Fatwa 03 - HAKEKAT WISATA DALAM ISLAM, HUKUM DAN MACAM-MACAMNYA

 Saya memohon anda menjelaskan informasi yang penting dan menyeluruh tentang wisata islami. Apa yang dimaksud wisata dalam Islam? Apa ketentuan wisata dalam Islam? Bagaimana menyelenggarakan wisata Islam? Bagaimana suatu negara itu dikakatan sebagai tujuan wisata islami? Dan apa program wisata islami? Kami ucapkan banyak terima kasih
Alhamdulillah
Kata Wisata menurut bahasa mengandung arti yang banyak. Akan tetapi dalam istilah yang dikenal sekarang lebih dikhususkan pada sebagian makna itu. Yaitu, yang menunjukkan berjalan-jalan ke suatu negara untuk rekreasi atau untuk melihat-lihat, mencari dan menyaksikan (sesuatu) atau semisal itu. Bukan untuk mengais (rezki), bekerja dan menetap. Silakan lihat kitab Al-Mu’jam Al-Wasith, 469.

Berbicara tentang wisata menurut pandangan Islam, maka harus ada pembagian berikut ini,
Pertama: Pengertian wisata dalam Islam.

Islam datang untuk merubah banyak pemahaman keliru yang dibawa oleh akal manusia yang pendek, kemudian mengaitkan dengan nilai-nilai dan akhlak yang mulia. Wisata dalam pemahaman sebagian umat terdahulu dikaitkan dengan upaya menyiksa diri dan mengharuskannya untuk berjalan di muka bumi, serta membuat badan letih sebagai hukuman baginya atau zuhud dalam dunianya. Islam datang untuk menghapuskan pemahaman negatif yang berlawanan dengan (makna) wisata.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hani dari Ahmad bin Hanbal, beliau ditanya tentang seseorang yang bepergian atau bermukim di suatu kota, mana yang lebih anda sukai? Beliau menjawab: "Wisata tidak ada sedikit pun dalam Islam, tidak juga prilaku para nabi dan orang-orang saleh." (Talbis Iblis, 340).

Ibnu Rajab mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan mengatakan: "Wisata dengan pemahaman   ini telah dilakukan oleh sekelompok orang yang dikenal suka beribadah dan bersungguh-sungguh    tanpa didasari ilmu. Di antara mereka ada yang kembali ketika mengetahui hal itu." (Fathul-Bari, karangan Ibnu Rajab, 1/56)

Kamudian Islam datang untuk meninggikan pemahaman wisata dengan mengaitkannya dengan tujuan-tujuan yang mulia. Di antaranya

1. Mengaitkan wisata dengan ibadah, sehingga mengharuskan adanya safar -atau wisata- untuk menunaikan salah satu rukun dalam agama yaitu haji pada bulan-bulan tertentu. Disyariatkan umrah ke Baitullah Ta’ala dalam satahun.

Ketika ada seseorang datang kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam minta izin untuk berwisata dengan pemahaman lama, yaitu safar dengan makna  kerahiban atau sekedar menyiksa diri, Nabi sallallahu alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada maksud yang lebih mulia dan tinggi dari sekedar berwisata dengan mengatakan kepadanya, “Sesunguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Allah.” (HR. Abu Daud, 2486, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud dan dikuatkan sanadnya oleh Al-Iraqi dalam kitab Takhrij Ihya Ulumuddin, no. 2641). Perhatikanlah bagaimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengaitkan wisata yang dianjurkan dengan tujuan yang agung dan mulia.

2. Demikian pula, dalam pemahaman Islam, wisata dikaitkan dengan ilmu dan pengetahuan. Pada permulaan Islam, telah ada perjalanan sangat agung dengan tujuan mencari ilmu dan menyebarkannya. Sampai Al-Khatib Al-Bagdady menulis kitab yang terkenal ‘Ar-Rihlah Fi Tolabil Hadits’, di dalamnya beliau mengumpulkan kisah orang yang melakukan perjalanan hanya untuk mendapatkan dan mencari satu hadits saja.

Di antaranya adalah apa yang diucapkan oleh sebagian tabiin terkait dengan firman Allah Ta’ala:

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, beribadah, memuji, melawat, ruku, sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu." (QS. At-Taubah: 112).

Ikrimah berkata ‘As-Saa'ihuna’ mereka adalah pencari ilmu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim  dalam tafsirnya, 7/429. Silakan lihat Fathul Qadir, 2/408. Meskipun penafsiran yang benar menurut mayoritas ulama salaf bahwa yang dimaksud dengan ‘As-Saaihin’ adalah orang-orang  yang berpuasa.

3. Di antara maksud wisata dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan. Dalam Al-Qur’anulkarim terdapat perintah untuk berjalan di muka bumi di beberapa tempat.  Allah  berfirman: “Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (QS. Al-An’am: 11).

Dalam ayat lain, “Katakanlah: 'Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS. An-Naml: 69).

Al-Qasimi rahimahullah berkata; ”Mereka berjalan dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasehat, pelajaran dan manfaat lainnya." (Mahasinu At-Ta’wil, 16/225).

4. Mungkin di antara maksud yang paling mulia dari wisata dalam Islam adalah berdakwah kepada Allah Ta’ala, dan menyampaikan kepada manusia cahaya yang diturunkan kepada Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Itulah tugas para Rasul dan para Nabi dan orang-orang setelah mereka dari kalangan para shahabat semoga, Allah meridhai mereka. Para shabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah menyebar ke ujung dunia untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia, mengajak mereka kepada kalimat yang benar. Kami berharap wisata yang ada sekarang mengikuti wisata   yang memiliki tujuan mulia dan agung.

5. Yang terakhir dari pemahaman wisata dalam Islam adalah safar untuk merenungi keindahan   ciptaan Allah Ta’la, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah dan memotivasi menunaikan kewajiabn hidup. Karena refresing jiwa perlu untuk memulai semangat kerja baru. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20)
Kedua: Aturan wisata dalam Islam
Dalam ajaran Islam yang bijaksana terdapat hukum yang mengatur dan mengarahkan agar  wisata tetap menjaga maksud-maksud yang telah disebutkan tadi, jangan sampai keluar melewati  batas, sehingga wisata menjadi sumber keburukan  dan dampak negatif bagi masyarakat. Di antara hukum-hukum itu adalah:
1. Mengharamkan safar dengan maksud mengagungkan tempat tertentu kecuali tiga masjid. Dari  Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu’alai wa sallam bersabda:

“Tidak dibolehkan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah sallallahu’alaihi wa saal dan Masjidil Aqsha." (HR. Bukhari, no. 1132, Muslim, no. 1397)

Hadits ini menunjukkan akan haramnya  promosi wisata yang dinamakan Wisata Religi ke  selain tiga masjid, seperti ajakan mengajak wisata ziarah kubur, menyaksikan tempat-tempat   peninggalan kuno, terutama peninggalan yang diagungkan manusia, sehingga mereka terjerumus dalam  berbagai bentuk kesyirikan yang membinasakan. Dalam ajaran Islam tidak ada pengagungan pada tempat tertentu dengan menunaikan ibadah di dalamnya sehingga menjadi tempat yang  diagungkan selain tiga tempat tadi.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, "Aku pergi  Thur (gunung Tursina di Mesir), kemudian    aku bertemu Ka’b Al-Ahbar, lalu duduk bersamanya, lau beliau menyebutkan hadits yang panjang,  kemudian berkata, "Lalu aku bertemu Bashrah bin Abi Bashrah Al-Ghifary dan berkata, "Dari mana kamu datang?" Aku menjawab, "Dari (gunung) Thur."  Lalu beliau mengatakan, "Jika aku  menemuimu sebelum engkau keluar ke sana, maka (akan melarang) mu pergi, karena aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jangan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, ke Masjidil Haram, Masjidku ini dan Masjid Iliyya atau Baitul Maqdis." (HR. Malik dalam Al-Muwatha, no. 108. Nasa’i, no. 1430, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih An-Nasa’i)

Maka tidak dibolehkan memulai perjalanan menuju tempat suci selain tiga tempat ini. Hal  itu  bukan berarti dilarang mengunjungi masjid-masjid yang ada di negara muslim, karena kunjungan kesana dibolehkan, bahkan dianjurkan. Akan tetapi yang dilarang adalah melakukan safar dengan niat seperti itu.   Kalau ada tujuan lain dalam safar, lalu diikuti dengan berkunjung ke (masjid), maka hal itu tidak mengapa. Bahkan terkadang diharuskan untuk menunaikan jum’at dan shalat berjamaah. Yang keharamannya lebih berat adalah apabila kunjungannya ke tempat-tempat suci agama lain. Seperti pergi mengunjungi Vatikan atau patung Budha atau  lainnya yang serupa.

