Arsip Bulanan: November 2017

[ UIC 0.1 ] Dasar-Dasar Agama Islam 01 – MENGENAL ISLAM

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurah untuk imam para rasul, nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya .

Islam adalah syari’at Allah terakhir yang diturunkan-Nya kepada penutup para nabi dan rasul, Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Islam merupakan satu-satunya agama yang benar . Allah tidak menerima dari siapapun agama selainnya . Dia telah menjadikannya sebagai agama yang mudah. Allah tidak mewajibkan dan tidak pula membebankan kepada para pemeluknya hal-hal yang tidak sanggup mereka lakukan . Islam adalah agama yang dasarnya tauhid, syi’arnya kejujuran, porosnya keadilan, tiangnya kebenaran, ruhnya (jiwanya) kasih sayang .

Islam merupakan agama agung , yang mengarahkan manusia kepada seluruh yang bermanfa’at , serta melarang dari segala yang membahayakan bagi agama dan kehidupan mereka . Dengan Islam Allah meluruskan ’aqidah dan akhlak , serta memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat . Dengannya pula Allah menyatukan hati dan hawa nafsu yang bercerai-berai, dengan membebaskannya dari kegelapan kebatilan , dan mengarahkan serta menunjukinya kepada kebenaran dan jalan yang lurus .

Islam adalah agama yang lurus  , yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya . Islam tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar , dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil . Islam adalah : ’aqidah yang benar , amalan yang tepat , akhlak yang utama dan etika yang mulia .

Syari’ah Islam bertujuan untuk mewujudkan hal-hal berikut :
1. Memperkenalkan manusia kepada Tuhan dan Pencipta mereka , melalui nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung , serta perbuatan-perbuatanNya yang sempurna .

2. Memanggil manusia untuk beribadah hanya kepada Allah , yang tidak ada sekutu bagi-Nya , dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya , yang merupakan kemashlahatan bagi mereka, baik didunia maupun di akhirat .

3. Mengingatkan manusia akan keadaan dan tempat kembali mereka setelah mati ; apa yang akan mereka hadapi didalam kubur , dan ketika dibangkitkan dan dihisab . Kemudian tempat kembali mereka ; surga atau neraka .
Ajaran-ajaran Islam itu dapat kita simpulkan dalam point-point berikut :

Pertama : ’aqidah

Yaitu : meyakini rukun iman yang enam :
1- Beriman kepada Allah , diwujudkan dengan hal-hal berikut :
a. Beriman kepada rububiyyah Allah Ta’ala , artinya : bahwasanya Allah adalah Tuhan , Pencipta , Pemilik , Pengatur segala urusan .
b. Beriman kepada uluhiyyah Allah Ta’ala , artinya : bahwasanya Allah Ta’ala  sajalah Tuhan yang berhak disembah , dan semua sesembahan selain-Nya adalah batil .
c. Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya , artinya : bahwasanya Allah Ta’ala memiliki nama-nama yang mulia , dan sifat-sifat yang sempurna serta agung sesuai dengan yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam .

2- Beriman kepada para Malaikat :
Malaikat adalah hamba-hamba Allah yang mulia . Mereka diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya , serta tunduk dan patuh menta’ati-Nya . Allah telah membebankan kepada mereka berbagai tugas . Diantara mereka adalah Jibril ; ditugaskan menurunkankan wahyu dari sisi Allah kepada para-nabi dan rasul.

Ada Mikail yang ditugaskan untuk mengurus hujan dan tumbuh-tumbuhan . Adapula Israfil yang bertugas meniupkan sangkakala dihari terjadinya kiamat . Dan ada juga Malaikat Maut , bertugas mencabut nyawa ketika ajal telah tiba .
3- Beriman kepada Kitab-kitab :
Allah – Yang maha agung dan mulia – telah menurunkan kepada para rasul-Nya kitab-kitab , mengandung petunjuk dan kebaikan . Yang kita ketahui diantara kitab-kitab ini adalah :
a. Taurat , diturunkan Allah kepada Nabi Musa ’alaihis salam , ia merupakan kitab Bani Israil yang paling agung .
b. Injil , diturunkan Allah kepada Nabi Isa ’alaihis salam .
c. Zabur, diturunkan Allah kepada Daud ’alaihis salam .
d. Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa ’alaihimas salam .
e. Al Qur’anyang agung , diturunkan Allah Ta’ala kepada nabi-Nya Muhammad , penutup para nabi . Dengannya Allah telah menasakh (menghapus) semua kitab sebelumnya. Dan Allah telah menjamin untuk memelihara dan menjaganya; karena dia akan tetap menjadi hujjah atas semua makhluk , sampai hari kiamat.

4- Beriman kepada para rasul :
Allah telah mengutus para rasul kepada makhlukNya. Rasul pertama adalah Nuh dan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka para rasul itu adalah manusia biasa , tidak memiliki sedikitpun sifat-sifat ketuhanan . Mereka adalah hamba-hamba Allah , yang telah dimuliakan dengan kerasulan . Dan Allah telah mengakhiri semua syari’at dengan syari’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau diutus untuk seluruh  manusia. Maka tidak ada lagi nabi sesudahnya .

5- Beriman kepada hari akhirat :
Yaitu hari kiamat , tidak ada hari lagi setelahnya , Ketika Allah membangkitkan manusia hidup kembali, untuk kekal ditempat yang penuh kenikmatan atau di tempat siksaan yang amat pedih. Beriman kepada Hari Akhir meliputi beriman kepada semua yang akan terjadi setelah mati, berupa: ujian kubur, kenikmatan dan siksaannya , serta apa yang akan terjadi setelah itu , seperti kebangkitan dan hisab , kemudian surga atau neraka .

6- Beriman kepada Qadar (Takdir) :
Qadar artinya: beriman bahwasanya Allah telah mentaqdirkan semua yang ada dan menciptakan seluruh makhluk, sesuai ilmu, dan hikma-Nya . Maka segala sesuatu telah diketahui oleh Allah , serta  telah pula tertulis disisiNya , dan Dialah yang telah menghendaki dan menciptakannya.

Kedua : rukun-rukun Islam :

Rukun Islam itu ada lima . Seseorang tidak akan menjadi muslim yang sebenarnya hingga dia mengimani dan melaksanakannya, yaitu :

Rukun pertama: Syahadat (bersaksi) bahwa, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah , dan bahwasanya Muhammad itu adalah Rasulullah . Syahadat ini merupakan kunci dan pondasi agama Islam.

Makna syahadat la ilaha illallah ialah : tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah saja, Dialah ilahyang hak, sedangkan ilah selainnya adalah batil . Dan ilah itu artinya : Yang disembah .

Dan makna syahadat: bahwasanya Muhammad itu adalah rasulullah ialah: membenarkan semua apa yang diberitakannya , dan menta’ati semua perintahnya serta menjauhi semua yang dilarang dan dicegahnya .
Rukun kedua: Shalat
Yaitu shalat limawaktu schari scmalam setiap hari, Allah syari’atkan sebagai penghubung antara seorang muslim dengan Tuhannya, didalam shalat seorang hamba bermunajat dan berdo’a kepada-Nya , disamping bertujuan untuk mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar .

Dan Allah telah menjanjikan bagi yang menunaikannya kebaikan dalam agama dan kemantapan iman serta ganjaran, cepat ataaupun lambat . Maka dengan demikian seorang hamba akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kenyamanan raga yang akan membuatnya bahagia didunia dan akhirat .
 Rukun yang ketiga : Zakat
Yaitu sedekah yang dibayar oleh orang yang memiliki harta sampai nisab (kadar tertentu) setiap tahun , kepada yang berhak menerimanya seperti orang-orang fakir, miskin dan selain mereka diantara yang berhak menerima zakat. Zakat tidak diwajibkan atas orang fakir yang tidak memiliki nisab. Tapi hanya diwajibkan atas orang-orang kaya , yang betujuan untuk menyempurnakan agama dan Islam mereka, meningkatkan kondisi dan akhlak mereka , menolak segala bala dari diri dan harta mereka , mensucikan mereka dari dosa , disamping juga sebagai bantuan untuk orang-orang yang membutuhkan, serta untuk memenuhi kebutuhan umum, sementara ia (zakat) hanyalah merupakan bagian kecil sekali dari jumlah harta dan rizki yang telah dikarunia Allah kepada mereka .
Rukun yang keempat : Puasa
Yaitu hanya selama satu bulan setiap tahun , pada bulan Ramadhan yang mulia , yakni bulan kesembilan dari bulan-bulan Hijriah . Kaum muslimin secara keseluruhan serempak meninggalkan kebutuhan-kebutuhan pokok mereka ; makan , minum dan jima’ , disiang hari ; mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari . Dan semua itu akan diganti oleh Allah bagi mereka – berkat karunia dan kemurahannya – dengan penyempurnaan agama dan iman mereka , serta peningkatan kesempurnaan diri mereka , dan banyak lagi ganjaran dan kebaikan lainnya baik didunia maupun diakhirat yang telah dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa .
Rukun yang kelima : Haji
Yaitu menuju Masjidil haram (di Mekkah) untuk melakukan ibadah tertentu . Allah mewajibkannya atas orang yang mampu, sekali dalam seumur hidup . Pada waktu haji kaum muslimin dari segala penjuru berkumpul ditempat yang paling mulia dimuka bumi ini , menyembah Tuhan Yang Satu , memakai pakaian yang sama , tidak ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin , antara sikaya dan sifakir , dan antara yang berkulit putih dan berkulit hitam. Mereka semua melaksanakan bentuk-bentuk ibadah yang sama , yang terpenting diantaranya adalah : Wukuf dipadang Arafah, thawaf diKa’bah yang mulia kiblatnya kaum muslimin , dan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah .

Didalam perjalanan dan pelaksanan ibadah haji, banyak sekali manpaat dan hikmah yang akan didapatkan sescorang, baik dari segi agama maupun kehidupan dunia.
Ketiga :
Selanjutnya , Islam juga telah mengatur kehidupan pemeluknya secara individu dan masyarakat, dengan konsep yang menjamin kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat . Islam membolehkan bahkan mendorong mereka untuk nikah, dan sebaliknya mengharamkan (melarang) perbuatan zina , sodomi, dan segala bentuk prilaku kotor lainnya. Islam mewajibkan  menjalin hubungan antar kerabat , mengasihi orang-orang fakir dan miskin serta menyantuni mereka , sebagaimana Islam juga mewajibkan dan mendorong untuk berakhlak mulia , serta mengharamkan dan melarang segala bentuk moral yang hina . Islam membolehkan bagi mereka usaha yang baik melalui perdagangan , persewaan dan semacamnya , serta mengharamkan praktek riba , segala bentuk perdagangan yang terlarang , dan semua yang mengandung unsur penipuan atau pengelabuan .

Sebagaimana Islam juga memperhatikan perbedaan manusia dalam tingkat komitmen terhadap ajarannya dan memelihara hak-hak orang lain , untuk itu ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah untuk terjadinya berbagai pelanggaran terhadap hak-hak  Allah seperti murtad , berzina, meminum khamar dan semacamnya , begitu juga ditetapkan sanksi-sanksi yang mencegah akan terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak sesama manusia , seperti membunuh , mencuri , menuduh orang lain berbuat zina , atau menganiaya dengan memukul atau menyakiti . Sanksi-sanksi tersebut ditetapkan sesuai dengan bentuk kejahatan yang dilakukan, tanpa berlebih-lebihan .

Sebagaimana Islam juga telah mengatur dan memberi batasan terhadap hubungan antara rakyat dan penguasa , dengan mewajibkan rakyat untuk ta’at selama bukan dalam maksiat kepada Allah , dan mengharamkan kepada mereka memberontak atau menentang , karena bisa menimbulkan kerusakan-kerusakan umum atau khusus .

Sebagai penutup , dapat kita simpulkan bahwa , Islam telah merangkum ajaran-ajaran, yang membangun dan menciptakan hubungan yang benar dan amalan yang tepat antara hamba dan Tuhannya , dan antara individu dengan masyarakatnya dalam segala hal. Maka tidak satupun kebaikan , baik itu disegi akhlak maupun mu’amalat , melainkan Islam telah membimbing dan mendorong ummat untuk melaksanakannya, dan sebaliknya tidak satupun keburukan dalam hal akhlak ataupun mu’amalat melainkan Islam telah mencegah dan melarang ummat untuk melakukannya . Ini semua membuktikan kesempurnaan dan keindahan agama ini , dalam seluruh sisi dan bagiannya .

والله أعلمُ بالـصـواب


[ UIC 4.2 ] Belajar Aqidah 50 – Syarh Al-Qawa’idul Arba’ 05

Syarh Al-Qawa’idul Arba’ : KAIDAH KETIGA

Kaidah ketiga: bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang berbeda-beda peribadahannya. Sebagian mereka ada yang beribadah kepada malaikat, ada yang beribadah kepada para nabi dan orang-orang shalih, ada yang beribadah kepada bebatuan dan pepohonan, dan ada pula yang beribadah kepada matahari dan bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan Kesimpulannya: bahwa syafaat yang ditiadakan adalah syafaat yang diminta tanpa seizin Allah atau yang diminta untuk orang musyrik. Adapun syafaat yang ditetapkan adalah syafaat setelah izin Allah dan untuk orang yang bertauhid, tidak membeda-bedakan mereka.
Kaidah ketiga: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang dari kalangan musyrikin. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat. Sebagian mereka ada yang menyembah matahari dan bulan. Sebagian mereka ada yang menyembah berhala, bebatuan, dan pepohonan. Dan sebagian yang lain menyembah para wali dan orang shalih.
Dan ini termasuk dari buruknya kesyirikan yaitu bahwa pelakunya tidak bersepakat dalam satu perkara. Berbeda halnya dengan orang yang bertauhid, karena sesungguhnya sesembahan mereka adalah satu yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. “Apakah rabb-rabb yang berbeda-beda itu lebih baik ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Berkuasa. Tidaklah yang kalian sembah selain Allah itu kecuali nama-nama yang telah kalian namakan sendiri.” (QS. Yusuf: 39-40).
Maka, termasuk sisi negatif dan kebatilan kesyirikan adalah bahwa pelakunya berbeda-beda dalam ibadah-ibadah mereka. Tidak ada satu ketentuan pun yang dapat menyatukan mereka. Hal ini karena mereka tidak berjalan di atas pondasi yang benar. Hanyalah mereka berjalan mengikuti hawa nafsu dan propaganda para penyesat. Akibatnya banyak timbul perpecahan di antara mereka. “Allah telah membuat sebuah perumpamaan seorang (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan, dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh seorang (saja). Apakah keduanya sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 29). 
Sehingga, orang yang beribadah kepada Allah semata keadaannya seperti hamba sahaya yang diperbudak oleh satu tuan yang dia bisa tenang bersamanya. Karena ia mengerti maksud dan keinginan tuannya sehingga ia tenang bersamanya. Sedangkan orang musyrik keadaannya seperti hamba sahaya yang dimiliki beberapa tuan. Ia tidak tahu tuan yang mana yang ia buat ridha dengannya. Setiap tuannya memiliki selera dan permintaan sendiri-sendiri. Setiap tuannya memiliki keinginan. 
Dan setiap tuannya ingin agar budak itu ada di sisinya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Allah telah membuat sebuah perumpamaan seorang (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan” yakni: beberapa tuan memiliki seorang budak itu, budak itu tidak tahu siapa di antara mereka yang hendak ia buat ridha. “Dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh seorang (saja)” pemilik budak ini satu tuan saja sehingga budak ini tenang dengannya. Inilah perumpamaan yang Allah buat untuk orang musyrik dan orang yang bertauhid.
Jadi, orang-orang musyrik itu berpecah belah di dalam ibadah mereka. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan mereka. Beliau memerangi penyembah berhala, memerangi Yahudi dan Nashara, memerangi Majusi. Beliau memerangi seluruh orang musyrik, memerangi orang-orang yang menyembah malaikat dan orang-orang yang menyembah wali-wali yang shalih. Beliau tidak membeda-bedakan mereka.
Sehingga ini merupakan bantahan kepada orang yang mengatakan: Orang-orang yang menyembah berhala tidak sama dengan orang yang menyembah orang shalih dan malaikat, karena penyembah berhala itu menyembah bebatuan dan pepohonan, mereka menyembah benda-benda mati. Adapun yang menyembah orang shalih dan wali Allah tidak sama dengan orang yang menyembah berhala.
Mereka maukan dari ucapan itu bahwa orang yang menyembah kuburan pada saat ini berbeda hukumnya dengan orang yang menyembah berhala. Jadi dia tidak kafir dan amalannya tidak bisa disebut kesyirikan, serta tidak boleh diperangi. Maka kita jawab: Rasul tidak membeda-bedakan mereka. Bahkan beliau menganggap mereka seluruhnya orang musyrik. 
Beliau menghalalkan darah dan harta mereka. Beliau tidak membedakan mereka. Sehingga, orang-orang yang menyembah Isa Al-Masih padahal Isa adalah Rasul Allah, tetap saja beliau perangi. Adapun Yahudi, mereka menyembah ‘Uzair padahal beliau adalah termasuk nabi atau orang shalih mereka, tetap saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau tidak membeda-bedakan mereka.
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun dan sampai agama ini hanya untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 194)
Sehingga syirik itu tidak ada perbedaan antara orang yang menyembah orang shalih dengan yang menyembah berhala, bebatuan, dan pepohonan. Karena syirik adalah ibadah kepada selain Allah apa pun itu. Karenanya, Allah berfirman yang artinya, “Sembahlah Allah dan jangan kalian sekutukan sesuatu pun dengannya.” (QS. An-Nisa`: 36). Dan kata “ شَيۡئًا ” berbentuk nakirah dalam konteks larangan yang berarti umum meliputi segala sesuatu. Umum meliputi setiap yang disekutukan bersama Allah ‘azza wa jalla berupa malaikat, rasul-rasul, orang shalih, wali-wali, bebatuan, dan pepohonan.
Ucapan beliau: (Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun.”) yaitu dalil yang menunjukkan untuk memerangi kaum musyrikin tanpa membeda-bedakan mereka berdasar sembahan-sembahan mereka. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka”, ini umum mencakup seluruh orang musyrik, Allah tidak mengecualikan satu pun. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “sampai tidak ada fitnah sedikit pun.” Fitnah di sini adalah kesyirikan. Sehingga artinya: tidak didapati satu kesyirikan pun. Ini juga umum, syirik apa pun itu. Sama saja apakah menyekutukan Allah dengan wali-wali dan orang shalih atau dengan bebatuan dan pepohonan, atau dengan matahari dan bulan.
Dalil bahwa ada yang menyembah matahari dan bulan dan itu adalah kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan termasuk tanda-tandaNya adanya malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan.” (QS. Fushshilat: 37).

“dan sampai agama ini…” artinya sampai ibadah ini seluruhnya hanya untuk Allah. Tidak ada satu sekutu pun di dalam ibadah ini, apa pun itu. Jadi, tidak ada perbedaan antara syirik dengan wali-wali dan orang shalih atau bebatuan dan pepohonan atau dengan setan-setan atau selain mereka.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang yang sujud kepada matahari dan bulan. Untuk itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari shalat ketika matahari terbit dan tenggelam untuk menutup pintu kejelekan. Karena di sana ada orang-orang yang sujud kepada matahari ketika terbit dan sujud kepadanya ketika tenggelam. Sehingga kita dilarang untuk shalat di dua waktu ini, meskipun shalat itu ditujukan untuk Allah, akan tetapi ketika shalat di dua waktu ini menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, maka dilarang dari hal tersebut sebagai upaya untuk menutup pintu kejelekan yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan. 
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang membawa syariat yang melarang dari kesyirikan sekaligus menutup pintu yang dapat menyampaikan, Dalil bahwa ada yang menyembah malaikat dan hal tersebut merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan Dia tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan nabi sebagai rabb-rabb.” (QS. Ali ‘Imran: 80)
Ucapan beliau: “Dan dalil malaikat…” dst, menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang yang menyembah malaikat dan para nabi dan bahwa hal tersebut adalah kesyirikan.
Dan para pemuja kuburan pada hari ini mengatakan bahwa orang yang menyembah para malaikat, para nabi, dan orang-orang shalih tidaklah kafir.
Dalil bahwa ada orang yang menyembah para nabi dan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan ingatlah, ketika Allah mengatakan, Wahai ‘Isa bin Maryam apakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Allah? ‘Isa menjawab: Maha suci Engkau, tidak pantas bagiku untuk mengatakan perkataan yang tidak benar. Jika aku telah mengatakannya, maka sungguh Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau adalah maha mengetahui hal-hal yang ghaib.” (QS. Al-Maidah: 13)
Ucapan beliau, “Dan dalil para nabi… dst.” Pada ucapan beliau terdapat dalil bahwa peribadahan kepada para nabi adalah kesyirikan sebagaimana beribadah kepada berhala. Di dalam ucapan beliau juga terdapat bantahan terhadap orang yang membeda-bedakan dalam perkara ini dari kalangan para pemuja kuburan.
Ucapan beliau membantah orang-orang yang mengatakan bahwa syirik adalah menyembah berhala. Menurut mereka tidak bisa disamakan antara orang yang menyembah berhala dengan orang yang menyembah wali atau orang shalih. Mereka juga mengingkari penyamarataan tersebut. Mereka menyangka bahwa syirik itu terbatas pada Dalil bahwa ada orang yang menyembah orang-orang shalih dan perbuatan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan azabNya.” (QS. Al-Isra`: 57).
Menyembah berhala saja. Tentu, ini adalah kekeliruan yang nyata dari dua sisi:
– Sisi pertama: bahwa Allah jalla wa ‘ala mengingkari seluruh jenis kesyirikan tersebut di dalam Al-Qur`an dan memerintahkan untuk memerangi seluruhnya.
– Sisi kedua: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membeda-bedakan antara penyembah berhala dan penyembah malaikat atau orang shalih.
“Dan dalil orang-orang shalih” yakni bahwa di sana ada yang menyembah orang-orang shalih dari kalangan manusia adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).” (QS. Al-Isra`: 57).
Ada yang berpendapat bahwa ayat ini turun mengenai orang yang menyembah ‘Isa Al-Masih dan ibunya, serta ‘Uzair. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa ‘Isa Al-Masih, ibu beliau Maryam, dan ‘Uzair seluruhnya adalah hamba-hamba milik Allah. Mereka mendekatkan diri kepada Allah, mengharap rahmatNya, dan takut dari azabNya. Jadi, mereka adalah hamba-hamba yang butuh kepada Allah, faqir kepadaNya. Mereka berdoa kepadaNya dan bertawasul kepadaNya dengan mengerjakan ketaatan. “mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Isra`: 57). 
Yakni: kedekatan denganNya subhanahu wa ta’ala dengan menaatiNya dan beribadah kepadaNya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak boleh untuk diibadahi karena mereka adalah manusia yang butuh dan faqir, mereka berdoa kepada Allah, mengharap rahmatNya, dan takut dari azabNya. Barangsiapa yang demikian keadaaannya, maka dia tidak boleh diibadahi bersama Allah subhanahu wa ta’ala.
Pendapat kedua bahwa ayat ini turun mengenai orang dari kaum musyrikin yang menyembah sekelompok jin. Lalu jin itu masuk Islam namun orang-orang yang menyembah mereka tadi tidak mengetahui dengan keislaman mereka. Jin-jin tersebut mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan dan ketundukan diri, mengharap rahmatNya, dan takut dari azabNya. Jadi, mereka adalah hamba-hamba yang butuh dan faqir. Tidak boleh untuk diibadahi.
Pendapat mana saja yang diinginkan dari ayat yang mulia ini tetap menunjukkan bahwa tidak boleh ibadah kepada orang-orang shalih. Sama saja apakah mereka itu para nabi, shiddiqin, atau dari kalangan para wali dan orang-orang shalih. Tidak boleh beribadah kepada mereka. Karena seluruhnya adalah hamba Allah yang faqir kepadaNya. Lantas bagaimana bisa mereka diibadahi bersama Allah jalla wa ‘ala?!
Wasilah maknanya adalah ketaatan dan kedekatan. Wasilah secara bahasa adalah sesuatu yang menyampaikan kepada tujuan. Sehingga setiap yang menyampaikan kepada ridha Allah dan surgaNya, maka ia adalah wasilah kepada Allah. Inilah wasilah yang disyariatkan dalam firmanNya ta’ala yang artinya, “dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 35).
Adapun orang yang menyimpang dan ahli khurafat, mereka mengatakan bahwa wasilah yaitu kita menjadikan antara engkau dengan Allah suatu perantara dari para wali, orang-orang shalih, dan orang-orang yang telah mati. Kita menjadikan mereka sebagai perantara antara engkau dengan Allah supaya mereka dapat mendekatkan engkau kepada Allah. “Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3). 
Jadi, makna wasilah menurut ahli khurafat adalah engkau menjadikan antara engkau dengan Allah suatu perantara yang dapat mengenalkan engkau kepada Allah dan menyampaikan dan mengabarkan kebutuhanmu kepadaNya. Seakan-akan Allah jalla wa ‘ala itu tidak mengetahui atau seakan-akan Allah jalla wa ‘ala itu pelit tidak mau memberi kecuali setelah mendekat kepadaNya melalui perantara. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.
Berdasar pemahaman ini, mereka menyerupakan Allah dengan manusia dan mengatakan: Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Isra`: 57). 
Kata mereka, ayat ini menunjukkan bahwa menjadikan wasilah dari kalangan makhluk untuk menyampaikan kepada Allah adalah perkara yang disyariatkan karena Allah memuji pelakunya. Juga pada ayat yang lainnya, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan carilah wasilah kepadaNya serta berjihadlah di jalanNya.” (QS. Al-Maidah: 35).
Mereka mengatakan: Allah memerintahkan kita agar kita menjadikan wasilah kepadaNya, sedangkan wasilah artinya perantara. Seperti inilah mereka mengubah-ubah perkataan dari tempat-tempatnya. Wasilah yang disyariatkan di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah adalah ketaatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan bertawasul dengan nama-nama dan sifat-sifatNya subhanahu wa ta’ala. Inilah wasilah yang disyariatkan. 
Adapun bertawasul kepada Allah dengan makhluk-makhluk, maka ini adalah wasilah yang dilarang dan wasilah syirik. Dan inilah perbuatan orang-orang musyrikin dahulu, “Mereka beribadah kepada selain Allah yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak pula dapat memberi manfaat. Mereka mengatakan bahwa sesembahan itu adalah pemberi syafaat untuk kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).  
“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali berkata: Tidaklah kami menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Ini adalah kesyirikan orang-orang dahulu dan sekarang. Sama persis. Meskipun mereka menamainya dengan wasilah, namun hakikatnya itulah kesyirikan dan bukan wasilah yang Allah subhanahu wa ta’ala syariatkan. 
Karena Allah tidak menjadikan kesyirikan sebagai jalan yang mendekatkan kepadaNya selama-lamanya. Bahkan ia menjauhkan dari Allah subhanahu wa ta’ala. “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan surga atasnya dan tempatnya adalah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 72). 
Sehingga bagaimana bisa kesyirikan dijadikan sebagai perantara kepadaNya?!! Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Sisi pendalilan dari ayat tersebut adalah bahwa di ayat tersebut ada dalil bahwa di sana ada orang-orang musyrik yang menyembah orang-orang shalih. Karena Allah menjelaskan hal tersebut dan Dia juga menjelaskan bahwa yang mereka jadikan sesembahan itu adalah hamba-hamba yang faqir. 
“Mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka” yakni: mereka mendekatkan kepadaNya dengan melakukan ketaatan. “Siapa di antara mereka yang lebih dekat” mereka berlomba-lomba menuju Allah jalla wa ‘ala dengan ibadah. Karena kefakiran dan kebutuhan mereka kepada Allah. “Mereka mengharap rahmatNya dan takut dari azabNya” sehingga barangsiapa yang keadaannya seperti ini, maka ia tidak boleh untuk menjadi sesembahan yang diseru dan diibadahi bersama Allah ‘azza wa jalla.
Ucapan beliau “dalil bebatuan dan pepohonan… dst”, pada ayat ini ada dalil bahwa di sana ada orang musyrik yang menyembah bebatuan dan pepohonan. Firman Allah, أ ف رأ يۡتُم adalah pertanyaan pengingkaran. Yakni: Kabarkanlah kepadaku. Termasuk pada pertanyaan pengingkaran dan perendahan.
Laata dengan huruf ta` yang tidak ditasydid adalah nama berhala di Thaif. Ungkapan dari sebuah batu berukir yang di atasnya dibangun rumah yang mempunyai tirai-tirai sehingga menandingi Ka’bah. Di sekitarnya ada lapangan dan di dekatnya ada juru kuncinya. Mereka dahulu menyembahnya selain kepada Allah ‘azza wa jalla. Berhala ini milik Bani Tsaqif dan kabilah-kabilah yang loyal kepada mereka. Mereka membanggakan berhala tersebut.
Bisa dibaca pula dengan Laatta dengan mentasydid huruf ta` yaitu isim fa’il dari ل تَّ يَ لُ تَ , yaitu: seorang yang shalih dahulu biasa mengadon tepung lalu memberi makan orang-orang yang haji dengannya. Ketika orang tersebut meninggal, orang-orang membangun rumah di atas kuburannya. Mereka menjuntaikan tirai-tirai. Akhirnya mereka menyembahnya selain kepada Allah ‘azza wa jalla. Inilah Laatta.
‘Uzza adalah pohon-pohon yang termasuk jenis salam (satu jenis pohon akasia yang daunnya bisa dipakai untuk menyamak) di Wadi Nakhlah antara Makkah dan Thaif. Di sekitarnya ada bangunan dan tirai-tirai dan di dekatnya ada juru kuncinya. Di dalam pohon tersebut ada setan-setan yang berbicara kepada manusia. Orang-orang bodoh menyangka bahwa yang berbicara adalah pohon tersebut atau rumah yang mereka bangun. Padahal sesungguhnya yang berbicara kepada mereka adalah setan-setan untuk menyesatkan mereka dari jalan Allah. Berhala ini dulunya milik Quraisy dan penduduk Makkah dan sekitarnya.
Manat adalah sebuah batu besar di suatu tempat yang terletak di dekat gunung Qudaid, di antara Makkah dan Madinah. Dulunya batu ini milik Khuza’ah, ‘Aus, dan Khazraj. Mereka dulunya berihram haji dari situ dan mereka sembah selain Allah.
Tiga berhala ini adalah berhala yang paling besar di ‘Arab.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kabarkan kepadaku tentang Laata, ‘Uzza, dan Manat.” Apakah berhala-berhala itu dapat mencukupi sesuatu? Apakah mereka memberi manfaat kepada kalian? Apakah mereka menolong kalian? Apakah mereka menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan? Apa yang kalian dapatkan dari mereka? Ayat ini dalam konteks mengingkari dan memperingatkan akal-akal agar kembali kepada akal yang lurus. Berhala-berhala ini hanyalah bebatuan dan pepohonan yang tidak memiliki manfaat dan madharat, bahkan mereka itu diciptakan.
Tatkala Allah mendatangkan syariat Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka kota Makkah yang mulia, beliau mengutus Al-Mughirah bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb menuju Laata di Thaif. Keduanya menghancurkannya sesuai perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga mengutus Khalid ibnul Walid menuju ‘Uzza. Lalu Khalid menghancurkannya dan menebang pepohonan serta membunuh jin wanita yang dulunya berada di dalamnya mengajak bicara orang-orang dan menyesatkan mereka. Maka, Khalid memusnahkan sampai ke akar-akarnya. 
Alhamdulillah. Nabi juga mengutus ‘Ali bin Abi Thalib menuju Manat, lalu ‘Ali menghancurkan dan memusnahkannya. Ternyata berhala-berhala itu tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. Lalu bagaimana mereka bisa menyelamatkan para pemuja dan penyembahnya. “Kabarkanlah kepadaku tentang Laata, ‘Uzza, dan Manat yang ketiga yang lain.” Kemana perginya mereka? Apakah bermanfaat bagi kalian? Apakah mereka dapat menahan diri mereka dari para tentara Allah dan pasukan tauhid?
Kesimpulannya, di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa di sana ada orang-orang yang menyembah pepohonan dan bebatuan. Bahkan ketiga berhala dalam ayat tersebut merupakan berhala orang-orang musyrik yang paling besar. Namun demikian, Allah telah memusnahkan keberadaan mereka. Berhala-berhala itu tidak dapat membela dirinya dan tidak dapat memberi manfaat untuk para penyembahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerangi mereka dan berhala-berhala itu pun tidak dapat mencegahnya. Kandungan inilah Dan hadits Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Waktu itu kami masih baru masuk Islam. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka i’tikaf di situ dan mereka gantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon itu dinamakan Dzatu Anwath. Ketika kami melewati pohon itu, kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, jadikan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath…” Al-Hadits

