri sunnahnya, dan jadilah ia yang menyendiri dengan hal itu, karena ia memutuskan di antara makhluk pada sesuatu yang mereka berbeda pendapat padanya. Dan jika tidak demikian, jikalau penentuan syari’at bersumber dari pemahaman makhluk niscaya tidak diturunkan syari’at-syari’at dan tidak tersisa perbedaan pendapat di antara manusia dan tidak perlu diutus para rasul ‘alaihimus sallam.
                Orang yang melakukan bid’ah dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala ini telah menjadikan dirinya sebagai tandingan dan serupa dengan Syari’. Di mana ia menentukan syari’at bersama Syari’ dan membuka pintu bagi perbedaan pendapat, dan menolak tujuan Syari’ dalam menyendiri menetapkan syari’at, dan cukuplah dengan hal itu.
Kelima: sesungguhnya ia mengikuti hawa nafsu, karena sesungguhnya bila akal tidak mengikuti syari’at niscaya tidak tersisa lagi baginya selain hawa nafsu dan syahwat, dan engkau mengetahui bahaya dalam mengikuti hawa nafsu dan sesungguhnya ia adalah kesesatan yang nyata.
Dan ia berkata juga:
Sisi keenam: ia menyebutkan padanya sebagian yang ada dalam bid’ah berupa sifat-sifat yang dikhawatirkan dan makna-makna yang dicela serta berbagai macam kesialan:
          Ia merupakan penjelasan bagi yang telah terdahulu pertama tama, dan padanya ada tambahan uraian dan penjelasan yang lebih terhadap yang telah lewat di antara dalil-dalil.
                Ketahuilah, sesungguhnya ibadah yang disertai bid’ah tidak diterima berupa shalat, puasa, sedakah dan ibadah-ibadah lainnya. Majelis-majelis pelakunya dicabut penjagaan darinya, diserahkan kepada dirinya, dan yang berjalan kepadanya dan menghormatinya berarti membantu meruntuhkan Islam, maka bagaimana dengan pelakunya? Dia dikutuk lewat lisan syari’at. Bertambah jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan ibadahnya. Ia merupakan dugaan terjadinya permusuhan dan saling membenci. Menghalangi dari syafa’at nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dikhawatirkan atasnya termasuk orang-orang kafir yang keluar dari agama, su`ul khatimah saat keluar dari dunia. Hitam wajahnya di akhirat. Disiksa di neraka jahanam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah berlepas diri darinya dan kaum muslimin berlepas diri darinya. Dan dikhawatirkan atasnya fitnah di dunia bertambah-tambah hingga siksa akhirat.[12]Dan dia (asy-Syathibi) telah menjelaskan secara rinci poin ini dengan panjang lebar.

 


[1] Al-Bida’ wan nahyu ‘anha 62.
[2] As-Sunnah lil Maruzi 1/32.
[3] Azdkar karya an-Nawawi 1/363.
[4] Hilyatul Auliya 5/103
[5] Sunan ad-Darimi 1/120, Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah 1/134.
[6] Asy-Syari’ah 474 (2/889)
[7] Mereka adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhum ajma’in.
[8] Asy-Syari’ah 92 (1/408).
[9] Al-I’tisham 1/70-117 dengan ringkas.
[10] Majalah Dakwah edisi 2058 bulan Sya’ban 1427 H.
[11] Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah bin Majisyun at-Taimy maulahum, al-Madani al-Maliki, murid imam Malik. Wafat pada tahun 213 H.
[12] I’tisham 1/61-70.
 
 

  والله أعلمُ بالـصـواب
Download Sumber

 

[ UIC 6.1 ] Pengertian Bid’ah dan Bahayanya 02

Bahaya bid’ah dan peringatan darinya:

                Imam Syathibi rahimahullah membuat satu bab dalam kitabnya ‘al-I’tisham’ dalam mencela bid’ah dan akibat buruk pelakunya. Ia menjelaskan bahaya bid’ah dan celaannya dari naql (al-Qur`an dan hadits) dan akal.

                Adapun dari sisi naql, maka dari beberapa sisi, salah satunya yang terdapat dalam al-Qur`an yang menunjukkan celaan para pelaku bid’ah dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala secara jumlah, di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلُُّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ   ﴾ [ آل عمران: 7 ]

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran:7)

Ayat ini merupakan dalil paling kuat dan penjelasannya diriwayatkan dalam hadits shahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata: ‘Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ ﴾ [ آل عمران: 7 ]

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya,

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apabila engkau melihat mereka maka kenalilah mereka.’[1]Dan dalam hadits yang shahih, ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ayat ini:

قال الله تعالي: ﴿ هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ ﴾  [ آل عمران: 7 ]

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. (QS. Ali Imran:7)

Hingga akhir ayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللّه فَاحْذَرُوْهُمْ)) [ متفق عليه ]

 ‘Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya, maka merekah itulah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka berhati-hatilah terhadap mereka.”[2]

                Diriwayatkan dari Abu Ghalib dan namanya Hazur[3], ia berkata: ‘Aku berada di Syam (Siria), Muhallab mengirim 70 kepala dari kaum Khawarij, lalu dipasang di jalan Damaskus. Aku sedang berada di atas rumahku. Lalu Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu lewat, maka aku turun lalu mengikutinya. Tatkala ia berdiri di hadapan mereka, air matanya menetes seraya berkata: ‘Subhanallah, apakah yang dilakukan syetan terhadap anak cucu Adam ‘alaihissalam(manusia) –ia mengatakannya tiga kali- anjing-anjing neraka jahanam, anjing-anjing neraka jahanam, seburuk-seburuk yang terbunuh di bawah kolong langit –tiga kali-, sebaik-baik pembunuh adalah yang membunuh mereka, beruntunglah bagi orang yang membunuh mereka atau mereka yang membunuhnya.’

Kemudian ia menoleh kepadaku lalu berkata: ‘Wahai Abu Ghalib, sesungguhnya engkau berada di bumi (wilayah) yang mereka banyak di sana, semoga Allah subhanahu wa ta’ala melidungi engkau dari mereka.’

Aku berkata: ‘Aku melihat engkau menangis ketika melihat mereka? Ia menjawab: ‘Aku menangis karena kasihan melihat mereka, mereka dari kaum muslimin.[4]Apakah engkau membaca surah Ali Imran? Aku menjawab: ‘Ya.’ Lalu ia membaca:

﴿ هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ﴾

 hingga sampai  ﴿وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ ﴾  sesungguhnya di hati mereka ada condong kepada kesesatan maka mereka tersesat.

Kemudian ia membaca:

قال الله تعالي: ﴿ وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ﴾ [ آل عمران: 105 ]

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. (QS. Ali Imran:105)

Hingga firman-Nya subhanahu wa ta’ala:

﴿فَفِي رَحْمَةِ اللهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴾

maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya. (QS. Ali Imran:107)

Aku berkata: ‘Apakah mereka (dalam ayat) itu adalah mereka (kaum Khawarij) tersebut)? Ia menjawab: ‘Ya.’

Aku berkata: ‘Apakah dari pemahaman engkau atau sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ia menjawab: ‘Kalau begitu (bukan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) aku terlalu berani, bahkan aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sekali dua kali… sehingga ia menghitung tujuh kali.

Kemudian ia berkata: ‘Sesungguhnya bani Israel bercerai berai sebanyak 71 golongan dan sesungguhnya umat ini melebihi atasnya satu golongan, semuanya di neraka kecuali golongan terbesar.’

Aku bertanya: ‘Wahai Abu Umamah, apa pendapatmu terhadap perbuatan mereka? Ia menjawab:

قال الله تعالي: ﴿ عَلَيْهِ مَاحُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّاحُمِّلْتُمْ ﴾

…maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu….”. (QS. An-Nuur:54)[5]

jelaslah dengan penafsiran ini bahwa mereka termasuk ahli bid’ah, karena Abu Umamah radhiyallahu ‘anhumenjadikan kaum Khawarij masuk dalam umumnya ayat tersebut dan sesungguhnya ia diturunkan terhadap mereka. Dan di antara ayat tersebut adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾

dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS. al-An’am:153)

Jalan yang lurus adalah jalan Allah subhanahu wa ta’ala yang Dia subhanahu wa ta’ala mengajak kepadanya, yaitu sunnah. Dan jalan-jalan, yaitu jalan-jalan orang-orang yang berselisih, yang menyimpang dari jalan yang lurus, mereka adalah ahli bid’ah. Bukanlah maksudnya jalan-jalan maksiat, karena maksiat dari sisi maksiatnya, tidak ada seorang pun yang menjadikan sebagai jalan yang selalu ditelusuri yang menyerupai syari’at, namun sifat ini khusus dengan berbagai macam bid’ah.

Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wail, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris bagi kami satu garis yang panjang, menggaris sebelah kanannya dan sebelah kirinya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ini adalah jalan yang lurus.’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaris beberapa garis bagi kami dari sebelah kanan dan kirinya, dan bersabda: “Ini adalah jalan-jalan (yang banyak), dan di atas setiap jalan darinya ada syetan yang mengajak kepadanya…” kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca:
قال الله تعالي: ﴿ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ ﴾

dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Maksudnya: garis-garis

﴿فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ﴾

karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. (QS. al-An’am:153)[6]

Bakar bin ‘Ala` rahimahullah berkata: ‘Saya menduga bahwa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan adalah syetan dari kalangan manusia, yaitu bid’ah-bid’ah. Wallahu A’lam.

Di antara ayat-ayat adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ وَعَلَى اللهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ وَلَوْشَآءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ  ﴾ [ النحل: 9 ]

Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok.Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar). (QS. an-Nahl:9)

At-Tasturi rahimahullah[7]berkata:  قَصْدُ السَّبِيل Jalan sunnah, وَمِنْهَا جَآئِرٌ  maksudnya ke neraka, dan itulah agama-agama dan bid’ah-bid’ah.

Dan di antaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَىْءٍ إِنَّمَآأَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ ﴾ [ النحل: 159 ] 

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (QS. al-An’am:159)

Ibnu ‘Athiyah rahimahullah[8]berkata: ‘Ayat ini berlaku umum bagi pengikut hawa nafsu, bid’ah, yang syazh (langka) dalam furu’, dan selain yang demikian itu dari orang-orang yang suka mendalami dalam perdebatan dan mendalami dalam ilmu kalam. Semua ini bisa membuat tergelincir dan terkena tuduhan karena buruk keyakinan.

Di antaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ وَلاَتَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ . مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ   ﴾ [ الروم: 31-32] قرئ: فارقوا دينهم

…janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, * yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. ar-Rum:31-32)

Ditafsirkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhubahwa mereka adalah kaum Khawarij, dan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhumeriwayatkannya secara marfu’. Ada yang mengatakan: Mereka adalah pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah. Diriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyaynah rahimahullah[9], Abu Qilabah rahimahullah[10]dan selain mereka bahwa mereka berkata: ‘Setiap pelaku bid’ah atau mengada-ada  (dalam agama) adalah hina, mereka berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي اْلَحَياةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ ﴾ [ الأعراف: 152 ]

Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia.  Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan. (QS. al-A’raaf:152)

Ibnu ‘Aun rahimahullah[11]berkata: Ibnu Sirin rahimahullah berpendapat bahwa ayat ini adalah pada orang-orang yang mengikuti hawa nafsu:

قال الله تعالي: ﴿ وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ  ﴾ [ الأنعام: 68 ]

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akanlarangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang. orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS. al-An’aam: 68)[12]
Sisi kedua dari naql: yang datang dari hadits-hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Di antara hal itu adalah yang diriwayatkan dalam shahih, dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ)) [ متفق عليه ]

Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkara kami ini yang bukan bagian darinya maka ia ditolak.”[13]

Dan dalam riwayat Muslim:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ)) [ رواه مسلم ]’

Barangsiapa yang melakukan satu amal ibadah yang tidak ada perintah kami atasnya maka ia ditolak.”[14]

Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أَمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ)) [ رواه مسلم ]

Amma ba’du: maka sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah (al-Qur`an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru-barunya (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”[15]

Dan dalam satu riwayat, ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada manusia, memuji Allah subhanahu wa ta’ala dan menyanjung-Nya yang Dia berhak mendapat sanjungan itu, kemudian beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ يَهْدِهِ اللّه فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَخَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ)) [ رواه مسلم ]

Barangsiapa yang Allah subhanahu wa ta’ala memberi petunjuk kepadanya maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala menyesatkannya maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya. Dan sebaik-baik ucapan adalah kitabullah (al-Qur`an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara adalah yang baru-baru (dalam agama) dan setiap yang baru-baru adalah bid’ah.”[16]

Dan dalam riwayat an-Nasa`i:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ)) [ رواه النسائي ]

Dan setiap yang baru-baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah (tempatnya) di neraka.”[17]

Dan dalam shahih, dari hadits Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: ‘

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْل أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَايَنْقُصُ ذلِكَ مِن أُجُوْرِهِم شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلىَ ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَيَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا)) [ رواه مسلم وأبو داود و الترمذي]

Barangsiapa yang mengajak (berdakwah) kepada petunjuk niscaya baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit juapun dan siapa yang mengajak kepada kesesatan adalah baginya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun juga. .”[18]

At-Tirmidzi meriwayatkan pula dan ia menshahihkannya, Abu Daud dan selain mereka dari ‘Irbath bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamshalat dengan kami, kemudian menghadap kepada kami, memberi nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat menyentuh hati, air mata berlinang karenanya dan hati menjadi takut darinya. Ada yang berkata: ‘Ya Rasulullah, seolah-olah hal ini adalah nasihat perantunan (perpisahan), apakah yang engkau nasihatkan kepada kami? Beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللّهِ ,وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا. فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ, تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا باِلنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ, فَإِنَّ كُلِّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ)) [ روا ه أبو داود و الترمذي]

 “Aku berpesan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mendengar dan taat (kepada pemimpin) sekalipun ia seorang budak dari Habasyah (Etheopia). Maka sesungguhnya siapa yang masih hidup dari kamu setelah aku (wafat) maka ia akan melihat perbedaan yang sangat banyak. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya, gigitlah atasnya dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara baru, maka sesungguhnya setiap yang baru-baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.[19]

Dan dalam shahih, dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Ya Rasulullah, apakah setelah kebaikan datang keburukan? Beliau menjawab: ‘Ya.’ Aku bertanya: ‘Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan lagi? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Ya, dan padanya ada asap.’ Aku bertanya: ‘Apakah asapnya? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Kaum yang mengambil sunnah dengan selain sunnahku, mengambil petunjuk selain petunjukku, engkau mengenal dari mereka dan mengingkari.

Aku bertanya: ‘Apakah setelah kebaikan itu akan datang keburukan?

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Ya, para penyeru kepada pintu-pintu neraka Jahanam, siapa yang memenuhi panggilan mereka kepadanya mereka akan melemparkannya di dalamnya.’

Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada kami tentang mereka.’

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Ya, kaum dari golongan kita dan berbicara dengan bahasa kita.’

Aku berkata: ‘Apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemui hal itu?

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Engkau tetap bersama jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.’

Aku berkata: ‘Jika mereka tidak mempunyai jama’ah dan imam?

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Maka hendaklah engkau menghindarkan diri dari semua golongan tersebut, sekalipun engkau menggigit batang pohon sampai kematian menjemputmu dan engkau dalam kondisi seperti itu.[20]

Dalam hadits shahifah:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((اَلْمَدِيْنَةُ حَرَمٌ مَا بَيْنَ عِيْرٍ وَثَوْرٍ, وَمَنْ أَحْدَثَ فِيْهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللّهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ)) [ متفق عليه ]

Madinah haram jarak di antara ‘iir dan tsaur (nama dua gunung di Madinah), barangsiapa yang menciptakan yang baru padanya atau menampung yang muhdits (pelakunya) maka atasnya kutukan Allah subhanahu wa ta’ala, malaikat dan semua manusia. Di hari qiamat, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerima darinya taubat/ibadah sunnah dan tidak pula tebusan/ibadah wajib.”[21]

Hadits ini dalam bentuk umum, meliputi setiap peristiwa yang dimunculkan padanya yang bertentangan dengan syara’, dan bid’ah merupakan peristiwa yang paling buruk. Ia, sekalipun khusus untuk kota Madinah maka yang lainnya juga masuk dalam maknanya.[22]

Dalam al-Muwaththa`, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju pemakaman lalu bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَاَر قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ, وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللّه بِكُمْ لاَحِقُوْنَ …إلى أن قال: فَلْيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيْرُ الضَّالُ, أُنَادِيْهِمْ: أَلاَ هَلُمَّ! أَلاَ هَلُمَّ! أَلاَ هَلُمَّ! فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوْا بَعْدَكَ. فَأَقُوْلُ: فَسُحْقًا فَسُحْقًا فَسُحْقًا)) [ رواه مالك في الموطأ ]

Assalamu ‘alaikum, wahai negeri orang-orang beriman, dan sesungguhnya kami insya Allah, akan menyusul kalian…dst hingga beliau bersabda: …akan diusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana diusir unta yang tersesat. Aku memanggil mereka: ‘Ayo ke sini, ayo ke sini, ayo ke sini! Maka dikatakan: ‘Sesungguhnya mereka telah mengganti sesudahmu.’ Maka kukatakan: ‘Maka jauhlah, jauhlah, jauhlah.’[23]

Sebagian ulama menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang menyalahi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan yang lain menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang murtad dari agama Islam.