2. Ada juga dalil yang mengharamkan wisata seorang muslim ke negara kafir secara umum. Karena berdampak buruk terhadap agama dan akhlak seorang muslim, akibat bercampur dengan kaum yang tidak mengindahkan agama dan akhlak. Khususnya apab ila tidak ada keperluan dalam  safar  tersebut seperti untuk berobat, berdagang atau semisalnya, kecuali Cuma sekedar bersenang senang dan rekreasi. Sesungguhnya Allah telah menjadikan negara muslim memiliki   keindahan penciptaan-Nya, sehingga tidak perlu pergi ke negara orang kafir.

Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizahullah berkata: “Tidak boleh Safar ke negara kafir, karena ada kekhawatiran terhadap akidah, akhlak, akibat bercampur dan menetap di tengah  orang kafir  di antara mereka. Akan tetapi kalau ada keperluan mendesak dan tujuan yang benar untuk safar ke negara mereka seperti safar untuk berobat yang tidak ada di negaranya atau safar untuk belajar yang tidak didapatkan di negara muslim atau safar untuk berdagang, kesemuanya ini adalah tujuan yang benar, maka dibolehkan safar ke negara kafir dengan syarat menjaga syiar keislaman dan memungkinkan melaksanakan agamanya di negeri mereka. Hendaklah seperlunya, lalu kembali ke negeri Islam. Adapun kalau safarnya hanya untuk wisata, maka tidak dibolehkan. Karena seorang muslim tidak membutuhkan hal itu serta tidak ada manfaat yang sama atau yang lebih kuat dibandingkan dengan bahaya dan kerusakan pada agama dan keyakinan. (Al-Muntaqa Min Fatawa Syekh Al-Fauzan, 2 soal no. 221).

Penegasan tentang masalah ini telah diuraikan dalam situs kami secara terperinci dan  panjang lebar. Silakan lihat soal no. 13342, 8919, 52845.

3. Tidak diragukan lagi bahwa ajaran Islam melarang wisata ke tempat-tempat rusak yang terdapat minuman keras, perzinaan, berbagai kemaksiatan seperti di pinggir    pantai yang bebas dan acara-acara bebas dan tempat-tempat kemaksiatan. Atau juga diharamkan safar untuk mengadakan perayaan bid’ah. Karena seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan maka jangan terjerumus (kedalamnya) dan jangan duduk dengan orang yang melakukan itu.

Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan: “Tidak diperkenankan bepergian ke tempat-tempat kerusakan untuk berwisata. Karena hal itu mengundang bahaya terhadap agama dan akhlak. Karena ajaran Islam datang untuk menutup peluang yang menjerumuskan kepada keburukan." (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/332).

Bagaimana dengan wisata yang menganjurkan kemaksiatan dan prilaku tercela, lalu kita ikut  mengatur, mendukung dan menganjurkannya?

Para ulama Al-Lajnah Ad-Daimah juga berkata: “Kalau wisata tersebut mengandung unsur memudahkan melakukan kemaksiatan dan kemunkaran serta mengajak kesana, maka tidak boleh bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir membantu untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah dan menyalahi perintahNya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti yang lebih baik dari itu. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/224).

4. Adapun berkunjung ke bekas peninggalan umat terdahulu dan situs-situs kuno , jika itu adalah  bekas tempat turunnya azab, atau tempat suatu kaum dibinasakan sebab kekufurannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak dibolehkan menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata dan hiburan.

Para Ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, ada di kota Al-Bada di  provinsi Tabuk terdapat peninggalan kuno dan rumah-rumah yang diukir di gunung. Sebagian orang mengatakan bahwa itu adalah tempat tinggal kaum Nabi Syu’aib alaihis salam. Pertanyaannya adalah, apakah ada dalil  bahwa ini adalah tempat tinggal kaum Syu’aib –alaihis salam- atau tidak ada dalil akan hal itu? dan apa hukum mengunjungi tempat purbakala itu bagi orang yang bermaksuk untuk sekedar melihat-lihat dan bagi yang bermaksud mengambil pelajaran dan nasehat?

Mereka menjawab: “Menurut ahli sejarah dikenal bahwa tempat tinggal bangsa Madyan yang  diutus kepada mereka Nabiyullah Syu’aib alaihis shalatu was salam berada di arah barat daya  Jazirah Arab yang sekarang dinamakan Al-Bada dan sekitarnya. Wallahu’alam akan kebenarannya. Jika itu benar, maka tidak diperkenankan berkunjung ke tempat ini dengan tujuan sekedar  melihat-lihat. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam ketika melewati Al-Hijr, yaitu tempat tinggal  bangsa Tsamud (yang dibinasakan) beliau bersabda: “Janganlah  kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi dirinya, khawatir kalian tertimpa seperti yang menimpa mereka,   kecuali kalian dalam kondisi manangis. Lalu beliau menundukkan kepala dan berjalan cepat     sampai melewati sungai." (HR. Bukhari, no. 3200 dan Muslim, no. 2980).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkomentar ketika menjelaskan manfaat dan hukum yang diambil dari peristiwa perang Tabuk, di antaranya adalah barangsiapa yang melewati di tempat mereka yang Allah murkai dan turunkan azab, tidak sepatutnya dia memasukinya dan menetap di dalamnya, tetapi hendaknya dia mempercepat jalannya dan menutup wajahnya hingga lewat. Tidak boleh memasukinya kecuali dalam kondisi menangis dan mengambil pelajaran. Dengan landasan ini, Nabi sallallahu’alaihi wa sallam menyegerakan jalan di wadi (sungai) Muhassir antara Mina dan Muzdalifah, karena di tempat itu Allah membinasakan pasukan gajah dan orang-orangnya." (Zadul Ma’ad, 3/560).

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam menjelaskan hadits tadi, "Hal ini mencakup  negeri  Tsamud dan negeri lainnya yang sifatnya sama meskipun sebabnya terkait dengan mereka." (Fathul Bari, 6/380).

Silakan lihat kumpulan riset Majelis Ulama Saudi Arabia jilid ketiga, paper dengan judul Hukmu   Ihyai Diyar Tsamud (hukum menghidupkan perkampungan Tsamud). Juga silahkan lihat soal jawab no. 20894.

5. Tidak dibolehkan juga wanita bepergian tanpa mahram. Para ulama telah memberikan fatwa haramnya wanita pergi haji atau umrah tanpa mahram. Bagaimana dengan safar untuk wisata yang di dalamnya banyak tasahul (mempermudah masalah) dan campur baur yang diharamkan? Silakan lihat soal jawab no. 4523, 45917, 69337 dan 3098.