Subhanallah, manusia yang berakal malah menyembah pepohonan dan bebatuan yang mati, yang tidak punya akal, yang tidak bisa bergerak, dan tidak hidup. Di mana akal-akal manusia itu? Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.

Dari Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu. Beliau termasuk shahabat yang masuk Islam pada tahun Fathu Makkah tahun 8 hijriyyah menurut pendapat yang masyhur. Dinamakan dzatu anwath. Al-anwath adalah bentuk jamak dari nauth yang artinya gantungan. Jadi artinya pohon yang mempunyai gantungan-gantungan yang digunakan untuk menggantung senjata-senjata mereka untuk mencari berkah dengannya. Sebagian shahabat yang baru saja memeluk agama Islam dan belum mengenal tauhid secara sempurna mengatakan, “Buatkanlah dzatu anwath untuk kami sebagaimana mereka memiliki dzatu anwath.
” Ini adalah bencana akibat taklid dan tasyabbuh. Bahkan ini adalah bencana yang paling besar. Seketika itu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkejut seraya mengatakan, “Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!” Beliau apabila terkejut oleh sesuatu atau mengingkari sesuatu biasa mengucapkan takbir atau mengatakan, “Subhanallah” dan beliau ulang-ulang.
Innaha sunan yaitu jalan-jalan yang manusia tempuh dan sebagian mereka mencontoh sebagian yang lain. Jadi sebab yang mengantarkan mereka mengatakan ucapan tersebut adalah mengikuti jalan-jalan hidup orang-orang dahulu dan menyerupai orang-orang musyrik.
Demi Zat yang jiwaku ada di tanganNya, kalian telah mengatakan seperti perkataan Bani Israil kepada Musa: “Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 138). Musa ‘alaihis salam ketika telah melewati laut bersama Bani Israil dan ketika Allah telah menenggelamkan musuh mereka di dalam laut dalam keadaan mereka melihatnya; Musa dan Bani Israil melewati orang-orang musyrik yang sedang beri’tikaf di tempat berhala mereka. Lalu Bani Israil berkata kepada Musa ‘alaihis salam, “Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui.” Musa mengingkari mereka dan berkata, “Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya” yakni batal. “Dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan” karena perbuatan mereka adalah kesyirikan. “Musa menjawab: Patutkah aku mencari sesembahan untuk kalian selain Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat.” (QS. Al-A’raf: 139-140). 
Musa ‘alaihish shalatu was salam mengingkari mereka sebagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari para shahabat itu. Namun Bani Israil dan para shahabat belum sampai melakukan kesyirikan. Bani Israil ketika mengucapkan ucapan tersebut, mereka tidak sampai syirik karena mereka tidak sampai melakukannya. Demikian pula para shahabat. Seandainya mereka membuat dzatu anwath niscaya mereka jatuh dalam kesyirikan. 
Akan tetapi Allah menjaga mereka, yaitu ketika Nabi mereka melarang mereka lantas mereka pun berhenti. Di samping itu, mereka mengucapkan ucapan tersebut karena kebodohan. Mereka tidak mengucapkannya dengan tujuan syirik. Sehingga ketika mereka telah mengetahui bahwa ucapan tersebut adalah kesyirikan, mereka berhenti dan tidak melakukannya. Sekiranya mereka melakukannya niscaya mereka terjatuh dalam perbuatan menyekutukan Allah ‘azza wa jalla.
Yang menjadi dalil dari ayat tersebut adalah bahwa di sana ada orang yang menyembah pepohonan. Karena orang-orang musyrik itu telah membuat dzatu anwath. Dan orang-orang yang belum mapan ilmunya di dalam hatinya dari kalangan shahabat berusaha untuk menyerupai mereka sekiranya Allah tidak menjaga mereka melalui RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yang menjadi dalil adalah bahwa di sana ada orang yang mencari berkah kepada pepohonan dan beri’tikaf di situ. I’tikaf artinya menetap di tempat itu beberapa saat dalam rangka mendekatkan diri kepadanya. Jadi arti i’tikaf adalah menetap di sebuah tempat.
Hadits ini menunjukkan beberapa masalah yang agung:
1. Bahaya kebodohan terhadap tauhid. Karena barangsiapa yang bodoh terhadap tauhid sangat mungkin jatuh ke dalam kesyirikan dalam keadaan tidak menyadari. Atas dasar itu, wajib untuk mempelajari tauhid dan lawannya yaitu syirik sehingga sampai manusia itu berada di atas ilmu supaya tidak melakukan kesyirikan akibat ketidaktahuannya. Terlebih lagi apabila ia melihat seseorang yang melakukan kesyirikan, lalu ia menganggapnya sebagai kebenaran akibat ketidaktahuannya. Jadi pada hadits tersebut mengandung faidah bahayanya kebodohan terlebih di dalam perkara akidah.
2. Di dalam hadits ini ada faidah bahayanya menyerupai orang-orang musyrik. Hal ini sering mengantarkan kepada kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Sehingga, tidak boleh menyerupai orang-orang musyrik.
3. Bahwa mencari berkah kepada bebatuan, pepohonan, dan bangunan-bangunan adalah syirik, walaupun perbuatan ini mereka tidak namakan syirik. Karena ia telah mencari berkah dari selain Allah dari bebatuan.

والله أعلمُ بالـصـواب


Source :  Syarh Al-Qawa’idul Arba’ pdf




[ UIC 4.2 ] Belajar Aqidah 49 – Syarh Al-Qawa’idul Arba’ 04

Syarh Al-Qawa’idul Arba’ : KAIDAH KEDUA

Adapun kesyirikan menurut mereka adalah engkau meyakini bahwa ada satu dzat yang menciptakan selain Allah atau memberi rezeki selain Allah. Maka kita katakan, ini bukanlah ucapan Abu Jahl dan Abu Lahab (padahal mereka itu musyrik). Mereka tidak mengatakan bahwa ada dzat yang mencipta selain Allah dan memberi rezeki selain Allah. Bahkan mereka mengakui bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan.
Kaidah kedua: bahwa mereka mengatakan: Tidaklah kami berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kepada mereka kecuali untuk mendapatkan kedekatan dan syafa’at.
Dalil bahwa tujuan mereka untuk mendekatkan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan orang-orang yang menjadikan selain Dia sebagai wali-wali (mengatakan): Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3).
Kaidah kedua: Bahwa orang-orang musyrik yang Allah telah namai mereka sebagai orang musyrik dan telah menghukumi mereka kekal di dalam neraka, ternyata mereka tidak menyekutukan Allah di dalam perkara rububiyyah. Mereka menyekutukan Allah hanya di dalam perkara uluhiyyah. Mereka tidak mengatakan bahwa sesungguhnya sesembahan mereka menciptakan dan memberi rezeki bersama Allah. Mereka tidak pula mengatakan bahwa mereka dapat memberi manfaat, mendatangkan madharat, atau mengatur bersama Allah. 
Mereka hanya menjadikan sesembahan itu sebagai pemberi syafaat, sebagaimana yang telah Allah ta’ala firmankan mengenai mereka yang artinya, “Dan mereka menyembah dari selain Allah sesembahan yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak dapat memberi manfaat. Dan mereka mengatakan bahwa sesembahan itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18). 
“Sesembahan yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak dapat memberi manfaat”, orang-orang musyrik itu mengakui hal ini. Yaitu bahwa sesembahan itu tidak dapat memberi manfaat dan mendatangkan madharat. Orang-orang musyrik itu hanya menjadikan sesembahan mereka sebagai pemberi syafaat, yakni perantara di sisi Allah untuk menyampaikan kebutuhan mereka yang orang-orang musyrik itu menyembelih untuk mereka, bernadzar kepada mereka. Bukan karena sesembahan itu menciptakan atau memberi rezeki, memberi manfaat atau mendatangkan madharat menurut keyakinan mereka. Akan tetapi agar sesembahan itu menjadi perantara untuk mereka di sisi Allah dan memberi syafaat di sisi Allah. Inilah akidah orang-orang musyrik.
Ketika engkau pada zaman ini mencoba mendebat pemuja kuburan, maka ia akan mengucapkan ucapan yang sama persis. Dia katakan: Saya tahu bahwa wali atau orang shalih ini tidak dapat mendatangkan madharat atau manfaat, namun ia adalah orang shalih dan saya mengharap syafaat darinya untukku di sisi Allah.
Syafaat itu ada yang benar dan ada yang batil. Syafaat yang benar adalah yang terpenuhi dua syarat:
1. Syafaat itu dengan izin Allah.
2. Orang yang disyafaati termasuk dari orang yang bertauhid, yaitu termasuk orang-orang yang bermaksiat dari kalangan orang yang bertauhid.
Sehingga, jika satu syarat dari dua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka syafaat tersebut batil. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisiNya kecuali dengan izinNya.” (QS. Al-Baqarah: 255). “Dan mereka tidak dapat memberi syafaat kecuali untuk orang-orang yang diridhaiNya.” (QS. Al-Anbiya`: 28), mereka adalah orang bertauhid yang jatuh dalam kemaksiatan. Adapun orang-orang kafir dan musyrik, maka syafaat para pemberi syafaat tidak dapat memberi manfaat kepada mereka, “Orang-orang zhalim itu tidak memiliki seorang pun teman dan tidak pula pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.” (QS. Ghafir: 18).
Mereka itu telah mendengar syafaat namun tidak mengerti maknanya. Dan mereka berangkat mencari syafaat itu dari sesembahan mereka tanpa seizin Allah ‘azza wa jalla. Bahkan mereka mencari syafaat untuk orang yang menyekutukan Allah yaitu orang yang syafaat itu tidak bermanfaat untuknya. Maka, mereka itu tidak mengetahui makna syafaat yang benar dan syafaat yang batil.
Dalil bahwa tujuan mereka untuk mendapatkan syafaat adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan mereka menyembah dari selain Allah sesembahan yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak dapat memberi manfaat. Dan mereka mengatakan bahwa sesembahan itu pemberi syafaat kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).
Syafaat itu ada dua macam: syafaat yang ditiadakan dan syafaat yang ditetapkan syariat.
Adapun syafaat yang ditiadakan adalah syafaat yang diminta dari selain Allah pada perkara yang hanya Allah yang bisa melakukannya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, berinfaqlah kalian dari sebagian apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang saat itu tidak ada jual beli, tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)
Syafaat itu ada dua: Syafaat yang Allah ‘jalla wa ‘ala tiadakan, yaitu syafaat yang tidak seizinNya subhanahu wa ta’ala. Sehingga, tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat kecuali dengan izin Allah. Bahkan, makhluk yang paling mulia dan penutup para Nabi –yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika hendak memberi syafaat untuk orang-orang di padang Mahsyar pada hari kiamat, beliau menyungkur sujud di hadapan Rabbnya, lalu berdoa kepadaNya, memujiNya, dan menyanjungNya. Dan beliau terus dalam keadaan sujud sampai dikatakan kepada beliau, “Angkat kepalamu! Katakanlah, niscaya ucapanmu akan didengar! Dan berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima!” Jadi, beliau tidak dapat memberi syafaat kecuali setelah izin Allah.
Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat yang diminta dari Allah.
Yang memberi syafaat adalah orang yang dimuliakan dengan syafaat. Sedangkan orang yang disyafaati adalah orang yang Allah ridhai ucapan dan amalannya setelah izin Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izinNya.” (QS. Al-Baqarah: 255)
Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat untuk orang yang bertauhid. Adapun orang musyrik, tidak bermanfaat syafaat untuknya. Dan orang yang mempersembahkan kurban dan nadzar kepada kuburan maka ia adalah musyrik. Sehingga syafaat tidak bermanfaat untuknya.
والله أعلمُ بالـصـواب


Source :  Syarh Al-Qawa’idul Arba’ pdf



[ UIC 4.2 ] Belajar Aqidah 48 – Syarh Al-Qawa’idul Arba’ 03

Syarh Al-Qawa’idul Arba’ : KAIDAH PERTAMA

Jika demikian keadaannya, maka ini adalah bahaya yang sangat besar. Wajib bagimu untuk mengetahuinya sebelum bahaya apapun, karena pada kesyirikan itu akan sesat pemahaman dan akal-akal. Supaya kita mengetahui apa itu syirik dari Kitab dan Sunnah. Allah tidaklah memperingatkan dari sesuatu pun kecuali telah menjelaskan dan tidak pula memerintahkan dari sesuatu pun kecuali telah menjelaskannya kepada manusia. 
Dan Dia tidak mengharamkan syirik lalu membiarkannya dengan gambaran yang masih global. Akan tetapi Dia telah menjelaskannya di dalam Al-Qur`an Al-‘Azhim dan RasulNya juga telah menjelaskannya di dalam As-Sunnah dengan penjelasan yang memuaskan. Oleh karena itu, apabila kita ingin untuk mengetahui apa itu syirik, maka kita kembali kepada Kitab dan Sunnah hingga kita mengetahui kesyirikan. Dan janganlah kita kembali kepada ucapan orang. Akan datang penjelasan ini.
Kaidah pertama: hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang dahulu diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa Allah ta’ala adalah yang menciptakan dan mengatur. Namun hal itu tidak membuat mereka masuk ke dalam Islam. 
Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Katakanlah, siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan mengatakan, Allah. Lalu katakanlah, mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS. Yunus: 31).
Kaidah pertama: Hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang dahulu diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan tauhid rububiyyah. Bersamaan dengan penetapan mereka terhadap tauhid rububiyyah, tidak menjadikan mereka masuk ke dalam Islam dan tidak pula menyebabkan darah-darah dan harta-harta mereka terjaga.
Ini menunjukkan bahwa tauhid itu tidak hanya menetapkan rububiyyah saja dan bahwa syirik itu tidak hanya syirik dalam hal rububiyyah saja. Bahkan di sana tidak ada seorang pun yang mempersekutukan Allah di dalam perkara rububiyyah kecuali orang yang berpemikiran ganjil saja. Bila tidak ada orang seperti ini, maka seluruh umat menetapkan tauhid rububiyyah.
Tauhid rububiyyah adalah menetapkan bahwa Allah adalah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur. Atau dengan ungkapan yang lebih ringkas, tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam perbuatan-perbuatanNya subhanahu wa ta’ala.
Sehingga, tidak ada satupun makhluk yang menyatakan bahwa di sana ada satu makhluk yang menciptakan bersama Allah atau memberi rezeki bersama Allah atau menghidupkan dan mematikan. Bahkan orang-orang musyrik pun menetapkan bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan yang mengatur.
 “Dan sungguh apabila engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit-langit dan bumi. Niscaya mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Luqman: 25). “Katakanlah, siapakah Rabb langit-langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang agung? Niscaya mereka mengatakan, milik Allah.” (QS. Al-Mu`minun: 86-87). 
Bacalah ayat-ayat akhir surah Al-Mu`minun, engkau akan mendapati bahwa orang-orang musyrik menetapkan tauhid rububiyyah. Demikian pula dalam surah Yunus, “Katakanlah, siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan mengatakan, Allah.” (QS. Yunus: 31). 
Jadi, orang-orang musyrik itu menetapkan perkara tauhid rububiyyah ini.
Sehingga, tauhid itu bukan merupakan tauhid rububiyyah sebagaimana pendapat ulama ahli kalam dan cendekiawan menurut keyakinan mereka. Mereka menetapkan bahwa tauhid adalah pengakuan bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan saja. Mereka mengatakan, “(Allah itu) esa dzatNya tidak ada pembagian dalam dzatNya, esa sifat-sifatNya tidak ada yang menyerupaiNya, esa dalam perbuatan-perbuatanNya tidak ada sekutu baginya.” Ini adalah tauhid rububiyyah. Silakan merujuk kepada kitab manapun dari kitab-kitab ulama ahli kalam. 
Engkau akan mendapati pemahaman tauhid mereka tidak keluar dari tauhid rububiyyah saja. Padahal bukan tauhid ini yang Allah utus para rasul dengannya. Menetapkan tauhid ini saja tidak bermanfaat baginya karena tauhid rububiyyah ini diakui oleh orang-orang musyrik dan tokoh-tokoh kafir. Akan tetapi hal tersebut tidak mengeluarkan mereka dari kekafiran dan tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam. Jadi, ini merupakan kesalahan yang fatal. 
Barangsiapa yang meyakini dengan keyakinan ini tidak lebih baik daripada keyakinan Abu Jahl atau Abu Lahab. Sehingga, apa yang ada pada sebagian orang yang berpendidikan sekarang ini berupa penetapan tauhid rububiyyah saja dan tidak sampai mengarah kepada tauhid uluhiyyah, maka ini adalah kekeliruan besar di dalam definisi tauhid.

والله أعلمُ بالـصـواب


Source :  Syarh Al-Qawa’idul Arba’ pdf




[ UIC 4.2 ] Belajar Aqidah 47 – Syarh Al-Qawa’idul Arba’ 02

Syarh Al-Qawa’idul Arba’ – Syaikh Shalih Al-Fauzan : Pendahuluan 02

“Sehingga, jika engkau mengetahui bahwa Allah menciptakan engkau agar engkau beribadah kepadaNya”, yakni: Jika engkau telah mengetahui ayat ini, yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) 
Dan engkau termasuk dari jenis manusia yang masuk ke dalam ayat ini dan engkau telah mengetahui bahwa Allah tidak menciptakan engkau sia-sia, Allah tidak menciptakan engkau agar engkau makan dan minum saja, engkau hidup di dunia ini kemudian bebas lagi sombong. Allah tidak menciptakan engkau untuk tujuan ini. Allah menciptakan engkau untuk beribadah kepadaNya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini Allah tundukkan untuk engkau hanya agar dapat membantumu untuk beribadah kepadaNya, karena sungguh engkau tidak bisa hidup kecuali dengannya. Dan engkau tidak bisa sampai kepada tujuan beribadah kepada Allah kecuali dengannya. 
Allah tundukkan ia untukmu agar engkau menyembahNya, bukan agar engkau berbangga dengannya, lalu engkau bebas, sombong, berbuat fasik dan fajir. Engkau makan dan minum semaumu sendiri. Yang demikian itu adalah keadaannya binatang ternak. Adapun manusia, maka Allah jalla wa ‘ala menciptakan mereka untuk tujuan dan hikmah yang sangat agung, yaitu ibadah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menginginkan sedikit pun rezeki dari mereka.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57).
Allah tidak menciptakanmu agar engkau memberi nafkah kepadaNya, bekerja, dan mengumpulkan harta untukNya. Seperti yang dilakukan sebagian manusia kepada sebagian yang lain. Mereka menjadikan para pekerja yang mengumpulkan penghasilan untuk mereka. Bukan untuk itu. Allah maha kaya dari hal tersebut dan Allah maha kaya dari alam semesta. Oleh karenanya, Allah berfirman yang artinya, “Aku tidak menginginkan sedikit pun rezeki dari mereka dan Aku tidak ingin agar mereka memberiKu makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 57). 
Allah jalla wa ‘ala yang memberi makan dan tidak diberi makan, Dia tidak butuh makanan, dan Allah jalla wa ‘ala adalah Dzat yang maha kaya. Allah tidak butuh pula kepada ibadahmu. Seandainya engkau kafir, engkau tidaklah mengurangi kerajaan Allah. Bahkan engkau lah yang butuh kepadaNya. Engkau yang butuh kepada ibadah. Sehingga, termasuk rahmat Allah adalah bahwa Dia memerintahkan engkau beribadah kepadaNya untuk kemaslahatanmu sendiri. 
Karena jika engkau menyembahNya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Jadi ibadah adalah sebab pemuliaan Allah kepadamu di dunia dan akhirat. Jadi, siapakah yang sesungguhnya mendapatkan faidah dari ibadah? Pihak yang mendapatkan faidah ibadah adalah hamba itu sendiri. Sedangkan Allah jalla wa ‘ala tidak membutuhkan makhlukNya.
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa ibadah itu tidak bisa dinamakan ibadah kecuali disertai tauhid. Sebagaimana shalat itu tidak bisa dinamakan shalat kecuali disertai bersuci.”
Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: Jika engkau telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk ibadah kepadaNya, maka sungguh ibadah itu tidak menjadi ibadah yang benar yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai, kecuali jika dua syarat terpenuhi padanya. Jika satu syarat tidak terpenuhi, maka ibadah tersebut batal.
Syarat pertama: Ibadah itu ikhlas mengharap wajah Allah, tidak ada sedikitpun syirik pada ibadah itu. Sehingga, jika syirik mencampuri ibadah itu, maka menjadi batal. Seperti bersuci. Jika hadats mencampurinya, maka kesuciannya batal. Seperti itu pula jika engkau menyembah Allah kemudian engkau sekutukan Dia, maka ibadahmu batal. Ini syarat pertama.
Syarat kedua: Mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, ibadah apa saja yang Rasulullah tidak contohkan, maka amalan ibadah tersebut bathil dan tertolak. Karena itu merupakan bid’ah dan keyakinan yang rusak. Atas hal inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka amalan itu tertolak.” 
Dalam riwayat lain, “Barangsiapa mengada-adakan -pada urusan agama kita ini- sesuatu yang tidak termasuk darinya, maka ia tertolak.” Maka, ibadah itu harus sesuai dengan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Ibadah itu bukan berdasarkan anggapan baik, niatan baik, dan tujuan baik manusia. Selama amalan itu tidak ditunjukkan oleh satu dalil syar’i, maka ia adalah bid’ah dan tidak dapat memberi manfaat kepada pelakunya. Bahkan ia memudharatkannya, karena itu merupakan kemaksiatan meskipun ia menyangka bahwa amalan itu dapat mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla.
Jadi, ibadah itu harus ada dua syarat ini: ikhlas dan mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga jadilah ibadah tersebut benar lagi bermanfaat bagi pelakunya. Jika syirik mencampurinya, maka ibadah itu batal. Dan jika ibadah itu diada-adakan, tidak ada satu dalil pun padanya, maka ibadah itu pun bathil. Tanpa dua syarat ini, ibadah itu tidak ada faidahnya, karena amalan ibadah itu tidak di atas syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Allah tidak menerima kecuali apa yang telah Dia syariatkan di dalam KitabNya atau melalui lisan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sehingga, tidak ada di sana satu pun makhlukNya yang wajib diikuti kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain Rasul, maka ia diikuti dan ditaati jika ia mengikuti Rasul. Adapun bila ia menyelisihi Rasul, maka tidak ada ketaatan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri kalian.” (QS. An-Nisa`: 59). 
Dan ulil amri adalah para pemimpin dan ulama. Sehingga, jika mereka mentaati Allah, maka wajib mentaati mereka dan mengikuti mereka. Adapun apabila mereka menyelisihi perintah Allah, maka tidak boleh mentaati mereka dan tidak boleh mengikuti mereka pada perkara yang mereka selisihi. Karena di sana tidak ada seorang pun yang ditaati secara tersendiri dari kalangan makhluk kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain beliau, maka ditaati dan diikuti jika ia mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti Rasul. Inilah ibadah yang benar.
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: Jika engkau telah mengetahui bahwa syirik apabila mencampuri ibadah akan merusaknya dan menghapus amal ibadah serta pelakunya akan menjadi orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka engkau mengetahui bahwa perkara terpenting yang wajib atasmu adalah mengenali hal itu. Semoga Allah menyelamatkanmu dari jerat ini, yaitu menyekutukan Allah. Yaitu, yang Allah ta’ala berfirman tentangnya, yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan Allah dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). 
Dan perkara tauhid dan syirik itu dikenali dengan cara mengenali empat kaidah yang telah Allah ta’ala sebutkan di dalam KitabNya: 
Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Jika engkau telah mengetahui bahwa syirik apabila mencampuri ibadah akan merusaknya dan menghapus amal ibadah serta pelakunya akan menjadi orang-orang yang kekal di dalam neraka…” maknanya adalah selama engkau telah mengetahui tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah, maka wajib pula atasmu untuk mengetahui apa itu syirik. 
Karena orang yang tidak mengetahui sesuatu dapat jatuh ke dalamnya. Sehingga engkau harus mengetahui jenis-jenis syirik untuk menjauhinya. Karena sungguh Allah telah memperingatkan dari syirik dan berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan Allah dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). 
Maka, inilah syirik dan inilah bahayanya, yaitu bahwa syirik dapat menyebabkan pelakunya diharamkan dari surga. “Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah, maka sungguh Allah telah haramkan surga untuknya.” (QS. Al-Maidah: 72). Dan syirik menyebabkan pelakunya diharamkan dari ampunan, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan Allah.” (QS. An-Nisa`: 48).