Dan yang menunjukkan makna yang pertama adalah yang diriwayatkan oleh Khaitsamah bin Sulaiman rahimahullah[24]dari Yazid bin Raqqasy rahimahullah[25], ia berkata: ‘Aku bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, aku berkata: ‘Ada satu kaum yang bersaksi terhadap kita dengan kekufuran dan kesyirikan, mendustakan telaga dan syafa’at, apakah engkau pernah mendengar sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ia menjawab: ‘Ya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((بَيْنَ الْعَبْدِ وَاْلكُفْرِ أَوِ الشّرْكِ تَرْكُ الصَّلاَةِ, فَإِذَا تَركَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ, وَحَوْضِي كَمَا بَيْنَ اْلأَيْلَةِ إِلَى مَكَّةَ, أَبَارِيْقُهُ كَنُجُوْمِ السَّماَءِ –أو قال: كَعَدَدِ نُجُوْمِ السَّمَاءِ, لَهُ مِيْزَابَانِ مِنَ الْجَنَّةِ, كُلَّمَا نَضبَ أَمَدَّاهُ, مَنْ شَرِبَ مِنْهُ شَرْبَةً لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا. وَسَيَرِدُهُ أَقْوَامٌ ذَابِلَةٌ شِفَاهُهُمْ, فَلاَ يَطْعَمُوْنَ مِنْهُ قَطْرَةً وَاحِدَةً, مَنْ كَذبَ بِهِ الْيَوْمَ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ يَوْمَئِذٍ)) [ رواه ابن ماجة ]

“Sesungguhnya di antara hamba dan kekufuran atau kesyirikan adalah meninggalkan shalat, maka apabila ia meninggalkannya berarti ia syirik. Telagaku  sebagaimana antara Ailah hingga Makkah, tekonya sejumlah bintang di langit –atau beliau bersabda: ‘Seperti bilangan bintang di langit, baginya ada dua pancoran dari surga, setiap kali berkurang keduanya menambahnya. Siapa yang minum darinya satu kali minuman niscaya tidak pernah haus lagi sesudahnya untuk selamanya. Dan akan mendatanginya satu kaum, kering bibir mereka, maka mereka tidak bisa minum darinya setetes jua pun. Siapa yang mendustakannya pada hari ini niscaya tidak mendapat minuman darinya pada hari itu.”[26]

Dan padanya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهَا كِتَابُ اللّه فِيْهِ الْهُدَى وَالنُّوْرُ –وفى رواية- مَنِ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلاَلَةٍ)) [ رواه ابن ماجة ]

Sesungguhnya aku meninggalkan padamu dua perkara, yang pertamanya adalah Kitabullah (al-Qur`an), di dalamnya ada petunjuk dan cahaya –dalam satu riwayat– di dalamnya ada petunjuk, siapa yang berpegang dengannya dan mengambil dengannya niscaya ia berada di atas petunjuk, dan siapa yang tidak mengambilnya niscaya ia tersesat. Dan pada satu riwayat: Siapa yang mengikutinya niscaya ia berada di atas petunjuk dan siapa yang meninggalkannya ia berada di atas kesesatan.”[27]

Ath-Thahawi rahimahullah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إِنَّ لِكُلِّ عَابِدٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً, فَإِمَّا إِلَى سُنَّةٍ وَإِمَّا إِلَى بِدْعَةٍ. فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَد اهْتَدَى وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذلِكَ فَقَدْ هَلَك)) [ رواه أحمد ]

Sesungguhnya bagi setiap ‘abid (ahli ibadah) ada keinginan/semangat, dan dan bagi setiap semangat ada kemalasan (kurang dalam ibadah). Maka bisa jadi kepada sunnah dan bisa jadi kepada bid’ah, maka siapa yang malas lalu kembali kepada sunnahku berarti ia mendapat petunjuk dan siapa yang malasnya kepada selain yang demikian itu berarti ia binasa.[28]
Sisi ketiga dari naql: yang datang dari salafus shalih dari kalangan sahabat dan tabi’in dalam mencela orang-orang menyalahi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Di antara yang datang dari para sahabat:

                Yang diriwayatkan dalam riwayat yang shahih dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkhutbah kepada manusia dan berkata: ‘Wahai sekalian manusia, telah disunnahkan bagimu sunnah-sunnah, dan diwajibkan kepadamu kewajiban-kewajiban, serta ditinggalkan atas yang sudah jelas, kecuali kamu tersesat dengan manusia kanan dan kiri.”

                Dan ia menepukkan dengan salah satu tangannya kepada yang lain, kemudian berkata: ‘Janganlah kamu binasa karena ayat rajam, yaitu yang berkata: ‘kami tidak menemukan ayat tentang rajam dalam al-Qur`an’, maka sungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah merajam dan kami telah merajam[29]….’hingga akhir pembicaraannya.

Dalam Shahih dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Wahai sekalian ahli al-Qur`an (Qurra), luruslah, maka sungguh kamu telah mendahului dengan jauh, dan jika kamu mengambil kanan dan kiri maka sungguhnya kamu tersesat yang sangat jauh.’[30]

Dan darinya juga: ‘Yang paling aku khawatirkan terhadap manusia ada dua: bahwa mereka lebih mengutamakan sesuatu yang mereka lihat dari pada sesuatu yang mereka ketahui dan mereka tersesat sedang mereka tidak mengetahui.’[31]Sufyan berkata: Ia adalah pelaku bid’ah.

                Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Ikutilah atsar kami dan janganlah kamu melakukan bid’ah, maka sungguh kamu sudah dicukupkan.’[32]

                Ibnu Wahb rahimahullah meriwayatkan pula, ia berkata: ‘Kamu harus menuntut ilmu sebelum diambil, dan diambilnya ilmu dengan wafatnya ulama. Kamu harus menuntut ilmu, sesungguhnya seseorang darimu tidak mengetahui kapan ia membutuhkan apa yang ada di sisinya. Dan kamu akan menemukan beberapa kaum yang mengaku bahwa mereka mengajak kepada Kitabullah (al-Qur`an) padahal mereka telah melemparkannya di belakang punggung mereka. Kamu harus menuntut ilmu dan jauhilah bid’ah dan berlebih-lebihan dalam agama, dan tekunilah yang lama (sunnah).’[33]

Dan darinya pula: ‘Sederhana dalam sunnah lebih baik dari pada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.’[34]

                Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Aku tidak meninggalkan sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengamalkannya kecuali aku mengamalkannya dan sesungguhnya aku khawatir jika meninggalkan sesuatu dari perkara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamakan menjadi tersesat.’[35]

                Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Shalat dalam safar adalah dua rekaat, siapa yang menyalahi sunnah ia kufur.’[36]

                Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Kamu harus istiqamah dan mengikuti atsar, dan hindarilah bid’ah.’

                Dan Ibnu Wahb rahimahullah meriwayatkan darinya, ia berkata: ‘Siapa yang memunculkan satu pendapat dalam Kitabullah (al-Qur`an) dan tidak pernah ada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padanya, niscaya ia tidak tahu apa yang akan menimpanya apabila bertemu Allah subhanahu wa ta’ala.’[37]




[1] At-Tirmidzi 5/222 (2993).
[2] Al-Bukhari 4274 dan Muslim 2665.
[3] Abu Ghalib al-Bashri, dikatakan al-Ashbihani, sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu. Ia meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, dan Ummu Darda` radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Sa’ad menyebutkan dalam lapisan (generasi) ketiga dari penduduk Bashrah. Lihat: Tahdzibul Kamal 34/171, Tarikh al-Kabir 3/134,Lisanul Mizan 7/478.
[4] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam bantahannya terhadap Akhnasi: ‘Ahlus sunnah waljama’ah, yang memilik ilmu dan iman mengetahui kebenaran, mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyayangi makhluk, adil padanya, memberikan uzur orang yang berijtihad dalam mengenal kebenaran namun tidak mampu mengenalnya. Mereka hanya mencela orang yang dicela oleh Allah subhanahu wata’ala dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu orang yang lalai dalam mencari kebenaran karena meninggalkan yang wajib, dan orang yang melewati batas, yang mengikuti hawa nafsunya tanpa dasar ilmu karena ia melakukan yang diharamkan, maka mereka (Ahlus sunnah) mencela orang yang meninggalkan kawajiban dan melakukan yang diharamkan, dan mereka tidak menghukumnya kecuali setelah menegakkan hujjah kepadanya…dst (Majmu’ Fatawa 27/238).
[5] Sunan al-Baihaqi 8/188, Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah 1/104.
[6] Shahih Ibnu Hibban 1/180 dan Sunan ad-Darimi 1/78.
[7] Sahal bin Yunus at-Tasturi, salah seorang pemuka kaum sufi dan ulama mereka, ia mengarang tafsir al-Qur`an, wafat pada tahun 283 H.
[8] Abdul Haq bin Ghalib bin Abdurrahman bin ‘Athiyah al-Muharibi, Abu Muhammad, mufassir faqih, dari Granada (Spanyol), wafat pada tahun 542 H. Di antara karangannya yang terkenal: ‘Al-Muharrarul wajiz fi tafsiril kitabil ‘aziz.’
[9] Sufyan bin ‘Uyaynah bin Abu ‘Imran Maimun al-Hilali, Abu Muhammad al-Kufi, Muhaddits al-Haram al-Makky, berasal dari kalangan budak yang dimerdekakan. Dilahirkan di Kufah tahun 107 H. Tinggal di Makkah dan wafat di sana tahun 198. Seorang hafizh yang tsiqah, luas ilmu dan tinggi derajat. Lihat biografinya di Tarikh Kabir 4/94, Tarikh Baghdad 9/174, A’laam 3/105.
[10] Abu Qilabah al-Jurmy: Abdullah bin Zaid bin ‘Amar al-Jurmy, seorang yang alim dalam qadha (peradilan) dan hukum, termasuk perawi hadits yang tsiqah. Wafat di Syam pada tahun 104. Lihat biografinya di: Tarikh Kabir 5/92, Tadzkiratul Huffazh 1/94, A’lam 4/88.
[11] Abdullah bin ‘Aun bin Arthaban al-Muzani, Abu ‘Aun al-Bashri, salah seorang yang ternama. Pengarang kutub sittah meriwayatkan darinya. Wafat tahun 150 H.
[12] Lihat Syarh Aqidah Thahawiyah 2/482-483.
[13] Al-Bukhari 2550 dan Muslim 1718.
[14] Muslim no.1718.
[15] Muslim no.867
[16] Muslim no 867.
[17] An-Nasa`i dalam Sunannya 3/188-189.
[18] HR. Muslim 2060, at-Tirmidzi 2674, dan Abu Daud 2509.
[19] Abu Daud 4607 dan at-Tirmidzi 2676.
[20] Al-Bukhari 3411 dan 6673, dan Muslim 1847.
[21] Al-Bukhari 6373 dan Muslim 1370.
[22] I’tisham, Syathibi 1/96.
[23] Al-Muwaththa` 1/28, dan ia dalam Shahih Muslim 249.
[24] Khaitsamah bin Sulaiman bin Haidarah al-Qurasyi ath-Tharablusi. Abu Hasan, termasuk huffazh hadits, ia adalah muhaddits negeri Syam di masanya, ia termasuk penduduk Tripoli Syam (di wilayah Lebanon). Wafat pada 343 H. Ia mengarang kitab besar tentang keutamaan sahabat. Lihat biografinya dalam Lisanul Mizan 2/411, Tazkiratul Huffazh 3/858, A’laam 3/326
[25] Yazid bin Aban ar-Raqqasyi, Abu ‘Amar al-Bashri, termasuk tokoh zuhud di Bashrah, termasuk generasi tabi’in yang kecil. Wafat tahun 120 H. Lihat biografinya: Tahzdzibul Kamal 32/64,  Lisan Muzan 7/439.
[26] Ibnu Majah 1080, Ibnu Nashr al-Maruzi meriwayatkannya dalam ‘Ta’zhimu qadri shalah’ 897 di bagian pertama.
[27] Muslim 2408.
[28] Ahmad 2/188 (210), Shahih Ibnu Khuzaimah 3/293.
[29] Al-Muwatha` 2/824, Sunan al-Baihaqi 8/212.
[30] Al-Bukhari 6857.
[31] Hilyaul auliya 1/278, az-Zuhd karya al-Hannad 2/465. Lihat: I’tisham 1/60.
[32] Sunan ad-Darimi 1/80, as-Sunnah karya al-Maruzi 1/28. Lihat: Majma’ Zawa`id 1/434.
[33] Mushannaf Abdurrazzaq 11/252, Sunan ad-Darimi 1/66
[34] Sunan ad-Darimi 1/83.
[35] Al-Bukhari 2926, Muslim 1759.
[36] Abu Nu’aim dalam Hilyah 7/185-186 dari beberapa jalur, dari Shafwan bin Mukharriz, ia shahih. Dan pengarang Kanzul Ummal (201850) menyandarkannya kepada Dailami dan baginya ada beberapa syahid.
[37] Sunan ad-Darimi 1/69.



  والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber





[ UIC 6.1 ] Pengertian Bid’ah dan Bahayanya 01

Definisi bid’ah secara bahasa (etimologi):

Ibnu Faris rahimahullah berkata: bada’a: ba`, dal, dan ‘ain adalah dua asal, salah satunya: memulai sesuatu dan membuatnya tanpa ada contoh sebelumnya. Dan makna yang lain: terputus dan  keletihan. Maka contoh pertama adalah seperti perkataan mereka: ‘Aku menciptakan sesuatu secara perkataan atau perbuatan, apabila aku memulainya tanpa ada contoh sebelumnya’, dan ‘Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi’. Orang Arab berkata: …dan fulan memulai dalam perkara ini. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ قُلْ مَاكُنتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ ﴾ [ الأحقاف: 9]

Katalanlah:”Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul. (QS. al-Ahqaf: 9)

Maksudnya: aku bukanlah yang pertama.[1]

Makna kedua yang disebutkan oleh Ibnu Faris kembali kepada makna pertama, sebagaimana yang disinggung oleh Ibnul Atsir yang mengatakan: Unta abda’at apabila ia terputus dari perjalanan karena keletihan atau pincang. Seolah-olah ia menjadikan terputusnya dari sesuatu yang ia terus menerus atasnya berupa kebiasaan berjalan ‘ibda’aan,  artinya memunculkan perkara diluar kebiasaannya.[2]

                Al-Jauhari rahimahullah berkata:  abda’tu syai`a: aku menciptakannya tanpa ada contoh, dan Allah subhanahu wa ta’ala menciptaan langit dan bumi.[3]

Ath-Thurthusyi rahimahullah berkata: Asal kata ini dari ikhtiraa’, yaitu sesuatu yang muncul tanpa ada dasar sebelumnya, tanpa ada contoh yang ditiru, tidak pernah dikarang sepertinya. Dan darinya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالي: ﴿ بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرضِ ﴾ [ البقرة: 177]

Allah pencipta langit dan bumi, (QS. al-Baqarah:117)
قال الله تعالي: ﴿ قُلْ مَاكُنتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ ﴾ [ الأحقاف: 9]

Katalanlah:”Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul. (QS. al-Ahqaf: 9)

Maksudnya, aku bukan rasul pertama di muka bumi.[4]

Definisi bid’ah secara syara’ (terminologi):


                Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan bid’ah, dan perbedaan ini kembali kepada tambahan catatan menurut sebagian mereka yang tidak disebutkan oleh yang lain. Di antara definisi tersebut adalah:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Bid’ah adalah yang menyalahi al-Qur`an atau sunnah atau ijma’ kalangan salaf dari umat ini berupa keyakinan dan ibadah.’[5]Ia juga berkata: ‘Bid’ah secara bahasa meliputi segala yang dilakukan pertama kali tanpa ada contoh sebelumnya, adapun bid’ah secara syar’i yaitu sesuatu yang tidak ada dasarnya secara syara’i.’[6]

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: ‘Yang dimaksud bid’ah adalah sesuatu yang baru yang tidak ada dasarnya di dalam syari’at yang menunjukkan atasnya. Adapun yang ada dasarnya di dalam syara’ yang menunjukkan atasnya maka ia tidak termasuk bid’ah, sekalipun bid’ah secara bahaya.[7]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ‘Muhdatsaat adalah bentuk jama’dari muhdats, maksudnya adalah sesuatu yang baru dan tidak ada dasarnya di dalam syara’ dan dinamakan dalam ‘urf syara’ sebagai bid’ah. Dan sesuatu yang ada dasar yang syara’ menunjukkan atasnya maka bukan bid’ah. Bid’ah dalam ‘urf syara’ adalah tercela, berbeda dalam pengertian bahasa, maka sesuatu yang baru tanpa ada contoh sebelumnya dinamakan bid’ah, sama saja ia terpuji atau tercela.[8]

Syaikh Hafizh Hakami rahimahullah berkata: ‘Dan pengertian bid’ah: Syari’at yang tidak diijinkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak ada perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula perintah para sahabatnya atasnya.[9]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: ‘Sesuatu yang baru dalam agama yang berbeda dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berupa akidah atau perbuatan.’[10]

Syaikh Albani rahimahullah berkata saat membicarakan bid’ah yang ditegaskan sesatnya dari syari’, dan ia menyebutkan sejumlah sifat yang saya kutip darinya yang serasi bersama definisi: ‘Setiap perkara untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengannya dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang darinya, dan setiap perkara yang tidak mungkin disyari’atkan kecuali dengan nash atau tauqif, dan tidak ada nash atasnya maka ia adalah bid’ah, kecuali yang bersumber dari sahabat. Dan setiap yang melekat dengan ibadah dari kebiasaan-kebiasaan orang kafir dan yang ditegaskan sunnahnya oleh sebagian ulama terutama kalangan mutaakhkhirin dan tidak ada dalil atasnya, dan setiap ibadah yang tidak ada petunjuk tentang tata caranya kecuali dalam hadits dha’if atau maudhu’, dan setiap ibadah yang dimuthlaqkan oleh syara’ dan diqayidkan oleh manusia dengan beberapa qaid seperti tempat atau waktu atau sifat atau jumlah.[11]

Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Buthami al-Ban’ali rahimahullah berkata: ‘Bid’ah secara syara’ adalah yang diciptakan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’aladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya, tidak pernah menyuruhnya, tidak pernah menetapkannya, dan para sahabat tidak pernah melakukannya.’[12]

Dan definisi yang paling lengkap tentang bid’ah adalah yang disebutkan oleh imam asy-Syathibi rahimahullah[13], di mana ia berkata: ‘Bid’ah adalah ungkapan tentang cara beragama yang diciptakan menyerupai syari’at, ditujukan dalam menjalaninya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.’ Ia berkata: Dan ini menurut pendapat orang yang tidak memasukkan a’daat (tradisi, keseharian) dalam makna bid’ah dan hanya mengkhususkan dengan ibadah. Adapun menurut pendapat yang memasukkan perbuatan rutinitas dalam makna bid’ah, maka ia berkata: ‘Bid’ah adalah jalan dalam agama yang diciptakan (dibuat) menyerupai syari’at, ditujukan dengan menjalaninya seperti yang ditujukan dengan jalan yang syar’i.