6. Adapun mengatur wisata untuk orang kafir di negara Islam, asalnya dibolehkan. Wisatawan kafir kalau diizinkan oleh pemerintahan Islam untuk masuk maka diberi keamanan sampai keluar. Akan tetapi keberadaannya di negara Islam harus terikat dan menghormati agama Islam, akhlak umat Islam dan kebudayaannya. Dia pun di larang mendakwahkan agamanya dan tidak menuduh Islam dengan batil. Mereka juga tidak boleh keluar kecuali dengan penampilan sopan dan memakai pakaian yang sesuai untuk negara Islam, bukan dengan pakaian yang biasa dia pakai di negaranya dengan terbuka dan tanpa baju. Mereka juga bukan sebagai mata-mata atau spionase untuk negaranya. Yang terakhir tidak diperbolehkan berkunjung ke dua tempat suci; Mekkah dan Madinah.

Ketiga:Tidak tersembunyi bagi siapa pun bahwa dunia wisata sekarang lebih dominan dengan kemaksiatan, segala perbuatan buruk dan melanggar yang diharamkan, baik sengaja bersolek diri, telanjang di tempat-tempat umum, bercampur baur yang bebas, meminum khamar, memasarkan kebejatan, menyerupai orang kafir, mengambil kebiasaan dan akhlaknya bahkan sampai penyakit mereka  yang  berbahaya. Belum lagi, menghamburkan uang yang banyak dan waktu serta kesungguhan. Semua itu dibungkus dengan nama wisata. Maka ingatlah bagi yang mempunyai kecemburuan terhadap agama, akhlak dan umatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jangan sampai menjadi penolong untuk mempromosikan wisata fasik ini. Akan tetapi hendaknya memeranginya dan memerangi   ajakan mempromosikannya. Hendaknya bangga dengan agama, wawasan dan akhlaknya. Hal tersebut akan menjadikan negeri kita terpelihara dari segala keburukan dan mendapatkankan pengganti keindahan penciptaan Allah ta’ala di negara islam yang terjaga.

Wallahu’alam .


Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid
محمد صالح المنجد



Penterjemah: www.islamqa.info

Pengaturan: www.islamhouse.com



Quote Dakwah 02




Seorg lelaki penduduk surga diberikan kekuatan 100 lelaki dlm makan, minum, syahwat dan jima'. HR ibnu Hibban




[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 45 - Syarah Ushuluts Tsalasah 45

Penutup Syarah Ushuluts Tsalasah

Dalilnya firman Allah ta’ala:

“Tidak  ada paksaan  untuk (memasuki)  agama ( Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali  yang amat kuat, yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Ingkar  kepada  semua  thaghut  dan  iman  kepada  Allah saja,  sebagaimana  dinyatakan  dalam  ayat  tadi,  adalah hakikat syahadat “La Ilaha Illallah”

Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Pokok agama ini adalah Islam , dan tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah"

Hanya Allahlah yang Maha Tahu. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Tidak ada paksaaan dalam memeluk Islam]

Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Islam), karena telah tampak jelas dan gamblang dalil atau buktinya. Karena itulah, selanjutnya Alloh mengatakan,

"Sesungguhnya telah jelas kebenaran dari kesesatan"

Jika kebenaran itu telah jelas dari kesesatan, maka setiap jiwa yang sehat pasti memilih kebenaran ketimbang kesesatan.

[Barangsiapa yang kufur kepada taghut dan beriman kepada Allah ...]

Alloh 'azza wa jalla sengaja mendahulukan penyebutan kufur kepada thaghut sebelum penyebutan iman kepada Alloh, karena diantara kesempurnaan sesuatu adalah dihilangkanya berbagai penghalang sebelum adanya ketetapan-ketetapan. Oleh karena itu, dalam pepatah dikatakan, "Mengosongkan dahulu sebelum menghiasi".

[Maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang kuat]

Yaitu, benar-benar berpegang teguh dengannya secara sempurna. Sedangkan yang dimaksud dengan al-'urwatul-wutsqa', 'tali yang kuat' adalah Islam. Perhatikanfirman Allah "Faqod istamsaka" (Benar-benar telah berpegang teguh), bukan sekedar mengatakan, "Tamassaka" karena istimsak artinya (berpegangan erat, berpegang teguh) itu lebih kuat daripada tamassuk (memegang). Karena adakalanya seseorang itu memegang namun tidak berpegangan erat.

[Pokok segala urusan adalah Islam]

Penulis rahimahullah mengambil dalil berdasarkan hadits ini dengan maksud segala sesuatu itu mempunyai "kepala"; dan kepala (pokok) segala urusan yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wassalam adalah Islam.

[Tiangnya adalah shalat]

Karena Islam tidak bisa berdiri kecuali dengan sholat. Karena itu, pendapat yang kuat adalah yang menyatakan tentang kufurnya orang yang meninggalkan sholat, dan bahwasanya ia tidak punya kelslaman.

[Puncaknya adalah jihad]

Maksudnya, bagian Islam yang paling tinggi dan paling sempurna adalah jihad fi sabilillah. Karena manusia itu jika telah memperbaiki (mengishlah) dirinya, maka ia akan berusaha mengishlah orang lain dengan jihad fi sabilillah agar Islam itu berdiri tegak dan agar kalimat Alloh saja yang tinggi, maka dia fi sabilillah (berada di jalan Alloh). Jihad itu menjadi 'puncak punuk'-nya Islam karena dengan jihad itulah Islam menjadi tinggi di atas yang lainnya.

[Penutup]

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah menutup kitabnya ini dengan mengembalikan ilmu kepada Alloh 'azza wa jalla dan dengan memohonkan sholawat dan salam atas Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam. Dengan ini, selesailah sudah kajian tentang Al-Ushulu Ats-Tsalatsah serta hal-hal yang terkait dengannya. 

Kita memohon kepada Alloh Ta'ala agar berkenan memberikan pahala yang terbaik kepada penulis buku ini, dan juga berkenan memeruntukkan kepada kita bagian dari pahala tersebut serta mengumpulkan kita dan beliau di negeri kemurahan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Pemurah.

Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam. Semoga Alloh mencurahkan sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam.


والله أعلمُ بالـصـواب



[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 44 - Syarah Ushuluts Tsalasah 44

Dedengkot-dedengkot Thaghut

Thaghut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima:

1. Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah,

2. Orang yang disembah, sedang ia sendiri rela,

3. Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.

4. Orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghaib.

5. Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah.

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Dedengkot Taghut: Iblis]

Iblis adalah setan yang 'terajam'dan terlaknat, yang terhadapnya Alloh berfirman:

"Sesunguhnya laknat-Ku tetap atasmu hinga Hari Pembalasaa" (Shaad: 78)

Dahulunya, iblis itu bersahabat dengan para malalkat dan melakukan perbuatan yang dilakukan oleh para malaikat. Namun ketika iblis mendapat perintah untuk sujud kepada Adam 'alahissalam, tampaklah bahwa pada dirinya terdapat sifat busuk, enggan (durhaka), dan takabur. Karena ternyata ia enggan (untuk sujud) dan takabur, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir, akhirnya ia terusir dari rahmat Allah Ta'ala, Allah berfirman,


'Ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat (yang di situ terdapat pula iblis), 'Sujudlah kalian kepada Adam!' Maka bersujudlah mereka, kecuali iblis. Ia enggan dan takabur, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir'”(Al-Baqarah: 34).

[Dedengkot Taghut: Orang yang disembah, sedangkan ia rela]

Yaitu orang yang diibadahi (disembah) selain Alloh, sedangkan ia rela untuk disembah selain Allah. Ia termasuk salah satu dari dedengkot thaghut -wal 'iyadzu billah- entah ia disembah semasa hidupnya ataupun sepeninggalnya jika ia mati dalam keadaan rela akan hal itu.