والله أعلمُ بالـصـواب


Source :  Syarh Al-Qawa’idul Arba’ pdf





[ UIC 4.2] Belajar Aqidah 46 – Syarh Al-Qawa’idul Arba’ 01

Syarh Al-Qawa’idul Arba’ – Syaikh Shalih Al-Fauzan : Pendahuluan 01

Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb ‘arsy yang agung, agar Dia melindungi engkau di dunia dan akhirat. Dan agar Dia menjadikan engkau diberkahi di manapun engkau berada, dan agar menjadikan engkau menjadi seseorang yang jika diberi lalu dia bersyukur, jika diberi cobaan lalu dia bersabar, dan jika dia berbuat dosa maka dia memohon ampun. Karena ketiga hal ini adalah tanda kebahagiaan seorang hamba.

Ini adalah Al-Qawa’idul Arba’ (empat kaidah) yang telah ditulis oleh Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah.

Ini adalah risalah yang tersendiri. Akan tetapi dia diterbitkan bersama dengan Tsalatsatul Ushul dikarenakan kebutuhan untuk bisa sampai di hadapan para penuntut ilmu.

Al-Qawa’id adalah bentuk jamak dari qa’idah. Yaitu pondasi yang bercabang darinya banyak permasalahan atau cabang-cabang.

Kandungan keempat kaidah yang disebutkan oleh Syaikh di sini adalah mengenal tauhid dan syirik. Apa kaidah dalam masalah tauhid? Apa kaidah dalam perkara syirik? Karena banyak orang yang serampangan dalam dua perkara ini. Mereka seenaknya sendiri dalam memaknai apa tauhid dan syirik tersebut. Setiap orang menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsunya.

Bahkan yang wajib bagi kita dalam meletakkan kaidah adalah dengan mengembalikan kepada kitab dan sunnah agar peletakan kaidah ini benar dan selamat diambil dari kitab Allah dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi dalam dua perkara yang besar ini, yaitu tauhid dan syirik.

Syaikh rahimahullah tidak menyebutkan kaidah ini dari pendapat atau pemikiran beliau sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang yang serampangan itu. Beliau mengambil kaidah-kaidah ini hanya dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta perjalanan hidup beliau.

Maka, jika engkau telah mengetahui kaidah-kaidah ini dan memahaminya, akan mudah bagimu setelah itu untuk mengenali tauhid yang dengannya lah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitabNya; dan untuk mengenali syirik yang Allah telah peringatkan darinya dan Allah telah jelaskan bahayanya di dunia dan akhirat.

Ini adalah perkara yang sangat penting. Bahkan lebih penting bagimu daripada mengetahui hukum-hukum shalat, zakat, ibadah, dan seluruh perkara agama. Karena ini adalah perkara yang paling pertama dan mendasar. Karena shalat, zakat, haji, dan ibadah lainnya tidak sah apabila tidak dibangun di atas pondasi akidah yang benar, yaitu tauhid yang murni untuk Allah ‘azza wa jalla.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah telah memulai empat kaidah ini dengan pendahuluan yang agung. Di dalamnya ada doa untuk para penuntut ilmu dan peringatan terhadap apa yang hendak beliau sampaikan. Yaitu, ketika beliau menyebutkan: Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb ‘arsy yang agung, agar Dia melindungi engkau di dunia dan akhirat.

Dan agar Dia menjadikan engkau diberkahi di manapun engkau berada, dan agar menjadikan engkau menjadi seseorang yang jika diberi lalu dia bersyukur, jika diberi cobaan lalu dia bersabar, dan jika dia berbuat dosa maka dia memohon ampun. Karena ketiga hal ini adalah tanda kebahagiaan seorang hamba.

Ini adalah pendahuluan yang sangat agung. Di dalamnya ada doa dari Syaikh rahimahullah untuk setiap penuntut ilmu yang sedang mempelajari akidahnya dalam rangka menginginkan kebenaran dan hendak untuk menjauh dari kesesatan dan kesyirikan. Karenanya, ia pantas untuk mendapat perlindungan Allah di dunia dan akhirat.

Jika Allah telah melindunginya di dunia dan akhirat, maka tidak ada jalan bagi hal-hal yang tidak disukai untuk sampai kepadanya. Tidak pada agamanya, tidak pula pada dunianya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan…” (QS. Al-Baqarah: 257). Dan jika Allah telah melindungimu, maka dia akan mengeluarkan engkau dari segala kegelapan. Dari kegelapan syirik, kekufuran, keragu-raguan, dan penentangan menuju cahaya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal shalih. “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.” (QS. Muhammad: 11).

Dan jika Allah telah melindungimu dengan pemeliharaanNya, taufiqNya, dan hidayahNya di dunia dan akhirat, maka sungguh engkau akan berbahagia dengan kebahagiaan yang tidak ada kepedihan setelahnya selama-lamanya. Di dunia, Allah akan melindungimu dengan hidayah, taufik, dan perjalanan di atas metode yang selamat. Dan di akhirat, Allah akan melindungimu dengan memasukkan engkau ke dalam surgaNya, kekal dan dikekalkan. Di dalamnya tidak ada sedikitpun ketakutan, sakit, kepedihan, ketuaan, dan tidak ada pula perkara yang tidak disukai. Inilah perlindungan Allah bagi hambaNya yang beriman di dunia dan akhirat.

Beliau berkata, “Dan agar menjadikan engkau diberkahi di manapun engkau berada.” Jika Allah menjadikanmu diberkahi di mana saja engkau berada, maka ini adalah puncak cita-cita. Allah menjadikan umurmu berkah, rezekimu berkah, ilmumu berkah, amalanmu berkah, dan keturunanmu berkah. Di mana saja engkau, berkah menyertaimu ke mana saja engkau pergi. Ini adalah kebaikan yang sangat agung dan karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Dan agar menjadikan engkau termasuk orang yang bila diberi, maka ia bersyukur.” Berbeda dengan orang yang jika diberi, lalu ia mengingkari kenikmatan itu dan menentangnya. Karena sungguh banyak manusia jika mereka diberi kenikmatan, mereka mengkufurinya dan mengingkarinya. Dan mereka menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Sehingga jadilah menjadi sebab kepada kecelakaan mereka. Adapun orang yang bersyukur, maka Allah sungguh akan menambah kepadanya. “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb kalian memaklumkan: Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian…” (QS. Ibrahim: 7).

Dan Allah jalla wa ‘ala menambah karuniaNya dan kebaikanNya kepada orang-orang yang bersyukur. Sehingga jika engkau ingin tambahan nikmat, maka bersyukurlah kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan jika engkau ingin kenikmatan itu hilang, maka ingkarilah kenikmatan itu.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Dan bila ia diberi cobaan, maka ia sabar.” Allah jalla wa ‘ala memberi cobaan kepada para hamba. Dia menguji mereka dengan musibah-musibah, dengan perkara yang tidak disukai, dengan musuh-musuh dari kalangan orang kafir dan munafik. Sehingga mereka butuh untuk bersabar, tidak pesimis, dan tidak putus asa dari rahmat Allah.

Dan mereka tetap kokoh di atas agama mereka. Mereka tidak menjauh dari agama bersama fitnah-fitnah atau pasrah terhadap ujian-ujian. Bahkan mereka tetap kokoh di atas agama mereka dan sabar terhadap penderitaan berupa keletihan-keletihan di jalan agama itu. Beda dengan orang yang jika diberi cobaan, dia tidak sabar, marah, dan putus asa dari rahmat Allah ‘azza wa jalla. Justru ini adalah cobaan yang ditambah di atas cobaan dan musibah di atas musibah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka ia akan memberi cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha, maka ridha Allah baginya dan barangsiapa marah, maka kemurkaan Allah untuknya.”

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi kemudian yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka.” Para rasul diberi cobaan, para shiddiqun diberi cobaan, para syuhada diberi cobaan, dan orang-orang mukmin pun diberi cobaan. Namun mereka bersabar. Adapun orang munafik, maka sungguh Allah telah berfirman mengenai mereka yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;” Yakni di pinggiran. “maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11).

Jadi, dunia itu tidak selamanya nikmat, mewah, lezat, bahagia, dan ditolong. Tidak selamanya seperti itu. Allah menggilirnya di antara para hamba. Para sahabat itu adalah seutama-utama umat. Ternyata terjadi pada mereka cobaan-cobaan dan ujian-ujian. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Itulah hari-hari yang Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140). Sehingga, hendaklah seorang hamba menenangkan jiwanya. Bahwa apabila dia diberi cobaan, sesungguhnya itu tidak hanya terjadi pada dirinya saja. Bahkan cobaan itu dahulu sudah menimpa para wali Allah. Maka hendaknya dia tenangkan jiwanya, sabar, dan menunggu kelapangan dari Allah ta’ala. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Dan apabila ia berbuat dosa, maka ia pun memohon ampun kepada Allah.” Adapun orang yang berbuat dosa lalu tidak meminta ampun, malah menambah dosa-dosa, maka ia celaka –wal ‘iyadzu billah-. Akan tetapi seorang yang beriman itu apabila muncul dosa dari dirinya, ia segera bertaubat. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?” (QS. Ali ‘Imran: 135).

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera.” (QS. An-Nisa`: 17).

Makna kejahilan bukanlah tidak adanya ilmu, karena orang yang tidak mengetahui ilmu itu tidak disiksa. Akan tetapi kejahilan di sini adalah tidak adanya penguasaan diri. Setiap orang yang bermakisat kepada Allah maka ia jahil yang bermakna kurang penguasaan diri, kurang akal, dan kurang peri kemanusiaannya. Terkadang seorang itu berilmu, akan tetapi ia jahil dari sisi yang lain. Dari sisi bahwa ia tidak memiliki penguasaan diri dan kekokohan di dalam beberapa perkara. “Kemudian mereka bertaubat dengan segera” yakni setiap mereka berbuat dosa, lantas mereka memohon ampun.

Tidak ada seorang pun yang ma’shum (terjaga) dari perbatan dosa. Akan tetapi, segala puji bagi Allah, bahwa Allah membuka pintu taubat. Maka, wajib bagi hamba jika ia berbuat dosa untuk segera bertaubat. Namun, apabila hamba itu tidak bertaubat dan tidak memohon ampun, maka ini adalah tanda kecelakaan baginya. Kemudian terkadang ia berputus asa dari rahmat Allah, lalu setan mendatanginya seraya mengatakan padanya: Tidak ada taubat untukmu.

Inilah ketiga perkara itu, yaitu: Jika ia diberi, ia bersyukur. Jika ia diberi cobaan, ia bersabar. Dan apabila ia berbuat dosa, lantas ia meminta ampun. Inilah tanda kebahagian. Barangsiapa yang diberi taufik oleh Allah di dalam tiga perkara ini, niscaya ia akan meraih kebahagiaan. Adapun orang yang dihalangi dari perkara tersebut atau sebagiannya, maka ia celaka.

Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk mentaatiNya, bahwa agama yang lurus -agama Ibrahim- adalah bahwa engkau menyembah Allah saja dengan mengikhlaskan agama ini untukNya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

“Ketahuilah, semoga Allah membimbing engkau” ini adalah doa dari Syaikh rahimahullah. Dan demikianlah selayaknya bagi pengajar untuk mendoakan kebaikan untuk para pelajar. Dan taat kepada Allah maknanya adalah melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

“Bahwa al-hanifiyyah adalah agama Ibrahim”, Allah jalla wa ‘ala memerintahkan Nabi kita untuk mengikuti agama Ibrahim, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti agama Ibrahim yang lurus dan tidaklah Ibrahim termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123).

Al-hanifiyyah adalah agama al-hanif dan beliau adalah Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam. Al-hanif adalah yang menghadap kepada Allah dan berpaling dari selainNya. Inilah makna al-hanif, yaitu: yang menghadap kepada Allah dengan hatinya, amalan-amalannya, niat-niatnya, dan tujuan-tujuannya. Seluruhnya untuk Allah. Dan berpaling dari selain Dia. Dan Allah telah memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrahim, “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tua kalian Ibrahim.” (QS. Al-Hajj: 78).

Agama Ibrahim adalah agar engkau beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama ini untukNya. Inilah al-hanifiyyah. Tidak cukup untuk dikatakan “agar engkau menyembah Allah” saja, namun harus dengan menambahkan perkataan “dengan mengikhlaskan agama ini untukNya”. Yakni: engkau juga harus menjauhi kesyirikan, karena sesungguhnya jika kesyirikan mencampuri ibadah, maka akan membatalkannya. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai ibadah kecuali jika selamat dari kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini dengan hanif.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Hunafa` adalah bentuk jamak dari hanif, yaitu: ikhlas untuk Allah ‘azza wa jalla.
Ibadah inilah yang Allah perintahkan seluruh makhluk untuk melakukannya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dan makna beribadah kepadaKu adalah mengesakanKu dalam ibadah. Jadi, hikmah dari penciptaan makhluk adalah agar mereka menyembah Allah ‘azza wa jalla dengan mengikhlaskan agama untukNya. Memang, sebagian mereka ada yang melaksanakannya dan ada yang tidak melaksanakannya. Akan tetapi inilah hakikat hikmah penciptaan mereka. Sehingga, orang yang beribadah kepada selain Allah, maka orang ini hakikatnya menyelisihi hikmah penciptaan makhluk dan menyelisihi perintah dan syariat.

Ibrahim adalah bapak para nabi yang datang setelah beliau. Mereka seluruhnya termasuk keturunan beliau. Oleh karena inilah, Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Dan telah Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya.” (QS. Al-Ankabut: 27).

Mereka seluruhnya dari Bani Israil –cucu Ibrahim ‘alaihis salam-, kecuali Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau dari keturunan Isma’il. Jadi, setiap nabi dari anak-anak Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam sebagai kemuliaan bagi beliau.

Allah telah menjadikan beliau sebagai pemimpin manusia. Yakni, teladan. “Allah berkata, sesungguhnya Aku menjadikan seorang pemimpin bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124), yaitu: teladan. “Sesungguhnya Ibrahim adalah ummah.” (QS. An-Nahl: 120) yaitu: pemimpin yang dicontoh. Untuk perkara itulah Allah memerintahkan seluruh makhluk.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Maka, Ibrahim pun menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla sebagaimana para nabi yang lain. Seluruh para nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh telah Kami utus seorang rasul pada setiap umat, agar (menyeru) beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36).

Adapun syariat yang merupakan perintah, larangan, dan halal haram, maka syariat ini berbeda-beda dengan berbedanya umat-umat sesuai kebutuhan. Allah menetapkan suatu syariat kemudian menghapusnya dengan syariat lain. Hingga syariat Islam datang. Maka syariat Islam ini menghapus seluruh syariat-syariat sebelumnya. Dan tetaplah syariat Islam ini sampai hari kiamat tiba. Adapun pokok agama para nabi –yaitu tauhid-, maka tidak dihapus dan tidak akan dihapus. Agama mereka satu yaitu agama Islam dengan makna ikhlas kepada Allah dengan mentauhidkanNya.

Adapun syariat tiap umat memang berbeda-beda dan dihapus. Akan tetapi tauhid dan akidah dari Nabi Adam sampai nabi terakhir semuanya mengajak kepada tauhid dan kepada menyembah Allah. Dan ibadah kepada Allah adalah mentaatiNya dengan apa yang telah Dia perintahkan dalam syariat, kapan pun itu. Namun, apabila syariat itu telah dihapus, maka mengamalkan syariat yang menghapus adalah ibadah. Adapun mengamalkan syariat yang telah dihapus bukan merupakan ibadah kepada Allah.

Sehingga, jika engkau telah mengetahui bahwa Allah menciptakan engkau untuk beribadah kepadaNya, maka ketahuilah, bahwa ibadah itu tidak dinamakan ibadah kecuali bersama tauhid. Sebagaimana bahwa shalat tidak dinamakan shalat kecuali bersama thaharah. Jika syirik masuk ke dalam ibadah, ia akan merusaknya. Seperti halnya hadats apabila masuk ke dalam thaharah.


والله أعلمُ بالـصـواب


Source :  Syarh Al-Qawa’idul Arba’ pdf




Fatwa 03 – HAKEKAT WISATA DALAM ISLAM, HUKUM DAN MACAM-MACAMNYA

 Saya memohon anda menjelaskan informasi yang penting dan menyeluruh tentang wisata islami. Apa yang dimaksud wisata dalam Islam? Apa ketentuan wisata dalam Islam? Bagaimana menyelenggarakan wisata Islam? Bagaimana suatu negara itu dikakatan sebagai tujuan wisata islami? Dan apa program wisata islami? Kami ucapkan banyak terima kasih

Alhamdulillah
Kata Wisata menurut bahasa mengandung arti yang banyak. Akan tetapi dalam istilah yang dikenal sekarang lebih dikhususkan pada sebagian makna itu. Yaitu, yang menunjukkan berjalan-jalan ke suatu negara untuk rekreasi atau untuk melihat-lihat, mencari dan menyaksikan (sesuatu) atau semisal itu. Bukan untuk mengais (rezki), bekerja dan menetap. Silakan lihat kitab Al-Mu’jam Al-Wasith, 469.

Berbicara tentang wisata menurut pandangan Islam, maka harus ada pembagian berikut ini,
Pertama: Pengertian wisata dalam Islam.

Islam datang untuk merubah banyak pemahaman keliru yang dibawa oleh akal manusia yang pendek, kemudian mengaitkan dengan nilai-nilai dan akhlak yang mulia. Wisata dalam pemahaman sebagian umat terdahulu dikaitkan dengan upaya menyiksa diri dan mengharuskannya untuk berjalan di muka bumi, serta membuat badan letih sebagai hukuman baginya atau zuhud dalam dunianya. Islam datang untuk menghapuskan pemahaman negatif yang berlawanan dengan (makna) wisata.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hani dari Ahmad bin Hanbal, beliau ditanya tentang seseorang yang bepergian atau bermukim di suatu kota, mana yang lebih anda sukai? Beliau menjawab: “Wisata tidak ada sedikit pun dalam Islam, tidak juga prilaku para nabi dan orang-orang saleh.” (Talbis Iblis, 340).

Ibnu Rajab mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan mengatakan: “Wisata dengan pemahaman   ini telah dilakukan oleh sekelompok orang yang dikenal suka beribadah dan bersungguh-sungguh    tanpa didasari ilmu. Di antara mereka ada yang kembali ketika mengetahui hal itu.” (Fathul-Bari, karangan Ibnu Rajab, 1/56)

Kamudian Islam datang untuk meninggikan pemahaman wisata dengan mengaitkannya dengan tujuan-tujuan yang mulia. Di antaranya

1. Mengaitkan wisata dengan ibadah, sehingga mengharuskan adanya safar -atau wisata- untuk menunaikan salah satu rukun dalam agama yaitu haji pada bulan-bulan tertentu. Disyariatkan umrah ke Baitullah Ta’ala dalam satahun.

Ketika ada seseorang datang kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam minta izin untuk berwisata dengan pemahaman lama, yaitu safar dengan makna  kerahiban atau sekedar menyiksa diri, Nabi sallallahu alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada maksud yang lebih mulia dan tinggi dari sekedar berwisata dengan mengatakan kepadanya, “Sesunguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Allah.” (HR. Abu Daud, 2486, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud dan dikuatkan sanadnya oleh Al-Iraqi dalam kitab Takhrij Ihya Ulumuddin, no. 2641). Perhatikanlah bagaimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengaitkan wisata yang dianjurkan dengan tujuan yang agung dan mulia.

2. Demikian pula, dalam pemahaman Islam, wisata dikaitkan dengan ilmu dan pengetahuan. Pada permulaan Islam, telah ada perjalanan sangat agung dengan tujuan mencari ilmu dan menyebarkannya. Sampai Al-Khatib Al-Bagdady menulis kitab yang terkenal ‘Ar-Rihlah Fi Tolabil Hadits’, di dalamnya beliau mengumpulkan kisah orang yang melakukan perjalanan hanya untuk mendapatkan dan mencari satu hadits saja.

Di antaranya adalah apa yang diucapkan oleh sebagian tabiin terkait dengan firman Allah Ta’ala:

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, beribadah, memuji, melawat, ruku, sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At-Taubah: 112).

Ikrimah berkata ‘As-Saa’ihuna’ mereka adalah pencari ilmu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim  dalam tafsirnya, 7/429. Silakan lihat Fathul Qadir, 2/408. Meskipun penafsiran yang benar menurut mayoritas ulama salaf bahwa yang dimaksud dengan ‘As-Saaihin’ adalah orang-orang  yang berpuasa.

3. Di antara maksud wisata dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan. Dalam Al-Qur’anulkarim terdapat perintah untuk berjalan di muka bumi di beberapa tempat.  Allah  berfirman: “Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Al-An’am: 11).

Dalam ayat lain, “Katakanlah: ‘Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS. An-Naml: 69).

Al-Qasimi rahimahullah berkata; ”Mereka berjalan dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasehat, pelajaran dan manfaat lainnya.” (Mahasinu At-Ta’wil, 16/225).

4. Mungkin di antara maksud yang paling mulia dari wisata dalam Islam adalah berdakwah kepada Allah Ta’ala, dan menyampaikan kepada manusia cahaya yang diturunkan kepada Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Itulah tugas para Rasul dan para Nabi dan orang-orang setelah mereka dari kalangan para shahabat semoga, Allah meridhai mereka. Para shabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah menyebar ke ujung dunia untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia, mengajak mereka kepada kalimat yang benar. Kami berharap wisata yang ada sekarang mengikuti wisata   yang memiliki tujuan mulia dan agung.

5. Yang terakhir dari pemahaman wisata dalam Islam adalah safar untuk merenungi keindahan   ciptaan Allah Ta’la, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah dan memotivasi menunaikan kewajiabn hidup. Karena refresing jiwa perlu untuk memulai semangat kerja baru. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20)
Kedua: Aturan wisata dalam Islam
Dalam ajaran Islam yang bijaksana terdapat hukum yang mengatur dan mengarahkan agar  wisata tetap menjaga maksud-maksud yang telah disebutkan tadi, jangan sampai keluar melewati  batas, sehingga wisata menjadi sumber keburukan  dan dampak negatif bagi masyarakat. Di antara hukum-hukum itu adalah:
1. Mengharamkan safar dengan maksud mengagungkan tempat tertentu kecuali tiga masjid. Dari  Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu’alai wa sallam bersabda:

“Tidak dibolehkan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah sallallahu’alaihi wa saal dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari, no. 1132, Muslim, no. 1397)

Hadits ini menunjukkan akan haramnya  promosi wisata yang dinamakan Wisata Religi ke  selain tiga masjid, seperti ajakan mengajak wisata ziarah kubur, menyaksikan tempat-tempat   peninggalan kuno, terutama peninggalan yang diagungkan manusia, sehingga mereka terjerumus dalam  berbagai bentuk kesyirikan yang membinasakan. Dalam ajaran Islam tidak ada pengagungan pada tempat tertentu dengan menunaikan ibadah di dalamnya sehingga menjadi tempat yang  diagungkan selain tiga tempat tadi.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Aku pergi  Thur (gunung Tursina di Mesir), kemudian    aku bertemu Ka’b Al-Ahbar, lalu duduk bersamanya, lau beliau menyebutkan hadits yang panjang,  kemudian berkata, “Lalu aku bertemu Bashrah bin Abi Bashrah Al-Ghifary dan berkata, “Dari mana kamu datang?” Aku menjawab, “Dari (gunung) Thur.”  Lalu beliau mengatakan, “Jika aku  menemuimu sebelum engkau keluar ke sana, maka (akan melarang) mu pergi, karena aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jangan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, ke Masjidil Haram, Masjidku ini dan Masjid Iliyya atau Baitul Maqdis.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha, no. 108. Nasa’i, no. 1430, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih An-Nasa’i)

Maka tidak dibolehkan memulai perjalanan menuju tempat suci selain tiga tempat ini. Hal  itu  bukan berarti dilarang mengunjungi masjid-masjid yang ada di negara muslim, karena kunjungan kesana dibolehkan, bahkan dianjurkan. Akan tetapi yang dilarang adalah melakukan safar dengan niat seperti itu.   Kalau ada tujuan lain dalam safar, lalu diikuti dengan berkunjung ke (masjid), maka hal itu tidak mengapa. Bahkan terkadang diharuskan untuk menunaikan jum’at dan shalat berjamaah. Yang keharamannya lebih berat adalah apabila kunjungannya ke tempat-tempat suci agama lain. Seperti pergi mengunjungi Vatikan atau patung Budha atau  lainnya yang serupa.

2. Ada juga dalil yang mengharamkan wisata seorang muslim ke negara kafir secara umum. Karena berdampak buruk terhadap agama dan akhlak seorang muslim, akibat bercampur dengan kaum yang tidak mengindahkan agama dan akhlak. Khususnya apab ila tidak ada keperluan dalam  safar  tersebut seperti untuk berobat, berdagang atau semisalnya, kecuali Cuma sekedar bersenang senang dan rekreasi. Sesungguhnya Allah telah menjadikan negara muslim memiliki   keindahan penciptaan-Nya, sehingga tidak perlu pergi ke negara orang kafir.

Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizahullah berkata: “Tidak boleh Safar ke negara kafir, karena ada kekhawatiran terhadap akidah, akhlak, akibat bercampur dan menetap di tengah  orang kafir  di antara mereka. Akan tetapi kalau ada keperluan mendesak dan tujuan yang benar untuk safar ke negara mereka seperti safar untuk berobat yang tidak ada di negaranya atau safar untuk belajar yang tidak didapatkan di negara muslim atau safar untuk berdagang, kesemuanya ini adalah tujuan yang benar, maka dibolehkan safar ke negara kafir dengan syarat menjaga syiar keislaman dan memungkinkan melaksanakan agamanya di negeri mereka. Hendaklah seperlunya, lalu kembali ke negeri Islam. Adapun kalau safarnya hanya untuk wisata, maka tidak dibolehkan. Karena seorang muslim tidak membutuhkan hal itu serta tidak ada manfaat yang sama atau yang lebih kuat dibandingkan dengan bahaya dan kerusakan pada agama dan keyakinan. (Al-Muntaqa Min Fatawa Syekh Al-Fauzan, 2 soal no. 221).

Penegasan tentang masalah ini telah diuraikan dalam situs kami secara terperinci dan  panjang lebar. Silakan lihat soal no. 13342, 8919, 52845.

3. Tidak diragukan lagi bahwa ajaran Islam melarang wisata ke tempat-tempat rusak yang terdapat minuman keras, perzinaan, berbagai kemaksiatan seperti di pinggir    pantai yang bebas dan acara-acara bebas dan tempat-tempat kemaksiatan. Atau juga diharamkan safar untuk mengadakan perayaan bid’ah. Karena seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan maka jangan terjerumus (kedalamnya) dan jangan duduk dengan orang yang melakukan itu.

Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan: “Tidak diperkenankan bepergian ke tempat-tempat kerusakan untuk berwisata. Karena hal itu mengundang bahaya terhadap agama dan akhlak. Karena ajaran Islam datang untuk menutup peluang yang menjerumuskan kepada keburukan.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/332).

Bagaimana dengan wisata yang menganjurkan kemaksiatan dan prilaku tercela, lalu kita ikut  mengatur, mendukung dan menganjurkannya?

Para ulama Al-Lajnah Ad-Daimah juga berkata: “Kalau wisata tersebut mengandung unsur memudahkan melakukan kemaksiatan dan kemunkaran serta mengajak kesana, maka tidak boleh bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir membantu untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah dan menyalahi perintahNya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti yang lebih baik dari itu. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/224).

4. Adapun berkunjung ke bekas peninggalan umat terdahulu dan situs-situs kuno , jika itu adalah  bekas tempat turunnya azab, atau tempat suatu kaum dibinasakan sebab kekufurannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak dibolehkan menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata dan hiburan.

Para Ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, ada di kota Al-Bada di  provinsi Tabuk terdapat peninggalan kuno dan rumah-rumah yang diukir di gunung. Sebagian orang mengatakan bahwa itu adalah tempat tinggal kaum Nabi Syu’aib alaihis salam. Pertanyaannya adalah, apakah ada dalil  bahwa ini adalah tempat tinggal kaum Syu’aib –alaihis salam- atau tidak ada dalil akan hal itu? dan apa hukum mengunjungi tempat purbakala itu bagi orang yang bermaksuk untuk sekedar melihat-lihat dan bagi yang bermaksud mengambil pelajaran dan nasehat?