Maka perkataannya: ‘Jalan dalam agama’: thariqah dan thariqmaknanya sama, yaitu sesuatu yang digambarkan untuk dijalani. Dikaitkan dengan ‘agama’ karena agama itulah ia diciptakan dan kepadanya pelakunya menyandarkannya. Juga, jika diciptakan dalam urusan dunia tentu tidak dinamakan bid’ah seperti menciptakan industri dan kota yang tidak pernah ada sebelumnya.

Perkataannya: ‘diciptakan’ inilah yang dimaksudnya dengan definisi, karena jalan-jalan dalam agama, di antaranya ada yang ada dasarnya dalam syari’at dan di antaranya tidak ada dasarnya dalam syari’at, dan inilah yang masuk dalam bid’ah. Dan dengan qaid ini ia terpisah dari semua yang nampak bagi orang yang punya pikiran ia diciptakan dari sesuatu yang berkaitan dengan agama, seperti ilmu nawhu, lughah (bahasa), ushul fiqh, dan semua ilmu pendukung. Maka sesungguhnya ia, sekalipun tidak pernah ada di masa pertama, akan tetapi dasar-dasarnya sudah ada dalam syara’.

Perkataannya ‘Menyerupai syari’at’: maksudnya mirip dengan jalan syari’at padahal hakikatnya tidak seperti itu, akan tetapi ia menyerupainya dari berbagai sisi, seperti mengharuskan cara dan bentuk tertentu yang syara’ tidak menyuruh seperti itu.

Perkataannya ‘ditujukan dengan menjalaninya seperti yang ditujukan dengan jalan yang syar’i’: ini mengeluarkan bid’ah secara bahasa (etemologi) yang tidak tercela, seperti penemuan-penemuan baru dan semisalnya yang tidak ditujukan sebagai ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak ada larangan padanya.

Dari penjelasan definisi pertama jel’alaihissalamah pengertian definisi kedua yang disebutkan oleh imam Syathibi rahimahullah, kecuali perkataannya ‘ditujukan dengan jalan yang syar’i’ dan maksudnya: bahwa syari’at datang untuk kebaikan hamba di dunia dan akhirat mereka, untuk mendapatkan keduanya sebaik-baiknya. Inilah yang ditujukan oleh pelaku bid’ah dengan bid’ahnya. Karena bid’ah jika bergantung dengan ibadah,  pelakunya ingin melaksanakannya sebaik mungkin menurun dugaannya agar beruntung mendapatkan tempat tertinggi di akhirat. Dan jika berkaitan dengan kebiasaan juga demikian karena ia meletakkannya agar perkara dunianya datang sebaik mungkin.[14]




[1] Mu’jam Maqayis Lughah 1/209. Materi ‘Bada’a.
[2] An-Nihayah 1/107.
[3] Ash-Shihah 3/1183.
[4] Al-Hawadits wal bida’ hal 40
[5] Majmu’ fatawa 18/346
[6] Iqtidhau Shirathil Mustaqim 2/593
[7] Jami’ul Ulumwal hikam1/266
[8] Fathul Bari 13/266-267.
[9] Ma’arijul Qabul  2/502.
[10] Syarh Lam’atul I’tiqad hal 24 cet. ‘Majmu Fatawa’ Alu Sulaiman.
[11] Ahkam Janaiz hal 306 dengan ringkas.
[12] Tahdzirul Muslimin minal bida’ fid diin hal 10.
[13] Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi al-Gharnathi yang terkenal dengan nama asy-Syathibi, dari penduduk Granada, pemuka mazhab Maliki, wafat pada tahun 790 H. Mempunyai banyak karangan, di antaranya yang terpenting: al-Muwafaqat fi Ushulil fiqh’ dan I’tisham.
[14] Lihat: al-I’tisham 1/50-57, ilmu ushulil bida’ hal 24-25, Ibda’ fi madharil Ibtida’ hal 26-29.

  والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

[ UIC 5.1 ] – Ringkasan Terjemah Syarah Ushulus Sunnah

Telah berkata Syaikh Imam Abul Muzhaffar ‘Abdul Malik bin Ali bin Muhammad al-Hamdani: menceritakan kepada kami Syaikh Abu ‘Abdillah Yahya bin Abil Hasan bin al-Banna. Menceritakan kepada kami bapakku, Abu ‘Ali Hasan bin Ahmad bin Abdillah bin al-Banna. Menceritakankepada kami Abul Husain Ali bin Muhammad bin Abdillah bin Busyran alMu’addal. Menceritakan kepada kami Utsman bin Ahmad bin Sammak. Menceritakan kepada kami Abu Muhammad al-Hasan bin Abdul Wahhab bin Abu al-‘Anbar —dengan dibacakan kitabnya kepadanya— pada bulan Rabiul al-Awwal tahun 293 H. Menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Sulaiman al-Minqari al-Bashri di Tinniis. Menceritakan kepadaku ‘Abdus bin Malik al-Aththar. Dia berkata: Aku men­dengar Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata, “Pondasi Ahlis Sunnah menurut kami adalah:

1.      Berpegang teguh pada jalan hidup para sahabat Ra­sulullahصلي الله عليه وسلم .
2.      Berqudwah (mengambil teladan) pada mereka.
3.      Meninggalkan bid’ah-bid’ah.
4.      Setiap bid’ah adalah kesesatan.
5.    Meninggalkan permusuhan dan berduduk-duduk dengan Ahlil Ahwa (pengekor hawa nafsu).
6.      Meninggalkan perdebatan dan adu argumentasi serta pertikaian dalam urusan agama.
7.      As-Sunnah menurut kami adalah atsar-atsar Rasulullah صلي الله عليه وسلم.
8.   As-Sunnah adalah penjelas Al-Quran yakni pe­tunjuk-petunjuk dalam Al-Quran.
9.      Di dalam As-Sunnah tidak ada qiyas.

10.  As-Sunnah tidak boleh dibuat permisalan dan tidak dapat diukur dengan akal dan hawa nafsu, akan tetapi dengan ittiba’ dan meninggalkan hawa nafsu.

11.   Dan termasuk dari Sunnah yang tidak boleh di­tinggalkan dan bila ditinggalkan satu perkara saja darinya maka ia tidak menerima dan beriman dengan­nya (Sunnah) dan tidak termasuk dari ahlinya.

12.          Beriman terhadap taqdir baik dan buruknya dan membenarkan hadits-hadits tentangnya dan meng­imaninya. Tidak boleh mengatakan: “Kenapa” dan “bagaimana”, karena hal itu tiada lain hanyalah membenarkan dan mengimaninya. Barangsiapa yang tidak mengerti penjelasan hadits (tentang taqdir) dan akalnya tidak sampai, maka hal itu telah cukup dan kokoh baginya. Maka wajib baginya mengi­maninya dan berserah diri, seperti hadits: Ash-Shaadiqul Mashduuq.

Dan semisalnya hadits tentang taqdir, juga semua hadits-hadits tentang melihat Allah meskipun ja­rang terdengar dan banyak yang tidak suka men­dengarnya, maka wajib mengimaninya dan tidak boleh menolak darinya satu huruf pun, dan hadits-hadits selainnya yang ma’tsur dari orang-orang yang tsiqah (terpercaya).

Tidak boleh mendebat seseorang tentangnya dan mem­pelajari Ilmu berdebat, karena berdebat tentang taqdir, ru’yah, AlQuran dan yang selainnya dari (prinsip-prinsip) As-Sunnah adalah makruh  dan terlarang. Dan tidak termasuk Ahli Sunnah (orang yang berbi­cara dan berdebat tentang taqdir, ru’yah dan Al-Quran) meskipun perkataannya sesuai dengan As-Sunnah hingga ia meninggalkan perdebatan dan berserah diri serta beriman terhadap atsar-atsar.

13.          Al-Quran adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, dan tidak boleh melemah untuk mengatakan Al-Quran bukan makhluk, karena sesungguhnya kalam Allah itu tidak terpisah dari-Nya, dan tiada suatu bagianpun dari-Nya yang makhluk dan hindarilah berdebat dengan orang yang membuat perkara baru tentangnya, orang yang mengatakan lafazhku dengan Al-Quran adalah makhluk dan selainnya serta orang yang tawaqquf tentangnya, yang mengatakan, “Aku tidak tahu makhluk atau bukan makhluk akan tetapi ia adalah kalam Allah.” Karena orang ini adalah ahli bidah, seperti orang yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk. Sesungguhnya Al-Quran adalah Kalam Allah dan bukan makhluk.

14.          Beriman terhadap ru’yah (melihat Allah) pada hari kiamat sebagaimana hadits-hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi صلي الله عليه وسلم.

15.          Dan Nabi صلي الله عليه وسلم pernah melihat Rabbnya. Telah ada atsar yang shahih dari Rasulullah yang diri­wayatkan oleh Qatadah dari lkrimah dari lbnu ‘Ab­bas رضي الله عنهما dan diriwayatkan oleh Al-Hakam bin Abban dari lkrimah dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما serta diri­wayatkan oleh Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari lbnu Abbas رضي الله عنهما. Dan hadits tersebut menurut kami hendaknya difahami sesuai dengan makna zhahirnya, sebagaimana hal itu datang dari Nabi صلي الله عليه وسلم  sebab memperdebatkan tentangnya adalah bid’ah. Akan tetapi kami mengimaninya sesuai dengan (makna) zhahirnya sebagaimana hal itu datang (ke­pada kami), dan kami tidak memperdebatkan ten­tangnya dengan siapapun.
16.          Beriman kepada Al-Miizan (timbangan) pada hari kiamat, sebagaimana dalam hadits:
يَوْزِنُ العَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَلَا يَزِنُ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ
 “Seorang hamba akan ditimbang pada hari kiamat, maka ia tidak dapat mengimbangi berat sayap seekor nyamuk.”

Dan juga amalan-amalan para hamba akan ditimbang sebagaimana dalam atsar, mengimani dan mem­benarkannya dan berpaling dari orang yang me­nolaknya serta meninggalkan perdebatan dengannya.

17.          Allah akan mengajak bicara hamba-hamba-Nya pada hari kiamat tanpa ada penerjemah antara mereka dengan-Nya, dan kita wajib mengimani dan membenarkannya.

18.          Beriman dengan telaga dan bahwa Rasulullah memiliki telaga pada hari kiamat yang akan didatangi oleh umatnya dimana luasnya sepanjang perjalanan sebulan dan bejana-bejananya sebanyak bintang-bintang di langit menurut riwayat-riwayat yang shahih dari beberapa jalan.
19.          Beriman kepada adzab kubur.

20.          Dan bahwa umat ini akan diuji dan ditanya di dalam kuburannya tentang iman, islam, siapa Rabbnya, siapa Nabinya, dan akan didatangi oleh Malaikat Munkar dan Nakir sesuai dengan kehen­dak dan keinginan Allah. Dan kita mengimani dan membenarkannya.

21.          Beriman terhadap syafa’at Nabi صلي الله عليه وسلم dan suatu kaum yang dikeluarkan dari api Neraka setelah ter­bakar dan menjadi arang, kemudian mereka diperin­tahkan menuju sungai di depan Surga sesuai dengan kehendak Allah, sebagaimana dalam atsar. Dan kita mengimani dan membenarkannya.
22.          Beriman bahwa Al-masih ad-Dajjal akan keluar, tertulis di antara kedua matanya “Kafir”. Dan beriman terhadap hadits-hadits tentangnya dan bahwa hal itu pasti terjadi.
23.          Dan bahwa Isa bin Maryam  عليه السلامakan turun lalu membunuhnya di pintu Lud.
24.          Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang sebagaimana dalam hadits:
أَكْمَلُ الـمُؤْمِنِيْنَ عِيْمَانًا عَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.”

25.          Barangsiapa meninggalkan shalat maka ia telah kafir, dan tidak ada suatu amalan apapun yang apabila ditinggalkan maka akan menyebabkan kekafiran melainkan shalat. Maka barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir dan Allah telah menghalalkannya untuk dibunuh.

26.          Sebaik-baik orang dari umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Khaththab, kemudian Utsman bin ‘Affan. Kami mendahulukan mereka bertiga sebagaimana para sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم mendahulukan mereka, mereka tidak berselisih pendapat dalam hal itu. Kemudian setelah mereka adalah lima orang Ash-haabu asy-Syuura, yaitu: Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair (bin Awwam), Abdurrahman bin Aufdan, Sa’ad (bin AbiWaqqash). Mereka semua patut untuk menjadi khalifah, dan semuanya adalah imam (pemimpin). Kami ber­pendapat demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar.

كُنَّا نَعُدُّ وَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيٌّ وَاَصْحَابُهُ مُتَوَافِرُونَ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ 
ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ نَسْكُنُ
“Kami menyebutkan secara berurutan tatkala Rasulullah masih hidup dan para sahabat masih berkumpul, yaitu: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian kami diam.
Kemudian setelah Ash-haabu asy-Syura adalah Ahli Badr dari kaum Muhajirin, kemudian Ahli Badr dari kaum Anshar dari para sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم sesuai dengan kadar hijrah dan keterdahuluan (masuk Islam).

27.          Kemudian sebaik-baik manusia setelah para sahabat adalah generasi yang Rasulullah صلي الله عليه وسلم diutus padanya. Setiap orang yang bersahabat dengan­nya baik setahun, sebulan, sehati, sesaat atau per­nah melihatnya, maka ia termasuk dari para saha­batnya. Ia memiliki keutamaan bersahabat sesuai dengan waktu persahabatan dengannya. Karena keterdahuluannya bersama Beliau صلي الله عليه وسلم telah men­dengar darinya, dan melihat kepadanya.

Maka serendah-rendah derajat mereka masih lebih utama dibanding generasi yang tidak pernah melihat­nya, walaupun berjumpa Allah سبحانه و تعالي dengan memba­wa seluruh amal (kebaikan). Mereka orang-orang yang pernah bersahabat dengan Nabi صلي الله عليه وسلم, melihat dan mendengar darinya, serta orang yang melihat­nya dengan mata kepalanya dan beriman kepadanya walaupun sesaat masih lebih utama—dikarenakan persahabatannya dengan Beliau صلي الله عليه وسلم — daripada para tabi’in walaupun mereka mengamalkan segala amal kebaikan.

28.          Mendengar dan taat pada para imam dan pemimpin kaum mukminin yang baik maupun yang buruk dan kepada khalifah yang manusia bersatu padanya dan meridhainya. Dan juga kepada orang yang telah mengalahkan manusia dengan pedang (kekuatan) hingga ia menjadi khalifah dan dise­but sebagai Amirul Mukminin (pemimpin kaum mukmin).

29.          Perang dilakukan bersama para pemimpin yang baik maupun yang buruk terus berlangsung sampai hari kiamat, tidak boleh ditinggalkan.

30.          Pembagian fa’i (Harta rampasan perang dari kaum kafir tanpa terjadi peperangan) dan penegakan hukuman-hukuman harus diserahkan kepada para imam (pemimpin). Tidak boleh bagi siapapun untuk mencela dan menyelisihinya.

31.          Membayar zakat/sedekah kepada mereka (para imam/pemerintah) boleh dan terlaksana. Barang siapa membayarkannya kepada mereka maka hal itu telah cukup/sah baginya, baik pemimpin itu baik maupun jelek.

32.          Melaksanakan shalat jum’at di belakang mereka dan di belakang orang yang menjadikan mereka sebagai pemimpin hukumnya boleh dan sempurna dua raka’at. Barangsiapa yang mengulangi shalatnya maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah) yang me­ninggalkan atsar-atsar dan menyelisihi Sunnah. Tidak ada baginya sedikitpun dari keutamaan shalat jum’at apabila ia tidak berpendapat bolehnya shalat di belakang para imam/pemimpin, baik pemimpin itu baik maupun buruk. Karena Sunnah memerin­tahkan agar melaksanakan shalat bersama mereka dua rakaat dan mengakui bahwa shalat itu sempur­na. Tanpa ada keraguan terhadap hal itu di dalam hatimu.

33.          Barangsiapa yang keluar (dari ketaatan) terhadap seorang pemimpin dari para pemimpin muslimin, padahal manusia telah bersatu dan mengakui kekhalifahan baginya dengan cara apapun, baik dengan ridha atau dengan kemenangan (dalam perang), maka sungguh orang tersebut telah memecah belah persatuan kaum muslimin dan menyelisihi atsar-atsar dari Rasu­lullah صلي الله عليه وسلم. Dan apabila ia mati dalam keadaan demikian maka matinya seperti mati jahiliyyah.