[Dedengkot Taghut: Orang yang mengajak manusia untuk mengibadahinya] Yaitu orang yang-menyeru atau mengajak manusia untuk mengibadahi dirinya, sekalipun mereka tidak mengibadahinya. Orang seperti ini termasuk salah satu dedengkot thaghut; entah seruannya tersebut mendapat sambutan ataupun tidak.

[Dedengkot Taghut: Orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib]

Gaib adalah sesuatu yang tersembunyi dari jangkauan manusia. Gaib ini ada dua macam; yang sudah terjadi dan yang akan datang. Gaib yang sudah terjadi ini sifatnya nisbi (relatif), jadi bagi seseorang merupakan sesuatu yang maklum (dapat diketahui), namun bagi orang lain merupakan sesuatu yang majhul (tidak dapat diketahui). Sedangkan gaib tentang masa yang akan datang itu bersifat hakiki, yang tidak dapat dikeiahui oleh seseorang, kecuali hanya oleh Alloh, atau oleh rosul-rosul yang memang telah diberitahu oleh-Nya. Maka siapa saja yang mengaku mengetahuinya, maka ia berarti kafir, karena ia mendustakan Allah dan Rosul-Nya. Alloh ta'ala, berfrman,

“Katakanlah, 'Tidak ada seorangpun di langit ataupan di bumi yang mengetahai perkara gaib kecuali Allah'. Dan mereka tidak mengetabui bilamana mereka dibangkitkan (An-Naml: 65)

Bila Alloh 'azza wa jalla telah memerintahkan Nabi-Nya,

Muhammad shallallahu'alaihi wassalam untuk mengumumkan kepada khalayak manusia bahwasanya tiada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Alloh saja. Maka barangsiapa mengaku mengtahui perkara gaib, berarti ia telah mendustakan Alloh 'azza wa jalla dan juga mendustakan Rosul-Nya mengenai pemberitaan ini.

Kami tanyakan kepada mereka itu, bagaimana mungkin kalian dapat mengetahui perkara gaib, sedangkan Nabi

Muhammad shallallahu'alaihi wassalam saja tidak mengetahurnya?! Apakah kalian ini lebih unggul dari pada Rosululloh shallallahu 'alaihi wassalam ataukah Rosululloh yang lebih unggul?Jika mereka menjawab, "Kami lebih unggul (lebih mulia) daripada Rosul", maka mereka telah menjadi kafir lantaran perkataan ini. Dan jika mereka menjawab bahwa beliau itu lebih unggul, maka kami tanyakan kepada mereka, "Lalu mengapa beliau tidak dapat mengetahui perkara gaib sedangkan kalian mengetahuinya?! Sedangkan Alloh 'azza wa jalla telah berfirman tentang diri-Nya:

“Dia Maha Mengetahui perkara gaib; maka Dia tidak menampakkan kepada seorang pun tentang perkara gaib itu, kecuali kepada rosul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya" (Al-Jinn: 26-27)

Ini merupakan ayat -selain ayat di atas- yang menunjukkan kafirnya orang yang mengaku mengetahui perkara gaib. Alloh Ta'ala bahkan telah memerintahkan Nabi-Nya agar mengumumkan kepada khalayak manusia melalui firman-Nya, 'Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Alloh ada padaku; aku tidak mengetahui perkara gaib; dan aku juga tidak mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang telah diwahyukan kepadaku'" (Al-An'am: 50)

[Dedengkot Taghut: Orang yang mengukumi dengan selain hukum Allah]

Berhukum dengan hukum yang telah diturunkan oleh Alloh Ta'ala termasuk bagian dari tauhid rububiyah, karena hal itu merupakan pengejawantahan hukum Alloh yang menjadi tuntutan atau konsekuensi rububiyah-Nya, serta kesempurnaan kerajaan dan pengaturan-Nya. Oleh karena itu, Alloh Ta'ala menamakan orang-orang yang diikuti dalam menjalankan hukum selain hukum yang telah diturunkan oleh Alloh Ta'ala sebagai "tuhan-tuhan" (Robb) bagi orang-orang yang mengikuti mereka. Alloh Ta'ala berfirman :

"Mereka menjadikan orang-orang alim dan rohib-rohib mereka sebagai 'tuhan-tuhan' selain Alloh, dan juga mereka mempertuhan Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya diperintah untuk mengibadahi Alloh Yang Maha Tunggal; tiada ilah selain-Nya. Maha suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan" (At-Taubah: 31)

Alloh Ta'ala menamakan para ikutan itu sebagai "ruhan-tuhan", karena mereka dijadikan sebagai para pensyariat di samping Alloh Ta'ala, dan menamakan para pengikut mereka sebagai "para hamba" (penyembah), karena para pengikut itu tunduk dan taat kepada mereka dalam menyelisihi hukum Alloh Ta'ala.

'Adi bin Hatim ketika itu bertanya kepada Rosululloh shallallahu 'alahi wassalam "Sesungguhnya para pengikut itu tidak menyembah mereka?" Maka Rosululloh shallallahu 'alahi wassalam bersabda:

"Mereka telah mengharamkan terhadap para pengikut itu sesuatu yang halal, serta menghalalkan buat mereka sesuatu yang haram; lalu para pengikut itu pun mengikuti (menaati) mereka. Itulah penyembahan (ibadah) para pengikut ini kepada mereka!" (HR. Tirmidzi dan dihasankannya)

Jika Anda telah memahami hal itu, maka ketahuilah bahwa siapa saja yang tidak menghukumi dengan (hukum) yang telah diturunkan oleh Alloh, dan menghendaki agar berhukum itu adalah kepada selain Alloh dan Rosul-Nya; maka mengenai orang semacam ini terdapat ayat-ayat yang menafikan keimanan dari dirinya serta ayat-ayat yang menyatakan kekufuran, kezholiman dan kefasikannya.

Mengenai bagian yang pertama (ayat-ayat. yang menafikan keimanannya), misalnya adalah firman Alloh Ta'ala,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah:

"Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna". Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An - Nisaa: 60-65).


Allah Ta'ala mensifati mereka yang mengaku beriman sedangkan sebenarnya mereka itu munafik, dengan beberapa sifat :

Pertama:

Bahwa mereka menginginkan agar berhukum itu kepada thaghut; yaitu setiap hukum yang menyelisihi hukum Alloh Ta'ala dan hukum Rosul-Nya. Sebab, setiap yang menyelisihi hukum Allah dan Rosul-Nya itu merupakan kezholiman dan perlawanan terhadap hukum Alloh, Dzat pemilik kekuasaan hukum dan hanya kepada-Nya dikembalikan segala urusan. Allah Ta'ala berfirman,

'Ingatlah, mencipta dan memerintah hanyalah wewenang Allah" (Al-A'raaf: 54)

Kedua:

Ketika mereka diseru untuk tunduk kepada hukum yang telah diturunkan oleh Alloh dan kepada hukum Rosululloh, maka mereka menolak dan berpaling.

Ketiga:

Jika mereka mendapatkan musibah yang sebenarnya disebabkan oleh perbuatan tangan mereka sendiri ,diantaranya tertimpa oleh perbuatan mereka sendiri, maka mereka kemudian datang untuk bersumpah bahwa mereka tidak menginginkan sesuatu melainkan penyelesaian yarrg baik dan perdamaian yang sempurna, seperti pernyataan orang sekarang yang menolak hukum-hukum Islam dan memilih menghukumi dengan aturan-aturan atau undang-undang yang menyelisihi hukum Islam, dengan mengemukakan alasan dan anggapan bahwa hal itu merupakan bentuk penyelesaian terbaik yang sesuai dengan kondisi zaman.