Mereka menjawab: “Menurut ahli sejarah dikenal bahwa tempat tinggal bangsa Madyan yang  diutus kepada mereka Nabiyullah Syu’aib alaihis shalatu was salam berada di arah barat daya  Jazirah Arab yang sekarang dinamakan Al-Bada dan sekitarnya. Wallahu’alam akan kebenarannya. Jika itu benar, maka tidak diperkenankan berkunjung ke tempat ini dengan tujuan sekedar  melihat-lihat. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam ketika melewati Al-Hijr, yaitu tempat tinggal  bangsa Tsamud (yang dibinasakan) beliau bersabda: “Janganlah  kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi dirinya, khawatir kalian tertimpa seperti yang menimpa mereka,   kecuali kalian dalam kondisi manangis. Lalu beliau menundukkan kepala dan berjalan cepat     sampai melewati sungai.” (HR. Bukhari, no. 3200 dan Muslim, no. 2980).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkomentar ketika menjelaskan manfaat dan hukum yang diambil dari peristiwa perang Tabuk, di antaranya adalah barangsiapa yang melewati di tempat mereka yang Allah murkai dan turunkan azab, tidak sepatutnya dia memasukinya dan menetap di dalamnya, tetapi hendaknya dia mempercepat jalannya dan menutup wajahnya hingga lewat. Tidak boleh memasukinya kecuali dalam kondisi menangis dan mengambil pelajaran. Dengan landasan ini, Nabi sallallahu’alaihi wa sallam menyegerakan jalan di wadi (sungai) Muhassir antara Mina dan Muzdalifah, karena di tempat itu Allah membinasakan pasukan gajah dan orang-orangnya.” (Zadul Ma’ad, 3/560).

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam menjelaskan hadits tadi, “Hal ini mencakup  negeri  Tsamud dan negeri lainnya yang sifatnya sama meskipun sebabnya terkait dengan mereka.” (Fathul Bari, 6/380).

Silakan lihat kumpulan riset Majelis Ulama Saudi Arabia jilid ketiga, paper dengan judul Hukmu   Ihyai Diyar Tsamud (hukum menghidupkan perkampungan Tsamud). Juga silahkan lihat soal jawab no. 20894.

5. Tidak dibolehkan juga wanita bepergian tanpa mahram. Para ulama telah memberikan fatwa haramnya wanita pergi haji atau umrah tanpa mahram. Bagaimana dengan safar untuk wisata yang di dalamnya banyak tasahul (mempermudah masalah) dan campur baur yang diharamkan? Silakan lihat soal jawab no. 4523, 45917, 69337 dan 3098.

6. Adapun mengatur wisata untuk orang kafir di negara Islam, asalnya dibolehkan. Wisatawan kafir kalau diizinkan oleh pemerintahan Islam untuk masuk maka diberi keamanan sampai keluar. Akan tetapi keberadaannya di negara Islam harus terikat dan menghormati agama Islam, akhlak umat Islam dan kebudayaannya. Dia pun di larang mendakwahkan agamanya dan tidak menuduh Islam dengan batil. Mereka juga tidak boleh keluar kecuali dengan penampilan sopan dan memakai pakaian yang sesuai untuk negara Islam, bukan dengan pakaian yang biasa dia pakai di negaranya dengan terbuka dan tanpa baju. Mereka juga bukan sebagai mata-mata atau spionase untuk negaranya. Yang terakhir tidak diperbolehkan berkunjung ke dua tempat suci; Mekkah dan Madinah.

Ketiga:Tidak tersembunyi bagi siapa pun bahwa dunia wisata sekarang lebih dominan dengan kemaksiatan, segala perbuatan buruk dan melanggar yang diharamkan, baik sengaja bersolek diri, telanjang di tempat-tempat umum, bercampur baur yang bebas, meminum khamar, memasarkan kebejatan, menyerupai orang kafir, mengambil kebiasaan dan akhlaknya bahkan sampai penyakit mereka  yang  berbahaya. Belum lagi, menghamburkan uang yang banyak dan waktu serta kesungguhan. Semua itu dibungkus dengan nama wisata. Maka ingatlah bagi yang mempunyai kecemburuan terhadap agama, akhlak dan umatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jangan sampai menjadi penolong untuk mempromosikan wisata fasik ini. Akan tetapi hendaknya memeranginya dan memerangi   ajakan mempromosikannya. Hendaknya bangga dengan agama, wawasan dan akhlaknya. Hal tersebut akan menjadikan negeri kita terpelihara dari segala keburukan dan mendapatkankan pengganti keindahan penciptaan Allah ta’ala di negara islam yang terjaga.

Wallahu’alam .


Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid
محمد صالح المنجد



Penterjemah: www.islamqa.info


Pengaturan: www.islamhouse.com



[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 45 – Syarah Ushuluts Tsalasah 45

Penutup Syarah Ushuluts Tsalasah

Dalilnya firman Allah ta’ala:
“Tidak  ada paksaan  untuk (memasuki)  agama ( Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali  yang amat kuat, yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Ingkar  kepada  semua  thaghut  dan  iman  kepada  Allah saja,  sebagaimana  dinyatakan  dalam  ayat  tadi,  adalah hakikat syahadat “La Ilaha Illallah”
Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pokok agama ini adalah Islam , dan tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah”
Hanya Allahlah yang Maha Tahu. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Tidak ada paksaaan dalam memeluk Islam]
Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Islam), karena telah tampak jelas dan gamblang dalil atau buktinya. Karena itulah, selanjutnya Alloh mengatakan,
“Sesungguhnya telah jelas kebenaran dari kesesatan”
Jika kebenaran itu telah jelas dari kesesatan, maka setiap jiwa yang sehat pasti memilih kebenaran ketimbang kesesatan.
[Barangsiapa yang kufur kepada taghut dan beriman kepada Allah …]
Alloh ‘azza wa jalla sengaja mendahulukan penyebutan kufur kepada thaghut sebelum penyebutan iman kepada Alloh, karena diantara kesempurnaan sesuatu adalah dihilangkanya berbagai penghalang sebelum adanya ketetapan-ketetapan. Oleh karena itu, dalam pepatah dikatakan, “Mengosongkan dahulu sebelum menghiasi”.
[Maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang kuat]
Yaitu, benar-benar berpegang teguh dengannya secara sempurna. Sedangkan yang dimaksud dengan al-‘urwatul-wutsqa’, ‘tali yang kuat’ adalah Islam. Perhatikanfirman Allah “Faqod istamsaka” (Benar-benar telah berpegang teguh), bukan sekedar mengatakan, “Tamassaka” karena istimsak artinya (berpegangan erat, berpegang teguh) itu lebih kuat daripada tamassuk (memegang). Karena adakalanya seseorang itu memegang namun tidak berpegangan erat.
[Pokok segala urusan adalah Islam]
Penulis rahimahullah mengambil dalil berdasarkan hadits ini dengan maksud segala sesuatu itu mempunyai “kepala”; dan kepala (pokok) segala urusan yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wassalam adalah Islam.
[Tiangnya adalah shalat]
Karena Islam tidak bisa berdiri kecuali dengan sholat. Karena itu, pendapat yang kuat adalah yang menyatakan tentang kufurnya orang yang meninggalkan sholat, dan bahwasanya ia tidak punya kelslaman.
[Puncaknya adalah jihad]
Maksudnya, bagian Islam yang paling tinggi dan paling sempurna adalah jihad fi sabilillah. Karena manusia itu jika telah memperbaiki (mengishlah) dirinya, maka ia akan berusaha mengishlah orang lain dengan jihad fi sabilillah agar Islam itu berdiri tegak dan agar kalimat Alloh saja yang tinggi, maka dia fi sabilillah (berada di jalan Alloh). Jihad itu menjadi ‘puncak punuk’-nya Islam karena dengan jihad itulah Islam menjadi tinggi di atas yang lainnya.
[Penutup]
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah menutup kitabnya ini dengan mengembalikan ilmu kepada Alloh ‘azza wa jalla dan dengan memohonkan sholawat dan salam atas Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Dengan ini, selesailah sudah kajian tentang Al-Ushulu Ats-Tsalatsah serta hal-hal yang terkait dengannya. 
Kita memohon kepada Alloh Ta’ala agar berkenan memberikan pahala yang terbaik kepada penulis buku ini, dan juga berkenan memeruntukkan kepada kita bagian dari pahala tersebut serta mengumpulkan kita dan beliau di negeri kemurahan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Pemurah.
Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam. Semoga Alloh mencurahkan sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam.

والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 44 – Syarah Ushuluts Tsalasah 44

Dedengkot-dedengkot Thaghut

Thaghut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima:

1. Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah,

2. Orang yang disembah, sedang ia sendiri rela,

3. Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.

4. Orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghaib.

5. Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah.

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Dedengkot Taghut: Iblis]

Iblis adalah setan yang ‘terajam’dan terlaknat, yang terhadapnya Alloh berfirman:

“Sesunguhnya laknat-Ku tetap atasmu hinga Hari Pembalasaa” (Shaad: 78)

Dahulunya, iblis itu bersahabat dengan para malalkat dan melakukan perbuatan yang dilakukan oleh para malaikat. Namun ketika iblis mendapat perintah untuk sujud kepada Adam ‘alahissalam, tampaklah bahwa pada dirinya terdapat sifat busuk, enggan (durhaka), dan takabur. Karena ternyata ia enggan (untuk sujud) dan takabur, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir, akhirnya ia terusir dari rahmat Allah Ta’ala, Allah berfirman,

‘Ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat (yang di situ terdapat pula iblis), ‘Sujudlah kalian kepada Adam!’ Maka bersujudlah mereka, kecuali iblis. Ia enggan dan takabur, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir’”(Al-Baqarah: 34).

[Dedengkot Taghut: Orang yang disembah, sedangkan ia rela]

Yaitu orang yang diibadahi (disembah) selain Alloh, sedangkan ia rela untuk disembah selain Allah. Ia termasuk salah satu dari dedengkot thaghut -wal ‘iyadzu billah- entah ia disembah semasa hidupnya ataupun sepeninggalnya jika ia mati dalam keadaan rela akan hal itu.

[Dedengkot Taghut: Orang yang mengajak manusia untuk mengibadahinya] Yaitu orang yang-menyeru atau mengajak manusia untuk mengibadahi dirinya, sekalipun mereka tidak mengibadahinya. Orang seperti ini termasuk salah satu dedengkot thaghut; entah seruannya tersebut mendapat sambutan ataupun tidak.

[Dedengkot Taghut: Orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib]

Gaib adalah sesuatu yang tersembunyi dari jangkauan manusia. Gaib ini ada dua macam; yang sudah terjadi dan yang akan datang. Gaib yang sudah terjadi ini sifatnya nisbi (relatif), jadi bagi seseorang merupakan sesuatu yang maklum (dapat diketahui), namun bagi orang lain merupakan sesuatu yang majhul (tidak dapat diketahui). Sedangkan gaib tentang masa yang akan datang itu bersifat hakiki, yang tidak dapat dikeiahui oleh seseorang, kecuali hanya oleh Alloh, atau oleh rosul-rosul yang memang telah diberitahu oleh-Nya. Maka siapa saja yang mengaku mengetahuinya, maka ia berarti kafir, karena ia mendustakan Allah dan Rosul-Nya. Alloh ta’ala, berfrman,

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorangpun di langit ataupan di bumi yang mengetahai perkara gaib kecuali Allah’. Dan mereka tidak mengetabui bilamana mereka dibangkitkan (An-Naml: 65)

Bila Alloh ‘azza wa jalla telah memerintahkan Nabi-Nya,

Muhammad shallallahu’alaihi wassalam untuk mengumumkan kepada khalayak manusia bahwasanya tiada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Alloh saja. Maka barangsiapa mengaku mengtahui perkara gaib, berarti ia telah mendustakan Alloh ‘azza wa jalla dan juga mendustakan Rosul-Nya mengenai pemberitaan ini.

Kami tanyakan kepada mereka itu, bagaimana mungkin kalian dapat mengetahui perkara gaib, sedangkan Nabi

Muhammad shallallahu’alaihi wassalam saja tidak mengetahurnya?! Apakah kalian ini lebih unggul dari pada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam ataukah Rosululloh yang lebih unggul?Jika mereka menjawab, “Kami lebih unggul (lebih mulia) daripada Rosul”, maka mereka telah menjadi kafir lantaran perkataan ini. Dan jika mereka menjawab bahwa beliau itu lebih unggul, maka kami tanyakan kepada mereka, “Lalu mengapa beliau tidak dapat mengetahui perkara gaib sedangkan kalian mengetahuinya?! Sedangkan Alloh ‘azza wa jalla telah berfirman tentang diri-Nya:

“Dia Maha Mengetahui perkara gaib; maka Dia tidak menampakkan kepada seorang pun tentang perkara gaib itu, kecuali kepada rosul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya” (Al-Jinn: 26-27)

Ini merupakan ayat -selain ayat di atas- yang menunjukkan kafirnya orang yang mengaku mengetahui perkara gaib. Alloh Ta’ala bahkan telah memerintahkan Nabi-Nya agar mengumumkan kepada khalayak manusia melalui firman-Nya, ‘Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Alloh ada padaku; aku tidak mengetahui perkara gaib; dan aku juga tidak mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang telah diwahyukan kepadaku'” (Al-An’am: 50)

[Dedengkot Taghut: Orang yang mengukumi dengan selain hukum Allah]

Berhukum dengan hukum yang telah diturunkan oleh Alloh Ta’ala termasuk bagian dari tauhid rububiyah, karena hal itu merupakan pengejawantahan hukum Alloh yang menjadi tuntutan atau konsekuensi rububiyah-Nya, serta kesempurnaan kerajaan dan pengaturan-Nya. Oleh karena itu, Alloh Ta’ala menamakan orang-orang yang diikuti dalam menjalankan hukum selain hukum yang telah diturunkan oleh Alloh Ta’ala sebagai “tuhan-tuhan” (Robb) bagi orang-orang yang mengikuti mereka. Alloh Ta’ala berfirman :

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rohib-rohib mereka sebagai ‘tuhan-tuhan’ selain Alloh, dan juga mereka mempertuhan Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya diperintah untuk mengibadahi Alloh Yang Maha Tunggal; tiada ilah selain-Nya. Maha suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan” (At-Taubah: 31)

Alloh Ta’ala menamakan para ikutan itu sebagai “ruhan-tuhan”, karena mereka dijadikan sebagai para pensyariat di samping Alloh Ta’ala, dan menamakan para pengikut mereka sebagai “para hamba” (penyembah), karena para pengikut itu tunduk dan taat kepada mereka dalam menyelisihi hukum Alloh Ta’ala.

‘Adi bin Hatim ketika itu bertanya kepada Rosululloh shallallahu ‘alahi wassalam “Sesungguhnya para pengikut itu tidak menyembah mereka?” Maka Rosululloh shallallahu ‘alahi wassalam bersabda:

“Mereka telah mengharamkan terhadap para pengikut itu sesuatu yang halal, serta menghalalkan buat mereka sesuatu yang haram; lalu para pengikut itu pun mengikuti (menaati) mereka. Itulah penyembahan (ibadah) para pengikut ini kepada mereka!” (HR. Tirmidzi dan dihasankannya)

Jika Anda telah memahami hal itu, maka ketahuilah bahwa siapa saja yang tidak menghukumi dengan (hukum) yang telah diturunkan oleh Alloh, dan menghendaki agar berhukum itu adalah kepada selain Alloh dan Rosul-Nya; maka mengenai orang semacam ini terdapat ayat-ayat yang menafikan keimanan dari dirinya serta ayat-ayat yang menyatakan kekufuran, kezholiman dan kefasikannya.

Mengenai bagian yang pertama (ayat-ayat. yang menafikan keimanannya), misalnya adalah firman Alloh Ta’ala,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah:

“Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An – Nisaa: 60-65).

Allah Ta’ala mensifati mereka yang mengaku beriman sedangkan sebenarnya mereka itu munafik, dengan beberapa sifat :

Pertama:

Bahwa mereka menginginkan agar berhukum itu kepada thaghut; yaitu setiap hukum yang menyelisihi hukum Alloh Ta’ala dan hukum Rosul-Nya. Sebab, setiap yang menyelisihi hukum Allah dan Rosul-Nya itu merupakan kezholiman dan perlawanan terhadap hukum Alloh, Dzat pemilik kekuasaan hukum dan hanya kepada-Nya dikembalikan segala urusan. Allah Ta’ala berfirman,

‘Ingatlah, mencipta dan memerintah hanyalah wewenang Allah” (Al-A’raaf: 54)

Kedua:

Ketika mereka diseru untuk tunduk kepada hukum yang telah diturunkan oleh Alloh dan kepada hukum Rosululloh, maka mereka menolak dan berpaling.

Ketiga:

Jika mereka mendapatkan musibah yang sebenarnya disebabkan oleh perbuatan tangan mereka sendiri ,diantaranya tertimpa oleh perbuatan mereka sendiri, maka mereka kemudian datang untuk bersumpah bahwa mereka tidak menginginkan sesuatu melainkan penyelesaian yarrg baik dan perdamaian yang sempurna, seperti pernyataan orang sekarang yang menolak hukum-hukum Islam dan memilih menghukumi dengan aturan-aturan atau undang-undang yang menyelisihi hukum Islam, dengan mengemukakan alasan dan anggapan bahwa hal itu merupakan bentuk penyelesaian terbaik yang sesuai dengan kondisi zaman.

Selanjutnya, Allah Ta’ala memperingatkan mereka yang mengaku beriman namun memiliki sifat-sifat seperti itu, bahwa Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka serta apa saja yang mereka simpan dalam hati, berupa hal-hal yang berbeda dengan yang mereka katakan. Alloh memerintahkan Nabi-Nya agar menasihati mereka dan mengatakan perkataan yang mengena pada jiwa mereka.

Selanjutnya Alloh menjelaskan bahwa hikmah diutusnya Rosul itu adalah agar rosul itu ditaati dan diikuti, bukannya mengikuti manusia lain sekalipun mempunyai pemikiran-pemikiran yang handal dan wawasan yang luas. Setelah itu, Alloh bersumpah dengan rububiyah-Nya terhadap Rosul-Nya yang merupakan bentuk rububiyah yang paling khusus, dan hal itu mengandung isyarat atau petunjuk akan kebenaran risalah Muhammad shallallahu ‘alahi wassalam. Di situ Alloh bersumpah dengan bentuk sumpah yang sangat dikuatkan bahwasanya keimanan itu tidak bisa sah kecuali dengan tiga perkara.

1. Dalam setiap perselisihan yang ada harus berhakim kepada Rosululloh shallallahu ‘alahi wassalam

2. Harus berlapang dada dalam menerima hukum (putusan) Rosululloh, dan di dalam hati tidak terdapat rasa keberatan dalam menerimanya.

3. Harus pasrah atau tunduk dalam menerima apa yang dihukumkan oleh beliau, serta menunaikannya tanpa melakukan penyimpangan.

Untuk bagian yang kedua (tentang ayat-ayat yang menyatakan kekufuran, kezholiman serta kefasikan orang yang tidak meng hukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Alloh) adalah seperti firman Allah Ta’ala:

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al-Maidah: 44)

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim” (Al-Maidah: 45)

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (Al-Maidah: 47)

Apakah ketiga sifat ini ditujukan kepada seorang yang disifati saja; dalam arti bahwa setiap orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang diturunkan oleh Alloh, berarti dia kafr, zholim dan fasik sekaligus? Sebab, Alloh Ta’ala mensifati orang-orang kafir itu dengan sifat zholim dan fasik. Alloh ta’ala berfirman

“..dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dz alim” (Al-Baqarah: 254)

Alloh juga berfirman :

“… sesungguhnya mereka itu telah kafir kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik” (At-Taubah: 84)

Sehingga setiap orang yang kafir itu berarti zholim dan fasik. Atau apakah sifat-sifat ini ditujukan kepada beberapa orang yang disifati sesuai dengan penyebab mereka untuk tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan oleh Alloh? Menurut saya, ini yang lebih bisa diterima (benar). Wallahu a’lam.

Dengan demikian, kami dapat mengatakan, ..Orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan

oleh Alllah karena meremehkannya, atau merendahkannya, atau karena meyakini bahwa hukum lainnya lebih bermaslahat (baik) daripada hukum Alloh, serta lebih bermanfaat bagi umat manusia, atau dengan alasan-alasan lain yang semisal, maka dia berarti kafir dalam bentuk kekufuran yang mengeluarkan dirinya dari agama (murtad).

Di antara kategori mereka itu adalah orang yang membuat perundang-undangan untuk manusia, yang menyelisihi perundang-undangan lslam, dengan tujuan agar perundang-undangan yang dibuat itu menjadi manhaj yang dipakai oleh umat manusia; maka sebenarnya mereka itu tidak membuat perundang-undangan yang menyelisihi syariat Islam melainkan mereka itu berkeyakinan bahwa hal itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat bagi umat manusia. Sebab, sudah pasti dapat dimaklumi oleh akal sehat dan tabiat fitrah bahwa manusia itu tidak akan mau berpaling dari satu manhaj menuju manhaj lain yang menyelisihinya, kecuali karena ia meyakini akan kelebihan manhaj yang ia pilih dan kekurangan manhaj yang ia tinggalkan.

Siapa yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Alloh, namun ia tidak meremehkan dan merendahkan hukum Alloh ini, serta tidak meyakini bahwa hukum lainnya lebih bermaslahat bagi dirinya daripada hukum Alloh ini, maka berarti ia zholim, bukan kafir. Tingkatan-tingkatan kezholimannya itu sesuai dengan yang dihukumkan (hukum yang diberlakukan) dan perangkat lukumnya.

Orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah dirurunkan oleh Alloh, bukan karena meremehkan hukum Alloh, bukan karena merendahkannya, dan juga bukan karena meyakini bahwa hukum lainnya lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat bagi manusia dan semisalnya; namun, hanya saja ia menghukumi dengan selain hukum Alloh itu karena memihak pihak yang dimenangkan dalam perkara hukumnya, atau karena terikat dengan suap, atau jenis-jenis materi duniawi lainnya, maka dia berarti fasik, bukan kafir. Tingkat kefasikannya itu berbeda-beda sesuai dengan hukum yang dibedakukan serta perangkat-perangkat hukumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan tentang orang-orang yang menjadikan orang-orang alim (ahbar) mereka dan rohib-rohib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Alloh, bahwa mereka itu terbagi menjadi dua kategori :

a. Orang-orang yang mengetahui bahwa para ulama dan rohib-rohib tersebut mengganti agama Alloh, namun orang-orang itu tetap saja mengikuti mereka terhadap tindakan mengganti agama Alloh itu serta meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan oleh Alloh dan keharaman sesuatu yang dihalalkan oleh-Nya, demi mengikuti pemimpin-pemimpinnya, sedang orang-orarrg itu tahu bahwa mereka itu telah menyalahi agama para rosul; maka yang semacam itu merupakan kekufuran, bahkan Allah dan Rosul-Nya telah menyatakan hal itu sebagai bentuk kesyirikan.

b. Orang-orang yang punya keyakinan tetap tentang penghalalan sesuatu yang diharamkan (oleh Alloh) dan pengharaman yang dihalalkan, akan tetapi orang-orang ini menaati mereka dalam bermaksiat kepada Alloh sebagaimana tindakan seorang muslim yang melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang memang ia yakini sebagai kemaksiatan; maka orang-orang seperti ini dihukumi sebagaiman para ahli dosa.

Ada perbedaan antara masalah-masalah yang dapat dikategorikan sebagai pensyariatan (legislasi) yang bersifat umum dengan masalah yang bersifat spesifik, yang disitu seorang qodhi (hakim) menghukumi dengan selain hukum yang telah diturunkan oleh Alloh.

Sebab masalah-masalah yang tidak bisa dikategorikan sebagai pensyariatan yang bersifat umum itu tidak bisa dibagi sebagaimana di atas. Hanyasanya hal itu termasuk dalam kategori bagian pertama saja, karena orang yang membuat pensyariatan yang menyelisihi Islam itu, sudah tentu ia melakukan karena keyakinannya bahwa hal itu lebih membawa kemaslahatan daripada Islam, serta lebih bermanfaat bagi umat manusia; sebagaimana yang telah dikemukakan di depan.

Masalah ini, yaitu masalah menghukumi dengan selain hukum yang diturunkan oleh Alloh, termasuk masalah-masalah besar yang menimpa para penguasa di zaman ini. Oleh karena itu, siapa saja jangan sampai terburu-buru meminta putusan hukum kepada mereka dalam persolan yang tidak menjadi hak mereka, sampai kebenaran itu menjadi jelas baginya. Sebab, masalah ini cukup rawan dan berbahaya. Kita memohon kepada Alloh Ta’ala kiranya berkenan memperbaiki para penguasa kaum muslimin.

Demikian juga, setiap orang yang diberi ilmu oleh Alloh Ta’ala, agar menjelaskan hal ini kepada para penguasa agar mereka mendapatkan hujah dan tujuan pun menjadi jelas; sehingga orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata, dan orang yang hidup pun hidupnya dengan keterangan yang nyata pula. Jangan sampai orang yang berilmu itu merasa rendah diri untuk memberikan penjelasan mengenai hal ini dan jangan sampai takut kepada seorang pun dalam melakukan hal ini. Karena sesungguhnya ‘izzah (kemuliaan, keperkasaan) itu hanyalah milik Alloh, milik Rosul-Nya dan milik orang-orang yang beriman.

والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 43 – Syarah Ushuluts Tsalasah 43

Rasul-rasul, Hikmah Pengutusan dan Seruannya

Allah telah mengutus semua Rasul sebagai pemberi kabar gembira  dan  pemberi  peringatan.  Sebagaimana  firman Allah ta’ala:
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa beri ta gembira dan pemberi peringatan, agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu.” (QS. An-Nisa’: 165).
Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para Nabi. Dalil yang menunjukkan bahwa Rasul pertama adalah Nabi Nuh, firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya”. (QS. An-nisa’: 163).
Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan kepada mereka untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka beribadah kepada thaghut. Allah ta’ala berfirman:
Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.” (QS. An-Nahl:36).

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsamin

[Hikmah diutusnya para rasul]
Penulis rahimahullah menjelaskan bahwa Alloh Ta’ala mengutus seluruh rosul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, sebagaimana firman Alloh di atas, “Kami telah mengutus rosul-rosul itu sebagai pemberi kabar gembira dan peingatan”, memberi kabar gembira dengan surga terhadap orang yang mengikutinya, serta memberi peringatan dengan neraka terhadap o:rang yang menyelisihinya.
Diutusnya para rosul itu punya banyak hikmah. Di antaranya yang terpenting, bahkan merupakan yang paling penting adalah tegaknya hujah atas manusia, sehingga tidak ada lagi suatu hujah (alasan) bagi mereka untuk membantah Alloh setelah diutusnya para rosul itu, sebagaimana firman Alloh di atas,
“supaya tidak ada lagi suatu alasan bagi rnanusia untuk membantah Alloh seteiah (diutusnya) para rosul”
Di antara hikmah lainnya adalah bahwa hal itu merupakan kesempurnaan nikmat Allah atas hamba-hamba-Nya. Karena sesungguhnya akal manusia itu betapa pun hebatnya, tidak mungkin dapat mengetahui rincian apa saja yang wajib bagi Alloh Ta’ala yang berupa hak-hak khusus bagi-Nya, tidak mungkin dapat mengetahui apayang dimiliki oleh Alioh Ta’ala berupa sifat-sifat yang sempurna, dan juga tidak mungkin dapat mengetahui asmaul-husna yang dimiliki-Nya. 
Oleh karenanya, Alloh mengutus para rosul ‘alahimussalam sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan; serta telah menurunkan Kitab bersama mereka dengan membawa kebenaran, untuk menghukumi manusia mengenai apa yang mereka perselisihkan.
Seruan (dakwah) para rosul yang paling agung, sejak rosul pertama Nuh ‘alahissalam; hingga rosul terakhir Muhammad , adalah tauhid. Alloh Ta’ala berfirman:
“Sesunguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Ibadahilah Alloh saja dan jauhilah thaghut!’”(An-Nahl: 36)
Alloh ‘azza wa jalla juga berfirman:
“Tidaklah Kami mengatus seorang rosul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Babwasanya tidak ada ilah selain Aku, maka ibadahilah Aku!”‘(Al-Anbiya’ : 25)
[Nuh ‘alahissalam merupakan rasul pertama]
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan bahwa rosul yang pertama adalah Nuh dan beliau mengambil dalil firman Alloh Ta’ala:
“Sesunguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya” (An-Nisaa: 163 )
Dalam hadits shahih tentang syafaat disebutkan:
“Sesungguhnya manusia nanti akan mendatangi Nuh lalu mengatakan kepadanya, ‘Engkau adalah rosul pertama yang diutus Alloh kpada penduduk bumi!’” (HR. Bukhari dalam Kitabut Tauhid, HR. Muslim dalam Kitabul Iman)
Dengan demikian, tidak ada rosul sebelum Nuh ‘alahissalam
Dengan ini pula, kita tahu kesalahan para sejarawan yang mengatakan bahwa Idris ‘alahissalam itu sebelum Nuh ‘alahissalam, bahkan yang tampak adalah bahwa Idris itu termasuk di antara nabi-nabi Bani Israil.
Sedangkan nabi terakhir dan penutup para nabi adalah Muhammad shallallahu ‘alahi wassalam. Alloh Ta’ala berfirman,
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu, akan tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. Adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Ahzab: 40).
Dengan demikian, tidak ada nabi lagi setelah beliau. Siapa saja yang mengaku sebagai nabi sepeninggal beliau, maka ia adalah pendusta, kafir dan murtad dari Islam.
[Setiap Rasul menyerukan tauhid]
Maksudnya, bahwa Alloh telah mengutus seorang rosul untuk setiap umat, yang menyeru mereka untuk mengibadahi Allah saja, serta melarang mereka dari perbuatan syirik. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
“Tiada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (rosul)” (Fathir: 24).
Alloh Ta’ala berfirman,
“Sesunguhnya Kami telah mengutus kepada setiap urnat seorang rosul (untuk menyerukan), ‘Ibadahilah Allah (saja) dan jauhilah thaghut!'” (An-Nahl: 36)
[Ibadahilah Allah saja dan jauhilah taghut]
Ini adalah makna laa ilaha illallah

Kewajiban Mengingkari Thaghut

Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir kepada thaghut dan hanya beriman kepada-Nya saja.