34.          Tidak halal memerangi penguasa (pemerintah) dan keluar dari ketaatan kepadanya dikarenakan seseorang. Barangsiapa yang melakukan hal itu maka ia adalah seorang mubtadi (pelaku bid’ah) yang bukan di atas Sunnah dan jalan (yang lurus).

35.          Memerangi para pencuri dan orang-orang Khawarij (yang keluar dari ketaatan kepada penguasa) dibolehkan, apabila mereka telah merampas jiwa dan harta seseorang. Maka bagi orang tersebut boleh memerangi mereka untuk mempertahankan jiwa dan hartanya dengan segala kemampuan. Akan tetapi ia tidak boleh mengejar dan mengikuti jejak mereka apabila mereka telah pergi dan meninggalkannya. Ti­dak boleh bagi siapapun kecuali imam atau para pe­mimpin muslimin, karena hanya diperbolehkan un­tuk mempertahankan jiwa dan hartanya di tempat tinggalnya, dan berniat dengan upayanya untuk ti­dak membunuh seseorang. Jika ia (pencuri/Khawarij) mati di tangannya dalam peperangan mem­pertahankan dirinya, maka Allah akan menjauhkan orang yang terbunuh (dari rahmat-Nya).

Dan jika ia (yang dirampok) terbunuh dalam ke­adaan demikian sedang ia itu mempertahankan jiwa dan hartanya, maka aku berharap ia mati syahid se­bagaimana dalam hadits-hadits. Dan seluruh atsar dalam masalah ini memerintahkan agar memeranginya [pencuri dan khawarij] dan tidak memerintahkan untuk membunuh dan mengejarnya. Dan tidak boleh membunuhnya jika ia menyerah atau terluka. Dan jika ia menawannya maka tidak boleh membunuhnya dan tidak boleh melaksanakan hukuman padanya akan tetapi urusannya diserahkan kepada orang yang telah dijadikan oleh Allah sebagai pemimpin, lalu ia menghukuminya.
36.          Kami tidak bersaksi dengan (masuk) Surga atau Neraka bagi siapapun dari Ahli Kiblat (kaum musli­min pent) disebabkan suatu amalan yang diperbuat­nya. Kami berharap (kebaikan) bagi orang shalih dan mengkhawatirkan (kejelekan) baginya. Kami (juga) mengkhawatirkan (kejelekan) akan me­nimpa orang buruk lagi berdosa, dan mengharap­kan rahmat Allah baginya.

37.          Barangsiapa berjumpa Allah dengan membawa dosa yang menyebabkannya masuk ke dalam Neraka —sedangkan ia dalam keadaan bertaubat dan tidak berlarut-larut di dalam dosa— maka sesungguhnya Allah akan mengampuninya dan menerima taubat dari hamba-hambanya serta memaafkan kesalahan-kesalahan.

38.          Barangsiapa berjumpa dengan Allah sedangkan telah dilaksanakan hukuman dosa tersebut padanya di dunia, maka itu adalah kaffarahnya (penghapus dosanya). Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ra­sulullah صلي الله عليه وسلم.

39.          Barangsiapa berjumpa Allah dalam keadaan terus menerus berbuat dosa tanpa bertobat darinya, yang mana dosa-dosa tersebut mengharuskannya disiksa, maka urusannya terserah kepada Allah. Jika Dia berkehendak, Dia menyiksanya. Dan jika Dia berkehendak, Dia mengampuninya.

40.          Barangsiapa berjumpa Allah dari orang kafir, niscaya Dia menyiksanya dan tidak mengampuninya.
41.          (Hukuman) Rajam adalah hak bagi siapa yang berzina sedangkan dia telah terpelihara (menikah), bilamana dia mengaku atau terdapat bukti atasnya.
42.          Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah (melaksanakan hukuman) rajam.
43.          Demikian pula para imam (pemimpin) pang lurus telah melaksanakan hukuman rajam.

44.          Barangsiapa yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم atau membencinya karena suatu kesalahan darinya, atau menyebutkan kejelekan-kejelekannya, maka dia adalah seorang ahli bid’ah, sehingga dia menyayangi mereka semua dan hatinya bersih dari (sikap membenci atau mencela pent) mereka.

45.          Dan nifaq adalah kekafiran: Yakni kafir kepada Allah dan beribadah kepada selain-Nya, menampak­kan keislaman di hadapan orang umum, seperti orang-orang munafiq yang hidup di zaman Rasu­lullah صلي الله عليه وسلم.
46.  Dan sabda Nabi صلي الله عليه وسلم
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ
“Tiga perkara yang barangsiapa ada pada dirinya maka ia adalah orang munafiq. “

Hadits ini sebagai ancaman berat Kami meriwayatkannya seperti apa adanya. Kami tidak menafsirkannya (dengan makna lain pent)
47.          Dan sabdanya:

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا ضُلاَّلاً يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

Janganlah kamu kembali menjadi orang-orang kafir yang sangat sesat sepeninggalku. Sebagian kamu membunuh sebagian yang lain.
Dan seperti hadits Nabi صلي الله عليه وسلم

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ

“Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan mengang­kat pedang, maka si pembunuh dan yang terbunuh keduanya masuk kedalam Neraka.

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran.”
dan seperti sabdanya صلي الله عليه وسلم

مَنْ قَالَ لِأَخِيْهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ أَحَدُهُمَا
“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya,’Wahai orang kafir’, Maka perkataan tersebut akan kembali kepada salah satu dari keduanya.

Dan seperti sabdanya صلي الله عليه وسلم

كُفْرٌ بِاللهِ تَبَرَّؤٌ مِنْ نَسَبٍ وَإِنْ دَقَّ

“Merupakan kekafiran kepada Allah adalah berlepas diri dari nasab walaupun sekecil apapun.”

48.          Dan yang semisal hadits-hadits tersebut dari apa yang telah benar dan terjaga. Kami pasrah ke­padanya walaupun tidak tahu tafsirnya. Dan kami tidak membicarakannya dan tidak memperdebat­kannya. Dan kami (juga) tidak menafsirkan hadits-hadits ini kecuali sebagaimana ia datang (seperti apa adanya). Kami tidak menolaknya kecuali dengan apa yang lebih benar darinya.

49.  Surga dan Neraka adalah dua makhluk yang telah diciptakan sebagaimana sabda Rasulullah   صلي الله عليه وسلم

(دَخَلْتُ الجَنَّةَ فَرَأَيْتُ قَصْرًا)، (وَرَأَيْتُ الكَوثَرَ)، (واطَّلَعْتُ فِيْ الجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ 
أَهْلَهَا….كَذَ)، (واطَّلَعْتُ فِيْ النَّارِ فَرَأَيْتُ…. كَذَ وَ كَذَ)

Aku telah memasuki Surga, maka aku melihat sebuah istana. “ “Dan aku telah melihat Al-Kautsar.” “Dan aku telah melihat Surga, lalu aku melihat mayoritas penghuninya adalah demikian.” “Dan aku telah melihat Neraka, maka aku melihat begini dan begitu.”

Maka barangsiapa menyangka bahwa keduanya. (Surga dan Neraka) belum diciptakan, berarti ia telah mendustakan Al-Qur’an dan hadits-hadits Ra­sulullah صلي الله عليه وسلم Dan aku (Imam Ahmad bin Hanbal pent) menyangka bahwa ia tidak beriman dengan (adanya) Surga dan Neraka.

50.          Barangsiapa meninggal dunia dari ahli kiblat dalam keadaan bertauhid, maka ia (berhak) dishalatkan dan dimintakan ampunan baginya. Dan istighfar (permintaan ampunan kepada Allah) tidak boleh dihalangi darinya. Dan menshalati jenazahnya tidak boleh ditinggalkan disebabkan suatu dosa yang di­lakukannya, baik dosa kecil maupun besar. Dan uru­sannya terserah kepada Allah.


  والله أعلمُ بالـصـواب



[ UIC 3 ] Etika Menuntut Ilmu 06

PASAL KETUJUH : PERINGATAN-PERINGATAN
20.       Mimpi di saat jaga

      Hindarilah bermimpi di saat jaga, dan di antaranya adalah bahwa engkau mengaku mengetahui sesuatu yang engkau tidak ketahui, atau menguasai sesuatu yang tidak engkau kuasai. Jika engkau melakukan hal itu maka ia merupakan hijab (penghalang) tebal untuk mendapatkan ilmu.

21.       Janganlah engkau menjadi ‘Aba Syibr’:

          Dikatakan: ilmu ada tiga jengkal, barangsiapa yang masuk di jengkal pertama niscaya ia sombong, dan barangsiapa yang masuk di jengkal kedua niscaya ia tawadhu’ (rendah diri), dan barangsiapa yang masuk di jengkal ketiga niscaya ia mengetahui bahwa ia ia tidak mengetahui.

22.       Maju ke depan (menjadi pemimpin) sebelum ahli:

          Hindarilah maju ke depan sebelum ahli, maka ia merupakan penyakit dalam ilmu dan amal.

23.       Tanammur (seolah-olah ahli) dengan ilmu:  

       Hindarilah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bangkrut dalam ilmu, ia muraja’ah satu masalah atau dua masalah. Lalu apabila di satu majelis ada orang yang dijadikan panutan, ia membahas dua masalah itu untuk menampakan ilmunya. Perbuatan ini sangat buruk, setidaknya ia mengetahui bahwa manusia mengetahi hakikatnya.
24.       Tahibir Kaghid (kertas):

          Sebagaimana harus berhati-hati dari karangan yang mengandung bid’ah dan yang akhirnya adalah tahbir kaghid,[1]maka hindarilah mengarang sebelum sempurna alat-alatnya, cukup kemampuanmu, dan matang di atas tangan guru-gurumu.

          Adapun mengarang ilmu yang bermanfaat bagi seseorang yang sudah mampu, sempurna alatnya, luas pengetahuannya, sudah terlatih melakukan riset, muraja’ah, muthala’ah, meringkas yang panjang/besar, menghapal yang ringkas, dan mengingat masalah-masalahnya, maka ia merupakan amal yang paling utama yang dilakukan oleh orang-orang cerdas dari orang-orang yang utama.

25.       Sikapmu terhadap kekeliruan pendahulumu:

       Apabila engkau menemukan kekeliruan seorang ulama maka janganlah engkau merasa senang untuk merendahkannya, akan tetapi berbahagialah dengannya karena meluruskan masalah, mengingatkan kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan seorang imam yang penuh dalam lautan ilmu dan keutamaannya. Akan tetapi tidak membangkitkan fitnah atasnya dengan merendahkannya, maka terperdaya dengannya orang yang awam.
26.       Jauhilah syubhat:

          Hindarilah membangkitkan syubhat dan mendatangkannya atas dirimu atau orang lain. Syubhat itu adalah penculik dan hati itu sifatnya lemah, dan yang paling banyak menyebarkannya adalah ahli bid’ah, maka hindarilah mereka.

27.       Hindarilah lahn (kesalahan ucapan dan bahasa):

          Hindarilah kesalahan dalam ucapan dan tulisan, maka sesungguhnya tidak ada lahn merupakan kebesaran, kebersihan perasaan, berhenti di atas makna yang indah untuk keselamatan susunan kata.

28.       Aborsi pemikiran: Hindarilah aborsi pemikiran dengan mengeluarkan pemikiran sebelum matang.

29.       Israiliyat baru (Neo-Israiliyat):

          Hindarilah israiliyat gaya baru dalam hembusan para orentalis dari kaum yahudi dan kristen, maka lebih berbahaya daripada israiliyat lama. Sebagian kaum muslimin telah mengambil darinya dan yang lain tunduk baginya, maka janganlah engkau terjerumus padanya.

30.       Hindarilah perdebatan bizanthi:

          Maksudnya perdebatan yang mandul atau tidak berarti. Dulu bangsa Bizantium (Roma?) memperdebatkan tentang jenis kelamin malaikat sedangkan musuh sudah berada di pintu gerbang negeri mereka hingga menyerang mereka. Dan petunjuk salaf: Menahan diri dari banyak pertengkaran dan perdebatan, dan sesungguhnya terlalu banyak padanya termasuk tanda sedikit sifat wara’.

31.       Tidak ada kelompok dan tidak pula partai yang diikrarkan sikap wala’ dan bara’ atasnya:

          Dasar Islam bahwa tidak ada bagi mereka tanda selain Islam dan perdamaian. Wahai penuntut ilmu, semoga Allah SWT memberi berkah padamu dan ilmu engkau, tuntutlah ilmu, amalkanlah, dan berdakwahlah karena Allah SWT menurut metode salaf. Jangalah engkau termasuk orang yang suka keluar masuk dalam jamaah (kelompok-kelompok), maka engkau keluar dari yang luas kepada lobang yang sempit. Islam semuanya adalah untukmu secara sungguh dan manhaj. Semua kaum muslimin adalah jamaah, dan sesungguhnya tangan Allah SWT bersama jamaah. Maka tidak ada kelompok dan tidak pula partai di dalam Islam.

Maka hindarilah (semoga Allah SWT memberi rahmat kepadamu) partai-partai dan kelompok-kelompok yang pengikutnya mengelilinginya. Tidak lain ia menyerupai air mancur, mengumpulkan air  dalam kondisi keruh dan memisahkannya secara sia-sia. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu, maka ia berada di atas petunjuk Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.
32.       Pembatal-pembatal bekal ini:

       Ketahuilah, sesungguhnya di antara pembatal ‘bekal’ ini, yang merusak tatanannya adalah:
1.       Membuka rahasia.
2.       memindah ucapan dari satu golongan kepada golongan yang lain.
3.       Membual dan banyak omong.
4.       Banyak bercanda.
5.       Masuk dalam pembicaraan di antara dua orang.
6.       Dendam.
7.       Dengki.
8.       Buruk sangka.
9.       Duduk bersama ahli bid’ah.
10.    Melangkahkan kaki kepada yang diharamkan.
       Maka hati-hatilah dari dosa-dosa ini dan sejenisnya, pendekkanlah langkahmu dari semua yang diharamkan. Jika engkau lakukan, maka sungguh engkau memiliki iman yang tipis. Maka dimanakah engkau bahwa engkau seorang penuntut ilmu yang diisyaratkan dengan telunjuk, penuh dengan ilmu dan amal.
       Semoga Allah SWT meluruskan langkah, memberikan taqwa kepada kita  semua, baik di dunia maupun akhirat.
       Semoga rahmat dan salam Allah SWT senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
       Dan akhir doa kita adalah ‘segala puji hanya bagi Allah SWT Rabb semesta alam.
       Diringkas oleh Muhammad bin Fahd bin Ibrahim al-Wad’an
Riyadh, 1428 H. 



[1] Yaitu kertas, bahasa persia yang menjadi bahasa arab.


  والله أعلمُ بالـصـواب


[ UIC 3 ] Etika Menuntut Ilmu 05

PASAL YANG KEENAM : BERHIAS DIRI DENGAN AMAL IBADAH

44.       Di antara tanda ilmu yang bermanfaat: 

a.    Mengamalkannya.
b.   Tidak suka sanjungan dan pujian serta tidak sombong terhadap orang lain.
c.    Engkau bertambah tawadhu’ (rendah diri) setiap kali bertambah ilmu.
d.   Menghindar dari suka pujian, terkenal dan dunia.
e.    Tidak mengaku punya ilmu.
f.     Berburuk sangka terhadap diri sendiri dan berbaik sangka (husnuzh Zhan) terhadap orang lain.
45.       Mengeluarkan zakat ilmu:

          Tunaikan zakat ilmu untuk menyampaikan kebenaran, menyuruh yang ma’ruf, melarang yang mungkar, menjaga keseimbangan di antara mashlahat dan madharrat, menyebarkan ilmu, menyukai manfaat, memberikan syafaat bagi kaum muslimin dalam kebenaran dan kebaikan.

          Berusahalah menjaga pakaian (bekal) ini, ia merupakan pokok buah ilmu yang engkau dapatkan. Dan karena kemuliaan ilmu, maka ia menjadi bertambah karena diinfakkan dan berkurang karena disimpan, dan penyakitnya adalah disembunyikan. Dan janganlah karena alasan zaman yang sudah rusak, banyak orang fasik, nasehat tidak berfaedah mendorong engkau untuk tidak menunaikan kewajiban berdakwah. Maka jika engkau melakukan hal itu, maka ia merupakan perbuatan yang diinginkan oleh orang-orang fasik untuk bisa keluar meninggalkan keutamaan dan mengangkat bendera kehinaan.

46.       Izzatul ulama (kemuliaan ulama):

          Berhias diri dengan (izzatul ulama): untuk menjaga ilmu dan mengagungkannya. Maka janganlah engkau mau dimanfaatkan oleh orang-orang sombong atau bodoh, maka janganlah engkau lemah dalam berfatwa, atau memutuskan perkara, atau riset, atau ucapan…Maka janganlah engkau berjalan dengannya kepada ahli dunia dan janganlah engkau berdiri di atas pundak mereka, janganlah engkau berikan kepada bukan ahlinya sekalipun tinggi kedudukannya.

          Berilah kenikmatan kepada penglihatan dan mata hatimu dengan membaca biografi dan riwayat para imam yang telah mendahului niscaya engkau melihat padanya pengorbanan jiwa dalam menjaga jalan ini, terutama orang yang menggabungkan contoh teladan dalam hal ini.

47.       Menjaga ilmu:

          Jika engkau telah mendapatkan kedudukan, ingatlah selalu bahwa benang merah yang menyampaikan engkau kepadanya adalah menuntut ilmu. Maka dengan karunia Allah SWT, kemudian karena menuntut ilmu engkau telah mencapai kedudukan dalam mengajar, atau berfatwa, atau qadha, maka berikanlah ilmu sesuai kedudukannya berupa mengamalkannya dan menempatkan di tempat layak.