Selanjutnya, Allah Ta'ala memperingatkan mereka yang mengaku beriman namun memiliki sifat-sifat seperti itu, bahwa Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka serta apa saja yang mereka simpan dalam hati, berupa hal-hal yang berbeda dengan yang mereka katakan. Alloh memerintahkan Nabi-Nya agar menasihati mereka dan mengatakan perkataan yang mengena pada jiwa mereka.

Selanjutnya Alloh menjelaskan bahwa hikmah diutusnya Rosul itu adalah agar rosul itu ditaati dan diikuti, bukannya mengikuti manusia lain sekalipun mempunyai pemikiran-pemikiran yang handal dan wawasan yang luas. Setelah itu, Alloh bersumpah dengan rububiyah-Nya terhadap Rosul-Nya yang merupakan bentuk rububiyah yang paling khusus, dan hal itu mengandung isyarat atau petunjuk akan kebenaran risalah Muhammad shallallahu 'alahi wassalam. Di situ Alloh bersumpah dengan bentuk sumpah yang sangat dikuatkan bahwasanya keimanan itu tidak bisa sah kecuali dengan tiga perkara.

1. Dalam setiap perselisihan yang ada harus berhakim kepada Rosululloh shallallahu 'alahi wassalam

2. Harus berlapang dada dalam menerima hukum (putusan) Rosululloh, dan di dalam hati tidak terdapat rasa keberatan dalam menerimanya.

3. Harus pasrah atau tunduk dalam menerima apa yang dihukumkan oleh beliau, serta menunaikannya tanpa melakukan penyimpangan.

Untuk bagian yang kedua (tentang ayat-ayat yang menyatakan kekufuran, kezholiman serta kefasikan orang yang tidak meng hukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Alloh) adalah seperti firman Allah Ta'ala:

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al-Maidah: 44)

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim” (Al-Maidah: 45)

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (Al-Maidah: 47)

Apakah ketiga sifat ini ditujukan kepada seorang yang disifati saja; dalam arti bahwa setiap orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang diturunkan oleh Alloh, berarti dia kafr, zholim dan fasik sekaligus? Sebab, Alloh Ta'ala mensifati orang-orang kafir itu dengan sifat zholim dan fasik. Alloh ta'ala berfirman

“..dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang dz alim” (Al-Baqarah: 254)

Alloh juga berfirman :

"... sesungguhnya mereka itu telah kafir kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik” (At-Taubah: 84)

Sehingga setiap orang yang kafir itu berarti zholim dan fasik. Atau apakah sifat-sifat ini ditujukan kepada beberapa orang yang disifati sesuai dengan penyebab mereka untuk tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan oleh Alloh? Menurut saya, ini yang lebih bisa diterima (benar). Wallahu a'lam.

Dengan demikian, kami dapat mengatakan, ..Orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan

oleh Alllah karena meremehkannya, atau merendahkannya, atau karena meyakini bahwa hukum lainnya lebih bermaslahat (baik) daripada hukum Alloh, serta lebih bermanfaat bagi umat manusia, atau dengan alasan-alasan lain yang semisal, maka dia berarti kafir dalam bentuk kekufuran yang mengeluarkan dirinya dari agama (murtad).

Di antara kategori mereka itu adalah orang yang membuat perundang-undangan untuk manusia, yang menyelisihi perundang-undangan lslam, dengan tujuan agar perundang-undangan yang dibuat itu menjadi manhaj yang dipakai oleh umat manusia; maka sebenarnya mereka itu tidak membuat perundang-undangan yang menyelisihi syariat Islam melainkan mereka itu berkeyakinan bahwa hal itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat bagi umat manusia. Sebab, sudah pasti dapat dimaklumi oleh akal sehat dan tabiat fitrah bahwa manusia itu tidak akan mau berpaling dari satu manhaj menuju manhaj lain yang menyelisihinya, kecuali karena ia meyakini akan kelebihan manhaj yang ia pilih dan kekurangan manhaj yang ia tinggalkan.

Siapa yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Alloh, namun ia tidak meremehkan dan merendahkan hukum Alloh ini, serta tidak meyakini bahwa hukum lainnya lebih bermaslahat bagi dirinya daripada hukum Alloh ini, maka berarti ia zholim, bukan kafir. Tingkatan-tingkatan kezholimannya itu sesuai dengan yang dihukumkan (hukum yang diberlakukan) dan perangkat lukumnya.

Orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah dirurunkan oleh Alloh, bukan karena meremehkan hukum Alloh, bukan karena merendahkannya, dan juga bukan karena meyakini bahwa hukum lainnya lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat bagi manusia dan semisalnya; namun, hanya saja ia menghukumi dengan selain hukum Alloh itu karena memihak pihak yang dimenangkan dalam perkara hukumnya, atau karena terikat dengan suap, atau jenis-jenis materi duniawi lainnya, maka dia berarti fasik, bukan kafir. Tingkat kefasikannya itu berbeda-beda sesuai dengan hukum yang dibedakukan serta perangkat-perangkat hukumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan tentang orang-orang yang menjadikan orang-orang alim (ahbar) mereka dan rohib-rohib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Alloh, bahwa mereka itu terbagi menjadi dua kategori :

a. Orang-orang yang mengetahui bahwa para ulama dan rohib-rohib tersebut mengganti agama Alloh, namun orang-orang itu tetap saja mengikuti mereka terhadap tindakan mengganti agama Alloh itu serta meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan oleh Alloh dan keharaman sesuatu yang dihalalkan oleh-Nya, demi mengikuti pemimpin-pemimpinnya, sedang orang-orarrg itu tahu bahwa mereka itu telah menyalahi agama para rosul; maka yang semacam itu merupakan kekufuran, bahkan Allah dan Rosul-Nya telah menyatakan hal itu sebagai bentuk kesyirikan.

b. Orang-orang yang punya keyakinan tetap tentang penghalalan sesuatu yang diharamkan (oleh Alloh) dan pengharaman yang dihalalkan, akan tetapi orang-orang ini menaati mereka dalam bermaksiat kepada Alloh sebagaimana tindakan seorang muslim yang melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang memang ia yakini sebagai kemaksiatan; maka orang-orang seperti ini dihukumi sebagaiman para ahli dosa.

Ada perbedaan antara masalah-masalah yang dapat dikategorikan sebagai pensyariatan (legislasi) yang bersifat umum dengan masalah yang bersifat spesifik, yang disitu seorang qodhi (hakim) menghukumi dengan selain hukum yang telah diturunkan oleh Alloh.

Sebab masalah-masalah yang tidak bisa dikategorikan sebagai pensyariatan yang bersifat umum itu tidak bisa dibagi sebagaimana di atas. Hanyasanya hal itu termasuk dalam kategori bagian pertama saja, karena orang yang membuat pensyariatan yang menyelisihi Islam itu, sudah tentu ia melakukan karena keyakinannya bahwa hal itu lebih membawa kemaslahatan daripada Islam, serta lebih bermanfaat bagi umat manusia; sebagaimana yang telah dikemukakan di depan.

Masalah ini, yaitu masalah menghukumi dengan selain hukum yang diturunkan oleh Alloh, termasuk masalah-masalah besar yang menimpa para penguasa di zaman ini. Oleh karena itu, siapa saja jangan sampai terburu-buru meminta putusan hukum kepada mereka dalam persolan yang tidak menjadi hak mereka, sampai kebenaran itu menjadi jelas baginya. Sebab, masalah ini cukup rawan dan berbahaya. Kita memohon kepada Alloh Ta'ala kiranya berkenan memperbaiki para penguasa kaum muslimin.