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah ta’ala telah menjelaskan pengertian thaghut dengan mengatakan: “Thaghut, ial ah segala sesuatu yang diperlakukan manusia secara melampaui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti, atau dipatuhi.”

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Wajibnya ingkar kepada taghut]

Syaikhul Islam rahimahullah memaksudkan bahwa tauhid itu tidak akan sempurna kecuali dengan mengibadahi Alloh saja, tiada sekutu bagi-Nya, serta dengan menjauhi thaghut.

Alloh telah mewajibkan hal itu kepada seluruh hamba. Sedangkan kata thaghut di sini merupakan pecahan dari kata thughyan yang mempunyai arti melampui batas. Di antara contohnya adalah firman Alloh Ta’ala,

“Sesunguhnya Kami, tatkala air telah ‘melampaui batas’, maka Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera” (Al-Haaqqah:11)

Maksudnya, ketika air itu telah melampaui batas yang normal (meluap melampaui batas), maka Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam bahtera.

Menurut istilah, pengertian thaghut yang paling tepat adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnul Qoryim rahimahullah, yaitu apa saja yang diperlakukan oleh hamba (manusia) secara melampaui batas; berupa sesuatu yang disembah, diikuti dan ditaati.

Yang dimaksud dengan yang disembah, diikuti dan ditaati sini adalah selain orang-orang sholih. Orang-orang sholih itu bukan thaghut, sekalipun mereka disembah, diikuti, atau ditaati. Berhala-berhala yang disembah selain Alloh, itulah thaghut.

Para ulama su’u, yang menyeru kepada kesesatan dan kekufuran, atau menyeru untuk menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh, maka mereka itu adalah para thaghut. Orang-orang yang menggoda para pemimpin atau penguasa untuk keluar dari syariat Islam untuk berganti menggunakan tatanan-tatanan yang mereka impor, yang menyelisihi tatanan agama Islam, maka mereka itu adalah para thaghut. Sebab, mereka ini telah melampaui batasnya. 

Batasan seorang alim (ulama) adalah mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi, karena pada hakekatnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Para ulama itu mewarisi para nabi dalam mengurus umat para nabi itu, baik berkenaan dengan ilmu, amal, akhlak, serta dakwah maupun ta’lim. Jika para ulama itu telah melampaui batasan ini, lalu mereka justru menggoda para penguasa untuk keluar dari syariat Islam dengan berganti menggunakan tatanan-tatanan (nizham) semacam itu; maka mereka ini adalah para thaghut. Sebab, mereka telah melampaui batas yang diwajibkan atas mereka, yaitu mengikuti syariat.

Yang dimaksudkan dengan perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah “atau yang ditaati”, adalah para umaro yang ditaati karena syari maupun karena kebesaran atau keagunganya. Para umaro itu ditaati karena syar’i, manakala mereka memerintahkan sesuatu yang tidak bertentangan dengan perintah Allah dan rosul-Nya. Dalam hal semacam ini tidak benar jika mereka dikatakan sebagai thaghut. Bahkan mendengar dan menaati mereka merupakan kewajiban bagi rakyat. Ketaatan rakyat terhadap ulil amri dalam hal ini dan dengan ikatan seperti ini merupakan bentuk ketaatan kepada Alloh ‘azza wa jalla. 

Oleh karena itu, seyogyanya kita mesti selalu ingat bahwa ketika kita menunaikan apa yang diperintahkan oleh ulil amri dalam hal yang memang wajib ditaati, kita dalam menunaikan hal itu berarti beribadah kepada Alloh ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara mentaati ulil amri itu; sehingga perintah yang kita tunaikan ini meniadi suatu bentuk pendekatan diri (qurbah) kepada Alloh ‘azza wa jalla . Yang menjadi dasar bahwa kita mesti ingat akan hal ini adalah karena Alloh Ta’ala  berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul-Nya serta ulil amri di antara kalian” (An-Nisaa: 59).

Ketaatan kepada umaro bisa juga karena kebesaran umaro tersebut. Umaro’ itu jika memiliki kekuasaan yang kuat, maka manusia akan mematuhi mereka lantaran kuatnya kekuasaan itu, jika bukan karena kendali iman. Sebab, ketaatan kepada ulil amri itu sebenarnya atas dasar kendali iman; dan inilah ketaatan yang bermanfaat, bagi para ulil amri itu sendiri maupun juga bagi manusia atau rakyat seluruhnya.

Terkadang ketaatan atau kepatuhan itu lantaran kendali sang penguasa;karena dia kuat, sehingga manusia merasa takut dan khawatir kepadanya. Sebab ia akan menyiksa siapa saja yang menyelisihi perintahnya.

Oleh karena itu, dapat kami katakan bahwa hubungan antara manusia pada umumnya dengan para penguasa mereka dalam masalah ini terbagi menjadi beberapa kondisi :

Pertama : Kuatnya kendali iman dan kendali penguasa.

Inilah bentuk ketaatan yang paling sempurna dan paling tinggi.

Kedua: Lemahnya kendali iman dan kendali penguasa.

Ini adalah kondisi yang paling rendah dan paling berbahaya bagi masyarakat, baik terhadap penguasa itu sendiri maupun bagi rakyat Sebab jika kendali iman dan kendali penguasa itu lemah, maka yang terjadi adalah anarki pemikiran, akhlak maupun perbuatan.

Ketiga: Lemahnya kendali iman dan kuatnya kendali penguasa

Ini adalah tingkatan nomor tengah. Sebab jika kendali penguasa itu kuat, maka hal itu akan lebih bermaslahat bagi umat dalam bentuk luarnya. Jika kekuatan penguasa itu sudah tersembunyi, maka Anda tidak perlu tanya lagi mengenai kondisi umat dan aktivitasnya yang buruk.

Keempat: Kuatnya kendali iman dan lemahnya kendali penguasa.

Dalam kond.isi seperti ini, maka perwujudan luarnya lebih rendah dari pada kondisi yang ketiga di atas, akan tetapi hubungan antara manusia dengan Robbnya jauh lebih sempurna dan lebih tinggi.
والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 42 – Syarah Ushuluts Tsalasah 42

Landasan 3. Mengenal Nabi: Meninggalnya Rasulullah

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantahan dihadapan Tuhanmu.” (Az-Zumar: 30-31)
  

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Ayat ini menunjukan bahwa Nabi dan umatnya, semuanya akan mati. Dan bahwasanya mereka itu pada hari Kiamat kelak akan berbantah-bantahan di hadapan Alloh, lalu Alloh menghukumi di antara mereka dengan kebenaran dan sekali-kali Alloh tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir atas orang-orang mukmin.

Ba’ts, Pembangkitan Manusia Setelah Meninggalnya

Manusia  sesudah  mati  akan  dibangkitkan  kembali. Dalilnya, firman Allah ta’ala:
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami  akan  mengembalikan kamu, dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kamu kali yang lain.” (QS. Thaha: 55).

Dan firman Allah ta’ala:
“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.” (QS. Nuh: 1 7-18) [2]

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[1] Dalam kalimat ini, Syaikh menjelaskan bahwa manusia itu jika telah mati pasti akan dibangkitkan lagi. Alloh akan membangkitkan mereka dalam keadaan hidup setelah kematian mereka untuk menerima balasan. Inilah nilai diutusnya para rosul, agar manusia itu beramal untuk menghadapi hari kebangkitan ini. Alloh Ta’ala menyebutkan tentang keadaan dan kengerian Hari Kebangkitan ini yang menjadikan hati harus bertaubat kepada Alloh shallallahu ‘alaihi wassalam dan harus takut kepada hari kebangkitan ini. Alloh Ta’ala berfirman :

“ Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. Langit pun pecah belah pada hari itu karena Alloh. Adalah janji-Nya pasti terlaksana.” (Al Muzammil : 17-18)

Kalimat yang dikemukakan oleh Syaikh di atas menunjukan kewajiban beriman kepada hari Kebangkitan. Kemudian Syaikh mengambil dua ayat diatas.

[2] Ayat ini sesuai persis dengan firman Alloh :

“Dari tanah kalian Kami ciptakan; kepadanya kalian kami kembalikan; dan darinya pula kalian akan Kami keluarkan (bangkitkan) untuk kedua kalinya”. (Thoha : 55).

Ayat ini yang semakna dengan ini jumlahnya cukup banyak. Alloh ‘azza wa jalla telah menjelaskan dan telah mengulang-ulang masalah kepastian hari kebangkitan sampai manusia beriman dengan hari kebangkitan itu serta semakin bertambah lagi keimanannya, lalu beramal untuk menghadapi hari kebangkitan itu dan tergolong orang-orang yang berbahagia di hari itu.

Hisab, Hari Perhitungan Amal

Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan dihisab dan diberi  balasan sesuai  dengan  perbuatan  mereka.Firman Allah ta’ala:

“Dan hanya kepunyaan Allahlah  apa yang ada di lang it dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah  mereka   kerjakan  dan  memberi  balasan  kepada orang-orang  yang  berbuat  baik  dengan  (pahala)  yang lebih baik lagi (surga).” (QS. An-Najm: 31).

Barangsiapa yang tidak mengimani hari kebangkitan ini, maka dia adalah kafir. Firman Allah ta’ala:
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian. Demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”(QS. At-Taghabun: 7)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Maksudnya, bahwa manusia itu setelah dibangkitkan akan diberi balasan dan dihisab amal perbuatan mereka; jika baik, maka balasannya baik, dan jika buruk, maka balasannya buruk pula. Alloh Ta’ala berfirman :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan seberat dzarroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula”. (A z-Zalzalah : 7-8)
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang dizholimi (dirugikan) sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji shallallahu ‘alaihi wassalami, Kami pasti tetap mendatangkan (pahala)nya. Cukuplah Kami sebagai penghisab”. (Al Anbiya : 47).
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat; dan barangsiapa membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka tidak dizholimi (dirugikan) sedikit pun”. (Al An’am : 160).
Amalan kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan lebih banyak lagi, sebagai karunia dan kemurahan dari Alloh Ta’ala. Alloh Ta’ala telah melebihkan balasan yang luas dan banyak. Adapun amal buruk hanya akan diberi balasan sama dengan kadar keburukan itu, di mana manusia tidak akan diberi balasan melebihi keburukan yang dilakukannya. Alloh Ta’ala berfirman,
“ Barangsiapa yang membawa amal perbuatan jahat, maka dia tidaklah diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka tidak dirugikan sedikit pun”. (Al An’am : 160)
Ini merupakan bagian dari kesempurnaan karunia Alloh Ta’ala dan kebaikan hati-Nya.
Selanjutnya,  syaikh  membawakan  dalil  dengan  firman
Alloh Ta’ala :
“… Agar Dia memberi balasa kepada orang-orang yan g berbuat buruk sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan itu, dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan balasan yang lebih baik lagi”. (An-Najm : 31)
Siapa saja yang mendustakan Hari Kebangkitan, maka ia adalah kafir, berdasarkan firman Alloh Ta’ala :
“Mereka mengatakan, “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan’. Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Robbnya (tentulah kamu melihat peristiwa yang
mengharukan). Alloh berfirman, ‘Bukankah (kebangkitan) ini benar?’ Mereka menjawab, ‘Sungguh benar, demi Robb kami’. Alloh berfirman, ‘Karena itu,
rasakanlah adzab ini disebabkan kamu mengingkari(nya)!” (Al An’am : 29-30)
Firman Alloh Ta’ala,
“Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Yaitu orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi pendosa, yang apabila dibacakan kedapanya ayat-ayat Kami, ia berkata, ‘itu adalah dongengan orang-orang dahulu’. Sekali-kali tidaklah demikian! Sebenarnya apa yang selsu mereka usahan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang (melihat) Robb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Lalu dikatakanlah (kepada mereka), inilah adzab yang dulu selalu kamu dustakan!” (Al Muthofifin : 1 0-17).
Firman Alloh Ta’ala,
“Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan kami telah menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat”.(Al Furqon : 11 )
Firman Alloh Ta’ala,
“Orang-orang yang mengkufuri (mengingkari) ayat-ayat Alloh dan mengkufuri pertemuan dengan-Nya, mereka telah putus asa dari rohmat-Ku, dan bagi mereka adzab yang pedih” (Al-‘Ankabut: 23)
Syaikh rahimahullah mengambil dalil dengan ayat ke-7 dari surat At-Taghabun di atas untuk memberi keterangan yang memuaskan kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan itu, maka dapat kami jelaskan sebagai berikut :
Pertama:
Bahwasanya masalah Hari Kebangkitan itu telah dinukil secara bersambung dari para nabi dan rosul dalam kitab-kitab ilahi dan syariat-syariat langit, serta telah diterima sepenuhnya oleh umat-umat para nabi dan rosul itu. Nah, bagamana Anda dapat mengingkarinya sedangkan Anda membenarkan apa yang dinukilkan untuk Anda dari seorang filosof, atau penemu suatu prinsip atau pemikiran (paham), sekalipun berita yang sampai kepada Anda tidak sebanding dengan berita mengenai kebang kitan, baik dalam hal sarana pengutipan (penukilan) maupun dalam hal kesaksian kenyataan?!
Kedua:
Masalah kebangkitan ini telah disaksikan oleh akal mengenai bakal terjadinya kebangkitan itu. Itu dapat dilihat dari beberapa sudut :
1. Setiap orang tidak akan mengingkari bahwa dirinya adalah makhluk yang tercipta dari ketiadaan, dan muncul setelah sebelumnya tidak ada. Dzat yang menciptakan dan mengadakannya setelah sebelumnya tidak ada itu sudah tentu kuasa untuk mengembalikannya seperti semula. Ini sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
“Dialah yang telah menciptakan dari permulaan, kemudian akan mengembalikannya lagi; dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.. “(Ar-Rum: 27).
Alloh Ta’ala juga berfirman,
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, maka begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang mesti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya” (Al-Anbiya: 104)
2. Setiap orang juga tidak ada yang mengingkari keagungan penciptaan langit dan bumi, betapa besar keduanya, serta tidak mengingkari keindahan penciptaan keduanya. Dzat yang telah menciptakan keduanya itu sudah tentu kuasa untuk menciptakan manusia dan mengembalikan mereka sebagai mana semula. Alloh Ta’ala berfrman :
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi itu lebih besar dari pada penciptaan manusia…” (Al-Mu’min: 57).
“Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesunguhrya Alloh yang menciptakan langit dan bumi, dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa untuk menghidapkan orang-orang mati?!Ya, sudah tentu kuasa. Bahkan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Ahqaf :33)
Alloh Ta’ala berfirman,
‘Bukankah Dqat yang telah menciptakan langit dan bumi itu kuasa untuk menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Tentu! Dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Tahu. Sesunguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘Jadilah!”, maka jadilah apa yang dikehendaki.” (Yasin: 82)
3. Setiap orang yang punya penglihatan tentu dapat menyaksikan bumi yang gersang tak bertumbuhan. ketika air huian turun mengguyurnya, maka ia berubah menjadi subur dan tumbuhannya pun hidup kembali setelah sebelumnya mati. Dzat yang kuasa untuk menghidupkan bumi (tanah) -setelah kematiannya- sudah tentu kuasa untuk menghidupkan orang-orang yang mati dan kuasa membangkitkan mereka. Alloh Ta’ala, berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau li hat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”(Fushshilat: 39).
Ketiga:
Masalah terjadinya kebangkitan ini telah disaksikan oleh indera maupun kenyataan, sebagaimana telah diberitakan oleh Alloh Ta’ala kepada kita mengenai kejadian-kejadian nyata tentang dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati. Alloh Ta’ala menyebutkan hal itu di dalam surat Al- Baqoroh sebanyak lima peristiwa, di antaranya adalah firman-Nya.
“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.
” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” ( Al-Baqarah: 259)
Keempat:
Bahwasanya hikmah (kebijaksanaan) itu menuntut adanya kebangkitan, agar setiap jiwa dapat diberi balasan atas apa yang telah diusahakan atau dilakukan. Kalaulah bukan karena itu, maka penciptaan manusia itu akan percuma dan tidak ada nilaiya, tidak ada hikmah dari penciptaan itu, serta tidak ada perbedaan dalam kehidupan ini antara manusia dengan binatang. Alloh Ta’ala berfirman:
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia” (Al-Mukminun: 115-116)
Allah ta’ala juga berfirman:
“Sesunguhnya Hari Kiamat itu pasti datang, namun Aku merahasiakan (waktu)nya agar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang dia usahakan.” (Thaha: 15)
Alloh ‘azza wa jalla berfirman,
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta.
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia ” (An-Nahl [16] : 38-40)
Alloh ‘azza wa jalla berfirman,
“Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “tidak demikian, demi Robbku; kamu benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’. Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.” (At-Taghabun: 7)
Jika keterangan-keterangan yang nyata int telah dijelaskan kepada orang-orang yang rnengingkari kebangkitan, namun mereka tetap saja mengingkarinya, maka mereka berarti orang-orang yang sombong dan menentang. Kelak orang-orang yang dzalim itu akan tahu pada tempat yang mana mereka kembali.
والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 41 – Syarah Ushuluts Tsalasah 41

Landasan 3. Mengenal Nabi: Beliau Diutus Untuk Seluruh Umat


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya. Allah ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS.  Al-A’raf: 158).


Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Ayat ini menunjukan bahwa Muhammad adalah Rosululloh (utusan Alloh) kepada seluruh manusia, dan yang mengutusnya adalah Raja Langit dan Bumi, serta Dzat yang memiliki kekuasaan menghidupkan dan mematikan. Dia ‘azza wa jalla adalah yang diesakan dengan uluhiyah sebagaimana pula diesakan dalam hal rububiyah. Selanjutnya pada bagian akhir ayat tersebut, Alloh memerintahkan agar kita beriman kepda Rosul ini yang merupakan seorang Nabi yang ummi (buta huruf) dan agar kita mngikutinya. 

Bahwasanya hal itu merupakan sebab untuk memperoleh hidayah ‘ilmiyah dan ‘amaliyah, yaitu hidayah irsyad dan hidayah taufiq. Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam adalah utusan (rosul) kepda seluruh tsaqolain (dua beban), yaitu manusia dan jin. Dinamakan tsaqolain adalah karena banyaknya jumlah mereka.


Landasan 3. Mengenal Nabi: Islam Agama yang Sempurna


Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama- Nya untuk kita. Firman Allah ta’ala:
Pada hari ini, telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” ( Al-Ma’idah: 3)
Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Artinya, bahwa agama beliau shallallahu ‘alaihi wassalam adalah tetap kekal hingga Hari Kiamat. Tidaklah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam wafat melainkan telah memberikan penjelasan kepada umat tentang segala yang dibutuhkannya berkaitan dengan segala urusannya. Sampai-sampai sahabat Abu Dzar mengatakan,
“Tidaklah Nabi membiarkan seekor burung yang mengibaskan kedua sayapnya di langit, melainkan beliau telah menyebutkan kepda kami tentang ilmunya”. (HR. Imam Ahmad Juz 5).

Salah seorang dari kalangan kaum musyrikin bertanya kepada Salman Al Farisi, “Apakah Nabimu mengajarkan sampai masalah tata krama buang air?” Salman menjawab, “Ya!” Beliau telah melarang kami menghada p ke arah kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil; juga melarang kami beristinja’ dengan kurang dari tiga batu, beristinja dengan tangan kanan, danjuga melarang beristinja’ dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang” (HR. Muslim dalam Kitabut Thaharah).
Jadi Nabi telah menjelaskan tentang persoalan agama, entah melalui sabdanya, entah dengan perbuatannya dan entah dengan pengakuannya, baik dilakukan secara langsung dari beliau atau sebagai jawaban atas suatu pertanyaan. Perkara paling agung yang dijelaskan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wassalam adalah masalah tauhid.
Apa saja yang beliau perintahkan, maka hal itu memberi kebaikan bagi umat dalam kehidupan dunianya maupun ukhrowinya; dan apa saja yang dilarang olehnya, maka hal iut membawa keburukan bagi umat dalam kehidupan dunianya maupun ukhrowinya. Apa yang tidak dimengerti oleh sebagian manusia dan dianggap sebagai suatu kesempitan berkaitan dengan perintah dan larangan tersebut, maka hal itu hanya karena cacatnya persepsi, kurangnya kesabaran dan lemahnya agama yang dimiliki.
Kalaupun tidak, maka sesungguhnya yang menjadi kaidah umum bahwa Alloh Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sebagai suatu yang menyulitkan kita; bahkan agama ini seluruhnya ringan dan mudah. Alloh Ta’ala berfirman :
“…Alloh menghendaki kemudahan bagimu …” (Al Baqorah : 185).
“Dan dia tidak menjadikan suatu yang menyulitkan (kesempitan) bagi kalian dalam urusan agama ini”. ( Al Hajj : 78).
“Alloh tidak ingin membuat suatu kesulitan bagi kal ian”. (Al Ma’idah : 6).
Segala puji bagi Alloh atas kelengkapan nikmat-Nya dan menyempurnakan agama-Nya.



والله أعلمُ بالـصـواب


[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 40 – Syarah Ushuluts Tsalasah 40

Landasan 3. Mengenal Nabi: Periode Madaniyah

Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Madinah, disyari’atkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar serta syari’at-syari’at Islam lainnya.
Beliau pun melaksanakan perintah untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari. Inilah agama yang beliau bawa.Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya. Dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan supaya dijauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah; sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan dimurkai Allah.

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Penulis mengatakan, “Tatkala Nabi telah menetap di Madinah Nabawiyah, beliau menerima perintah tambahan syariat-syariat Islam (yang belum diterima beliau ketika di Mekah). Itu karena ketika di Mekah, beliau menyeru kepada tauhid sekitar sepuluh tahun, dan juga telah difardukan sholat lima waktu ketika masih di Mekah. Kemudian beliau berhijrah ke Madinah. Sementara itu, zakat, puasa, haji serta syiar-syiar Islam lainnya belum difardukan atas beliau. 
Tampak dari perkataan penulis bahwa zakat itu, baik secara asal-mulanya maupun perinciannya, difardukan di Madinah. Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa zakat itu awal mulanya difardukan di Mekah, akan tetapi belum ditentukan kadar nishobnya dan juga belum ditentukan kadar yang wajib dikeluarkan. Kadar nishob dan kadar yang wajib dikeluarkan baru ditentukan ketika beliau sudah di Madinah. Mereka ini berdalil bahwa ayat-ayat yang mewajibkan zakat itu terdapat pada surat Makkiyah, seperti firman Alloh Ta’ala dalam surat Al-An’am,
“Tunaikanlah haknya pada hari panennya”. (Al-An’am :142)
Juga firman Alloh Ta’ala :
“Dan orang-orang yang di dalam harta mereka terdapa t hak (bagian) tertentu, untuk orang (miskin)yang meminta dan untuk orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (Al Ma’arij : 24-25)
Yang jelas, ketetapan zakat serta ketentuan kadar nishobnya, kewajiban yang harus dikeluarkan dan penjelasan mengenai orang-orang yang berhak menerimanya adalah di Madinah. Demikian juga mensyariatkan adzan dan sholat Jumat. Tampak juga, bahwa sholat jamaah itu baru difardukan (ketika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam) di Madinah, mengingat bahwa adzan yang berisi seruan untuk sholat jamaah itu difardukan pada tahun kedua. 
Sedangkan haji baru difardukan pada tahun kesembilan menurut pendapat yang kuat di antara pendapat-pendapat ahli ilmu yang ada. Itu terjadi setelah Mekah menjadi negeri Islam, setelah dibuka (ditaklukkan) pada tahun kedelapan hijrah. Demikian juga dengan amar makruf nahi munkar dan syiar-syiar lainnya, semuanya difardukan di Madinah setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menetap dan telah mendirikan daulah Islamiyah di kota Madinah itu.

والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 39 – Syarah Ushuluts Tsalasah 39

Landasan 3. Mengenal Nabi : Kewajiban hijrah

Hijrah ialah pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan Islami.
Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan ummat Islam. Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat.
Dalil yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab: “adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makah)”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? Orang-orang itu tempat tinggalnya neraka Jahannam dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali . Kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak  mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan Allah adalah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’: 97-99).
Dan firman Allah ta’ala:
“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman!, sesungguhnya, bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Ankabut: 56).
Al Baghawi rahimahullah, berkata: “Ayat ini, sebab turunnya, adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman.”
Adapun dalil dari sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat”

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Definisi hijrah]
Secara bahasa, kata hijroh, diambil dari kata “hajr ” artinya, “tark” (meninggalkan).
Sedangkan menurut syara’, adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh di atas yaitu, “Berpindah dar i negeri syirik menuju negeri Islam”.Negeri syirik ad alah negeri yang di dalamnya ditegakkan syiar-syiar kekufuran dan tidak ditegakkan syiar-syiar Islam,seperti adzan,sholat jamaah,hari-hari raya dan sholat jumat dalam bentuk secara umum dan menyeluruh.Kami
katakan,”Dalam bentuk secara umum dan menyeluruh”hanya saja agar mengandung pengertian tidak termasuk syiar-syiar semacam ini yang dalam bentuk terbatas,seperti yang terjadi pada negeri-negeri kaum kufar yang di dalamnya terdapat minoritas muslim.Yang demikian ini tidak bisa dikatakan sebagai negeri Islam,meskipun kaum minoritas muslim yang tinggal di negeri itu dapat menegakkan sebagian dari syiar-syiar Islam.Yang di maksud dengan negeri-negeri Islam adalah negeri-negeri yang didalamnya ditegakkan syiar-syiar Islam dalam bentuk secara umum dan menyeluruh.
[Yang diwajibkan hijrah]
Pada ayat ini terdapat dalil bahwa mereka yang tidak ikut hijrah,padahal mereka mampu berhijrah,maka malaikat akan mematikan mereka dan mendampar mereka dengan mengatakan,”Bukankah bumi Alloh itu luas sehingga kalian dapat berhijrah ke sana?”Adapun orang -orang yang memang tidak mampu melakukan hijrah dari kalangan orang-orang yang tertindas, maka Alloh memberi maaf kepada mereka karena ketidakmampuan mereka untuk berhijrah. Dan Alloh tidak akan membebani seseorang melaikan sebatas kesanggupan.
[Al-Baghowi rahimahullah berkata]
Jelasnya, bahwa Syaikh rohimahumullah mengutip dari Al-Baghowi secara maknanya saja, jika memang beliau mengutip dari Tafsir Al-Baghowi. Mengingat di dalam Tafsir Al-Baghowi mengenai ayat ini, tidak terdapat kelimat seperti ini.
[Kewajiban hijrah tetap ada sampai hari kiamat]
Yang demikian itu terjadi ketika berakhirnya amal sholih untuk dapaat diterima. Allah Ta’la berfirman yang artinya:
“…..pada hari datangnya sebagian ayat-ayat
Rabbmu,tidaklah bermanfaat lagi keimanan seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu,atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya….” (Al-An’am: 158).
Yang dimaksud dengan sebagian dari ayat-ayat Rabbmu di sini adalah terbitnya matahari dari tempaat terbenamnya.