          Hindarilah jalan orang-orang yang menjadikan dasar (menjaga kedudukan), maka mereka menutup lidah mereka dari perkataan yang benar dan mendorong mereka menyukai wilayah dari mujarah.

48.       Mudarah, bukan mudahanah:

          Mudahanah adalah akhlak yang rendah. Adapun mudarah, maka ia tidak seperti itu. Oleh karena itu janganlah engkau campur adukan di antara keduanya. Maka mudahanah mendorongmu mendatangkan sifat nifak secara terbuka, dan mudahanah itulah yang menyentuh agamamu.

49.       Rindu dengan kitab-kitab

      Kemuliaan ilmu sudah diketahui karena manfaatnya yang nyata dan sudah menjadi kebutuhan. Karena inilah para penuntut ilmu sangat rindu untuk menuntut ilmu dan rindu untuk mengumpulkan kitab-kitab disertai memilih/menyaring.

50.       Melengkapi maktabahmu:

          Hendaklah engkau memiliki kitab-kitab yang ditulis dengan cara mengambil dalil dan memahami illat-illat hukum, serta mendalami rahasia masalah, dan yang paling utama adalah kitab-kitab karya:

a.    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
b.   Ibnul Qayyim.
c.    Ibnu Abdil Barr, terutama kitab at-Tamhid.
d.   Ibnu Quddamah, terutama kitab al-Mughni.
e.    adz-Dzahabi.
f.     Ibnu Katsir.
g.    Ibnu Rajab.
h.   Ibnu Hajar.
i.     Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
j.     Kitab-kitab ulama dakwah, dan di antara yang menggabungkannya adalah kitab ad-Durarus Saniyah.
k.   ash-Shan’ani, terutama kitab Subulus Salam.
l.     Shidiq Hasan Khan al-Khanuji.
m.  Al-‘Allamah Muhammad al-Amin asy-Syanqithi, terutama kitabnya ‘Adhwaul Bayan’. Dan kitab-kitab lainya yang sangat banyak.
51.       Berinteraksi dengan kitab

     Engkau tidak bisa mengambil faedah dari kitab apapun sehingga engkau mengetahui istilah yang digunakan pengarang di dalamnya, dan biasanya muqaddimah mengungkapkan hal itu. Maka mulailah membaca muqaddimah (pengantar) setiap kitab.

52.       Membuka kitab sebelum meletakkannya di perpustakaan:

           Apabila engkau mengoleksi suatu kitab, maka janganlah engkau letakkan di perpustakaanmu  kecuali setelah membukanya, atau membaca pengantarnya, daftar isi dan beberapa tempat darinya. Adapun jika engkau meletakkannya bersama yang lain di perpustakaan, mungkin setelah berlalu beberapa waktu dan usia terus berjalan sedang engkau tidak sempat melihat kitab tersebut.

53.       Menjelaskan penulisan:

          Apabila engkau menulis, maka perjelaslah tulisan dengan menghilangkan ketidakjelasan, dan hal itu dengan berbagai cara:

a.    Tulisan yang jelas.
b.   Tulisanya menurut qaidah imla (penulisan).
c.    Memberikan titik bagi yang bertitik dan menghilangkan titik bagi yang tidak bertitik.
d.   Memberi harakat (baris) bagi yang rumit.

e.    Memberi tanda baca selain al-Qur`an dan hadits.

  والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 3 ] Etika Menuntut Ilmu 04

PASAL KEEMPAT: ADAB BERTEMAN


23.       Berhati-hati terhadap teman yang jahat:
          Sebagaimana keturunanyang bisa menular, maka begitu juga sesungguhnya adab yang burukjuga bisa menular, karena perilaku bisa berpindah, tabiat bisa mencuri, dan manusia sama seperti rombongan burung kecil yang dibentuk untuk meniru satu sama lain. Maka berhati-hatilah dari pergaulan bersama orang yang seperti itu, maka sesungguhnya ia sangat halus. Pilihlah untuk persahabatan orang yang membantumu mencapai tujuanmu, mendekatkan engkau kepada Rabb-mu, menyetujui di atas kemuliaan tujuanmu. Dan carilah teman dengan  teliti, karena teman itu ada tiga:

1.   Teman manfaat.
2.   Teman kenikmatan
3.   Teman kemuliaan.

          Dua macam teman yang pertama terputus dengan terputusnya kepentingan; Manfaat pada yang pertama dan kenikmatan pada yang kedua. Adapun yang ketiga maka peganglah erat-erat, karena ia adalah yang membangkitkan persahabatan dan saling meyakini tertanamnya keutamaan antara yang satu dengan yang lain. Dan teman utama ini adalah ‘pekerjaan susah’ yang tidak mudah mendapatkannya.

PASAL KELIMA : ADAB PENUNTUT ILMU DALAM KEHIDUPAN ILMIYAHNYA

24.       Semangat tinggi dalam ilmu:

          Antara tabiat Islam adalah berhias diri dengan semangat tinggi, dalam ilmu maka ia akan memberimu (dengan ijin Allah SWT) kebaikan yang tidak terputus, agar engkau naik pada derajat yang sempurna. Maka mengalirlah di dalam pembuluh darah (urat) yaitu darah kecerdasan, dan melompat di lapangan ilmu dan amal.

          Janganlah engkau melakukan kesalahan, lalu engkau campur adukan di antara semangat tinggi dan kesombongan, semangat tinggi adalah hiasan warisan para nabi dan sombong adalah penyakit orang yang sakit dengan penyakit orang-orang yang angkuh.

25.       Bergairah dalam menuntut ilmu:

          Engkau harus memperbanyak warisan Nabi muhammad SAW dan kerahkanlah kemampuanmu dalam menuntut ilmu dan mencari, sebanyak apapun ilmu yang ada padamu. Ingatlah: Berapa banyak yang ditinggalkan generasi terdahulu untuk generasi berikutnya.”

26.       Melakukan perjalanan jauh dalam menuntut ilmu:

          Barangsiapa yang tidak melakukan perjalanan jauh dalam menuntut ilmu untuk mencari para ulama dan mengambil ilmu dari mereka, maka ia tidak pantas untuk dituju kepadanya (untuk diambil ilmunya): karena para ulama tersebut telah melewati waktu lama dalam belajar dan mengajar: mereka mempunyai tahrirat (editan), catatan, kutipan-kutipan ilmu, dan pengalaman yang susah didapatkan atasnya atau bandingannya di dalam kitab-kitab. Janganlah engkau mengambil ilmu dari para sufi  yang lebih mengutamakan ilmu (yang aneh) terhadap ilmu (yang ada dalam kitab).

27.       Menjaga ilmu secara tertulis:

          Usahakanlah selalu menjaga ilmu (menyimpan kitab) karena mengikat ilmu dengan tulisan yang aman dari pada tersia-sia, memendekkan jarak saat membutuhkan, terutama faedah-faedah yang berharga, masalah-masalah yang berada di tempat yang tidak biasanya, permata-permata yang bertebaran yang engkau lihat dan dengar, karena khawatir akan terlupakan. Sesungguhnya hapalan melemah dan lupa selalu datang.  Apabila terkumpul padamu berbagai macam catatan, maka kumpulkanlah dalam catatan khusus sesuai judulnya. Sesungguhnya ia membantumu di saat mendesak yang terkadang susah didapatkan dari orang lain.

28.       Menjaga ri’ayah

          Usahakanlah menjaga ilmu (menjaga secara ri’ayah) dengan mengamalkan dan mengikuti. Engkau harus memurnikankan niatmu dalam menuntutnya. Jangalah engkau menjadikannya sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Jauhilah sikap sombong dan bangga dengannya. Jadikanlah hapalanmu dalam hadits sebagai hapalan ri’ayah bukan menghapal riwayat. Sudah seharusnya penuntut ilmu tampil berbeda dalam berbagai aspek kehidupannya dari kalangan awam dengan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW sejauh mungkin dan mempraktekkan sunnah-sunnah terhadap dirinya.

29.       Menjaga hapalan

          Jagalah ilmu yang engkau dapatkan dari waktu ke waktu, sesungguhnya tidak menjaga ilmu adalah pertanda hilangnya ilmu tersebut. Apabila al-Qur`an yang mudah untuk dihapal bisa hilang jika tidak dipelihara, maka bagaimana dengan ilmu-ilmu lainnya? Sebaik-baik ilmu adalah yang didhabit (dicatat, dijaga) dasarnya dan diulang-ulangi cabangnya, membawa kepada Allah SWT dan menuntun kepada ridha-Nya.

30. Memahami dengan mentakhrij (mengeluarkan) cabang di atas dasar:

   Dalam hadits Ibnu Mas’ud RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Semoga Allah SWT memberi cahaya kepada seseorang yang mendengarkan ucapanku, lalu menghapalnya, lalu menyampaikannya seperti yang didengarnya. Berapa banyak orang yang membawa/menghapal fiqh namun bukan seorang ahli fiqih, dan berapa banyak orang yang membawa fiqh kepada orang yang lebih fiqih darinya.” 

        Ibnu Khair rahimahullah berkata: ‘Dalam hadits ini menjelaskan bahwa fiqih adalah istinbath (menarik kesimpulan) dan mendapatkan pengertian ucapan lewat jalur pemahaman. Dan dalam hal ini merupakan penjelasan kewajiban memahami, meneliti makna hadits, dan mengeluarkan yang tersembunyi dari rahasianya.’  Ketahuilah, sebelum memahami harus terlebih dahulu memikirkan dengan melakukan pemikiran mendalam dalam kerajaan langit dan bumi, hingga seseorang memikirkan pada dirinya dan apa yang ada di sekitarnya. Kamu harus memahami nash syara’ dan memikirkan apa yang meliputi tasyri’, merenungkan maqashid(tujuan) syari’at. Seorang faqih adalah orang yang menghadapi peristiwa yang tidak ada nash padanya maka ia mengambil hukum baginya.

31.       Kembali kepada Allah SWT dalam menuntut dan mencari:

          Janganlah engkau merasa gelisah apabila belum dibukakan ilmu untukmu. Terkadang sebagian ilmu tidak bisa masuk karena terhalang nama-nama yang terkenal. Wahai penuntut ilmu, lipat gandakanlah keinginan, bersimpuhlah kepada Allah SWT dalam berdoa dan kembali kepada-Nya.

32.       Amanah ilmiyah:

          Penuntut ilmu harus berakhlak setinggi mungkin dengan amanah ilmiyah dalam menuntut ilmu, memikul (menghapal), mengamalkan, menyampaikan dan mengajar. Maka sesungguhnya keberuntungan suatu umat berada dalam kebaikan amal perbuatannya, dan kebaikan amal perbuatannya ada dalam kebenaran ilmunya, dan kebenaran ilmunya tergantung pada rijalnya (pembawanya) yang amanah pada sesuatu yang mereka riwayatkan atau mereka gambarkan.

33.       Jujur/benar:

          Jujur lahjah adalah tanda ketenangan, kemuliaan jiwa yang tersembunyi, ketinggian himmah(semangat, cita-cita), dan kematangan aqal. al-Auza’i berkata: ‘Belajarlah kejujuran sebelum belajar ilmu.’ Shidq (benar, jujur) adalah: menyampaikan ucapan sesuai realita dan kayakinan. Jujur, benar itu hanya ada dalam satu jalur. Adapun lawannya yaitu bohong/dusta maka ada tiga:

a.    Dusta penjilat: yaitu yang menyalahi realita dan keyakinan, seperti orang yang menjilat kepada orang yang dikenalnya seorang yang fasik atau ahli bid’ah, lalu ia menggambarkannya sebagai orang yang istiqamah.

b.   Dusta munafik: yaitu yang menyalahi keyakinan dantidak sesuai realita, seperti orang munafik yang bertutur seperti yang dikatakan Ahlus Sunnah.

c.    Dusta orang yang bodoh: yaitu yang tidak sesuai realita dan sesuai keyakinan, seperti orang yang meyakini kebenaran ajaran kaum sufi dan bid’ah, lalu ia mengganggapnya sebagai wali. Wahai penuntut ilmu, waspadalah keluarnya engkau dari kebenaran/kejujuran kepada kebohongan.

34.       Perisai penuntut ilmu:

     yaitu ‘tidak tahu’, karena ia adalah setengah ilmu. Maka setengah bodoh adalah ‘kata orang’ dan ‘saya kira’.

35.    Menjaga modal hartamu (detik-detik usiamu):

       Ambilah waktumu untuk mendapatkan ilmu. Jadilah engkau sekutu beramal, bukan sekutu penganggur. Jagalah waktu dengan sungguh-sungguh, selalu menuntut ilmu, senantiasa bersama para syaikh, sibuk menuntut ilmu dengan membaca, membacakan, muthala’ah, tadabbur, menghapal dan meneliti, terutama di masa muda. Mamfaatkanlah kesempatan yang sangat mahal ini agar engkau mendapatkan tingkatan ilmu yang tinggi. Hindarilah menunda-nunda seperti setelah selesai pekerjaan ini, setelah pensiun, tetapi bersegeralah. Jika engkau mengamalkannya maka merupakan bukti bahwa engkau memikul ‘semangat besar dalam ilmu’.

36.       Rileks (menenangkan jiwa):

          Ambilah sebagian waktumu untuk istirahat dalam taman ilmu dari kitab-kitab pengetahuan umum, sesungguhnya hati memerlukan sedikit istirahat (rileks). Dari Ali bin Thalib RA berkata: ‘Istirahatkanlah hati ini, sesungguhnya ia bisa merasa bosan sebagaimana badan merasa bosan.”

37.      Membaca sambil mentashhih (membetulkan) dan dhabith (mencatat):  

         Berusahalah untuk membaca dengan mentashhhih dan mencatat di hadapan guru (syaikh) yang ahli, agar engkau aman dari tahrif (penyimpangan), tashhihf (kesalahan tulisan, cetak), kekeliruan dan waham.

38.       Meringkas kitab-kitab besar
     
    Termasuk yang paling penting untuk memperluas pengetahuan, memperdalam pemahaman, mengeluarkan faedah yang tersimpan, dan mengenal metode para pengarang dalam karangan dan istilah mereka padanya.

39.       Pertanyaan yang baik:

         Hendaklah selalu beradab dalam bertanya, sesungguhnya ia termasuk pertanyaan yang baik, lalu mendengarkan, lalu pemahaman yang benar terhadap jawaban. Apabila telah dijawab, jangan sampai engkau mengatakan: akan tetapi ya syaikh, fulan berkata kepadaku seperti ini, atau ia berkata seperti. Maka sesungguhnya ini termasuk kurang dalam adab dan mengadu domba ulama satu sama lain. Jika engkau harus melakukan maka katakanlah: ‘Apakah pendapatmu tentang fatwa seperti ini, dan jangan engkau menyebutkan nama seseorang.

40.       Bertukar pendapat tanpa berdebat (tanpa tujuan):
  
Jauhilah perdebatan tanpa akhir, sesungguhnya ia adalah siksaan. Adapun bertukar pendapat (berdebat) dalam kebenaran maka sungguh ia adalah nikmat dan padanya menampakkan kebenaran di atas kebatilan, yang rajih atas yang marjuh. Ia dibangun atas dasar saling menasehati, santun, dan menyebarkan ilmu. Adapun perdebatan (tanpa tujuan) dalam diskusi maka sesungguhnya ia adalah pertengkaran dan riya, suara hiruk pikuk dan kesombongan, saling mengalahkan dan pertengkaran.

41.       Mudzakarah ilmu:

          Nikmatilah bersama para ahli dengan mudzakarah, sungguh ia berada di tempat yang melebih muthala’ah, mengisi hati, menguatkan ingatan, selalu netral dan santun, jauh dari penyimpangan dan resiko. Dan engkau mudzakarah bersama dirimu sendiri dalam memecahkan masalah

42.       Penuntut ilmu hidup di antara al-Qur`an dan sunnah serta ilmu-ilmu yang terkait dengan keduanya

    Keduanya bagi penuntut ilmu bagaikan sayap, maka hati-hatilah, jangan sampai engkau kehilangan sayap.

43.       Melengkapi ilmu pengantar (ilmu alat) setiap bidang ilmu:


          Engkau tidak akan bisa menjadi penuntut ilmu yang ahli lagi menguasai berbagai bidang ilmu selama engkau belum melengkapi alat-alat disiplin ilmu tersebut. Maka dalam ilmu fiqh di antara fiqh dan ushulnya, di dalam hadits di antara ilmu riwayah dan dirayah,,, dan seterusnya. Dan jika tidak demikian maka engkau tidak akan berhasil.



  والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 3 ] Etika Menuntut Ilmu 03

PASAL KETIGA: ADAB PENUNTUT ILMU BERSAMA GURUNYA

18.    Menjaga kehormatan guru:

          Sudah diketahui bahwa ilmu tidak diambil dari kitab secara langsung, tetapi harus lewat guru yang memantapkan kepadanya kunci-kunci menuntut ilmu, agar aman dari kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu engkau harus menjaga kehormatan guru, sungguh hal itu adalah tanda keberhasilan. Hendaklah gurumu menjadi tempat penghormatan dan penghargaan darimu. Beradablah saat engkau duduk dan berbicara bersamanya, bertanya dan mendengar dengan baik. Beradab dengan baik saat membolak-balikan kitab di hadapannya, meninggalkan perdebatan di hadapannya. 

Tidak mendahuluinya saat berbicara, atau berjalan, atau banyak berbicara di sisinya, atau ikut campur dalam pembicaraan dan mengajarnya dengan ucapan darimu. Jangan terlalu banyak bertanya, terutama saat di tengah orang banyak.

          Janganlah engkau memanggil namanya secara langsung atau bersama gelarnya, seperti ucapanmu: wahai syaikh fulan. Tetapi katakanlah: wahai guruku, atau guru kami, maka janganlah engkau menyebut namanya. Sungguh hal itu lebih beradab. Janganlah engkau memanggilnya dengan taa khithab (engkau) atau memanggilnya dari jauh saat tidak terpaksa.