Demikian juga, setiap orang yang diberi ilmu oleh Alloh Ta'ala, agar menjelaskan hal ini kepada para penguasa agar mereka mendapatkan hujah dan tujuan pun menjadi jelas; sehingga orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata, dan orang yang hidup pun hidupnya dengan keterangan yang nyata pula. Jangan sampai orang yang berilmu itu merasa rendah diri untuk memberikan penjelasan mengenai hal ini dan jangan sampai takut kepada seorang pun dalam melakukan hal ini. Karena sesungguhnya 'izzah (kemuliaan, keperkasaan) itu hanyalah milik Alloh, milik Rosul-Nya dan milik orang-orang yang beriman.


والله أعلمُ بالـصـواب



[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 43 - Syarah Ushuluts Tsalasah 43

Rasul-rasul, Hikmah Pengutusan dan Seruannya

Allah telah mengutus semua Rasul sebagai pemberi kabar gembira  dan  pemberi  peringatan.  Sebagaimana  firman Allah ta’ala:

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa beri ta gembira dan pemberi peringatan, agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu.” (QS. An-Nisa’: 165).

Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para Nabi. Dalil yang menunjukkan bahwa Rasul pertama adalah Nabi Nuh, firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya”. (QS. An-nisa’: 163).

Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan kepada mereka untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka beribadah kepada thaghut. Allah ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul (untuk menyerukan): "Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.” (QS. An-Nahl:36).

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsamin

[Hikmah diutusnya para rasul]

Penulis rahimahullah menjelaskan bahwa Alloh Ta'ala mengutus seluruh rosul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, sebagaimana firman Alloh di atas, "Kami telah mengutus rosul-rosul itu sebagai pemberi kabar gembira dan peingatan", memberi kabar gembira dengan surga terhadap orang yang mengikutinya, serta memberi peringatan dengan neraka terhadap o:rang yang menyelisihinya.

Diutusnya para rosul itu punya banyak hikmah. Di antaranya yang terpenting, bahkan merupakan yang paling penting adalah tegaknya hujah atas manusia, sehingga tidak ada lagi suatu hujah (alasan) bagi mereka untuk membantah Alloh setelah diutusnya para rosul itu, sebagaimana firman Alloh di atas,

"supaya tidak ada lagi suatu alasan bagi rnanusia untuk membantah Alloh seteiah (diutusnya) para rosul"

Di antara hikmah lainnya adalah bahwa hal itu merupakan kesempurnaan nikmat Allah atas hamba-hamba-Nya. Karena sesungguhnya akal manusia itu betapa pun hebatnya, tidak mungkin dapat mengetahui rincian apa saja yang wajib bagi Alloh Ta'ala yang berupa hak-hak khusus bagi-Nya, tidak mungkin dapat mengetahui apayang dimiliki oleh Alioh Ta'ala berupa sifat-sifat yang sempurna, dan juga tidak mungkin dapat mengetahui asmaul-husna yang dimiliki-Nya. 

Oleh karenanya, Alloh mengutus para rosul 'alahimussalam sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan; serta telah menurunkan Kitab bersama mereka dengan membawa kebenaran, untuk menghukumi manusia mengenai apa yang mereka perselisihkan.

Seruan (dakwah) para rosul yang paling agung, sejak rosul pertama Nuh 'alahissalam; hingga rosul terakhir Muhammad , adalah tauhid. Alloh Ta'ala berfirman:

"Sesunguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Ibadahilah Alloh saja dan jauhilah thaghut!'”(An-Nahl: 36)

Alloh 'azza wa jalla juga berfirman:

“Tidaklah Kami mengatus seorang rosul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Babwasanya tidak ada ilah selain Aku, maka ibadahilah Aku!"'(Al-Anbiya' : 25)

[Nuh 'alahissalam merupakan rasul pertama]

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan bahwa rosul yang pertama adalah Nuh dan beliau mengambil dalil firman Alloh Ta'ala:

"Sesunguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya” (An-Nisaa: 163 )

Dalam hadits shahih tentang syafaat disebutkan:

"Sesungguhnya manusia nanti akan mendatangi Nuh lalu mengatakan kepadanya, 'Engkau adalah rosul pertama yang diutus Alloh kpada penduduk bumi!'” (HR. Bukhari dalam Kitabut Tauhid, HR. Muslim dalam Kitabul Iman)

Dengan demikian, tidak ada rosul sebelum Nuh 'alahissalam

Dengan ini pula, kita tahu kesalahan para sejarawan yang mengatakan bahwa Idris 'alahissalam itu sebelum Nuh 'alahissalam, bahkan yang tampak adalah bahwa Idris itu termasuk di antara nabi-nabi Bani Israil.

Sedangkan nabi terakhir dan penutup para nabi adalah Muhammad shallallahu 'alahi wassalam. Alloh Ta'ala berfirman,

"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu, akan tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. Adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu" (Al-Ahzab: 40).

Dengan demikian, tidak ada nabi lagi setelah beliau. Siapa saja yang mengaku sebagai nabi sepeninggal beliau, maka ia adalah pendusta, kafir dan murtad dari Islam.

[Setiap Rasul menyerukan tauhid]

Maksudnya, bahwa Alloh telah mengutus seorang rosul untuk setiap umat, yang menyeru mereka untuk mengibadahi Allah saja, serta melarang mereka dari perbuatan syirik. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala:

“Tiada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (rosul)" (Fathir: 24).

Alloh Ta'ala berfirman,

"Sesunguhnya Kami telah mengutus kepada setiap urnat seorang rosul (untuk menyerukan), 'Ibadahilah Allah (saja) dan jauhilah thaghut!'" (An-Nahl: 36)

[Ibadahilah Allah saja dan jauhilah taghut]

Ini adalah makna laa ilaha illallah

Kewajiban Mengingkari Thaghut

Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir kepada thaghut dan hanya beriman kepada-Nya saja.

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah ta’ala telah menjelaskan pengertian thaghut dengan mengatakan: “Thaghut, ial ah segala sesuatu yang diperlakukan manusia secara melampaui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti, atau dipatuhi.”

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Wajibnya ingkar kepada taghut]

Syaikhul Islam rahimahullah memaksudkan bahwa tauhid itu tidak akan sempurna kecuali dengan mengibadahi Alloh saja, tiada sekutu bagi-Nya, serta dengan menjauhi thaghut.

Alloh telah mewajibkan hal itu kepada seluruh hamba. Sedangkan kata thaghut di sini merupakan pecahan dari kata thughyan yang mempunyai arti melampui batas. Di antara contohnya adalah firman Alloh Ta'ala,

"Sesunguhnya Kami, tatkala air telah 'melampaui batas', maka Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera" (Al-Haaqqah:11)

Maksudnya, ketika air itu telah melampaui batas yang normal (meluap melampaui batas), maka Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam bahtera.

Menurut istilah, pengertian thaghut yang paling tepat adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnul Qoryim rahimahullah, yaitu apa saja yang diperlakukan oleh hamba (manusia) secara melampaui batas; berupa sesuatu yang disembah, diikuti dan ditaati.

Yang dimaksud dengan yang disembah, diikuti dan ditaati sini adalah selain orang-orang sholih. Orang-orang sholih itu bukan thaghut, sekalipun mereka disembah, diikuti, atau ditaati. Berhala-berhala yang disembah selain Alloh, itulah thaghut.

Para ulama su'u, yang menyeru kepada kesesatan dan kekufuran, atau menyeru untuk menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh, maka mereka itu adalah para thaghut. Orang-orang yang menggoda para pemimpin atau penguasa untuk keluar dari syariat Islam untuk berganti menggunakan tatanan-tatanan yang mereka impor, yang menyelisihi tatanan agama Islam, maka mereka itu adalah para thaghut. Sebab, mereka ini telah melampaui batasnya. 