HUKUM SAFAR KE NEGERI-NEGERI KAFIR

Safar (berpergian) ke negeri-negeri kaum kufar tidak dibolehkan, kecuali dengan tiga syarat:
Harus punya ilmu untuk menolak syubhat (keraguan, kesamaran)
Harus punya agama yang dapat membentengi diri dari “Syahwat”
Jika memang di perlukan.
Jika ketiga syarat ini belum, terpenuhi, maka tidak dibolehkan melakukan safar ke negeri-negeri kaum kufar. Mengingat dalam hal itu akan terjadi fitnah atau dekhawatirkan akan terjadi fitnah, di samping terjadinya penghamburan harta. Sebab untuk melakukan safar inil,seseorang harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak.
Adapun jika ada kepentingan untuk itu, dalam rangka berobat atau menimba ilmu yang tidak ada di negeri sendiri, sementara ada ilmu dan agama sebagaimana yang kami kriteriakan di atas, maka tidak mengapa melakukan safar ke negeri-negeri kaum kufar itu.
Sedangkan safar dengan tujuan wisata ke negeri-negeri kaum kufar, maka ini namanya bukan ‘kepentingan’, karena masih ada alternatif untuk berkunjung ke negeri-negeri Islam yang penduduknya masih memeliraha syiar-syiar Islam. Negeri kita sekarang ini, alhamdulillah,sudah menjadi negeri wisata untuk beberapa wilayah. Maka tempat-tempat itu dapat dikunjungi untuk mengisi masa liburan.
Lebih-lebih bermukim di negeri-negeri kaum kufar, maka bahayanya akan lebih besar lagi terhadap agama seorang muslim, juga terhadap akhlak, perilaku dan moralnya. Kami sendiri dan juga yang lain telah menyaksikan adanya penyimpangan yang dilakukan oleh kebanyakan orang-orang yang tinggal di sana, dan ketika mereka kembali, keadaan mereka tidak sebagaimana ketika pergi. 
Mereka kembali dalam keadaan fasik ,dan ada sebagian dari mereka yang kembali dalam keadaan murtad dari agamanya, mengkufuri agamanya dan juga mengkufuri seluruh agama yang ada wal’ iyadzu billah, sehingga mereka menjadi manusia ateis tulen dan suka memperolokkan agama dan para penganut agama, baik terhadap orang-orang terdahulu maupun terhadap orang-orang berikutnya.
Oleh karena itu, sudah seharusnya, bahkan harus dapat dipastikan keterpeliharaan dari hal itu, dan harus dibuat syarat-syarat yang dapat mencegah kecenderungan untuk terjerumus ke jurang kebinasaan itu.

BERMUKUM DI NEGERI-NEGERI KAFIR HARUS MEMENUHI 2 SYARAT POKOK:

Pertama: Pemukim harus dapat menjaga agamanya, di mana tentunya ia harus punya ilmu dan keimanan serta ketetapan hati yang kuat, yang dapat menjadikan dirinya tetap berpegang teguh trhadap agamanya serta dapat berhati-hati dari penyelewengan dan penyimpangan. Dia juga harus tetap menyimpan permusuhan dan rasa benci terhadap orang-orang kafir, serta tidak memberikan perwalian dan kecintaan terhadap mereka, karena hal itu dapat manafikan keimanan kepda Alloh. Alloh Ta’ala berfirman:
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak mereka sendiri, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka (Al Mujadilah : 28)
Alloh Ta’ala juga berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali(mu); sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana’. Mudah-mudahan Alloh akan mendatangkan kemenangan (kepada Rosul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka (al Ma’idah : 51-52).
Dalam sebuah hadits yang shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam disebutkan:
“Bahwasanya barangsiapa yang mencintai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka. Dan bahwasanya seseorang itu berserta orang yang dicintainya”.
Mencintai musuh-musuh Alloh merupakan salah satu bahaya terbesar atas seorang muslim, karena mencintai mereka itu mengandung konsekuensi kesejalanan dengan mereka dan mengikuti mereka. Atau, paling tidak, tidak melakukan pengingkaran terhadap mereka. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Barangsiapa yang mencintai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka”.
Kedua: Memungkinkan untuk menampakkan agamanya, di mana ia bisa menegakkan syiar-syiar Islam tanpa ada yang menghalangi, tidak dihalangi untuk menegakkan sholat Jum’at dan menunaikan sholat jamaan jika ada orang lain yang menyertainya untuk berjamaah dan sholat Jum’at, serta tidak dihalangi untuk menunaikan zakat, berpuasa, haji dan syiar-syiar agama lainnya. Jika tidak memungkinkan untuk dapat melakukan itu semua, maka tidak dibolehkan bermukim di situ, bahkan justru wajib hijrah dari situ. 
Dalam kitab Al-Mughni, Juz VIII, hal 458 tentang kriteria orang berkenaan dengan hukum hijrah, di antaranya disebutkan, “orang yang mendap at kewajiban hijrah, yaitu orang yang mampu melakukannya, dan di tempat ia tinggal tidak memungkinkan baginya untuk menampakkan agamanya serta tidak memungkinkan untuk menegakkan kewajiban-kewajiban agamanya dikarenakan ia bermukim di tengah-tengah kaum kufar. “Dalam keadaan seperti in i, ia wajib melakukan hijrah, berdasarkan firman Alloh Ta’ala :
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini’. Mereka menjawab ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’. Para malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Alloh itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu’. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali”. (An nisa : 97)
Ini merupakan ancaman keras yang menunjukan kewajiban hijrah. Dan karena menegakkan kewajiban agama adalah kewajiban atas setiap orang yang mampu menunaikannya, sementara hijrah merupakan bagian dari ‘kebutuhan pokok dan penyempurna dalam menjalankan kewajiban’; sedangkan ‘suatu saran yang tidak akan sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka ia hukumnya menjadi wajib’.
Setelah terpenuhinya kedua syarat pokok ini, maka masalah bermukim di darul kufr (negeri kafir) ini terbagi menjadi beberapa kriteria sebagai berikut :
Pertama:
Bermukim dalam rangka dakwah (menyeru) kepada Islam dan membantu orang agar menyenangi Islam. Yang demikian ini merupakan salah satu bentuk jihad. Hukumnya fardhu kifayah atas orang yang mampu melakukannya, dengan syarat bahwa dakwah dapat diwujudkan dan tidak ada pihak yang merintanginya. Sebab mendakwahkan Islam merupakan bagian dari kewajiban agama, dan juga merupakan jalannya para rosul. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam telah memerintahkan untuk mentablighkan Islam yang dibawa oleh beliau di setiap waktu dan tempat. Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sampaikanlah (ajaran) dariku, sekalipun hanya satu ayat!’.
Kedua:
Bermukim dalam rangka mempelajari (mengamati) keberadaan orang-orang kafir serta mengenal apa yang ada pada diri mereka, berupa kerusakan akidah, kebatilan peribadahan, kerusakan akhlak, dan kekacauan perilaku, agar dia dapat memperingatkan manusia dari ketertipuan oleh mereka serta dapat menjelaskan kepada orang-orang yang mengagumi mereka tentang hakikat keberadaan mereka itu. Bermukim dengan tujuan seperti ini merupakan salah satu bentuk jihad juga. Sebab yang demikian ini mengandung unsur kewaspadaan dari kekufuran dan ahli kufur serta mengandung unsur ajakan kepada Islam dan petunjuknya. Mengingat rusaknya kekufuran itu merupakan bukti kebaikan Islam. Seperti kata pepatah, 
“Dengan kebaikannya, segala sesuatu i tu menjadi jelas.” Namun ini harus dengan syarat bahwa tujuan ini akan dapat terwujud tanpa adanya mafsadah (kerusakan) yang lebih besar darinya. Juka tujuan ini tidak bisa terwujud, lantaran orang yang menyebarkan apa yang ada pada diri mereka serta mewaspadai mereka itu ditahan, maka tidak ada faedahnya lagi namun malah justru menimbulkan mafsadah yang lebih besar, misalnya mereka justru membalas tindakan tersebut dengan mencela Islam, utusan Islam serta imam-imam Islam. Maka yang demikian ini wajib dihentikan dan dihindari. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh,karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampui batas tanpa pengetahuan.Demikian kami jadikan setiap umata menganggap baik pekerjaan mereka.Kemudian kepada Rabb mereka,mereka akan kembali,lalu Dia memberikan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”(Al – An’am (6) : 108 )
Yang serupa dengan ini adalah bermukim di negeri kufur sebagai mata-mata baut kaum muslimin, agar ia tahu apa yanga mereka rencanakan terhadap kaum muslimin berupa barbagai bentuk tipu daya, sehingga kaum muslimin dapat berhati-hati dan waspad terhadap mereka, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah mengutus Hudzaifah bin Al-Yaman ke kawasan orang-orang musyrik pada waktu perang Khondaq dengan tujuan agar dapat mengetahui berita mereka.
Kertiga:
Bermukim untuk kepentingan negara Islam dan mengatur hubungannya dengan negara-negara kafir, seperti para pegawai kedutaan. Hukumnya adalah sesuai dengan maksud dan tujuannnya.Atase kebudayaan (pendidikan) misalnya, bermukim di suatu negara dalam tangka menjaga dan melindungi para siswa serta menggiring dan membawa mereka untuk tetap komitmen terhadap agama Islam, serta terhadap akhlak dan adab Islam. Dengan demikian, bermukim atase tersebut jelas membawa kemslahatan yang besar, dan dapat dihindari pula keburukan yang besar.
Keempat:
Bermukim untuk kepentingan khusus yang mubah
hukumnya, seperti berdagang dan melakukan pengobatan.Bermukim semacam ini di bolehkan sesuai dengan keperluan. Para ahli ilmu telah menegaskan tentang bolehnya masuk ke negeri-negeri kufur dalam rangka dagang. Para ahli ilmu ini mengambil dasar atsar dari sebagian sahabat.
Kelima:
Bermukim dalam rangka belajar (sekolah). Ini berarti termasuk kategori yang sebelumnya (keempat), yaitu bermukim untuk suatu kepentingan. Namun ini lebih berbahaya terhadap agama dan akhlak si pemukim. Seorang siswa tentu akan merasakan kerendahan martabat atau statusnya dan merasakan ketinggian martabat guru-gurunya. Ini akan memunculkan pengagungan terhadap mereka serta perasaan puas
terhadap pendapat-pendapat mereka, pemikiran-pemikiran mereka serta perilaku mereka, sehingga akhirnya ia akan taklid kepada mereka, kecauali orang yang dikehendaki oleh Alloh untuk bisa selamat, namun jumlahnya sedikit. Dan juga seorang siswa akan merasakan juga kepentingan terhadap gurunya, sehingga hal ini akan melahirkan cinta ksih kepadanya serta menyanjungnya terhadap apa yang ada pada gurunya itu, berupa penyimpangan dan kesesatan. 
Di samping itu, seorang siswa di tempat ia belajar tentu mempunyai banyak kawan; dan diantara sekian banyak kawannya itu, ia tentu punya beberapa teman dekat yang ia cintai dan ia percayai, serta mengambil keuntungan dari mereka. Dikarenakan adanya bahaya bermukim dalam rangka sekolah semacam ini, maka penjagaan terhadap diri harus lebih optimal melebihi yang sebelumnya. Dan untuk hal ini, di samping dua syarat pokok di atas yang harus dipenuhi, ada lagi syarat-syarat tambahan yang harus dipenuhi pula yaitu :
1. Siswa harus benar-benar mempunyai kematangan akal pikiran yang dapat membedakan antara yang bermanfaat dan bermadhorot serta dapat melihat masa depan yang jauh. Sedangkan pengiriman siswa-siswa yang masih kecil umurnya dan yang akalnya masih kerdil, maka ia akan sangat membahayakan agama, akhlak dan perilaku mereka; disamping juga akan membawa terhadap umat mereka, di mana mereka tentu akan kembali ke negerinya dan ‘menyemburkan’ racun-racun yang telah mereka teguk dari orang-orang kafir itu, sebagaimana kenyataan yang terjadi. Banyak dari mereka yang dikirim belajar itu, pulang ke kampung halaman tidak sebagaimana ketika mereka pergi. Mereka kembali dalam keadaan menyimpang dari agama, akhlak dan perilaku mereka sebelumnya. Yang terjadi selanjutnya adalah bahaya terhadap diri mereka sendiri dan juga terhadap masyarakatnya, seperti yang dapat kita ketahui dan kita saksikan. Perumpamaan dari pengiriman mereka itu tidak lain adalah seperti menyuguhkan biri-biri ke hadapan serigala.
2. Siswa harus memiliki syariah yang memungkinkannya untuk dapat membedakan antara yang haw dan yang batil, serta dapat menyingkirkan kebatilan itu dengan kebenaran agar ia tidak tertipu oleh kebatilan yang ada pada diri mereka, sehingga mengira kebatilan tersebut merupakan kebenaran, atau kebatilan itu menjadi rancu baginya, atau tidak mampu menolaknya sehingga ia terus menjadi bingung, atau malah mengikuti kebatilan itu.
Dalam doa ma’tsur diajarkan :
“Ya Alloh, perlihatkan aku bahwa yang benar itu ben ar, dan berilah aku kekuatan untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah aku bahwa yang batil itu batil, dan berilah aku kekuatan untuk menjauhinya. Jangan Engkau jadikan kebatilan itu rancu bagiku, sehingga aku bisa tersesat.”
3. Si siswa harus memiliki agama yang dapat melindunginya, dan dengan agamanya itu ia dapat membentengi diri dari kekufuran dan kefasikan. Orang yang lemah agamanya tidak bisa selamat bila bermukim di sana, kecuali jika Alloh menghendaki. Itu dikarenakan kuatnya berbagai hantaman kefasikan di sana sangat kuat, banyak dan beraneka ragam. Dan jika hal ini menimpa obyek yang lemah pertahanannya, maka sudah tentu memberikan pengaruh.
4. Ilmu yang dipelajari di sana itu benar-benar dibutuhkan, di mana mempelajari ilmu tersebut akan membawa kemaslahatan bagi kaum muslimin, sementara di negara-negara kaum muslimin tidak terdapat sekolahan yang setara dengan sekolahan tersebut. Kalau hanya sekedar ilmu-ilmu tambahan yang tidak mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin, atau bila di negeri-negeri islam saja terdapat sekolah yang setara, maka ia tidak boleh bermukim di negeri-negeri kafir demi ilmu-ilmu tersebut. Sebab, kebermukiman tersebut membahayakan agama dan akhlak serta menghamburkan harta yang cukup banyak tanpa faedah.
Keenam:
Bermukim untuk menetap. Itu lebih berbahaya daripada sebelumnya, karena akan mengakibatkan terjadinya berbagai kerusakan disebabkan oleh adanya pergaulan atau hubungan sosial yang sempurna dengan ahli kufur, dan ia akan punya perasaan bahwa dirinya adalah salah seorang warga negara yang komitmen terhadap tuntutan nasionalisme, berupa kecintaan, perwalian dan memperbanyak jumlah mayoritas kufar. Keluarganya akan terdidik di tengah-tengah ahli kufur. Sehingga ia akan mengambil moral dan adat kebiasaan mereka.
Bahkan boleh jadi ia akan bertaklid kepada mereka dalam hal akidah (ideologi) dan peribadahan. Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Siapa yang mengumpuli orang musyrik dan tinggal bersamanya, maka ia seperti dia”.
Hadist ini, sekalipun sanadnya dho’if, namun mengandung pengertian yang dapat diterima oleh akal, mengingat bahwa hidup atau tinggal berdampingan itu akan mengakibatkan adanya saling membentuk satu sama lain. Diriwayatkan dari Qois bin Hazim, dari Jarir bin ‘Abdillah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah komunitas kaum musyrikin”. Para sahab at kemudian bertanya, “Ya Rosululloh, mengapa demikian ?’ Beliau menjawab ‘Tidak kelihatan api (neraka) keduanya!” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi; kebanyakan rowi meriwayatkan secara mursal dari Qois bin Hazim dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam At-Tirmidzi berkata, “Aku telah mendengar Muhammad (yakni Imam Al-Bukhori) mengatakan bahwa yang benar, hadits Qois ini adalah mursal”.
Bagaimana mungkin jiwa seorang muslim bisa baik bila tinggal di negeri-negeri kaum yang di dalamnya dipublikasikan syiar-syiar kekufuran, dan juga hukum yang ada didalamnya diperuntukan selain Alloh dan Rosul-Nya, sedangkan ia menyaksikan hal itu dengan mata kepalanya sendiri. Menisbatkan dirinya kepada negeri tersebut, tinggal di dalamnya bersama isri dan anak-anaknya, serta merasa tenang di dalamnya sebagaimana ketenangannya bila berada di negeri-negeri kaum muslimin; padahal di negeri kafir tersebut terdapat bahaya yang besar terhadap dirinya, istrinya dan anak-anaknya berkenaan dengan agama dan akidah mereka.
Ini yang dapat kami sampaikan berkenaan dengan hukum bermukim di negeri-negeri kafir. Kami memohon kepada Alloh kiranya yang kami sampaikan ini sesuai dengan kebenaran.

والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 38 – Syarah Ushuluts Tsalasah 38

Landasan 3. Mengenal Nabi: Periode Makiyah dan Seruan utamanya

Beliau diutus oleh Allah untuk menyampaikan peringatan untuk  menjauhi  syirik  dan  mengajak  kepada  tauhid. Firman Allah ta’ala:
“Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu sampaikanlah peringatan. Dan Tuhanmu
agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah.” (QS. Al-Mudatstsir:1- 7).
Pengertian: “Sampaikanlah peringatan”, ialah: menyampaikan peringatan untuk menjauhi syirik dan
mengajak kepada tauhid. “Tuhanmu Agungkanlah”: agungkanlah Ia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata. “Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”, artinya: jauhkan serta bebaskan dirimu darinya dan orang-orang yang memujanya.
Beliaupun melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu, beliau dimi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan utuk berhijrah ke Madinah.

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Tugas Nabi Muhammad ]
Memperingatkan mereka dari perbuatan syirik. Serta menyeru mereka untuk mentauhidkan Alloh dalah rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya, serta asma dan sifat-sifat-Nya.
[Bangunlah]
Panggilan yang ditujukan kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam
[Berilah peringatan]
Alloh ‘azza wa jalla memerintahkan Nabi-Nya agar bangkit dengan kesungguhan dan semangat untuk memperingatkan manusia dari perbuatan syirik serta menyuruh mereka agar waspada dari perbuatan syirik itu. Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahhab sendiri telah menafsirkan ayat-ayat ini.
[Seruan 10 tahun pertama]
Maksudnya Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam tinggal selama sepuluh tahun menyeru untuk mentauhidkan Alloh ‘azza wa jalla, memperuntukan ibadah hanya kepadaNya.
[Isra Mi’raj]
Maksudnya adalah diangkatnya atau dinaikkan ke langit. Contoh dari arti kata mi’roj ini adalah firman Alloh Ta’ala
“Para malaikat dan malikat Ruh (jibril) melakukan m i’roj (naik) kedapa-Nya” (Al-Ma’arij: 4)
Mi’roj ini merupakan salah satu kekhususan Nabi yang amat agung, Alloh telah mengutamakan beliau dengan mi’roj sebelum beliau hijrah dari Mekah. Kisahnya, ketika beliau tidur diatas sebuah batu di Ka’bah, datanglah malaikat kepada beliau. Lalu, malaikat itu pun membelah tubuh nabi antara lubang leher hingga bawah perut, kemudian mengeluarkan hati beliau untuk diisi dengan hikmah dan keimanan sebagai persiapan menghadapi apa yang akan diemban oleh beliau selanjutnya.
Malaikat mendatangkan hewan tunggangan berwarna putih, lebih kecil dari baghol namun lebih besar dari keledai, yang dinamakan Buroq. Langkahnya sejauh mata memandang. Beliau menaikinya dengan ditemani oleh Jibril yang terpecaya itu sehingga sampai di Baitul Maqdis. Beliau singgah di sana dan melakukan sholat bersama para nabi, di mana beliau yang bertindak sebagai imam, sementara para nabi dan rosul lainnya sholat di belakang beliau. Ini menjadi bukti akan kemuliaan dan keutamaan beliau, dan bukti bahwa beliau adalah seorang imam (pemimpin) yang diikuti.
Selanjutnya, Jibril memi’rojkan (membawa naik) beliau ke langit dunia, maka dibukakanlah langit dan ditanyakan, “siapa ini?” Jibril menjawab, “ini Jibr il” ditanyakan lagi, “Siapa yang menyertaimu?”. Ia menjawab, “Muhammad”. Ditanyakan lagi “Apakah ia telah diangkat menjadi rosul?” Jibril menjawab, “Ya ”. Lalu dikatakan lagi, “Selamat datang dengannya, mak a ini adalah sebaik-baik kedatangan”. Beliau datang, lalu dibukakanlah pintu langit ini sehingga beliau mendapatkan Adam as. Jibril berkata, “Ini adalah bapakmu, Adam. Ucapkanlah salam kepadanya!” Beliau mengucapkan salam kepada Adam, dan Adam membalasnya seraya mengatakan “Selamat datang, hai anak sholih dan (juga) nabi yang sholih!” Ternyata di
sebelah kanan Nabi Adam terdapat ruh orang-orang yang bahagia, sedangkan di sebelah kirinya terdapat ruh orang-orang yang sengsara dari anak turunan Adam. Jika melihat ke kanan, ia pun gembira dan tertawa. Sebaliknya, jika melihat ke kiri, maka ia pun menangis.
Selanjutnya, Jibril memi’rojkan beliau ke langit kedua. Di situ, beliau menemukan Yahya dan Isa as yang merupakan dua saudara sepupu; masing-masing dari keduanya merupakan putra dari bibi salah satunya. Jibril berkata, ini adalah Yahya dan Isa, maka ucapkanlah salam kepada keduanya, dan keduanya pun membalasnya seraya berkata, “Selamat datang, saudara yang sholi h dan nabi yang sholih!”
Selanjutnya, Jibril memi’rojkan beliau ke langit ketiga. Di situ beliau bertemu Yusuf as. Jibril berkata, “ini adalah Yusuf. Ucapkanlah salam kepadanya!” beliau pun memberikan salam kepadanya, dan ia pun menjawabnya seraya berkata, “Selamat datang, saudara yang sholi h dan nabi yang sholih!”
Kemudian Jibril memi’rojkan beliau ke langit keempat. Di situ beliau dapatkan Idris. Jibril berkata, “ini adalah Idris. Ucapkanlah salam kepadanya!” beliau pun memberikan salam kepadanya, dan ia pun menjawabnya seraya berkata, “Selamat datang saudara yang shol ih dan nabi yang sholih!”
Selanjutnya, Jibril memi’rojkan beliau ke langit kelima.
Di    situ          beliau    mendapatkan   Harun    bin    ‘Imron, saudaranya Musa. Jibril berkata, “Ini adalah Harun. Ucapkanlah salam kepadanya!” Beliau pun salam kepadanya, dan ia pun membalasnya seraya berkata, “Selamat datang, saudara yang sholih dan nabi yang sholih”.
Yang selanjutnya Jibril memi’rojkan ke langit keenam beliau mendapatkan Musa. Jibril berkata, “ini adala h Musa Ucapkanlah salam kepadanya!” Beliau pun mengucapkan salam kepadanya, dan ia pun menjawabnya seraya berkata, “Selamat datang, saudara yang sholi h dan nabi yang sholih!” Ketika beliau telah meninggalkan Musa, maka Musa pun menangis. Ditanyakanlah kepadanya, apa yang menyebabkannya menangis. Ia menjawab, “Aku menangis karena seorang anak manusia diutus sepeninggalku, di mana umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku!” Menangisnya Musa adalah karena sedih atas keutamaan-utamaan yang luput dari umatnya, bukan karena keirian (hasad) terhadap umat Muhammad.
Selanjutnya, Jibril membawanya beliau mi’roj ke langit ketujuh. Di situ beliau mendapatkan Ibrohim Kholilulloh. Jibril berkata, “Ini adalah ayahmu, Ibrohim. Ucapka nlah salam kepadanya!” Beliau pun mengucapkan salam kepadanya, dan ia pun membalasnya seraya berkata, “Selamat datang, anak yang sholih dan nabi sholih!” Jibril membawa keliling Rasul ke nabi-nabi tersebut adalah sebagai penghormatan kepada beliau, dan juga untuk menampakkan kemualiaan dan keutamaan beliau.
Ibrohim         Al-Kholil         ketika         itu         menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur di langit ketujuh, di mana setiap harinya terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang masuk ke Baitul Ma’mur itu untuk melakukan ibadah dan sholat. Setelah itu semua keluar, dan tidak akan kembali pada hair berikutnya. Pada hari selanjutnya sakan ada lagi malaikat-malaikat selain mereka yang memasuki Baitul Ma’mur, di mana hanya Alloh saja yang dapta menghitung jumlah mereka.
Selanjutnya, beliau diangkat ke Sidrotul Muntaha yang dihiasi oleh Alloh dengan keelokan dan keindahan yang tidak akan dapat diilustrasikan oleh seorang pun yang
mengenai keelokannya itu. Kemudian, Alloh memfardukan kepada beliau sholat lima puluh kali dalam sehari semalam, dan beliau pun rela dan menerimanya. Setelah itu beliau turun. Ketika beliau bertemu Musa kembali, Musa bertanya kepadanya, “apa yang telah difardukan oleh Robbmu atas umatmu?” Beliau menjawab, “Lima puluh (kali) sholat setiap hari” Mu sa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup menunaikannya. 

Aku sudah mencobakannya terhadap manusia sebelum kamu dan melakukan tetapi terhadap Bani Isroil semaksimal mungkin. Karena itu, kembalilah kepada Robbmu dan mintalah keringanan kepada-Nya buat umatmu!” Nabi berkata, “Akhirnya, aku pun kembali menghadap Robbku, sehingga akhirnya Dia membebankan kepadaku hanya sepuluh kali saja “. Dan beliau masih terus kembali meminta keringanan kapada Robbnya sehingga akhirnya, ditetapkan sholat fardhu yang lima itu. Alloh berfirman, “Telah akau berlaku kan kefardhuanKu dan telah aku peringan atas hamba-hamba-Ku”.
Pada malam itu juga, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dimasukkan ke dalam surga. Di dalamnya terdapatr kubah mutiara dan tanahnya, adalah misk (kasturi). Kemudian Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam turun (ke bumi), dan tiba di Mekah kembali ketika masih petang remang-remang, dan kemudian menunaikan sholat Subuh.
[Shalat masa makiyah selama 3 tahun]
Beliau ketika itu menunaikan sholat ruba’iyah (berokat empat) dengan hanya dua rokaat saja hingga beliau berhijrah ke Madinah. Setelah hijrah, dua rokaat itu ditetapkan sebagai jumlah rokaat ketika safar, sementara ketika tidak safar rokaatnya ditambahkan (menjadi empat rokaat).
[Hijrah ke Madinah]
Alloh ‘azza wa jalla memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam untuk hijrah ke Madinah, karena orang-orang Mekah menghalangi beliau melakukan dakwah, pada bulan Robi’ul Awwal tahun ke 13 dari kenabian.
Nabi tiba di kota Madinah sebagai seorang muhajir (orang yang hijrah, pendatang) dari Mekah yang merupakan negeri pertama yang turun wahyu (untuk beliau) dan negeri yang dicintai oleh Alloh dan Rosul-Nya. Beliau keluar dari Mekah sebagai muhajir dengan izin Robbnya, setelah sebelumnya tinggal di Mekah selama tiga belas tahun menyampaikan risalah Robbnya dan menyeru kepada-Nya berdasarkan bashirah (Visi, keyakinan, dan ilmu; hujah yang nyata). 