          Hendaklah engkau selalu menghormati majelis dan menampakan kegembiraan belajar dan mengambil faedah dengannya.

          Apabila nampak kesalahan atau wahamguru maka janganlah hal itu menjatuhkan dia dari matamu, maka ia bisa menyebabkan engkau terhalang dalam mendapatkan ilmunya. Siapakah yang bisa selamat dari kesalahan?

          Janganlah engkau menggangunya seperti menguji syaikh terhadap kemampuan ilmu dan hapalannya. Apabila engkau ingin berpindah kepada guru yang lain maka meminta ijinlah kepadanya, maka hal itu lebih mendorong untuk menghormatinya dan membuat dia lebih mencintaimu.

          Ketahuilah, sesungguhnya sekadar penghormatanmu kepadanya sekadar itulah keberhasilan dan kesuksesanmu, dan begitu pula sebaliknya.
19.    Modal hartamu dari gurumu:

          Mengikuti akhlaknya yang shalih dan kemuliaan adabnya. Adapun menerima ilmu maka ia adalah keuntungan tambahan. Akan tetapi janganlah rasa cinta kepada gurumu membuatmu gegabah, lalu engkau terjerumus dalam hal yang memalukan dari sisi yang tidak engkau ketahui, dan setiap orang yang melihatmu mengetahui. Maka janganlah engkau meniru suara dan iramanya, jangan pula jalan, gerakan dan kelakuannya. Maka sesungguhnya ia menjadi syaikh besar dengan hal itu, maka janganlah engkau terjatuh dengan mengikutinya dalam hal ini.
20.       Ketekunan syaikh dalam mengajarnya

          Ketekunansyaikh dalam mengajarnya adalah menurut kadar kemampuan murid dalam mendengarkan dan konsentrasinya bersama gurunya dalam belajar. Karena itulah, jangan sampai engkau menjadi sarana memutuskan ilmunya dengan sikap malas, lesu, bersandar, dan berpaling hati darinya.
21.        Menulis dari guru saat belajar dan muzakarah:
          Cara penyampaian itu berbeda-beda dari satu guru dengan guru yang lain, maka pahamilah. Dan untuk hal ini ada adab dan syarat. Adapun adab, maka sepantasnya engkau memberi tahu kepada gurumu bahwa engkau akan menulis, atau engkau menulis yang telah engkau dengar saat muzakarah. Adapun syarat, maka engkau mengisyaratkan bahwa engkau menulis  dari mendengar pelajarannya.
22.       Menerima ilmu dari ahli bid’ah:

          Hati-hatilah terhadap ahli bid’ah yang tercemar kesesatan aqidah, diliputi oleh awan khurafat, berhukum kepada hawa nafsu dan menamakannya akal, serta berpaling dari nash.

          Apabila engkau mempunyai pilihan lain, maka janganlah engkau mengambil ilmu dari ahli bid’ah: Rafidhi (Syi’ah), atau Khawarij, atau Murji`ah, atau Qadariyah, atau pengagung kubur…

          Para salaf sangat menolak ahli bid’ah dan bid’ahnya, memperingatkan bergaul dengan mereka, berdiskusi bersama mereka, makan bersama mereka, maka janganlah tercampur antara api sunni dengan bid’ah.

          Di antara kaum salaf ada yang tidak mau menshalati jenazah ahli bid’ah, ada yang melarang shalat di belakang mereka, dan para salaf mengusir ahli bid’ah dari majelis mereka. Dan cerita dari kaum salaf sangat banyak tentang sikap mereka terhadap ahli bid’ah, karena khawatir terhadap kejahatan mereka, menghalangi tersebarnya bid’ah mereka, dan untuk mematahkan semangat mereka agar tidak menyebarkan bid’ahnya.

          Jadilah engkau seorang salaf yang sungguh-sungguh dan hindarilah fitnah ahli bid’ah. Adapun jika engkau belajar di sekolah yang engkau tidak bisa memilih, maka berhati-hatilah darinya serta berlindung dari kejahatannya dan selalu waspada dari penyusupannya. Tidak ada kewajiban atasmu selain menjelaskan perkaranya, menjaga diri dari kejahatannya, dan membuka tabirnya.

          Apabila engkau telah mempunyai ilmu yang mantap, maka tekanlah ahli bid’ah dan perbuatan bid’ahnya dengan lisan hujjah dan dalil. Wassalam.



  والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 3 ] Etika Menuntut Ilmu 02

PASAL KEDUA : TATA CARA MENUNTUT DAN MENGAMBIL ILMU

16.    Tata cara menuntut ilmu dan tingkatannya:

          ‘Barangsiapa yang tidak mantap dalam ilmu dasar niscaya ia terhalang untuk sampai’ dan ‘barangsiapa yang mencari ilmu secara menyeluruh niscaya ia akan mendapatkan nya secara menyeluruh’,  dan atas dasar itulah maka harus memulai dari dasar bagi setiap bidang ilmu yang dituntut, dengan cara mencatat dasar dan kesimpulannya di hadapan syaikh yang baik.

          Firman Allah SWT:

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

          Dan al-Qur’an itutelah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. al-Isra:106)
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً

          Berkatalah orang-orang kafir:”Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). (QS. al-Furqan:32)

          Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan di dalam setiap mata pelajaran yang kamu tuntut:

1.   Menghapal mukhtashar (ringkasan).
2.   Mempelajarinya di hadapan guru yang pandai.
3.   Tidak menyibukkan diri dengan kitab besar dan berbagai macam        kitab sebelum mempelajari dan mantap dalam ilmu dasarnya.
4.   Jangan berpindah dari satu kitab mukhtashar (ringkas) kepada kitab           lain tanpa alasan. Ini termasuk pengganggu.
5.   Mencatat faedah ilmiyah.
6.   Menyatukan jiwa untuk menutut ilmu dan mempelajari nya, dan        bersungguh-sungguh untuk mendapat ilmu dan mencapai yang          lebih di atas, sehingga ia bisa mempelajari kitab-kitab besar dengan     cara yang benar.

          Dan ketahuilah, sesungguhnya menyebutkan kitab-kitab ringkas sampai kitab-kitab besar yang menjadi dasar dalam menuntut ilmu dan mempelajarinya di hadapan syaikh, biasanya berbeda satu daerah/negara dengan negara yang lain, menurut perbedaan mazhab serta berdasarkan pengalaman belajar para ulama di daerah tersebut.

          Para ulama di negara ini (kerajaan Saudi Arabia-KSA) melewati tiga tingkatan dalam belajar di hadapan para guru dalam pengajian di masjid-masjid: mubtadiin (pemula), kemudian mutawassith(pertengahan), kemudian mutamakkin (pemantapan).

          Dalam belajar tauhid: tsalatsatu ushul wa adillatuha (tiga dasar dan dalil-dalilnya), qawa`id arba’(empat kaidah), kemudian kasyfu syubuhat (menyingkap syubhat), kemudian kitab tauhid.

          Dalam belajar tauhid asma dan sifat: aqidah wasithiyah, kemudian al-Hamawiyah dan Tadmuriyah, lalu Thahawiyahbersama syarahnya.

          Dalam mata pelajaran nahwu: al-Jurumiyah, kemudian Mulihatul i`rab karya al-Hariri, kemudian Qathrun nida` karya Ibnu Hisyam dan Alfiyah Ibnu Malik bersama syarahnya karya Ibnu Aqil.

          Dalam bidang hadits: Arba`in an-Nawawiyah, kemudian Umdatul Ahkam karya al-Maqdisi, kemudian Bulughul Maram karya Ibnu Hajar dan al-Muntaqa karya al-Majd Ibnu Taimiyah.

          Dalam bidang Mushthalah: Nukhbatul Fikr karya Ibnu Hajar kemudian Alfiyah al-Iraqi.

          Dalam bidang fiqih misalnya: Adabul masyyi ila shalah, kemudian Zadul Mustaqna` karya al-Hajawi, atau ‘Umdatul Fiqh, kemudian al-Muqni` untuk mempelajari khilaf dalam mazhab, dan al-Mughniuntuk mempelajari perbedaan yang lebih tinggi.

          Dalam Ushul Fiqh: al-Waraqatkarya al-Juwaini, kemudian Raudhatun Nadhir karya Ibnu Quddamah.

          Dalam ilmu faraidh: ar-Rahbiyah, kemudian bersama syarahnya, dan Fawaid Jaliyah.

          Dalam tafsir: tafsir Ibnu Katsir.

          Dalam ushul tafsir: al-Muqaddimah karya Ibnu Taimiyah.

          Dalam sirah: Mukhtashar sirah nabawiyah karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan asalnya karya Ibnu Hisyam, dan dalam Zadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim.

          Dalam bidang lisanul arab(bahasa arab): banyak mempelajari syair-syairnya seperti Mu`allaqat sab`, membaca qamus al-Muhith karya Fairuzabadi. Rahmatullahi ‘alaihim jami`an.
17.       Mengambil ilmu dari para ulama:

          Dasar dalam menuntut ilmu adalah dengan cara talqin dan talaqqi (belajar langsung) dari para ulama, mengambil dari mulut para masyayikh, bukan langsung dari tulisan dan kitab.

          Auza`i berkata: ilmu ini (syari’at) sangat mulia, satu sama lain saling belajar silih berganti, maka tatkala masuk dalam kitab, masuklah di dalamnya yang bukan ahlinya.


  والله أعلمُ بالـصـواب



[ UIC 3 ] Etika Menuntut Ilmu 01

PASAL PERTAMA : ADAB PENUNTUT ILMU DALAM DIRINYA SENDIRI

1.      Ilmu adalah ibadah:

          Dasar dari segala dasar dalam ‘bekal’, bahkan untuk segala perkara yang dicari adalah engkau mengetahui bahwa ilmu adalah ibadah, dan atas dasar itu maka syarat ibadah adalah:

1)   Ikhlas karena Allah SWT, berdasarkan firman Allah SWT: 

وَمَآ أُمِرُوْ~ا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ

          Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus,. (QS. al-Bayyinah:5).

Dan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘Sesungguhnya segala amal disertai niat…’

Maka jika ilmu sudah kehilangan niat yang ikhlas, ia berpindah dari ketaatan yang paling utama kepada kesalahan yang paling rendah dan tidak ada sesuatu yang meruntuhkan ilmu seperti riya, sum’ah dan yang lain nya.

          Atas dasar itulah, maka engkau harus membersihkan niatmu dari segala hal yang mencemari kesungguhan menuntut ilmu, seperti ingin terkenal dan  melebihi teman-teman. Maka sesungguhnya hal ini dan semisalnya, apabila mencampuri niat niscaya ia merusaknya dan hilanglah berkah ilmu. Karena inilah engkau harus menjaga niatmu dari pencemaran keinginan selain Allah SWT, bahkan engkau menjaga daerah terlarang.

2)   Perkara yang menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat: yaitu cinta kepada Allah SWT dan rasul-Nya dan merealisasikannya dengan mutaba’ah dan mengikuti jejak langkah beliau.
  
2.      Jadilah engkau seorang salafi:

          Jadikanlah dirimu seorang salafi yang sungguh-sungguh, jalan salafus shalih dari kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum dan generasi selanjutnya yang mengikuti jejak langkah mereka dalam semua bab agama dalam bidang tauhid, ibadah dan lainnya.
3.      Selalu takut kepada Allah SWT:

          Berhias diri dengan membangun lahir dan batin dengan sikap takut kepada Allah SWT, menjaga syi’ar-syi’ar islam, menampakkan sunnah dan menyebarkannya dengan mengamalkan dan berdakwah kepadanya.

          Hendaklah engkau selalu takut kepada Allah SWT dalam kesendirian dan bersama orang banyak. Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang takut kepada Allah SWT, dan tidak takut kepada-Nya kecuali orang yang berilmu. Dan jangan hilang dari ingatanmu bahwa seseorang tidak dipandang alim kecuali apabila ia mengamalkan, dan seorang alim tidak mengamalkan ilmunya kecuali apabila ia selalu takut kepada Allah SWT.
4.      Senantiasa muraqabah:

          Berhias diri dengan senantiasa muraqabah kepada Allah SWT dalam kesendirian dan kebersamaan, berjalan kepada Rabb-nya di antara sikap khauf (takut) dan raja` (mengharap), bagi seorang muslim kedua sifat itu bagaimana dua sayap bagi burung.
5.      Merendahkan diri dan membuang sikap sombong dan takabur

          Hiasilah dirimu dengan adab jiwa, berupa sikap menahan diri dari meminta, santun, sabar, tawadhu terhadap kebenaran, sikap tenang dan rendah diri, memikul kehinaan menuntut ilmu untuk kemuliaan ilmu, berjuang untuk kebenaran. Jauhilah sikap sombong, sesungguhnya ia adalah sikap nifak dan angkuh. Salafus shalih sangat menjauhi sikap tercela tersebut.

          Jauhilah penyakit sombong, maka sesungguhnya sikap sombong, tamak dan dengki  adalah dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah SWT. Sikap congkakmu terhadap gurumu adalah sikap sombong. Sikap engkau meremehkan orang yang memberi faedah kepadamu dari orang yang lebih rendah darimu adalah sikap sombong. Kelalainmu dalam mengamalkan ilmu merupakan tanda kesombongan dan tanda terhalang.
6.      Qana’ah dan zuhud:

          Berbekal diri dengan sikap qana’ah (merasa cukup dengan yang ada) dan zuhud. Hakikat zuhud adalah: Enggan terhadap yang haram, menjauhkan diri dari segala syubhat dan tidak mengharapkan apa yang miliki orang lain. Dan atas dasar itulah, hendaklah ia sederhana dalam kehidupannya dengan sesuatu yang tidak merendahkannya, di mana dia dapat menjaga diri dan orang yang berada dalam tanggungannya, dan tidak mendatangi tempat-tempat kehinaan.
7.      Berhias diri dengan keindahan ilmu

         Diam yang baik dan petunjuk yang shalih berupa ketenangan, khusyuk, tawadhu’, tetap dalam tujuan dengan membangun lahir dan batin dan meninggalkan yang membatalkannya.
8.      Berbekal diri dengan sikap muru`ah

          Berbekal diri dengan sikap muru`ah dan yang membawa kepadanya berupa akhlak yang mulia, bermuka manis, menyebarkan salam, sabar tergadap manusia, menjaga harga diri tanpa bersikap sombong, berani tanpa sikap fanatisme, bersemangat tinggi bukan atas dasar kebodohan.

          Oleh karena itu, tinggalkanlah sifat yang merusak muru`ah (kesopanan) berupa pekerjaan yang hina atau teman yang rendah seperti sifat ujub, riya, sombong, takabur, merendahkan orang lain dan berada di tempat yang meragukan.
9.        Bersikap jantan termasuk sikap berani

          Keras dalam kebenaran dan akhlak yang mulia, berkorban di jalan kebaikan sehingga harapan orang menjadi terputus tanpa keberadaanmu.

          Atas dasar itu, hindarilah lawannya berupa jiwa yang lemah, tidak penyabar, akhlak yang lemah, maka ia menghancurkan ilmu dan memutuskan lisan dari ucapan kebenaran.
10.       Meninggalkan kemewahan

          Jangan terlalu berlebihan dalam kemewahan, maka sesungguhnya ‘kesederhanaan termasuk bagian dari iman’, ingatlah wasiat Umar bin Khathab RA: ‘Jauhilah kenikmatan, pakaian bangsa asing, dan bersikaplah sederhana dan kasar…’

          Atas dasar itulah, maka jauhilah kepalsuan peradaban, sesungguhnya ia melemahkan tabiat dan mengendurkan urat saraf, mengikatmu dengan benang ilusi. Orang-orang yang serius sudah mencapai tujuan mereka sedangkan engkau tetap berada di tempatmu, sibuk memikirkan pakaianmu…

          Hati-hatilah dalam berpakaian karena ia mengungkapkan pribadimu bagi orang lain dalam berafiliasi, pembentukan dan perasaan.  Manusia mengelompokkan engkau dari pakaianmu. Bahkan, tata cara berpakain memberikan gambaran bagi yang melihat golongan orang yang berpakaian berupa ketenangan dan berakal, atau keulamaan atau kekanak-kanakan dan suka menampilkan diri.

          Maka pakailah sesuatu yang menghiasimu, bukan merendahkanmu, tidak menjadikan padamu ucapan bagi yang berkata (maksudnya, orang lain tidak memberikan komentar, pent.) dan ejekan bagi yang mengejek.

          Jauhilah pakaian kekanak-kanakan, tidak berarti kamu memakai pakaian yang tidak jelas, akan tetapi sederhana dalam berpakaian dalam gambaran syara’, yang diliputi tanda yang shalih dan petunjuk yang baik.
11.    Berpaling dari majelis yang sia-sia

          Janganlah engkau berkumpul dengan orang-orang yang melakukan kemungkaran di majelis mereka, menyingkap tabir kesopanan. Maka sesungguhnya dosamu terhadap ilmu dan pemiliknya sangat besar.
12.       Berpaling dari kegaduhan

          Memelihara diri dari keributan dan kegaduhan, maka sesungguhnya berada atau suka dalam sebuah kegaduhan atau keributan bertentangan dengan adab menuntut ilmu.
13.       Berhias dengan kelembutan

          Hendaklah selalu lembut dalam ucapan, menjauhi kata-kata yang kasar, maka sesungguhnya ungkapan yang lembut menjinakkan jiwa yang membangkang.
14.       Berpikir

          Berhias dengan merenung, maka sesungguhnya orang yang merenung niscaya mendapat, dan dikatakan: renungkanlah niscaya engkau mendapat.
15.       Teguh dan kokoh

          Berhiaslah dengan sikap teguh dan kokoh, terutama di dalam musibah dan tugas penting. Dan di dalamnya: sabar dan teguh di saat tidak bertemu dalam waktu yang lama dalam menuntut ilmu dengan para guru, maka sesungguhnya orang yang teguh akan tumbuh.





والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 2.1 ] Amalan Harian 24 – PUASA 05

Puasa Sunnah
 Puasa terbagi dua:
 
Wajib: seperti puasa Bulan Ramadhan.
Sunnah: ada dua: sunnah mutlak dan sunnah terkait, dan sebagiannya lebih kuat dari yang lain. Puasa sunnah mengandung pahala besar dan tambahan pahala, dan sebagai penambal kekurangan yang ada dalam puasa wajib.
 
 Macam-macam puasa sunnah:
 
1.       Puasa sunnah paling utama adalah puasa Daud a.s, beliau puasa satu hari dan berbuka satu hari.
 
2.       Puasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah Bulan Muharram. Yang terkuat adalah hari ke sepuluh, kemudian hari ke sembilan. Dan puasa hari ke sepuluh menebus dosa-dosa satu tahun yang lalu. Dan disunnahkan puasa hari ke sembilan, kemudian hari ke sepuluh agar berbeda dengan kaum Yahudi.
 
3.       Puasa enam hari bulan Syawal. Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa puasa Bulan Ramadhan, kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di Bulan Syawal, maka ia seperti puasa satu tahun.’ HR. Muslim.[1]Yang paling baik adalah terus menerus setelah hari raya dan boleh memisah-misahnya.
 
4.       Puasa tiga hari setiap bulan, yaitu seperti puasa satu tahun. Di sunnahkan pada hari-hari putih, yaitu hari ke tiga belas, empat belas, dan lima belas. Atau puasa hari Senin, Kamis, dan senin sesudahnya. Dan jika ia menghendaki, ia puasa dari permulaan bulan dan akhirnya.
 
5.       Puasa hari Senin dan Kamu setiap pekan. Padanya diperlihatkan semua amal kepada Allah SWT. Maka disunnahkan berpuasa, dan hari Senin lebih kuat dari pada hari Kamis.
 
6.       Puasa sembilan (9) hari dari permulaan Bulan Dzulhijjah, paling utama adalah hari ke sembilan, yaitu hari ‘Arafah, bagi orang yang tidak berhaji, dan puasanya menebus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.
 
7.       Puasa fi sabilillah. Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, ia berkata, ‘Aku mendengar Nabi SAW bersabda, ‘Barang siapa yang puasa satu hari fi sabilillah, niscaya Allah SWT menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh (70) tahun.’ Muttafaqun ‘alaih.[2]
 
8.       Disunnahkan memperbanyak puasa Sya’ban di awalnya. Dari Abu Qatadah al-Anshari r.a, bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa beliau … -dan padanya-, dan ditanya tentang puasa satu hari dan buka satu hari? Beliau bersabda, ‘Itu adalah puasa saudaraku Daud a.s.’ Ia (Abu Qatadah r.a) berkata, Dan beliau ditanya tentang puasa hari Senin? Beliau menjawab, ‘Itu adalah hari yang aku dilahirkan padanya dan hari aku dibangkitkan (atau diturunkan wahyu kepadaku).’ Dan beliau SAW ditanya tentang puasa hari Arafah? Beliau menjawab, ‘Menebus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.’ Dan beliau SAW ditanya tentang puasa hari ‘Asyura? Beliau menjawab, ‘Menebus dosa-dosa tahun yang lalu.’ HR. Muslim.[3]
 
 Dari ‘Aisyah r.a berkata: ‘Rasulullah SAW berpuasa hingga kami mengatakan beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari Bulan sya’ban’. Muttafaq ‘Alaihi[4]
 
. Diharamkan menyendirikan puasa bulan Rajab semuanya, karena ini termasuk syi’ar jahiliyah. Jika diiringi dengan puasa lainnya maka tidak diharamkan. Dimakruhkan menyendirikan puasa hari Jum’at, karena ia termasuk hari besar umat Islam. Jika diiringi dengan puasa lainnya maka tidak dimakruhkan.
 
. Disunnahkan puasa hari Sabtu dan Ahad, karena keduanya adalah hari besar orang-orang musyrik, dan dengan berpuasa kedua hari itu diperoleh perbedaan dengan mereka, dan disunnahkan bagi yang musafir puasa hari ‘Arafah dan hari ‘Asyura, karena waktu kedua akan berlalu.
 
. Haram puasa hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha serta hari syakk (ragu-ragu), yaitu ke tiga puluh dari bulan Sya’ban, apabila tujuannya sebagai tindakan preventif untuk bulan Ramadhan, dan haram puasa hari tasyriq kecuali puasa untuk mengganti dam haji tamattu’ dan qiran saja, maka dibolehkan. Tidak disyari’atkan puasa satu tahun, dan dimakruhkan puasa hari ‘Arafah bagi yang berhaji.
 
. Perempuan tidak boleh melaksanakan puasa sunnah, sedang suaminya ada, kecuali dengan ijinnya. Adapun puasa Ramadhan dan mengqadha` puasa Ramadhan, apabila waktunya sudah sempit, maka ia boleh puasa sekalipun tanpa ijin suami.
 
. Barang siapa yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, lalu ia melaksanakan puasa enam hari bulan Syawal sebelum mengqadha`, ia tidak mendapatkan puasanya yang disebutkan (seperti puasa satu tahun, pent.), tetapi ia harus menyempurnakan puasa Ramadhan lebih dahulu, kemudian meneruskannya dengan puasa enam hari bulan Syawal, agar ia memperoleh pahala.
Hukum memutuskan puasa sunnah:
 
Barang siapa yang melaksanakan puasa sunnah, kemudian ia ingin berbuka, maka ia boleh melakukan hal itu. Dan boleh puasa sunnah dengan berniat di siang hari, dan ia boleh memutusnya jika ia menghendaki, dan tidak wajib mengqadha`nya. Akan tetapi ia tidak selayaknya memutus puasanya tersebut kecuali bila memiliki sebab yang benar.
 
          Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata, ‘Pada suatu hari, Nabi SAW masuk kepadaku, seraya bertanya, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu?’ Kami menjawab,’Tidak ada.’ Beliau bersabda: “Kalau begitu aku berpuasa.’ Kemudian beliau datang kepada kami pada suatu hari yang lain, lalu kami berkata, ‘Kami diberi hadiah makanan (terbuat dari kurma dan tepung, pent.).’ Beliau bersabda, ‘Perlihatkanlah ia kepadaku, sungguh tadi pagi aku berniat puasa,’ lalu beliau makan.’ HR. Muslim.[5]



[1]  HR. Muslim no. 1164
[2]  HR. al-Bukhari no. 2840, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1153
[3]  HR. Muslim no. 1162.
[4]  H.R Bukhari no. (1969), ini adalah lafadznya, dan Muslim no. (1156)
[5]  HR. Muslim no. 1154
 
 
والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 2.1 ] Amalan Harian 23 – PUASA 04

Perkara yang dimakruhkan bagi orang yang puasa, yang wajib dan yang boleh

. Dimakruhkan bagi yang puasa berlebih-lebihan dalam berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, mencicipi makanan bukan karena kebutuhan, berbekam dan semisalnya bila melemahkannya.

. Apabila telah tiba azan Magrib, orang yang puasa wajib berbuka, dan wajib menahan diri dari segala yang membatalkan berupa makan dan minum serta yang lainnya, apabila sudah nyata terbir fajar kedua.

. Wajib meninggalkan dusta, gibah (mengupat), dan mencela di setiap waktu, dan pada bulan Ramadhan lebih dianjurkan.
Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda, ‘Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta kebodohan, maka Allah SWT tidak perduli dia meninggalkan makanan dan minumannya.’ HR. al-Bukhari.[1]

. Hukum mengecup dan bermesraan dengan istri bagi yang puasa:

          Laki-laki mengecup istrinya, menyentuh dan bermesraan dengannya dari balik pakaian, sedangkan dia puasa, semua itu hukumnya boleh, sekalipun syahwatnya bergerak, apabila dia percaya terhadap dirinya. Jika ia khawatir terjerumus pada sesuatu yang diharamkan Allah SWT berupa keluarnya mani, maka hal itu diharamkan atasnya.

Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata, ‘Nabi SAW mengecup dan bermesraan, sedangkan beliau SAW puasa, dan beliau adalah yang paling bisa menahan kebutuhannya.’ Muttafaqun ‘alaih.[2]

. Bagi yang berpuasa dibolehkan memakai pasta gigi serta menjaga dari menelan sesuatu darinya, dan boleh pula mandi agar dingin dari kepanasan dan haus serta seumpama yang demikian itu.

. Wishal, yang boleh dan yang haram darinya:

          Wishal adalah puasa dua hari atau lebih tanpa makan dan minum di antara keduanya. Rasulullah SAW telah melarang dari hal itu dengan sabdanya, ‘Janganlah menyambung puasa (wishal), maka siapa yang ingin menyambung puasa hendaklah ia menyambungnya hingga waktu sahur.’ Mereka bertanya, ‘Sesungguhnya engkau menyambung puasa, wahai Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ‘Aku bukan seperti kamu, sesungguhnya aku selalu ada pemberi makan yang memberi makan kepadaku dan pemberi minuman yang memberi minum kepadaku.’ HR. al-Bukhari.[3]

. Orang yang puasa boleh menelan air ludahnya, dan dimakruhkan menelan dahak bagi yang berpuasa dan yang lain, karena ia kotor, akan tetapi hal itu tidak membatalkan puasa. Apabila nampak darah dari lisan atau giginya, maka janganlah ia menelannya. Dan apabila orang yang berpuasa menelannya, maka puasanya batal.

. Puasa Nabi SAW dan berbukanya:

1.       Dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, ‘Nabi SAW tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain Bulan Ramadhan, dan beliau berpuasa sehingga ada yang berkata, ‘Demi Allah, beliau SAW tidak pernah berbuka.’ Dan beliau berbuka sehingga ada yang berkata, ‘Demi Allah SWT, beliau SAW tidak pernah puasa.’ Muttafaqun ‘alaih.[4]

2.       Dari Humaid, sesungguhnya ia mendengar Anas r.a berkata, ‘Rasulullah SAW tidak puasa dalam satu bulan sehingga kami menduga bagi beliau tidak berpuasa darinya, dan beliau puasa sehingga kami menduga bahwa beliau tidak berbuka sedikitpun darinya. Dan tidaklah engkau hendak melihat beliau sedang shalat di malam hari kecuali engkau melihatnya, dan tidaklah (engkau hendak melihat beliau) sedang tidur kecuali engkau bisa mendapatkannya.’ HR. al-Bukhari.[5]



[1]  HR. al-Bukhari no. 6057
[2]  HR. al-Bukhari no. 1927, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 1106
[3]  HR. al-Bukhari no. 1967
[4]  HR. al-Bukhari no. 1971, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1157
[5]  HR. al-Bukhari no. 1972



والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber


[ UIC 2.1 ] Amalan Harian 22 – PUASA 03

Sunnah-sunnah puasa:

. Disunnahkah bersahur bagi orang yang berpuasa, karena terdapat keberkahan padanya, dan sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah dengan kurma. Di sunnahkan mengakhirkan waktu sahur. Di antara berkah sahur adalah menguatkan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT. Ia adalah pendorong untuk bangun dari tidur waktu. Waktu sahur adalah waktu untuk beristighfar (memohon ampun) dan berdo’a, (memudahkan untuk dapat menunaikan) shalat fajar secara berjama’ah, dan untuk menyelisihi ahli kitab.

. Disunnahkan untuk segera berbuka dan memulai dengan kurma sebelum shalat. Jika kurma tidak ada, maka dengan air. Jika ia tidak menemukan, maka ia berbuka dengan apa yang ada dari makanan dan minuman yang halal. Jika ia tidak mendapat sesuatu untuk berbuka, maka ia berniat berbuka dengan hatinya.

. Orang yang puasa kehilangan kadar gula yang tersimpan dalam tubuh. Penurunan kadar gula dari batas normal menyebabkan orang yang puasa merasakan lemah, malas dan kurang penglihatan. Dan memakan kurma, dengan ijin Allah SWT, dapat mengembalikan apa yang hilang dari zat gula dan semangat.

. Disunnahkan untuk memberi makan orang yang berpuasa. Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan pahala sepertinya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.
– Apa yang diucapkan orang yang berpuasa ketika ia berbuka:

. Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk memperbanyak dzikir dan doa. Ketika hendak berbuka hendaknya mengucapkan basmalah, dan mengucap hamdalah setelah selesai makan. Ketika hendak berbuka hendaknya mengucapkan:

ذَهَبَ الظَّّمَاُ, وابْتَلّتِ الْعُرُوقُ, وثَبَتَ الأجْرُ, إِنْ شَاءَ الله

‘Telah hilang rasa haus, tenggorakan telah basah, dan telah tetap pahala, insya Allah’

. Disunnahkan memakai siwak bagi orang yang berpuasa dan tidak berpuasa pada setiap saat, di awal siang maupun di akhirnya.

. Apabila ada orang yang mencela atau hendak membunuhnya, maka disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk mengatakan: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. Jika ia dalam keadaan berdiri hendaknya segera duduk.

. Bagi yang berpuasa disunnahkan menambah dan memperbanyak  amal-amal kebaikan seperti zikir, membaca al-Qur`an, bersedekah, membantu orang-orang fakir dan yang membutuhkan, istigfar, taubat, tahajjud, silaturrahim, mengunjungi orang sakit dan seumpama yang demikian itu.
. Disunnahkan shalat Tarawih di malam-malam bulan Ramadhan setelah shalat ‘Isya (sebelas rekaat bersama witir atau tiga belas rekaat bersama witir), inilah sunnah. Barang siapa yang menambah, maka tidak berdosa dan tidak makruh. Dan barang siapa yang shalat bersama imam sampai berpaling, niscaya ditulis baginya shalat di malam hari (qiyamullail).

. Disunnahkan bagi yang berpuasa yang mendapat undangan makan agar mengatakan, ‘Sesungguhnya saya sedang puasa,’ berdasarkan sabda Nabi SAW, ‘Apabila seseorang dari kalian mendapat undangan makan, sedangkan dia puasa, hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya saya sedang puasa.’ HR. Muslim.[1]

. Disunnahkan bagi orang yang puasa dan yang tidak puasa, apabila makan di sisi suatu kaum, agar mengatakan, ‘Orang-orang yang puasa berbuka di sisimu, orang-orang baik menyantap makananmu, dan malaikat mendo’akanmu.’ HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.[2]

. Disunnahkan umrah di Bulan Ramadhan, berdasarkan sabda Nabi SAW, ‘…Umrah di bulan Ramadhan senilai menunaikan haji atau haji bersamaku.’ Muttafaqun ‘alaih.[3]

. Barang siapa yang berihram umrah di hari terakhir bulan Ramadhan dan tidak memulai pelaksanaan umrahnya kecuali di malam lebaran, maka umrah ini terhitung pada bulan Ramadhan, karena perhitungan adalah pada saat masuk padanya (saat berniat).

. Disunnahkan bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan berbagai macam ibadah dan menghidupkan semua malam dan membangunkan keluarganya.



[1]  HR. Muslim no. 1150
[2]  Shahih/ HR. Abu Daud no. 3854, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud no. 3263, dan Ibnu Majah no. 1747, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1418.
[3]  HR. al-Bukhari no. 1863 dan Muslim no. 1256, ini adalah lafazhnya.


والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber


[ UIC 2.1 ] Amalan Harian 21 – PUASA 02

HUKUM-HUKUM PUASA


 Berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala hukumnya wajib bagi setiap muslim agar ia memperoleh pahala, bukan karena riya dan sum’ah, dan bukan pula karena mengikuti manusia atau mengikuti penduduk negerinya. Maka ia berpuasa karena Allah SWT menyuruhnya dan mengharapkan pahala di sisi Allah SWT, demikian pula semua ibadah.

Puasa Ramadhan hukumnya wajib dengan salah satu dari dua perkara:

1.     Bisa jadi dengan dilihatnya hilal (bulan tsabit) dari seorang muslim yang adil, kuat penglihatan, laki-laki atau perempuan.
2.     Menyempurnakan Bulan Sya’ban tiga puluh (30) hari.

Hukum melihat hilal Bulan Ramadhan:

          Apabila hilal tidak kelihatan, disertai terangnya malam tiga puluh (30) dari Bulan Sya’ban, maka mereka tetap berbuka. Demikian pula apabila terhalang oleh awan atau gelap. Apabila orang-orang berpuasa dua puluh delapan (28) hari, kemudian mereka melihat hilal, mereka berbuka dan wajib berpuasa (qadha`) satu hari setelah hari raya. Jika mereka berpuasa selama tiga puluh hari dengan persaksian satu orang, dan hilal belum juga terlihat, maka mereka tetap tidak berbuka sampai melihat hilal.

          Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, ‘Nabi SAW bersabda, ‘Puasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya. Maka jika ditutupi atasmu, maka sempurnakanlah hitungan Bulan Sya’ban menjadi tiga puluh’ Muttafaqun ‘alaih.[1]

 Apabila penduduk sebuah negeri melihat hilal, mereka harus berpuasa. Karena tempat munculnya hilal itu berbeda-beda, maka bagi setiap wilayah atau daerah ada hukum yang menentukannya pada permulaan puasa dan akhirnya, menurut rukyah mereka. Dan jika kaum muslimin berpuasa serentak di seluruh penjuru bumi dengan satu rukyah, maka ini sesuatu yang baik. Ia merupakan fenomena yang menunjukkan persatuan, persaudaraan dan kebersamaan, dan menuju terwujudnya hal itu, Insya Allah. Setiap muslim harus berpuasa bersama negeranya. Janganlah penduduk negeri terbagi-bagi, sebagian berpuasa bersama negara dan sebagian lagi bersama yang lain, ini untuk menghentikan perpecahan yang dilarang Allah SWT.