Batasan seorang alim (ulama) adalah mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi, karena pada hakekatnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Para ulama itu mewarisi para nabi dalam mengurus umat para nabi itu, baik berkenaan dengan ilmu, amal, akhlak, serta dakwah maupun ta'lim. Jika para ulama itu telah melampaui batasan ini, lalu mereka justru menggoda para penguasa untuk keluar dari syariat Islam dengan berganti menggunakan tatanan-tatanan (nizham) semacam itu; maka mereka ini adalah para thaghut. Sebab, mereka telah melampaui batas yang diwajibkan atas mereka, yaitu mengikuti syariat.

Yang dimaksudkan dengan perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah “atau yang ditaati", adalah para umaro yang ditaati karena syari maupun karena kebesaran atau keagunganya. Para umaro itu ditaati karena syar'i, manakala mereka memerintahkan sesuatu yang tidak bertentangan dengan perintah Allah dan rosul-Nya. Dalam hal semacam ini tidak benar jika mereka dikatakan sebagai thaghut. Bahkan mendengar dan menaati mereka merupakan kewajiban bagi rakyat. Ketaatan rakyat terhadap ulil amri dalam hal ini dan dengan ikatan seperti ini merupakan bentuk ketaatan kepada Alloh 'azza wa jalla. 

Oleh karena itu, seyogyanya kita mesti selalu ingat bahwa ketika kita menunaikan apa yang diperintahkan oleh ulil amri dalam hal yang memang wajib ditaati, kita dalam menunaikan hal itu berarti beribadah kepada Alloh ta'ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara mentaati ulil amri itu; sehingga perintah yang kita tunaikan ini meniadi suatu bentuk pendekatan diri (qurbah) kepada Alloh 'azza wa jalla . Yang menjadi dasar bahwa kita mesti ingat akan hal ini adalah karena Alloh Ta'ala  berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul-Nya serta ulil amri di antara kalian" (An-Nisaa: 59).

Ketaatan kepada umaro bisa juga karena kebesaran umaro tersebut. Umaro' itu jika memiliki kekuasaan yang kuat, maka manusia akan mematuhi mereka lantaran kuatnya kekuasaan itu, jika bukan karena kendali iman. Sebab, ketaatan kepada ulil amri itu sebenarnya atas dasar kendali iman; dan inilah ketaatan yang bermanfaat, bagi para ulil amri itu sendiri maupun juga bagi manusia atau rakyat seluruhnya.

Terkadang ketaatan atau kepatuhan itu lantaran kendali sang penguasa;karena dia kuat, sehingga manusia merasa takut dan khawatir kepadanya. Sebab ia akan menyiksa siapa saja yang menyelisihi perintahnya.

Oleh karena itu, dapat kami katakan bahwa hubungan antara manusia pada umumnya dengan para penguasa mereka dalam masalah ini terbagi menjadi beberapa kondisi :

Pertama : Kuatnya kendali iman dan kendali penguasa.

Inilah bentuk ketaatan yang paling sempurna dan paling tinggi.

Kedua: Lemahnya kendali iman dan kendali penguasa.

Ini adalah kondisi yang paling rendah dan paling berbahaya bagi masyarakat, baik terhadap penguasa itu sendiri maupun bagi rakyat Sebab jika kendali iman dan kendali penguasa itu lemah, maka yang terjadi adalah anarki pemikiran, akhlak maupun perbuatan.

Ketiga: Lemahnya kendali iman dan kuatnya kendali penguasa

Ini adalah tingkatan nomor tengah. Sebab jika kendali penguasa itu kuat, maka hal itu akan lebih bermaslahat bagi umat dalam bentuk luarnya. Jika kekuatan penguasa itu sudah tersembunyi, maka Anda tidak perlu tanya lagi mengenai kondisi umat dan aktivitasnya yang buruk.

Keempat: Kuatnya kendali iman dan lemahnya kendali penguasa.

Dalam kond.isi seperti ini, maka perwujudan luarnya lebih rendah dari pada kondisi yang ketiga di atas, akan tetapi hubungan antara manusia dengan Robbnya jauh lebih sempurna dan lebih tinggi.



والله أعلمُ بالـصـواب



[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 42 - Syarah Ushuluts Tsalasah 42

Landasan 3. Mengenal Nabi: Meninggalnya Rasulullah

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantahan dihadapan Tuhanmu.” (Az-Zumar: 30-31)

  

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Ayat ini menunjukan bahwa Nabi dan umatnya, semuanya akan mati. Dan bahwasanya mereka itu pada hari Kiamat kelak akan berbantah-bantahan di hadapan Alloh, lalu Alloh menghukumi di antara mereka dengan kebenaran dan sekali-kali Alloh tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir atas orang-orang mukmin.

Ba'ts, Pembangkitan Manusia Setelah Meninggalnya

Manusia  sesudah  mati  akan  dibangkitkan  kembali. Dalilnya, firman Allah ta’ala:
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami  akan  mengembalikan kamu, dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kamu kali yang lain.” (QS. Thaha: 55).

Dan firman Allah ta’ala:

“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.” (QS. Nuh: 1 7-18) [2]

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[1] Dalam kalimat ini, Syaikh menjelaskan bahwa manusia itu jika telah mati pasti akan dibangkitkan lagi. Alloh akan membangkitkan mereka dalam keadaan hidup setelah kematian mereka untuk menerima balasan. Inilah nilai diutusnya para rosul, agar manusia itu beramal untuk menghadapi hari kebangkitan ini. Alloh Ta'ala menyebutkan tentang keadaan dan kengerian Hari Kebangkitan ini yang menjadikan hati harus bertaubat kepada Alloh shallallahu 'alaihi wassalam dan harus takut kepada hari kebangkitan ini. Alloh Ta'ala berfirman :

“ Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. Langit pun pecah belah pada hari itu karena Alloh. Adalah janji-Nya pasti terlaksana.” (Al Muzammil : 17-18)

Kalimat yang dikemukakan oleh Syaikh di atas menunjukan kewajiban beriman kepada hari Kebangkitan. Kemudian Syaikh mengambil dua ayat diatas.

[2] Ayat ini sesuai persis dengan firman Alloh :

“Dari tanah kalian Kami ciptakan; kepadanya kalian kami kembalikan; dan darinya pula kalian akan Kami keluarkan (bangkitkan) untuk kedua kalinya”. (Thoha : 55).

Ayat ini yang semakna dengan ini jumlahnya cukup banyak. Alloh 'azza wa jalla telah menjelaskan dan telah mengulang-ulang masalah kepastian hari kebangkitan sampai manusia beriman dengan hari kebangkitan itu serta semakin bertambah lagi keimanannya, lalu beramal untuk menghadapi hari kebangkitan itu dan tergolong orang-orang yang berbahagia di hari itu.

Hisab, Hari Perhitungan Amal

Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan dihisab dan diberi  balasan sesuai  dengan  perbuatan  mereka.Firman Allah ta’ala:


“Dan hanya kepunyaan Allahlah  apa yang ada di lang it dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah  mereka   kerjakan  dan  memberi  balasan  kepada orang-orang  yang  berbuat  baik  dengan  (pahala)  yang lebih baik lagi (surga).” (QS. An-Najm: 31).

Barangsiapa yang tidak mengimani hari kebangkitan ini, maka dia adalah kafir. Firman Allah ta’ala:

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Tidak demikian. Demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”(QS. At-Taghabun: 7)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Maksudnya, bahwa manusia itu setelah dibangkitkan akan diberi balasan dan dihisab amal perbuatan mereka; jika baik, maka balasannya baik, dan jika buruk, maka balasannya buruk pula. Alloh Ta'ala berfirman :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan seberat dzarroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula”. (A z-Zalzalah : 7-8)

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang dizholimi (dirugikan) sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji shallallahu 'alaihi wassalami, Kami pasti tetap mendatangkan (pahala)nya. Cukuplah Kami sebagai penghisab”. (Al Anbiya : 47).

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat; dan barangsiapa membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka tidak dizholimi (dirugikan) sedikit pun”. (Al An'am : 160).

Amalan kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan lebih banyak lagi, sebagai karunia dan kemurahan dari Alloh Ta'ala. Alloh Ta'ala telah melebihkan balasan yang luas dan banyak. Adapun amal buruk hanya akan diberi balasan sama dengan kadar keburukan itu, di mana manusia tidak akan diberi balasan melebihi keburukan yang dilakukannya. Alloh Ta'ala berfirman,

“ Barangsiapa yang membawa amal perbuatan jahat, maka dia tidaklah diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka tidak dirugikan sedikit pun”. (Al An'am : 160)

Ini merupakan bagian dari kesempurnaan karunia Alloh Ta'ala dan kebaikan hati-Nya.

Selanjutnya,  syaikh  membawakan  dalil  dengan  firman

Alloh Ta'ala :

“... Agar Dia memberi balasa kepada orang-orang yan g berbuat buruk sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan itu, dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan balasan yang lebih baik lagi”. (An-Najm : 31)

Siapa saja yang mendustakan Hari Kebangkitan, maka ia adalah kafir, berdasarkan firman Alloh Ta'ala :

“Mereka mengatakan, “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan'. Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Robbnya (tentulah kamu melihat peristiwa yang

mengharukan). Alloh berfirman, 'Bukankah (kebangkitan) ini benar?' Mereka menjawab, 'Sungguh benar, demi Robb kami'. Alloh berfirman, 'Karena itu,

rasakanlah adzab ini disebabkan kamu mengingkari(nya)!” (Al An'am : 29-30)

Firman Alloh Ta'ala,

“Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Yaitu orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi pendosa, yang apabila dibacakan kedapanya ayat-ayat Kami, ia berkata, 'itu adalah dongengan orang-orang dahulu'. Sekali-kali tidaklah demikian! Sebenarnya apa yang selsu mereka usahan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang (melihat) Robb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Lalu dikatakanlah (kepada mereka), inilah adzab yang dulu selalu kamu dustakan!” (Al Muthofifin : 1 0-17).

Firman Alloh Ta'ala,

“Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan kami telah menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat”.(Al Furqon : 11 )

Firman Alloh Ta'ala,

"Orang-orang yang mengkufuri (mengingkari) ayat-ayat Alloh dan mengkufuri pertemuan dengan-Nya, mereka telah putus asa dari rohmat-Ku, dan bagi mereka adzab yang pedih" (Al-'Ankabut: 23)

Syaikh rahimahullah mengambil dalil dengan ayat ke-7 dari surat At-Taghabun di atas untuk memberi keterangan yang memuaskan kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan itu, maka dapat kami jelaskan sebagai berikut :

Pertama:

Bahwasanya masalah Hari Kebangkitan itu telah dinukil secara bersambung dari para nabi dan rosul dalam kitab-kitab ilahi dan syariat-syariat langit, serta telah diterima sepenuhnya oleh umat-umat para nabi dan rosul itu. Nah, bagamana Anda dapat mengingkarinya sedangkan Anda membenarkan apa yang dinukilkan untuk Anda dari seorang filosof, atau penemu suatu prinsip atau pemikiran (paham), sekalipun berita yang sampai kepada Anda tidak sebanding dengan berita mengenai kebang kitan, baik dalam hal sarana pengutipan (penukilan) maupun dalam hal kesaksian kenyataan?!

Kedua:

Masalah kebangkitan ini telah disaksikan oleh akal mengenai bakal terjadinya kebangkitan itu. Itu dapat dilihat dari beberapa sudut :

1. Setiap orang tidak akan mengingkari bahwa dirinya adalah makhluk yang tercipta dari ketiadaan, dan muncul setelah sebelumnya tidak ada. Dzat yang menciptakan dan mengadakannya setelah sebelumnya tidak ada itu sudah tentu kuasa untuk mengembalikannya seperti semula. Ini sebagaimana firman Alloh Ta'ala:

“Dialah yang telah menciptakan dari permulaan, kemudian akan mengembalikannya lagi; dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.. "(Ar-Rum: 27).

Alloh Ta'ala juga berfirman,

"Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, maka begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang mesti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya" (Al-Anbiya: 104)

2. Setiap orang juga tidak ada yang mengingkari keagungan penciptaan langit dan bumi, betapa besar keduanya, serta tidak mengingkari keindahan penciptaan keduanya. Dzat yang telah menciptakan keduanya itu sudah tentu kuasa untuk menciptakan manusia dan mengembalikan mereka sebagai mana semula. Alloh Ta'ala berfrman :

"Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi itu lebih besar dari pada penciptaan manusia..." (Al-Mu'min: 57).

“Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesunguhrya Alloh yang menciptakan langit dan bumi, dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa untuk menghidapkan orang-orang mati?!Ya, sudah tentu kuasa. Bahkan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu" (Al-Ahqaf :33)

Alloh Ta'ala berfirman,

'Bukankah Dqat yang telah menciptakan langit dan bumi itu kuasa untuk menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Tentu! Dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Tahu. Sesunguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya 'Jadilah!", maka jadilah apa yang dikehendaki." (Yasin: 82)

3. Setiap orang yang punya penglihatan tentu dapat menyaksikan bumi yang gersang tak bertumbuhan. ketika air huian turun mengguyurnya, maka ia berubah menjadi subur dan tumbuhannya pun hidup kembali setelah sebelumnya mati. Dzat yang kuasa untuk menghidupkan bumi (tanah) -setelah kematiannya- sudah tentu kuasa untuk menghidupkan orang-orang yang mati dan kuasa membangkitkan mereka. Alloh Ta'ala, berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau li hat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”(Fushshilat: 39).

Ketiga:

Masalah terjadinya kebangkitan ini telah disaksikan oleh indera maupun kenyataan, sebagaimana telah diberitakan oleh Alloh Ta'ala kepada kita mengenai kejadian-kejadian nyata tentang dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati. Alloh Ta'ala menyebutkan hal itu di dalam surat Al- Baqoroh sebanyak lima peristiwa, di antaranya adalah firman-Nya.

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.

" Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging." Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” ( Al-Baqarah: 259)

Keempat:

Bahwasanya hikmah (kebijaksanaan) itu menuntut adanya kebangkitan, agar setiap jiwa dapat diberi balasan atas apa yang telah diusahakan atau dilakukan. Kalaulah bukan karena itu, maka penciptaan manusia itu akan percuma dan tidak ada nilaiya, tidak ada hikmah dari penciptaan itu, serta tidak ada perbedaan dalam kehidupan ini antara manusia dengan binatang. Alloh Ta'ala berfirman:

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia” (Al-Mukminun: 115-116)

Allah ta'ala juga berfirman:

"Sesunguhnya Hari Kiamat itu pasti datang, namun Aku merahasiakan (waktu)nya agar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang dia usahakan." (Thaha: 15)

Alloh 'azza wa jalla berfirman,

"Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati". (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta.

Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia " (An-Nahl [16] : 38-40)

Alloh 'azza wa jalla berfirman,

"Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, "tidak demikian, demi Robbku; kamu benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'. Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh." (At-Taghabun: 7)

Jika keterangan-keterangan yang nyata int telah dijelaskan kepada orang-orang yang rnengingkari kebangkitan, namun mereka tetap saja mengingkarinya, maka mereka berarti orang-orang yang sombong dan menentang. Kelak orang-orang yang dzalim itu akan tahu pada tempat yang mana mereka kembali.



والله أعلمُ بالـصـواب