Beliau tidak mendapatkan sesuatu dari kebanyakan kaum Quroisy dan pembesar-pembesar mereka melainkan penolakan terhadap dakwah serta keberpalingan darinya, di samping tindakan mereka yang sangat menyakitkan terhadap Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam dan terhadap siapa saja yang beriman pada beliau. Sampai-sampai mereka melakukan langkah dan tipu daya untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Ini diawali dengan temuan yan diadakan oelh para pembesar mereka yang hendak mereka lakukan terhadap Rosululloh, tatkala mereka melihat para sahabat belikau berhijrah ke Madinah. 

Dan beliau ikut bersama mereka (para sahabat) itu untuk mendapatkan pertolongan dan bantuan dari kaum Anshor yang memang telah membaiat beliau untuk memberikan perlindungan kepada beliau sebagaimana memberikan perlindungan kepada anak-anak dan wanita-wanita mereka. Mulai saat itu pula, beliau mempunyai daulah (pemerintahan) untuk menghadapi kaum Quroisy.

Maka si musuh Abu Jahal mengedepankan gagasan dengan mengatakan, “kita harus mengambil dari setia p kabilah seorang pemuda yang perkasa, kemudian masing-masing kita beri pedang yang tajam agar mereka mencari Muhammad untuk menebasnya dengan pedang itu dan membunuhnya, sehingga Bani ‘Abdi Manaf (keluarga besar Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam) tidak akan bisa memerangi kaum mereka, namun justru akan setuju menerima diyat (denda ganti rugi atas kematian Muhammad) dan kita berikan diyat itu kepadanya.”
Namun Alloh memberitahukan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam tentang apa yang diinginkan oleh orang-orang musyrik itu dan mengizinkan beliau untuk berhijrah. Abu Bakar sejak sebelumnya bahkan telah bersiap-siap untuk hijrah, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam selalu berkata kepadanya “Perlahanlah!, Aku berharap kiranya aku mendapat izin (dari Alloh).” 

Akhirnya Abu Bakar sengaja tertinggal untuk menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Aisyah bercerita “Tatkala kami sedang berada di rumah Abu Bakar di pertengahan siang, tiba-tiba Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam berada di depan pintu dengan mengenakan cadar. Abu Bakar berkata, “Untuk beliau, Ayah dan ibuku adalah sebagai tebusannya. Demi Alloh, tiadalah yang beliau bawa saat ini melainkan ‘perintah’”. 

Nabi pun masuk ke dalam rumah dan berkata kepada Abu Bakar, “Aku akan keluar (hijrah) dari tempatmu ini”, Abu B akar berkata, “Demi ayahku, engkau dan ibuku, mereka (ka um Quroisy) adalah keluarga engkau sendiri”. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berkata, “Aku telah diizinkan keluar”. Abu Bakar lantas berkata, “Perlu ditemani, ya Rosululloh?” Beliau menjawab, “Ya!” Abu Bakar berkata, “Ya Rosululloh, ambillah salah satu dari k edua unta tungganganku ini”. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berkata, “Ya, tapi saya beli saja!”
Kemudian Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam dan Abu Bakar keluar, lalu tinggal di Gua Jabal Tsur selama tiga malam. Ikut pula menginap di situ mendampingi keduanya, ‘Abdullah bin Abu Bakar. Dia adalah seorang pemuda yang brilian dan penuh perhatian. Pada penghujung malam, ia berangkat kembali ke Mekah sehingga pada pagi harinya ia sudah berada di tengah-tengah kaum Quroisy. 

Tak satu pun berita tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan sahabat beliau (yang dibicarakan oleh mereka) yang luput dari rekamannya. Kemudian beritu itu ia bawa kepada keduanya ketika hari telah mulai gelap. Kaum Quroisy mulai mencari-cari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dari segala arah dan berupaya keras, segala sarana untuk mendapatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, sampai-sampai mereka membuat sayembara bagi siapa saja yang bisa membawa keduanya (Nabi dan Abu Bakar), atau membawa salah seorang darinya, akan menerima imbalan seratus ekor unta. 

Akan tetapi, Alloh menyertai dan menjaga keduanya, dengan memberikan perhatian dan penjagaan secara langsung. Sehingga ketika orang-orang Quroisy telah berada di depan pintu gua itu, mereka tidak melihat keduanya. Abu Bakar bercerita : Aku berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam ketika kami di dalam gua itu, “Seandainya salah seorang saja dari mereka memandang kedua telapak kakinya, tentu ia akan melihat kita”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pun bersabda :
“Janganlah bersedih! Sesungguhnya Alloh menyertai kita. Apa pikirmu, wahai Abu Bakar, tentang dua orang, di mana yang ketiganya adalah Alloh!”. (HR. Bukhari dalam Kitab Fadhail Shahabah, HR. Muslim dalam Kitab Fadhail Shahabah)
Sehingga ketika pencarian terhada keduanya diistirahatkan sebentar, keduanya pun keluar dari gua itu menuju Madinah melalui jalan tepi, setelah tinggal tiga malam di gua itu.
Ketika orang-orang yang berada di Madinah, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshor, mendengar keluarnya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam menuju tempat mereka, maka mereka pun setiap pagi keluar menuju tempat berbatu untuk menanti kedatangan Rosululloh bersama seorang sahabatnya sampai mereka diusir oleh terik matahari. Pada hari tibanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam sementara hari sudah sangat siang dan panasnya luar biasa, mereka yang menanti-nanti itu telah pulang ke rumah mereka masing-masing. 

Ternyata salah seorang dari bangsa Yahudi naik pada salah satu benteng kota Madinah untuk keperluan, dan akhirnya ia melihat Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam dan sahabatnya datang yang lenyap (tak terlihat) karena fatamorgana. Orang Yahudi ini tidak kuasa menahan untuk memanggil dengan teriakan suaranya setinggi-tingginya, “Wahai sekalian bangsa Arab! 

Inilah keberuntungan dan kemuliaan kalian (Muhammad) yang kalian tunggu-tunggu!” Maka kaum muslimin pun bergegas untuk menemui (menyambut kedatangan) Rosululloh dengan membawa senjata, sebagai ta’zhim dan penghormatan kepada Rosululloh, serta pernyataan atau tanda kesiapan mereka untuk berjihad dan membela beliau. Akhirnya mereka bertemu dengan beliau di atas tanah berbatu hitam, lalu beliau berhenti dan singgah di Bani ‘Amru bin ‘Auf, di beberapa malam, dan beliau pun berhasil membangun masjid. 

Selanjutnya beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah dengan disertai sahabat-sahabat tersebut, dan yang lainnya menemui beliau di jalanan (untuk ikut menyertai beliau). Abu Bakar mengisahkan, “ketika kami tiba d i Madinah, orang-orang tua, anak-anak maupun para pembantu. Mereka mengucapkan, “Allohu Akbar, (Alloh Maha Besar), Rosululloh telah datang! Allohu Akbar, Muhammad telah datang!”


والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 37 – Syarah Ushuluts Tsalasah 37

Landasan 3. Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Beliau adalah Muhammad bin Abdullah, bin Abdul Mutthalib, bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab termasuk keturunan Nabi Ismail, putera Nabi Ibarahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.
Beliau berumur 63 tahun; diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi Nabi dan 23 tahun sebagai Nabi serta Rasul. Beliau diangkat sebagai nabi dengan wahyu “Iqra”, dan diangkat sebagai rasul dengan wahyu surat Muddatsir. Negeri Beliau adalah Mekah, kemudian hijrah ke Madinah. 

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Yakni, diantara ketiga pokok yang wajib diketahui oleh manusia yaitu seorang hamba tentang Robbnya, agamanya dan nabinya. Dan di depan telah kita bicarakan tentang pengenalan hamba tentang Robbnya dan agamanya.
Adapun pengenalan tentang nabi shallallahu ‘alaihi wassalam ini meliputi 5 hal :
Pertama :
Mengenal nasabnya. Dia adalah manusia yang paling mulia nasabnya. Keturunan Hasyim, bersuku Quroisy, dan berbangsa Arab. Dia adalah Muhammad bin `Abdillah bin `Abdil Mutholib bin Hasyim …. dan seterusnya, seperti yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahhab di atas.
Kedua:
Mengetaui umurnya, tempat kelahirannya dan tempat hijrahnya. Syaikh telah menjelaskan hal ini dengan mengatakan,”Beliau punya umur 63 tahun, negeri tana h kelahirannya Mekah dan kemudian hijrah ke Madinah”. Beliau dilahirkan di Mekah dan mendiami kota Mekah ini selama 53 tahun. Kemudian beliau hijrah ke Madinah dan mendiaminya selama 10 tahun. Beliau wafat di kota Madinah pada bulan Robi’ul Awwal tahun 11 Hijriyah.
Ketiga :
Mengenal kehidupan kenabiannya yang beliau alami selama 23 tahun. Beliau menerima wahyu dalam usia 40 tahun, seperti telah dikatakan oleh salah seorang penyair beliau :
Ketika sampai pada usia empat puluh tahun
terbitlah mentari kenabian darinya di bulan Ramadhan
Keempat:
Dengan apa ia menjadi nabi dan rasul. Beliau menjadi nabi ketika telah turun kepadanya firman Alloh Ta’ala :
“Bacalah dengan nama Robbmu yang telah mencipkan. Dia telah menciptakan manusia dari sesuatu yang bergantung (`alaq). Bacalah, Robbmu Maha Pemurah. Yang telah mengajar dengan perantara pena. Dia mengajarkan kepada manusia sesuatu yang belum diketahuinya”. (Al `Alaq : 1-5)
Selanjutnya, beliau menjadi seorang rosul ketika telah turun kepadanya firman Alloh Ta’ala :
“ Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berila h peringatan! Agungkanlah Robbmu! Bersihkanlah pakaianmu! Tinggalkanlah perbuatan kotor (paganisme)! Janganlah kamu memberi dengan tujuan memperoleh balasan yang lebih banyak! Bersabarlah untuk (memenuhi perintah) Robbmu! (Al Mudatstsir : 1-7)
Perbedaan antara rosul dan nabi, seperti yang dikatakan adalah bahwa nabi yaitu orang yang menerima wahyu berisi suatu syariat, namun ia tidak mendapat perintah untuk men-tabligh-kannya; sedangkan rosul adalah orang yang menerima wahyu berisi suatu syariat, dan ia mendapat perintah untuk men-tabligh-kannya dan mengamalkannya. Dengan demikian, setiap rosul adalah nabi, namun tidak setiap nabi itu rosul.
Kelima:

Dengan apa ia diutus dan mengapa. Ia diutus dengan mentauhidkan Alloh Ta’ala dan dengan membawa syariat-Nya yang berisi ajaran untuk melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, serta diutus sebagai rohmat bagi penghuni alam semesta, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik, kekufuran dan kejahiliyyahan, menuju cahaya ilmu, iman dan tauhid; sehingga mereka dapat memperoleh maghfiroh Alloh dan keridhoan-Nya, serta selamat dari siks dan kemurkaan-Nya.

والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 36 – Syarah Ushuluts Tsalasah 36

Landasan 2. Tingkatan 3 : Ihsan

Ihsan, rukunnya hanya satu, yaitu:

“Beribadahlah kepada Allah dalam keadaan seakan-aka n kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Dalilnya, firman Allah ta’ala:

“Sesunggunya Allah beserta orang-orang yang bertakw a dan  orang-orang  yang  berbuat  kebajikan.”  (QS.  An-Nahl:128)..

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkas a lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) pula perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Asy-syuaraa’: 217-220).

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…”. (QS. Yunus: 61).

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Kata ihsan (berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata isaa’ah (berbuat buruk). Jadi ihsan adalah tindakan seseorang untuk melakukan yang makruf dan menahan diri dari dosa. Ia mendermakan kemakrufan kepada hamba-hamba Alloh Ta’ala, baik melalui hartanya, kemuliaannya, ilmunya maupun raganya.

Berkaitan dengan harta, maka ia akan berinfak, bershodaqoh, dan berzakat. Namun jenis ihsan yang paling utama dalam hal ini adalah zakat, karena zakat merupakan salah satu dari rukun Islam dan salah satu bangunan Islam yang pokok, bahkan keislaman seseorang tidak akan sempurna tanpa zakat.

Zakat juga merupakan nafkah yang paling dicintai oleh Alloh Ta’ala, dan untuk urutan yang selanjutnva adalah apa yang menjadi kewajiban manusia berupa menafkahi istri, ibu, ayah, keturunan, saudara laki-laki, anak-anak saudaranya, saudari-saudarinya, paman-pamannya, bibi-bibinya, dan seterusnya. Selanjutnya, shodaqoh kepada orang-orang miskin dan kepada siapa saja yang berhak menerima shodaqoh, seperti para penuntut ilmu -umpamanya-.

Berkaitan dengan kehormatan, maka manusia itu memiliki derajat yang berbeda-beda. Diantara mereka ada yang memiliki kedudukan di hadapan penguasa. Maka, di sini ia dapat mendermakan kemakrufan dengan kehormatannya. Seseorang mendatanginya untuk meminta syafaat darinya kepada penguasa agar berkenan memberikan syafaat kepadanya di sisi penguasa itu, entah dengan menolak kemadhorotan darinya ataukah mendapatkan keuntungan baginya.

Melalui ilmunya, ia bisa mendermakan ilmunya kepada hamba-hamba Alloh. Ini bisa dilakukan dengan cara melakukan pengajaran (ta’lim) di halaqoh-halaqoh dan majelis-majelis ta’lim, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sampai-sampai, jika Anda sedang berada di sebuah warung pun, merupakan perbuatan kebajikan dan ihsan jika Anda memberikan pengajaran kepada manusia. Dan sekalipun Anda berada di tengah-tengah khalayak umum, maka adalah merupakan kebaikan bila Anda memberikan pengajaran kepada manusia. Namun perlu diingat, gunakan cara yang ‘hikmah’ dalam melakukanini semua.

Jangan sampai terlalu membebani atau memberatkan orang lain; setiap kali Anda duduk di suatu majlis, lantas Anda langsung menasehati mereka dan menyampaikan ‘ceramah’ kepada mereka. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri berhati-hati dalam menyampaikan nasihat dan tidak terlalu banyak. Sebab hati akan merasa bosan dan jemu. Jika telah bosan, maka akan menjadi penat dan lesu. Dan boleh jadi akan membenci kebaikan karena banyaknya orang yang ngomong soal kebaikan.

Tentang berbuat ihsan kepada sesama manusia melalui raga adalah seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam

“’Engkau bantu seseorang untuk naik ke atas hewan tungangannya, atau menaikkan barang-barangnya ke atas tunggangannya adalah shodaqoh” (HR. Bukhari dalam Kitabul Jihaad, HR. Muslim dalam Kitabuz Zakat)

Seseorang yang Anda bantu untuk membawa barang-barangnya atau Anda tunjukkan arah jalan yang mesti ia tempuh, atau contoh yang serupa dengan ini, semuanya merupakan bagian dari perbuatan ihsan. Ini adalah perbuatan ihsan bila dinisbatkan kepada hamba-hamba Alloh.

Sedangkan yang dimaksud dengan ihsan bila dinisbatkan kepada peribadahan kepada Alloh, adalah Engkau mengibadahi Alloh seakan engkau melihat-Nya, seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam.

Peribadahan manusia kepada Robbnya yang dilakukan seakan ia melihat-Nya ini adalah ibadah “tholab” (tuntutan) dan “syauq” (kerinduan). Ibadah tholab d an syauq akan menjadikan seseorang mendapatkan pendorong dalam dirinya untuk melakukan peribadahan itu, karena ia menuntut sesuatu yang dicintatnya ini. Ia mengibadahi-Nya seakan melihat-Nya, sehingga ia akan menuju-Nya, kembali (bertaubat kepada-Nya serta mendekatkan diri (taqorub) kepada-Nya. “Jika Engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”.

Ini adalah ibadah “harb” (pelarian diri) dan “khouf ” (kekhawatiran). Karenanya yang ini merupakan tingkatan ihsan yang kedua. Jika engkau belum bisa mengibadahi Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan engkau melihat-Nya dan menuntut-Nya serta mendorong jiwa untuk sampai kepada-Nya, maka ibadahilah Dia seakan Dia-lah yang senantiasa melihatmu, sehingga engkau mengibadahi-Nya dalam bentuk peribadahan orang yang takut kepada-Nya serta lari dari adzab dan balasan-Nya. Tingkatan yang ini, menurut para ahli suluk, lebih rendah daripada tingkatan yang pertama tadi.

Mengibadahi Alloh Ta’ala adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah:

“Mengibadahi Ar-Rohmin adalah kecintaan yang optima l kepada-Nya

Disertai ketundukan penyembah-Nya, keduanya adalah rukun”

Jadi, ibadah itu dibangun di atas dua hal ini; kecintaan dan ketundukan yang optimal. Dalam kecintaan terdapat tuntutan, sedangkan di dalam ketundukan terdapat kekhawatiran dan ketakutan. Ini adalah ihsan dalam mengibadahi Alloh Ta’ala.

Jika seorang manusia mengibadahi Alloh dalam bentuk seperti ini, maka ia akan menjadi seorang yang ikhlas (mukhlis) demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala . Dalam mengibadahi-Nya tidak ingin riya maupun sum’ah ataupun karena pujian dari manusia lain; entah manusia lain melihatnya ataupun tidak, semuanya sama saja baginya.

Dia berarti mengihsankan ibadahnya. Bahkan diantara bentuk sempurnanya keikhlasan adalah keinginan seseorang agar tidak dilihat oleh seorang pun dalam melakukan ibadah dan agar supaya ibadahnya kepada Robbnya itu terahasiakan, kecuali apabila keterbukaan ibadahnya itu membawa kemaslahatan bagi kaum muslimin atau bagi Islam itu sendiri. Misalnya, bila seseorang itu punya pengikut yang mencontoh pedakuannya dan ia ingin menjelaskan ibadahnya kepada manusia lainnya agar mereka dapat mengambil ‘lentera’ yang dapat menerangi jalan mereka, atau bila ia ingin menampakkan ibadah agar diikuti pula oleh temari-teman atau sahabat-sahabatnya.

Dalam hal yang demikian ini jelas terdapat kebaikan. Kemaslahatan semacam ini terkadang lebih utama dan lebih tinggi ketimbang kemaslahatan ibadah yang disembunyikan. Karena Alloh Ta’ala memberikan pujian terhadap orang-orang yang menginfakkan harta mereka secara rahasia maupun terang-terangan.

Bilamana secara rahasia itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat bagi hati, lebih khusyuk, serta lebih menghadirkan diri kepada Alloh, maka mereka melakukannya secara rahasia atau sembunyi-sembunyi. Dan jika secara terbuka dan terang-terangan itu membawa maslahat bagi Islam dengan tampaknya syari’at-syari’atnya, serta bagi kaum muslimin yang akhirnya dapat mencontoh dan meneladani orang yang melakukan ibadah ini, maka mereka melakukan hal itu secara terang-terangan.

Seorang mukmin akan memperhatikan mana yang lebih bermaslahat. Manakala suatu ibadah lebih bermaslahat dan lebih membawa manfaat, maka ibadah itu jelas lebih sempurna dan lebih utama.

والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 35 – Syarah Ushuluts Tsalasah 35

Landasan 2. Rukun Iman: 6. Iman kepada takdir

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Qodar adalah takdir Alloh ta’ala terhadap seluruh makhluk yang ada sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya.

Iman kepada qodar meliputi empat hal:

Pertama:

Mengimani bahwa Alloh Ta’ala mengetahui segala sesuatu, secara global maupun terperinci, azali maupun abadi yang berkaitan dengan perbuatan-Nya sendiri maupun perbuatan para hamba-Nya.

Kedua:

Mengimani bahwa Alloh telah menulis hal itu dalam Lauh Mahfudz. Tentang kedua hal tersebut, Alloh Ta’ala berfirman :

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (Al-Hajj: 70)

Dalam shohih Maslim disebutkan hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bahwa ia berkata, Aku pernah mendengar Rosululloh bersabda:

“Allah telah menulis takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi dengan tenggang waktu lima puluh ribu tahun” (HR. Muslim dalam Kitabul Qodar).

Ketiga:

Mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Alloh Ta’ala, apakah yang berkaitan dengan perbuatan Alloh maupun yang berkaitan dengan perbuatan para makhluk. Dalam hal yang berkaitan dengan perbuatan-Nya, Alloh berfirman:

“Robbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih” (Al-Qoshosh: 87)

“… Alloh mengerjakan sesuatu yang Dia kehendaki” (Ibrahim: 27)

“Dia yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana Dia kehendaki” (‘Ali ‘Imraan: 6)

Sedangkan yang berkaitan dengan perbuatan para makhluk-Nya, Alloh Ta’ala berfirman:

“Kalau Alloh menghendaki, maka Dia tentu telah menguasakan mereka atas kalian, lalu rnereka memerangi kalian” (An-Nisia: 90)

“Sekiranya Robbmu rnenghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 712)

Keempat:

Mengimani bahwa seluruh yang ada merupakan ciptaan

Alloh Ta’ala; dzatnya, sifatnya maupun gerakannya.

Alloh Ta’ala berfirman :

“Alloh adalah pencipta segala sesuatu, dan Dia pemelihara segala sesuatu”(Az-Zumar: 62)

“Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Al-Furqan: 2).

Alloh berfirman tenrang Nabi Ibrahim bahwa ia pernah berkata kepada kaumnya:

“Allohlah yang telah menciptakan kalian dan apa lan g kalian kerjakan” (Ash-Shooffaat: 96)

Mengimani qodar seperti yang telah kami terangkan di atas, tidak menafikan bahwa manusia punya kehendak (masyiah) dalam hal perbuatan-perbuatan ikhtiyariyah-nya serta punya kemampuan untuk melaksanakannya. Sebab syara’ maupun realita menunjukkan ketetapan tentang hal itu.

Tentang bukti syara’, Alloh Ta’ala telah berfirman mengenai kehendak manusia:

“Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Robbnya” (An-Naba’: 39)

“Datangilah ‘ladangmu’ dari arah manapun atau bagaimana saja kama kehendaki” (Al-Baqarah: 223)

Mengenai adanya ‘qudroh’ (kemampuan) manusia, Alloh Ta’ala berfirman:

“Maka bertawakallaah kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengar dan taatlah …” (At-Taghoobun :16).

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggapannya. Ia mendapat pahala dari (kebaikan) yang dikerjakannya, dan ia juga mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakanrya” (Al-Baqoroh: 286).

Realita menunjukkan bahwa setiap manusia mengerti bahwa ia mempunyai kehendak dan kemampuan. Dengan kehendak dan kemampuan itulah ia melakukan atau meninggalkan sesuatu (perbuatan). Ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya, seperti yang berjalan, dan sesuatu yang diluar kehendaknya ia melakukan atau meninggalkan sesuatu (perbuatan). Ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya, seperti berjalan, dan sesuatu yang di luar kehendaknya, seperti gemetar. Akan tetapi, kehendak maupun kemampuan manusia itu terjadi dengan kehendak dan kemampuan Alloh Ta’ala. Alloh berfirman:

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (At-Takwir : 28-29).

Dan karena alam seluruhnya adalah milik Alloh, maka tak satupun dari milik-Nya itu yang tidak diketahui dan tidak dikehendaki-Nya. Iman kepada qodar (takdir) seperti yang kita sebutkan di atas tidak memberikan peluang bagi manusia untuk beralasan dalam meninggalkan kewaiiban-kewajiban atau melakukan kemaksiatan-kemaksiatan. Dengan demikian, maka alasan semacam ini adalah bathil (gugur) ditinjau dari beberapa sudut:

Pertama:

Firman Alloh Ta’ala :

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai

sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta”(Al-An’am: 148)

Seandainya alasan mereka dengan qodar itu dapat dibenarkan, tentu Alloh Ta’ala tidak akan menimpakan siksa-Nya kepada mereka.

Kedua:

Firman Alloh Ta’ala:

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa beri ta gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (An-Nisaa’ : 165)

Seandainya qodar itu dapat dijadikan alasan oleh orang-orang yang menyelisihi itu, maka alasan itu tidak ternafikan dengan diutusnya para rosul itu. Sebab, penyelisihan setelah diutusnya mereka itu terjadi dengan qodar Alloh Ta’ala.

Ketiga:

Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi telah bersabda:

“Tak seorangpun diantara kamu kecuali telah ditulis tempat duduknya disurga atau dineraka” Salah seoran g sahabat bertanya, “Mengapakah kita tidak pasrah saj a wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:” Tidak ! Berbuatlah karena masing-masing dimudahkan!” Selanjutnya, beliau membaca ayat, “Adapun orang yan g memberikan (hartanya di jalan Alloh) dan bertakwa” (HR. Bukhari dalam Kitabut Tafsir)

Ini adalah lafal hadits yang diriwayatkan oleh Al-

Bukhari. Sedangkan lafal hadits yang diriwayatkan oleh

Muslim adalah:

“….  karena  masing-masing  dimudahkan  atas  apa  yang

tercipta untuknya” (HR.Muslim dalam Kitabul Qodar). Jadi Nabi memerintahkan untuk berbuat, dan melarang pasrah (menyerah) begitu saja kepada qodar.

Keempat:

Alloh Ta’ala memberikan perintah dan larangan kepada manusia, namun tidak membebaninya kecuali yang ia mampu. Alloh Ta’ala berfirman:

“Bertakwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu …” (At-Taghoobun: 16)

“Alloh tidak rnembebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Al-Baqoroh: 286)

Kalau saja manusia itu dipaksakan untuk melakukan sesuatu, berarti ia dibebani sesuatu yang ia tidak dapat melepaskan diri darinya. Ini adalah batil. Oleh karena itu, jika dia melakukan suatu maksiat disebabkan karena kejahilan (ketidaktahuan), lupa, atau terpaksa, maka ia tidak berdosa, karena ia dimaafkan dalam hal seperti itu.

Kelima:

Qodar Alloh adalah rahasia yang tersembunyi, tidak dapat diketahui setelah yang diqodarkan itu terjadi. Kehendak manusia terhadap apa yang akan dikerjakan adalah terlebih dahulu ada sebelum ia mengerjakannya, sehingga kehendaknya untuk mengerjakan sesuatu itu tidak dibangun atas pengetahuannya tentang qodar Alloh. Ketika itu, hilanglah sudah alasannya dengan qodar. Sebab, tiada alasan (hujah) bagi seseorang dalam sesuatu yang tidak diketahuinya.

Keenam:

Kita dapat melihat adanya manusia yang ingin sekali meraih urusan duniawinya yang layak baginya, sehingga ia dapat meraihnya, dan ia tidak mau berpaling darinya kepada sesuatu yang tidak layak baginya, lantas ia beralasan dengan qodar atas keberpalingnnya itu. Maka mengapa ia berpaling dari sesuatu yang memberinya kemanfaatan dalam urusan-urusan duniawinya menuju sesuatu yang memadhorotinya, lalu beralasan dengan qodar?! Bukankah keberadaan dua hal itu sama saja?!

Anda akan saya beri contoh untuk memperjelas hal itu.

Jika di hadapan seseorang ada dua jalan, salah satunya akan membawanya menuju sebuah negeri yang penuh kekacauan, pembunuhan, perampasan, pemerkosaan kehormatan, ketakutan dan kelaparan; sedangkan jalan yang kedua akan membawanya kepada sebuah negeri yang segalanya teratur dan tertib, keamanannya terjamin, kesejahteraannya melimpah, dan juga jiwa, kehormatan maupun harta benda dihormati; maka mana dari kedua jalan yang akan ditempuh?

Sudah tentu ia akan menempuh jalan yang kedua, karena akan membawanya ke sebuah negeri yang tertib dan aman. Selamanya, seorang yang berakal sehat tidak akan mau menempuh jalan yang menuju sebuah negeri yang kacau dan menghawatirkan, Ialu beralasan dengan qodar. Maka kenapa dalam urusan akhrat ia mau menempuh jalan neraka, bukannya jalan surga, lalu beralasan dengan qodar?

Contoh lain, kita melihat orang sakit disuruh minum obat, lalu ia pun minum obat itu, padahal ia sebenarnya tidak suka. Ia juga dilarang menyantap makanan yang dapat membahayakannya, lalu ia pun meninggalkan makanan tersebut, padahal sebenarnya ia berselera terhadap makanan itu. Itu semua dilakukan demi mendapatkan kesembuhan dan keselamatan. Ia tak mungkin menolak minum obat, dan malah menyantap makanan yang dapat membahayakannya itu, seraya beralasan dengan qodar. Lalu kenapa manusia meninggalkan perintah Alloh dan Rosul-Nya, atau melakukan larangan Alloh dan Rosul-Nya seraya beralasan dengan qodar?!

Ketujuh:

Orang yang beralasan dengan qodar atas kewajiban yang

ditinggalkannya, atau atas kemaksiatan yang dilakukannya, seandainya ia dianiaya oleh seseorang yang kemudian merampas hartanya atau merusak kehormatannya, lantas orang itu beralasan dengan qodar seraya mengatakan, “Jangan salahkan aku, karena kezholimanku ini terjadi dengan qodar Alloh!” tentu ia tidak menerimanya. Nah, bagaimana ia tidak bisa menerima alasan dengan qodar yang dilakukan oleh orang lain dalam menzholiminya, lantas ia sendiri beralasan dengan qodar untuk membela dirinya dalam melakukan kezholiman terhadap hak Alloh Ta’ala”?!

Dikisahkan bahwa Amirul Mukminin ‘Umar bin Khoththob pernah menerima pencuri yang sudah berhak dipotong tangannya.’Umar pun memerintahkan agar tangan pencuri itu dipotong. Pencuri itu lantas berkata, “Sabar dulu, ya Amirul Mukminin! Aku ini mencuri hanya karena qodar Alloh”. ‘Umar pun akhirnya menjawab, “Ya, kami pun memotong tanganmu hanya karena qodar A1loh juga!”

Iman kepada qodar akan membuahkan hal-hal penting, diantaranya sebagai berikut :

# Bersandar kepada Alloh Ta’ala ketika melakukan berbagai “sebab” itu sendiri, karena segala sesuatu itu tergantung kepada qodar Alloh Ta’ala.

# Agar seseorang tidak lagi mengagumi dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya. Sebab, itu hanyalah nikmat dari Alloh Ta’ala, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Alloh. Kekagumannya terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat ini.

Adanya rasa ketenangan jiwa terhadap takdir Alloh Ta’ala yang berlaku atas dirinya, sehingga ia tidak akan gelisah atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau didapatkannya sesuatu yang dibencinya. Sebab itu semua terjadi dengan qodar Alloh Ta’ala, pemilik kerajaan langit dan bumi . Tentang hal itu, Alloh berfirman:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Al-Hadid: 22-23).

Nabi Muhammad pernah bersabda:

“Sungguh mengherankan perkara orang mukmin, karena seluruh perkaranya baik, dan itu tidak ada pada seorangpun selain orang mukmin, yaitu jika ia memperoleh kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya; dan jika mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya” (HR. Muslim)

Dalam masalah qodar ini, ada dua golongan yang tersesat:

Pertama: Golongan Jabariyah.

Yaitu, mereka yang mengatakan bahwa manusia itu dipaksa atas perbuatannya, dan ia tidak punya kehendak (irodah) maupun kemampuan (qudroh) terhadap perbuatannya itu.

Kedua: Golongan Qodariyah.

Yaitu mereka yang mengatakan bahwa manusia itu ‘merdeka’ dalam melakukan perbuatan-perbuatannya, dalam hal kehendak maupun kemampuan. Kehendak dan kemampuan Alloh tidak berdampak pada perbuatannya.

Golongan Jabariyah dapat dibantah dengan dasar syara’ maupun keyakinan. Tentang dalil syara’, maka sesungguhnya Alloh Ta’ala telah menetapkan adanya kehendak dan kemauan pada diri manusia serta menyandarkan perbuatan kepadanya juga. Alloh Ta’ala berfirman:

“Di antara kalian ada yang menghendaki dunia dan ad a pula yang menghendaki akhirat” (Ali-‘Imran:152)

“Katakanlah, ‘Kebenaran itu dari Robbmu. Barangsiapa yang menghendaki (iman) silakan beriman; dan barangsiapa yang menghendaki (kafir), biarlah kafir.’ Sesungahnya Kami telah menpersiapkan bagi orang-orang dzalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka…” (Al-Kahfi: 29)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya” (Fushshilat: 46).

Adapun bukti dari kenyataan bahwa sebenarnya manusia itu dapat mengetahui perbedaan antara perbuatan-perbuatannya yang bersifat ikhtiyari yang dilakukan berdasarkan kehendaknya, seperti makan-minum dan jual beli, dan yang terjadi pada dirinya tanpa kehendaknya, seperti gemetar karena demam dan jatuh dari teras.Pada contoh yang pertama, ia melakukannyadengan ikhtiar (usaha) sesuai dengan kehendaknyaa tanpa paksaan; sedangkan pada contoh yang kedua, tanpa ikhtiar dan ia tidak menghendaki hal itu terjadi pada dirinya.

Golongan Qodariyah juga dapat dibantah berdasarkan syara’ maupun akal sehat.

Tentang dalil syara’, bahwa Alloh Ta’ala adalah pencipta segala sesuatu. Segala sesuatu itu terjadi (ada) dengan kehendak-Nya. Alloh Ta’ala telah menjelaskan di dalam kitab-Nya bahwa perbuatan para hamba itu terjadi dengan kehendak-Nya. Alloh berfirman:

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” (Al-Baqoroh :253).

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (As-Sajdah:13).

Tentang dalil akal, bahwa sesungguhnya alam semesta itu adalah dimiliki (dikuasai) oleh Alloh Ta’ala., sementara manusia merupakan satu bagian dan alam ini yang juga berada dalam kekuasaan Alloh. Tidak mungkin sesuatu yang ‘dikuasai’ itu dapat melakukan sesuatu dalam kekuasaan Sang Penguasa kecuali dengan izin dan kehendak dari-Nya.

والله أعلمُ بالـصـواب

[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 34 – Syarah Ushuluts Tsalasah 34

Landasan 2. Rukun Iman: 5. Iman kepada Hari Akhir

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Yang dimaksud dengan Hari Akhir adalah hari kiamat, di mana ketika itu seluruh manusia dibangkitkan untuk dihisab dan diberi balasan. Dinamakan hari akhir karena tidak ada hari lagi sesudahnya. Ketika itu para penghuni surga maupun penghuni neraka menetap pada tempatnya masing-masing.

Iman kepada hari akhir meliputi tiga hal:

Pertama:

Mengimani adanya kebangkitan (ba’ts), yaitu dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati tatkala ditiupkannya sangkakala untuk kedua kalinya. Pada hari itu seluruh manusia bangkit untuk menghadap kepada Robb semesta alam dalam keadaan telanjang kaki tanpa alas kaki, telanjang badan tanpa mengenakan penutup, serta masih berkulup tanpa disunat. Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:

“… sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan rnelaksanakannya” (Al-Anbiya:104).

Kebangkitan merupakan kebenaran yang sudah pasti, dan ini telah ditunjukkan oleh Kitab, Sunnah serta ijmak kaum muslimin. Alloh Ta’ala berfrman [artinya]:

“Kemudian sesungguhnya sesudah itu kamu sekalian benar-benar akan mati. Setelah itu kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat.” (Al-Mukminuun: 15-16).

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda :

“Pada hari kiamat, seluruh manasia akan dihimpun da lam keadaan tanpa alas kaki dan masih berkalup (belum sunat).” (Mutafaq’alaih, HR. Bukhari dalam Kitabur Riqaaq, HR. Muslim dalam Kitabul Jannah)

Kaum muslimin juga telah berijmak mengenai kepastian adanya kebangkitan itu. Ini sesuai dengan hikmah Alloh Ta’ala yang menjadikan tempat kembali’ (akhirat) bagi makhluknya ini, untuk kemudian Dia memberikan balasan kepada mereka atas apa yang telah dibebankan-Nya kepada mereka melalui lisan para rosul-Nya. Alloh Ta’ala berfirman:

“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu dengan sia-sia saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mukminun:115).

Kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, Alloh Ta’a1a, berfirman,

“Sesungguhnya yang telah mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-quran benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.” (Al-Qoshosh: 85).

Kedua

Mengimani adanya hisab (perhitungan) dan jaza’ (balasan). Seluruh amal perbuatan setiap hamba akan dihisab dan diberi balasan. Hal ini telah dituniukkan oleh Kitab, Sunnah serta ijmak kaum muslimin. Alloh Ta’ala berfirman,

“Sesunguhnya kepada Karnilah kembali mereka, kemudian sungguh kewajiban Kamilah menghisab mereka” (Al-Ghasyiyah: 25-26).

Alloh Ta’ala juga berfirman,

“Barangsiapa datang dengan mernbawa amal baik, maka baginya pahala sepulah kali lipat dari amalnya; dan barangsiapa yang datang dengan membawa amalan buruk, maka dia hanya akan diberi pembalasan seimbang dengan keburukannya, sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (Al-An’aam: 160).

Alloh Ta’ala berfirman,

“Kami akan memasang timbangan yang adil pada hai kiamat, maka tidaklah seseorang itu dirugikan barang sedikitpun. Dan jika amalan itu hanya seberat biji shallallahu ‘alaihi wassalami sekalipun, maka Kami pasti akan mendatangkannya. Cukuplah Kami sebagai penghisab.” (Al-Anbiya’: 47).

Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma, diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Sesunguhnya Alloh nanti akan mendekati orang mukmin, lalu meletakkan naungan-Nya pada orang itu untak menutupirya seraya menanyakan, “Tahukah kamu akan dosa yang ini? Tahukah kamu akan dosa yang itu?” Ia menjawab, “Ya saya tahu, wahai Robbku!” Sehinga ketika ia telah mengakui akan dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, maka Alloh berkata, “Aku tela h menutupi dosa-dosamu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya”.

Selanjutnya, diberikanlah kepadany a kitab (catatan) kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka Alloh Ta’ala memangil mereka di hadapan orang banyak. Mereka itulah orang-orang yang mendustakan Robbnya.Ketahuilah, laknat Allah itu untuk orang-orang dzalim’ (HR. Bukhari dalam Kitabul Madzaalim, HR. Muslim dalam Kitabut Taubah).

Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam yang shahih disebutkan:

“Orang yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu mengerjakannya, maka Alloh ta’ala menulisnya sepuluh kebaikan hinga tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai lipat yang lebih banyak lagi disisi-Nya. Sedangkan oranmg yang berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, Alloh hanya menulisnya satu keburakan saja” (HR Bukhari dalam Kitabur Raqaiq, HR. Muslim dalam Kitabul Iman).

Kaum muslimin juga telah berijmak mengenai kepastian adanya hisab dan jaza’ terhadap amal perbuatan, dan ini merupakan tuntutan hikmah.

Seperti yang kita ketahui, Allah ta’ala telah menurunkan kitab-kitab suci, mengutus para rosul serta mewajibkan para hamba untuk menerima ajaran yang mereka bawa dan mengamalkan apa yang wajib diamalkan. Alloh juga mewajibkan kita untuk memerangi orang-orang yang menentang ajaran-Nya serta menghalalkan darah, keturunan, istri dan harta benda rnereka.

Kalau saja tidak ada hisab maupun jaza, tentulah ini semua akan percuma dan sia-sia saja; padahal Robb yang Maha Bijaksana tersucikan dari hal yang demikian. Alloh ta’ala telah mengisyaratkan hal itu dengan firman-Nya.

Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rosul-rasul kepada mereka, dan sesungguhnya Kami akan menanyai pula para rosul itu. Lalu sungguh akan Kami kabarkan kepada mereka (apa saja yang telah mereka perbuat), sedang Kami mengetahui keadaan mereka, dan sekali-kali Kami tidak jauh dari mereka” (Al-A’raaf: 6-7).

Ketiga:

Mengimani adanya surga dan neraka, dan bahwa keduanya merupakan tempat kembali yang abadi bagi makhluk. Surga adalah kampung kenikmatan yang dipersiapkan oleh Alloh ta’ala bagi orang-orang mukmin yang bertakwi, yang mengimani apa yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka untuk mengimaninya, dan menunaikan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Alloh ta’ala dan dengan cara mengikuti Rosul-Nya. Di dalam surga terdapat berbagai macam kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam benak manusia. Alloh ta’ala berfirman [artinya]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya” (Al-Bayinah: 7-8).

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” (As-Sajdah: 17).

Sedangkan neraka adalah hunian yang penuh dengan adzab yang dipersiapkan oleh Alloh Ta’ala untuk orang-orang kafir zholim, yaitu orang-orang yang mengkufuri Allah dan mendurhakai para rasul-Nya. Didalamnya terdapat berbagai macam bentuk adzab dan siksaan yang tidak bisa dibayangkan.

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:

“Jagalah dirimu dari neraka yang dipersiapkan untuk orang-orang kafir” (‘Ali ‘Imraan: 131).

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek ” (Al- Kahfi: 29).

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:

“Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (Al-Ahzaab: 64-66).

Termasuk iman kepada Hari Akhir adalah mengimani segala peristiwa yang akan terjadi setelah mati, seperti :

A. Fitnah (ujian) kubur; yaitu pertanyaan yang dilontarkan kepada mayit setelah ia dikuburkan, tentang Robbnya, agamanya dan nabinya. Alloh Ta’ala lalu meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang mantap, sehingga dengan kemantapannya ia menjawab, Robbku adalah Allah, agamaku Islam, dan nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Sebaliknya, Allah menyesatkan orang-orang yang zholim. Orang yang kafir hanya bisa menjawab, “Hah…

hah… Aku tidak tahu”. Sementara itu, orang munafi k atau orag yang ragu menajawab,”Aku tidak tahu. Aku denga r orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku ikut pula mengatakannya”

B. Adzab dan nikmat kubur. Adzab kubur adalah bagi orang-orang zholim, yaitu orang-orang munafik dan orang-orang kafr. Alloh Ta’ala berfirman :

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di wakt u orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya” (Al-An’aam: 93).

Tentang ‘keluarga’ (para pengikut) Fir’aun, Alloh Ta’ala berfrman :

“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah ‘keluarga’ Fir’aun ek dalam adzab yang sangat keras”‘(Al-Mu’min: 46).

Dalam Shohih Muslim disebutkan riwayat hadits dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Kalau saja tidak karena kalian saling menguburkan (mayit), pasti aku memohon kepada Alloh agar memperdengarkan siksa kubur kepada kalian seperti yang aku dengar”. Selanjutnya beliau menghadapkan wajahnya dan berkata, “Berlindunglah kepada Alloh dari adzab neraka!” Para sahabat berkata, “Kami bedindung kepada Alloh dari adzab neraka!” Nabi bersabda lagi, “Berlindunglah kepada Alloh dan adzab kubur!” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Alloh dari adzab kubur”. Nabi bersabda lagi, “Berlindunglah kepada Alloh dari fitnah-fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi!” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Alloh dari fitnah-fitnah yang tampak maupun tersembunyi”. Nabi bersabda, “Berlindunglah kepada Alloh dari fitnah Dajal!” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Alloh dari fitnah Dajal” (HR. Mus lim dalam Kitabul Jannah wa Shifatu Na’imiha wa Ahliha)

Sedangkan nikmat kubur itu diperuntukkan bagi orang-orang mukmin yang benar, Alloh Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka

dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”(Fushshilat: 30).

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat,dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar? adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezki serta jannah kenikmatan.” (A l-Waqi’ah: 83-89).

Dari Al-Barro bin ‘Azib radhiallahu’anhu diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang orang mukmin tatkala menjawab pertanyaan dua malaikat di dalam kuburnya,

“Ada suara yang berseru dari langit, ‘Hamba-Ku benar. Karena itu, maka berilah ia tilam dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukalah untuknya pintu menuju surga!’ Lalu datanglah menghampirinya kenikmatan dan keharuman surga, sementara itu kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang”(HR. Ahmad, Abu Daud, Haitsami, Abu Nu’aim, Ibnu Abu Syaibah, Al-Ajurri. Al-Haitsami mengatakan: Diriwayatkan oleh Ahmad dengan rijal yang shahih)

Buah dari iman kepada hari akhir diantaranya adalah :

# Senang dan antusias untuk melakukan ketaatan, dengan mengharap pahalanya kelak di hari akhir.

# Takut melakukan kemaksiatan dan khawatir bila sampai rela dengan kemaksiatan itu; karena takut kepada sanksi (siksa) di Hari Akhir itu.

# Hiburan bagi orang mukmin atas apa yang tidak ia dapatkan dari kesenangan duniawi ini dengan masih dapat mengharap kenikmatan dan pahala akhrat.

Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati dengan beranggapan bahwa hal itu tidak mungkin (mustahil). Anggapan atau keyakinan seperti ini adalah batil. Dan kebatilannya telah ditunjukkan oleh syara’, indera, dan akal.

Tentang dalil dari syara’, Alloh Ta’ala berfirman

“Orang-orang kafir menganggap bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, Tidak demikian, demi Robbku, kalian benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian tentang apa yang telah kalian kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh” (At-Taghobun: 7)

Seluruh kitab samawi yang ada juga sepakat menyatakan demikian. Tentang dalil inderawi, bahwasanya Alloh Ta’ala, telah memperlihatkan kepada para hamba-Nya bagaimana dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati di dunia. Di dalam surat Al-Baqaroh terdapat lima contoh mengenai hal ini.

Contoh pertama:

Kaum Musa ketika mengatakan kepada Musa ‘alaihissalam:

“… kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kami dapat melihat Alloh dengan terang…”(Al-Baqarah: 55)

Akhirnya Alloh mematikan mereka itu, lalu menghidupkan mereka kembali. Dalam hal itu, Alloh Ta’ala berfirman kepada Bani Israil:

“Ingatlah ketika kalian berkata, ‘Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kamu dapat melihat Alloh dengan terang!’ Karena itu, kalian disambar halilintar, sedang kalian menyaksikan peristiwa itu. Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah mati agar kalian bersyukur.”(Al-Baqoroh: 55-56).

Conloh kedua:

Dalam kisah orang yang terbunuh, yang dipersengketakan oleh Bani Israil tentang siapa pembunuhnya. Alloh akhirnya memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi untuk kemudian mereka memukulkan sebagian dari anggota tubuh sapi itu pada tubuh orang yang mati terbunuh tadi, agar dapat

memberitahukan kepada mereka siapa sebenarnya yang telah membunuhnya. Dalam kisah ini Alloh mengungkapkan :

“Ingatlah ketika kalian membunuh seseorang, lalu ka mu saling tuduh-menuduh tentang hal itu. Dan Alloh hendak menyingkapkan apa yang selama ini kalian sembunyikan. Lalu Kami akhirnya berfirman, ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian dari anggota tubuh sapi itu! Demikianlah Alloh menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepada kalian tanda-

tanda kekuasaan-Nya agar kalian mengerti” (Al-Baqarah: 72-7 3).

Contoh ketiga:

Dalam kisah suatu kaum yang keluar dari negeri mereka karena hendak menghindar dari kematian yang jumlahnya ribuan orang, namun akhirnya Alloh mematikan mereka dan kemudian menghidupkan mereka kembali. Tentang kisah ini, Alloh Ta’ala berfirman:

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beriba-ribu jumlahnya, karena takut mati. Namun Alloh berfirman kepada mereka, ‘Matilah kalian!’ (Maka mereka pan mati). Kemudian Allah menghidupkan mereka kembali. Sesungghnya Alloh menpunyai karunia terhadap manusia, akan tetapi ternyata kebanyakan manusia tidak bersyukur.”(Al-Baqarah: 243)

Contoh keempat:

Dalam kisah orang yang melewati sebuah negeri yang ‘mati’, lalu ia meragukan bila Alloh Ta’ala dapat menghidupkan negeri itu kembali. Maka Allah lalu mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian Alloh menghidupkannya kembali. Tentang hal ini, Alloh Ta’ala berfirman :

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Baqarah:259).

Contoh kelima:

Dalam kisah Ibrahim Al-Khalil ketika memohon kepada Alloh Ta’ala agar memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Akhirnya Allah menyuruhnya untuk menyembelih empat ekor burung dan memisah-misahkan bagian-bagian tubuh burung itu untuk diletakkan di pegunungan sekitarnya. Kemudian Ibrahim memanggilnya, lalu bagian-bagran tubuh burung (yang telah dipotong-potong) itu satu sama lain menyatu kembali, dan datang kepada Ibrahim dengan segera. Kejadian ini dikisahkan oieh Alloh melalui firman-Nya:

“Dan  (ingatlah) ketika  Ibrahim  berkata:  “Ya  Tuhanku ,

perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al-Baqarah: 260)

Ini semua adalah contoh bukti inderawi yang nyata, yang menunjukkan dapat dihidupkannya kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Di depan juga disebutkan bahwa Alloh ta’ala menjadikan tanda-tanda kenabian (mukjizat) ‘Isa bin Maryam berupa dapat menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan mengeluarkan mereka dari kubur dengan izin Alloh Ta’ala

Tentang dalil akal, dapat ditinjau dari dua sudut :

Pertama:

Bahwa Alloh ta’ala adalah pencipta langit dan bumi serta apa saja yang ada pada keduanya. Alloh adalah pencipta keduanya dari permulaan, yang sebelumnya keduanya tak ada. Yang Maha Kuasa untuk memulai penciptaan, sudah tentu mampu mengembalikannya. Alloh Ta’ala berfirman :

“Dialah yang memulai penciptaan, kemudian akan mengembalikannya (menghidupkan) lagi, dan ini lebih mudah bagi-Nya” (Ar-Ruum: 27)

Alloh ta’ala berfirman,

“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitutah Kami akan mengulanginya. Itulah saat janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya” (Al-Anbiya’: 104).

Dalam memerintahkan untuk menjawab orang yang mengingkari dihidupkannya kembali tulang-belulang yang telah hancur luluh, Alloh ta’ala berfirman,

‘Katakanlah, Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang telah menciptakannya kali pertama, dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk'” (Yaasiin: :79).

Kedua:

Ada tanah yang mati dan tandus, tak ada satu pun pohon hijau yang hidup padanya. Lalu Alloh menurunkan hujan di tanah tandus itu, sehingga tumbuh-tumbuhan pun tumbuh subur menghijau padanya. Dzat yang kuasa menghidupkan tanah ini setelah matinya tentu mampu menghidupkan manusia yang mati. Alloh Ta’ala berfirman:

“Sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya adalah bahwa kamu melihat bumi ini kering tandus. Maka apabila Kami turunkan air (atasnya), niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Dzat yang telah menghidupkannya, tentu dapat menghidupkan yang mati.

Sesunguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Fushshilat: 39).

Alloh ta’ala berfirman:

“Kami turunkan air dari langit yng penuh berkah, la lu dengan itu Kami tumbuhkan kebun-kebun berpohon dan biji-bijian yang dapat diketam. Dan juga pobon kurma yang tinggi dan mayangnya bersusun-susun. Ini adalah sebagai rezeki bagi para hamba. Dengan air itu pula, Kami menghidupkan negeri yang ‘mati’. Seperti itulah terjadinya kebangkitan” (Qaaf: 9-11).

Ada kelompok sesat dan kalangan orang-orang yang menyimpang, mereka mengingkari adanya adzab dan nikmat kubur, dengan anggapan bahwa hal itu tidak mungkin karena tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka katakan bahwa jika mayat yang ada di kuburnya itu dibongkar tentu akan tetap didapati sebagaimana semula. Dan kuburnya tidak berubah menjadi lebih luas atau lebih sempit.

Anggapan ini adalah batil menurut syara’, indera maupun akal. Dalil syara’, di depan telah disebutkan berbagai nash yang menunjukkan kepastian adanya adzab kubur dan kenikmatannya.

Dalam Shohih Bukhari disebutkan hadits dari lbnu Abbas radhiallahu’anhuma, ia berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah keluar dari salah satu kebun di kota Madinah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang diadzab di dalam kuburnya” (HR. 226 Bukhari dalam Kitabul Wudhu, HR. Muslim dalam Kitabuth Thaharah).

Selanjutnya disebutkan bahwa masalahnya, yang satu tidak “menjaga” kencingnya dan seorang lagi suka mengadu domba.

Bukti inderawi:

Bahwa orang yang tidur terkadang bermimpi bahwa ia berada dalam sebuah tempat luas yang indah dan dapat bersenang-senang di dalamnya atau berada dalam suatu tempat yang menjijikkan dan menyakitkan, yang terkadang ia terbangun karenanya. Sekalipun demikian, ia tetap berada di atas ranjangnya di dalam kamar sebagaimana adanya. Tidur adalah saudaranya mati. Oleh karena itu, Alloh menamakannya dengan nama ‘wafat’. Alloh Ta’a1a, berfirman :

“Alloh ‘mewafatkan’ jiwa ketika matinya, dan jaga ‘mewafatkan’ jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan melepaskan jiwa yang lain sampai batas waktu yang ditentukan …”. (Az-Zumar: 42).

Dalil akal:

Orang yang tidur kadang bermimpi benar yang sesuai dengan kenyataan. Ada juga orang yang bermimpi melihat Nabi sesuai dengan sifat beliau. Barangsiapa yang melihat beliau sesuai dengan sifarnya, maka ia berarti benar-benar melihatnya. Sekalipun demikian, orang yang tidur tadi tetap berada di dalam kamarnya di atas ranjang dan jauh dari apa yang dilihatnya dalam mimpi. Jika hal itu adalah sesuatu yang mungkin di dunia, maka bukankah juga merupakan hal yang sangat mungkin di akhirat?

Adapun dasar pijakan mereka, sebagaimana yang mereka yakini itu, bahwa seandainya mayit yang ada di dalam kubur itu dibongkar tentu akan ditemukan sebagaimana adanya, sementara kuburannya tidak berubah menjadi luas arau sempit, maka dapat dijawab dari beberapa sudut, di antaranya sebagai berikut :

Pertama:

Sebenarnya tidak dibolehkan menentang apa yang diyakini apa yang dibawa oleh syara, dengan syubhat-syubhat yang batil seperti ini, yang seandainya saja orang yang menentangnya seperti itu mau merenungkan benar-benar, tentu ia akan mengetahui kebatilan syubhat ini. Dalam pepatah dikatakan, ‘Betapa banyak orang yang mencela pendapat yang benar, padahal ‘bencananya’ berasal dari pemahamannya yang sakit’.”

Kedua:

Keadaan barzakh (alam kubur) termasuk hal-hal ghaib yang tidak ditangkap oleh indera. Karena jika dapat ditangkap oleh indera, tentu akan hilang faedah beriman kepada yang gaib dan akan sama saja antara orang-orang yang beriman kepada yang gaib dengan orang-orang yang mengingkarinya.

Keliga:

Adzab kubur maupun kenikmatannya dan keruasan maupun kesempitannya hanya dapat dimengerti oleh si mayit. Ini seperti halnya orang tidur yang bermimpi berada dalam sebuah tempat sempit yang menjijikkan, atau dalam sebuah tempat luas yang menyenangkan; namun demikian, orang lain tetap demikian melihatnya tak berubah sama sekali dari tidurnya, dan tetap saja berada di kamarnya sedang berselimut di atas ranjang. Nabi pernah mendapatkan wahyu ketika beliau berada di tengah-tengah para sahabat. Beliau mendengar wahyu, sedangkan para sahabat tidak mendengarnya. Kadang juga datang seorang malaikat kepada beliau dengan menjelma seorang lelaki, lalu bicara kepada beliau, namun para sahabat tidak ada yang melihat malaikat dan juga

Keempat:

Penangkapan (pengetahuan) manusia itu terbatas, sebatas yang diizinkan oleh Alloh Ta’ala untuk dapat mengetahuinya, dan tidak mungkin dapat menangkap segala yang ada. Langit yang tujuh serta bumi dan seisinya, dan juga segala sesuatu yang ada bertasbih memuji Alloh dengan tasbih secara hakiki yang terkadang diperdengarkan oleh Alloh kepada siapa yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya. Sekalipun demikian, hal itu tertutup bagi kita.

Mengenai hal itu, Alloh berfirman :

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka ..” (Al-Israa ‘: 44).

Demikian halnya dengan setan dan jin yang melakukan perjalanan di muka bumi ini pulang dan pergi. Ada sekelompok jin yang datang kepada Rosululloh dan mendengarkan bacaan Al-Quran beliau dengan khidmat. Selanjutnya, mereka kembali kepada kaum mereka untuk menyampaikan peringatan (dakwah). Meskipun demikian yang terjadi, namun mereka semua tidak dapat kita lihat. Tentang hal ini, Alloh berfirman :

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat di tipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman” (Al-A’raaf: 27).

Jika manusia ini udak bisa menangkap segala yang ada, maka ia tidak boleh mengingkari perkara-perkara gaib yang telah ditetapkan oleh syara’, sekalipun ia tidak mampu menangkap hal yang gaib itu.

والله أعلمُ بالـصـواب