Barang siapa yang melihat hilal Ramadhan sendirian dan persaksiannya ditolak, atau melihat hilal Syawal dan ucapannya tidak diterima, ia harus berpuasa atau berbuka secara tersembunyi. Jika hilal dilihat di siang hari, maka hilal itu untuk malam berikutnya, dan jika tenggelam sebelum matahari, maka ia untuk malam yang telah lewat.

          Disunnahkan bagi orang yang melihat hilal Ramadhan atau bulan lainnya untuk membaca: ‘Ya Allah, mulailah ia atas kami dengan keberuntungan (berkah) dan iman, keselamatan dan Islam, Rabb-ku dan Rabbmu adalah Allah SWT’ HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[2]

 Pemimpin umat Islam harus mengumumkan dengan berbagai sarana yang disyari’atkan dan dibolehkan tentang masuknya Bulan Ramadhan, apabila sudah pasti rukyah hilal secara syara’, demikian pula keluarnya.

Apabila seorang muslim berpuasa di suatu negeri, kemudian safar ke negeri lain, maka hukumnya dalam berpuasa dan berbuka adalah hukum negeri yang ia berpindah kepadanya. Maka ia berbuka bersama mereka apabila mereka berbuka. Akan tetapi bila berbuka kurang dari dua puluh sembilan (29) hari, ia mengqadha` satu hari setelah idul fitri. Dan jikalau ia berpuasa lebih dari tiga puluh (30) hari, maka ia tidak berbuka kecuali bersama mereka.

Hukum niat puasa:
          Wajib menentukan niat puasa di malam hari sebelum terbit fajar untuk puasa Ramadhan, dan sah niat puasa sunnah di siang hari, jika ia belum melakukan yang membatalkan puasa setelah terbit fajar.

Sah puasa wajib dengan niat di siang hari, apabila ia tidak mengetahui wajibnya di malam hari, sebagaimana jika adanya persaksian dengan rukyat di siang hari, maka ia menahan diri (dari yang membatalkan puasa) yang tersisa di hari itu. Dia tidak perlu mengqadha`, sekalipun ia sudah makan.

Barang siapa yang terkena kewajiban puasa di siang hari, seperti orang gila yang sudah sembuh/sadar, anak kecil sudah baligh, dan orang kafir yang masuk Islam. Cukuplah bagi mereka berniat di siang hari saat terkena kewajiban puasa, sekalipun sesudah makan atau minum, dan tidak wajib mengqadha` atasnya.

Bagi setiap muslim dalam shalat dan puasa ada hukum tempat yang ia berdomisili padanya. Orang yang berpuasa menahan diri (dari yang membatalkan) dan berbuka di tempat yang ia berdomisili padanya, sama saja di atas muka bumi, atau berada di atas pesawat terbang di udara, atau di atas kapal laut di lautan.

Puasa orang tua dan sakit:

          Barang siapa yang berbuka karena tua atau sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, muqim atau musafir, ia memberi makan seorang miskin setiap hari. Dan cukuplah hal itu sebagai pengganti puasa, maka ia membuat makanan sejumlah hari yang wajib atasnya, dan mengundang orang-orang miskin kepadanya. Dan ia boleh memilih: jika ia menghendaki, ia memberi makan setiap hari dengan harinya, dan jika ia menghendaki, ia bisa menundanya hingga hari terakhir. Ia juga boleh mengeluarkan setiap hari setengah sha’ makanan dan memberikannya kepada orang miskin.

Barang siapa yang terkena pikun, maka tidak ada kewajiban puasa dan tidak perlu membayar kafarat, karena pena diangkat darinya (bukan mukallaf).

Wanita yang haidh dan nifas diharamkan puasa, keduanya berbuka dan mengqadha di hari yang lain. Apabila keduanya suci di tengah hari, atau musafir yang tidak puasa telah sampai di siang hari, ia tidak wajib imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa), namun hanya wajib mengqadha` saja.

Wanita yang hamil dan menyusui, jika khawatir terhadap dirinya atau terhadap dirinya dan anaknya, keduanya boleh berbuka di bulan Ramadhan, kemudian mengqadha` sesudahnya.

 Hukum puasa dalam perjalanan:
          Yang paling utama adalah berbuka bagi yang puasa dalam perjalanan secara mutlak. Bagi musafir di bulan Ramadhan: jika berbuka dan berpuasa baginya sama saja, maka puasa lebih utama. Dan jika puasa terasa berat atasnya dalam perjalanan, maka berbuka lebih utama. Dan jika puasa sangat memberatkannya dalam perjalanan, maka berbuka wajib atasnya dan ia mengqadha’ di hari yang lain.

          Dari Anas bin Malik r.a, ia berkata, ‘Kami pernah safar bersama Rasulullah SAW, maka yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa.’ Muttafaqun ‘alaih.[3]

 Barang siapa yang berniat puasa, kemudian berpuasa dan pingsan sepanjang hari atau sebagiannya, maka puasanya sah.

 Barang siapa yang kehilangan perasaannya di bulan Ramadhan dan selainnya karena pingsan, sakit atau gila, kemudian sadar, maka ia tidak wajib mengqadha` puasa dan shalat, karena terangkat taklif darinya. Dan barang siapa yang kehilangan kesadaran karena perbuatan dan kehendaknya, kemudian sadar, ia wajib mengqadha`.

. Barang siapa yang berniat puasa, kemudian makan sahur dan tertidur dan tidak terbangun kecuali setelah terbenam matahari, maka puasanya shahih dan tidak wajib mengqadha’.

. Apabila seorang muslim makan, minum, atau berjima’, karena lupa di siang hari Bulan Ramadhan, maka puasanya sah.

. Apabila seorang muslim bermimpi (keluar mani dalam tidur), dan dia sedang puasa, maka puasanya sah. Ia wajib mandi dan tidak ada dosa atasnya.

 Barang siapa sakit yang berat berpuasa baginya serta membahayakannya, maka puasa haram atasnya dan wajib berbuka dan mengqadha` sesudahnya. 

 Yang utama bagi seorang muslim adalah selalu dalam keadaan suci, dan boleh menunda mandi junub dan mandi haid dan nifas bagi yang berpuasa hingga terbit fajar, dan puasanya sah.

 Yang disunnahkan bagi orang yang ingin safar di Bulan Ramadhan, agar berbuka jika ia menghendaki di saat meninggalkan bangunan (kota). Dan barang siapa yang berbuka karena mashlahat orang lain, seperti menyelamatkan orang tenggelam, atau memadamkan kebakaran dan semisalnya, maka ia harus mengqadha` saja.

Tata cara puasa di negeri yang tidak terbenam matahari padanya:

          Barang siapa yang tinggal di negeri yang matahari tidak tenggelam pada musim panas dan tidak terbit di musim dingin,  atau tinggal di negeri yang siang harinya berlangsung selama enam bulan dan malamnya juga seperti itu, atau lebih banyak, atau kurang, maka mereka harus shalat dan puasa berpedoman kepada negeri terdekat kepada mereka, yang berbeda malam dan siang padanya. Dan gabungan keduanya adalah dua puluh empat (24) jam, maka mereka membatasi permulaan puasa dan kesudahannya, mulai menahan diri dari yang membatalkan puasa dan berbuka, menurut waktu negeri itu.

. Apabila pesawat terbang lepas landas sebelum tenggelam matahari dan naik di udara, maka tidak boleh berbuka bagi yang puasa sampai tenggelam matahari.

. Barang siapa yang meninggalkan puasa Ramadhan karena mengingkari kewajibannya, ia kafir. Dan barang siapa yang meninggalkan puasa karena melalaikan dan malas, maka ia tidak kafir dan sah shalatnya, akan tetapi dia menanggung dosa besar.

. Hal-hal yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut:

1.     Makan dan minum di siang hari Bulan Ramadhan.
2.     Bersetubuh (jima’) di siang hari Bulan Ramadhan.
3.     Mengeluarkan mani di saat jaga (tidak tidur) secara langsung, atau mengecup (istri), atau onani, atau semisalnya.
4.     Menggunakan jarum penambah gizi (infus) untuk badan di siang hari Bulan Ramadhan.
Dan segala yang membatalkan ini (lima macam), batal orang yang puasa bila ia melakukannya secara sengaja, mengetahui, ingat terhadap puasanya.
5.     Keluar darah haid dan nifas di siang hari Bulan Ramadhan.
6.     Murtad dari Islam.

Yang membatalkan puasa kembali kepada dua perkara:

1.     Memasukkan segala sesuatu yang berguna untuk tubuh, memberi gizi dan menguatkannya, seperti makan dan minum, dan semisalnya, atau beberapa perkara yang memudharatkan tubuh, seperti minum darah, memabukkan dan semisalnya.

2.     Keluarnya beberapa hal yang melemahkan tubuh, maka menambah kepadanya kelemahan di atas kelemahan, seperti sengaja melakukan onani, darah haid dan nifas.

Hukum orang yang mendengar azan fajar sedangkan bejana berada di tangannya:

          Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila salah seorang dari kalian mendengar suara azan dan bejana berada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajatnya darinya.’ HR. Abu Daud.[4]

Barang siapa yang makan karena meyakini bahwa ia berada di malam hari, ternyata sudah siang, atau dia makan karena meyakini bahwa matahari sudah tenggelam, ternyata matahari belum tenggelam, maka puasanya shahih (sah, benar) dan tidak wajib mengqadha` atasnya.

Hal-hal yang tidak membatalkan puasa sangat banyak, di antaranya:

          Celak, suntikan, yang diteteskan pada saluran air kencingnya (urethra), mengobati luka, minyak wangi, minyak rambut, garu, pacar, tetasan di mata atau telinga atau hidung, muntah, bekam, mengeluarkan darah, pendarahan hidung, terkena pendaharan, darah luka, mencabut gigi, keluar madzi dan wadi, alat penyemprot (sprayer) untuk penyakit asma, pasta gigi, semua itu tidak membatalkan puasa.

. menguraikan/membersihkan darah, dan jarum suntik apabila untuk pengobatan, bukan untuk tambahan gizi, tidak membatalkan puasa, dan menundanya hingga malam hari, jika bisa, lebih utama.
. Perempuan boleh mengkonsumsi sesuatu yang dapat menghalangi haid karena puasa atau haji, apabila para ahli kedokteran memutuskan bahwa hal itu tidak membahayakannya, dan lebih baik baginya menahan diri dari hal itu.
. Mencuci ginjal, yaitu dengan mengeluarkan darah dari tubuh, kemudian mengembalikannya dalam kondisi bersih, disertai tambahan beberapa bahan kepadanya, pembersihan ini merusak puasa.
. Apabila orang yang puasa mengeluarkan mani dengan onani atau bermesraan dengan istrinya tanpa bersetubuh, maka ia berdosa, dan ia harus membayar qadha`, tanpa kafarat.
. Barang siapa yang safar di bulan Ramadhan dan berpuasa dalam perjalanannya, kemudian ia bersetubuh (jima’) dengan istrinya di siang hari, maka ia harus membayar qadha`, tanpa kafarat.
. Barang siapa yang jima’ (bersetubuh) di siang hari bulan Ramadhan, dan ia tidak bepergian, maka ia harus mengqadha`, kafarat, dan dosa, jika melakukannya secara sengaja, tahu, dan ingat. Maka jika ia dipaksa, atau tidak tahu (jahil), atau lupa, maka puasanya sah dan tidak ada kewajiban qadha dan kafarat atasnya. Perempuan seperti laki-laki dalam dua keadaan ini.

. Kafarat jima’ di siang hari Bulan Ramadhan:

          Memerdekakan budak, jika ia tidak menemukan, maka puasa dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu, maka memberi makan enam puluh (60) orang miskin, bagi setiap orang miskin setengah sha’ makanan. Maka jika ia tidak mendapatkan (tidak punya apa-apa), gugurlah ia (gugurlah kewajiban kafarat ini). Dan kafarat ini tidak wajib selain jima’ di siang hari Ramadhan dari orang yang harus berpuasa, apabila ia melakukannya dalam keadaan tahu dan sengaja. Maka siapa yang melakukannya dalam puasa sunnah atau nazar atau qadha`, maka tidak kafarat atasnya.

          Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, ‘Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, ‘Aku telah binasa, ya Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang telah membinasakanmu?’ Ia berkata, ‘Aku menjima’ istriku di bulan Ramadhan.’ Beliau bersabda, ‘Apakah engkau mendapatkan (mempunyai uang) untuk memerdekakan budak?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Apakah engkau mampu puasa dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’ Beliau bersabda lagi, ‘Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’ Ia (yang meriwayatkan hadits, Abu Hurairah r.a) berkata, ‘Kemudian ia duduk.’ Lalu Nabi SAW dibawakan sekeranjang kurma. Beliau SAW bersabda, ‘Bersedekahlah dengan ini.’ Ia berkata, ‘Apakah kepada orang yang lebih fakir dari kami. Tidak ada di antara dua harah ini (maksudnya kota Madinah) satu keluarga yang lebih membutuhkannya dari pada kami.’ Maka Nabi SAW tertawa hingga nampak dua giginya, kemudian bersabda, ‘Pergilah, berilah makan kepada keluargamu.’Muttafaqun alaih.[5]

. Beberapa hal yang tidak terputus dengannya puasa berturut-turut bagi orang yang terkena kewajiban berpuasa dua bulan bulan dan semisalnya, yaitu: dua hari raya, safar, sakit yang boleh berbuka, haid dan nifas.

. Apabila seseorang bersetubuh dengan istrinya dalam dua hari atau lebih di siang hari Bulan Ramadhan, ia wajib membayar kafarat dan qadha` sejumlah bilangan hari. Dan jika ia mengulanginya dalam satu hari, maka hanya satu kafarat disertai qadha`.
. Apabila orang yang musafir telah tiba dalam keadaan berbuka di hari istrinya dalam keadaan suci dari haid atau nifas di tengah-tengahnya, ia boleh menjima’nya (bersetubuh dengan istrinya).
. Disunnahkan bersegerah mengqadha` puasa Ramadhan serta berturut-turut, dan apabila waktunya sempit wajib berturut-turut. Dan apabila ia menunda qadha` Ramadhan hingga tiba Ramadhan yang lain tanpa ada uzur, maka ia berdosa dan wajib mengqadha`.
. Allah SWT mewajibkan berpuasa Ramadhan pada hak orang yang tidak mempunyai uzur, dan secara qadha` pada hak orang yang ada uzur yang telah berlalu seperti safar dan haid, serta dengan memberi makan pada hak orang yang tidak mampu melaksanakan puasa secara tunai dan qadha`, seperti orang tua renta dan semisalnya.
. Barang siapa yang meninggal dunia dan mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, jika ada uzur dengan sakit dan semisalnya maka tidak wajib membayar qadha` darinya dan tidak wajib pula memberi makan. Dan jika bisa mengqadha`, lalu ia tidak melakukannya sampai meninggal dunia, maka walinya melaksanakan puasa darinya.
Dari ‘Aisyah r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang meninggal dunia dan ia mempunyai kewajiban puasa, walinya menggantikan puasa darinya’ Muttafaqun ‘alaih.[6]
. Barang siapa yang berbuka di Bulan Ramadhan atau sebagiannya dalam keadaan tahu, sengaja, ingat, tanpa ada uzur, maka tidak disyari’atkan qadha` baginya dan tidak sah darinya. Dia menanggung dosa besar, maka ia harus bertaubat dan istigfar.
. Barang siapa yang meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa nazar, atau haji nazar, atau i’tikaf nazar, atau semisalnya, disunnahkan bagi walinya untuk mengqadha`nya. Walinya adalah ahli warisnya. Dan jika diqadha` oleh orang lain, niscaya sah dan sudah cukup.
. Barang siapa yang berniat berbuka, berarti ia berbuka, karena puasa terdiri dari dua rukun: niat dan menahan diri dari yang membatalkan. Dan apabila ia berniat berbuka niscaya gugur rukun pertama, yaitu dasar segala amal dan nilai ibadah yang besar, yaitu niat.
. Barang siapa yang tertidur di malam ke tiga puluh dari Bulan Sya’ban dan ia berkata, ‘Jika besok adalah Bulan Ramadhan maka aku berpuasa.’ Ternyata memang benar-benar Bulan Ramadhan, maka puasanya sah.
. Larangan, jika kembali kepada jenis ibadah yang sama, maka ia adalah haram dan batil, seperti jika seorang muslim berpuasa di hari raya, maka puasanya haram dan batil. Dan jika larangan itu kembali kepada ucapan atau perbuatan yang khusus dengan ibadah, maka hal ini membatalkannya, seperti orang yang makan sedangkan dia berpuasa niscaya rusaklah puasanya. Jika larangan itu bersifat umum dalam ibadah dan yang lainnya, maka hal ini tidak membatalkannya, seperti mengumpat, maka ia adalah haram akan tetapi ia tidak membatalkan puasa. Dan seperti inilah halnya dalam setiap ibadah.






[1] HR. al-Bukhari no 1909, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 1081
[2]  Shahih/HR. Ahmad no 1397, as-Silsilah ash-Shahihah no. 1816, at-Tirmidzi no. 3451, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2745
[3]  HR. al-Bukhari no. 1947 dan Muslim no. 1118
[4]  Hasan Shahih/ HR. Abu Daud no. 2350, Shahih Sunan Abu Daud no. 2060.
[5]  HR. al-Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111, ini adalah lafazhnya.
[6]  HR. al-Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147



والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber